Tuan Muda, Jangan Lari!

Tuan Muda, Jangan Lari!
Meracik Pil


__ADS_3

Bianca menyuruh mereka mengeluarkan kuali obat milik mereka. Lalu dia mulai memberikan satu tangkai ramuan obat dan dua bahan tambahan ke setiap murid.


Gin mengeluarkan kuali obat tua miliknya. Seketika kuali obat tuanya menarik perhatian semua orang di dalam kelas. Mereka menatap Gin dengan tatapan meremehkan dan menganggap bahwa Gin adalah orang gila.


Bianca juga kaget. Dia tidak menyangka akan ada murid yang menggunakan kuali tua hampir rusak seperti itu. Dia melihat Gin dengan tatapan kasihan, mengira bahwa anak itu tidak mempunyai uang untuk membeli kuali obat yang baru. Tapi dia tidak bisa membantu apapun tentang itu.


"Baiklah, dimulai" Bianca berkata.


Setiap anak mulai meracik obat dengan kuali mereka masing-masing.


Gin mencoba menyalakan kuali itu dengan energi qi miliknya. Api kecil berwarna merah langsung mencul. Setelah itu dia memasukkan ramuan dan dua zat tambahan yang sudah disediakan ke dalam kuali. Lalu dia menutupnya sambil terus mengatur api yang menyala dengan energi qi miliknya.


Sepuluh menit kemudian, kualinya berbunyi. Pil miliknya sudah jadi. Gin membuka tutup kualinya dan bau harum dari pil obat miliknya menyebar ke seluruh ruang kelas.


Kali ini Gin menjadi pusat perhatian untuk yang kedua kalinya. Pasalnya semua orang belum selesai meracik obat mereka tapi Gin sudah selesai lebih dulu. Umumnya perlu waktu tiga puluh menit bagi pemula untuk meracik pil level 1. Tapi Gin hanya memerlukan kurang lebih sepuluh menit.


Beberapa orang berpikir bahwa Gin gagal. Tapi pil miliknya mengeluarkan bau yang sangat harum. Sehingga tidak ada yang berani mengejeknya secara terang-terangan.


Bianca langsung menghampiri Gin. "Kau sudah selesai?" katanya tak percaya.


Gin mengangguk kecil.


Bianca langsung mengambil pil yang dibuat oleh Gin dan mengeceknya. Matanya langsung membelalak kaget.


"Kemurnian 100%" gumamnya.


Biasanya untuk seorang pemula, mereka hanya bisa meracik pil obat dengan kemurnian 60%-70%. Bahkan anak yang jenius hanya bisa meracik pil obat dengan kermurnian 90%. Tapi ini 100%. Sangat tidak akal untuk seorang pemula.


"Apa ini benar-benar pertama kalinya bagimu meracik obat?" tanya Bianca curiga.


"Ya" jawab Gin. Dia jujur, tentu saja.


"Tapi bagaimana bisa pil obatmu memiliki kemurnian yang sempurna" katanya tak percaya.


"Kemurnian?" Gin memiringkan kepalanya, bingung.


Bianca lupa bahwa dia belum menjelaskan topik tentang kemurnian pil kepada mereka. Dia berencana menjelaskan tentang hal itu setelah semua murid selesai meracik pil mereka.


Beberapa menit kemudian, beberapa murid juga menyelesaikan pil obat mereka. Bianca mengeceknya. Hampir semua murid meracik pil dengan kemurnian 70%. Bahkan ada beberapa yang di bawahnya. Mona berhasil membuat pil dengan kemurnian 80%. Anak itu berbakat.

__ADS_1


Setelah semua murid selesai. Bianca mulai menjelaskan tentang tingkat kemurnian dari pil obat.


"Setiap orang yang mengetahui dasarnya dan memiliki kuali obat bisa meracik pil obat mereka sendiri. Tapi tingkat kemurniannya akan berbeda-beda. Orang-orang dengan bakat akan membuat pil dengan tingkat kemurnian 80% atau pun diatasnya. Tapi mereka yang tidak mempunyai bakat hanya bisa membuat pil dengan tingkat kemurnian di bawah 50%. Hanya para spesialis yang bisa melihat tingkat kemurnian pil dengan mata telanjang mereka"


"Bagi pemula, meracik pil dengan tingkat kemurnian 60%-70% adalah normal. Jadi kalian semua memiliki bakat untuk itu"


Lalu Bianca menatap Gin dengan tajam "Bagi seseorang yang berhasil membuat pil dengan tingkat kemurnian 100%, mereka adalah alkemis berpengalaman" katanya.


Setelah mendengarkan penjelasan Bianca, semua murid menjadi lebih percaya diri. Berarti mereka memiliki bakat untuk menjadi alkemis. Terutama Mona karena dia berhasil meracik pil dengan tingkat kemurnian 80%.


"Aku berbakat!" pekik Mona dalam hatinya, bahagia.


Setelah itu, Bianca memberikan ramuan obat kedua. Ini adalah ramuan obat yang berbeda dari yang sebelumnya. Dan ramuan ini lebih sulit untuk diracik. Tingkat kemurnian pil mereka jelas akan menurun.


Tapi sekali lagi. Gin menyelesaikan pilnya lebih cepat dari murid-murid lainnya.


Bianca dengan sigap langsung mengeceknya. Dan sekali lagi dia terkesiap.


"Tingkat kemurnian 100%..." dia kehilangan kata-katanya.


Lalu dia menatap Gin dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Bocah kelas perunggu. Tubuh perak level 2. Dia tidak terlihat berbakat sebagai kultivator sama sekali. Tapi dia punya bakat sebagai alkemis. Terlebih lagi dia meracik dengan kuali tua karatan seperti ini" pikirnya dengan mata berbinar, seakan-akan dia menemukan harta karun.


"Kau tidak berbohong padaku bukan? Kau belum pernah mengambil pelatihan apapun tentang membuat pil?"


Gin mengangguk kecil.


Seperti yang dia duga. Kemurnian pil para murid itu berkurang sebesar 5% dari sebelumnya. Ramuan ini memang sulit dibuat pil karena tidak stabil. Karena itulah perlu ketelitian ekstra untuk menjaga tingkat kemurniannya. Tapi pil yang dibuat oleh Mona tetap mempertahankan tingkat kemurnian 80%.


"Bakat lainnya!" sentak Bianca dalam pikirannya. Siapa yang menduga dia akan menemukan dua orang jeniua dalam kelasnya.


"Kalian berdua" Bianca menunjuk Mona dan Gin secara bergantian. "Setelah pulang sekolah, temui aku"


Gin langsung berkata dengan cepat. "Maaf sebelumnya, aku sibuk" katanya tegas. Dia tidak ingin kelas tambahan apapun. Kalau pulang ya pulang.


Bianca berusaha tersenyum, menahan rasa kesalnya. Belum pernah ada yang menolaknya seperti itu, dia merasa tersinggung.


"Baiklah. Tapi aku akan memberimu nilai 0 di pelajaran kali ini" dia mengancam.


Gin mengangguk dengan acuh. Dia tidak masalah dengan itu, selama tidak ada yang menganggu waktu istirahatnya.

__ADS_1


"Kau tahu, kalau kau mendapatkan nilai yang jelek di kelas campuran, kau tidak bisa naik kelas. Berarti kau harus mengulang di tingkat dasar 1 tahun lagi" kata Bianca.


Mata Gin langsung membelalak kaget. Dia berteriak cepat. "Baik guru, aku akan menemuimu sepulang sekolah" katanya sopan. Sikapnya langsunh berubah seratus delapan puluh derajat.


Walaupun begitu, di dalam hatinya Gin benar-benar merasa kesal. "Mengulang satu tahun lagi? Apa kau gila? Itu tidak akan pernah terjadi!" dia berteriak dalam hatinya. Kalau dia memang harus mengulang kelas karena nilainya tidak mencukupi, Gin akan keluar dari sekolah. Dia akan melarikan diri dan membawa semua uangnya.


Tapi dia takut ATM nya dibekukan dan dia tidak bisa menarik uang miliknya. Karena itulah dia masih punya rencana untuk mengambil semua uang di ATM nya dan menyimpannya di dalam ruang penyimpanan miliknya. Sebagai dana darurat kalau dia benar-benar melarikan diri.


Kelas kedua Gin, masih membosankan seperti biasa. Yu Fei hanya menjelaskan bagaimana caranya bertahan hidup di hutan. Lalu membedakan makanan beracun dan tidak beracun. Serta membuat tenda.


Gin berpikir itu tidak penting. Dia bisa menyimpan stok makanan kaleng dan snack di ruang penyimpanan miliknya. Lalu dia juga bisa menyimpan kasur gantung disana. Tidak perlu tenda, hanya mencari gua atau tempat lapang untuk tidur. Lalu tidur menggunakan kasur gantung. Bagian yang paling menakutkan adalah, tidak ada internet dan sinyal.


Tapi Yu Fei mengatakan bahwa pihak akademi akan menyediakan telpon khusus untuk mereka. Sehingga mereka bisa memanggil pihak akademi saat hal darurat terjadi. Hanya itu.


Pelajaran akhirnya berakhir. Gin menuju ke kelas pil obat. Sekarang kelas itu terasa kosong, tidak seperti sebelumnya.


Mona dan Bianca sudah ada disana terlebih dulu. Mereka tersenyum saat melihat Gin datang.


"Baiklah, kalian berdua sudah datang." kata Bianca. "Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian. Setelah dua hari ini, aku melihat bahwa kalian berdua memiliki bakat untuk menjadi alkemis."


Mona tersenyum lebar. Dia terlihat sangat antusias dengan topik pembicaraan ini. Sementara Gin terlihat lesu. Aura keduanya berbanding terbalik satu sama lain.


"Tapi untuk terakhir kalinya, aku akan mengecek bakat kalian" Bianca mengeluarkan empat ramuan kemudian memberikannya kepada Gin dan Mona masing-masing dua ramuan. Kedua ramuan itu adalah jenis yang berbeda.


"Untuk membuat pil level 2 dibutuhkan kombinasi dua ramuan yang berbeda. Aku ingin melihat sampai dimana batas kalian meracik ramuan kombinasi ini" jelas Siyan.


Mona langsung mengeluarkan kualinya dan fokus untuk membuat pil. Gin juga melakukan hal yang sama. Hanya saja dia tidak terlihat antusias sama sekali.


Keduanya pun selesai. Pil berwarna hitam pekat muncul di masing-masing kuali. Kalau dilihat dengan mata telanjang, tidak ada perbedaan antata keduanya.


Bianca mengecek pil milik Mona, "sangat bagus. Tingkat kemurnian 70%" katanya. Padahal gadis kecil di depannya benar-benar seorang pemula. Tapi bakatnya luar biasa.


Kemudian dia mengecek pil yang dibuat oleh Gin. "...." Dia tidak bisa berkata-kata. "Lagi-lagi kemurnian 100%. Apa-apaan ini!" sentaknya dalam hati.


"Kau monster kecil. Kau menyembunyikan dirimu dengan baik" kata Bianca. "Lagi lahi tingkat kemurnian 100%. Kerja bagus" dia memukul bahu Gin dengan keras.


Gin yang tidak melakukan persiapan, hampir tersandung ke depan.


Mona melihat Gin dengan mata berbinar. "Ini Gin, jadi wajar" katanya kemudian. Gin memang selalu mengejutkannya dan dia sudah terbiasa.

__ADS_1


Sementara Gin melihat mereka berdua dengan wajah linglung. Dia tidak punya bakat meracik pil obat sama sekali. Bahkan skill seperti itu tidak ada di sistem miliknya. Semua itu karena kuali obat Raja naga yang digunakan olehnya.


Dia hanya melakukan cheat!


__ADS_2