
KRAK!
Terdengar retakan tulang yang patah. Harusnya kejadian sebenarnya seperti itu. Tapi kenyataannya tidak sesuai sama sekali.
Penjahat itu sudah menggunakan kekuatan nya untuk meremukkan bahu Gin. Bahu yang rapuh itu harusnya remuk dengan mudah. Tapi kenapa sangat keras?
Penjahat itu menggertakan giginya sambil terus meningkatkan kekuatannya genggaman nya. Tapi tidak ada yang terjadi. Malahan lantai porselen di bawah kaki Gin mulai retak secara perlahan. Bukan karena Gin berat atau yang lainnya. Tapi karena kekuatan tekanan dari penjahat itu.
KRAK, KRAK, KRAKK
Kaki Gin terus terbenam dan menyebabkan retakan di bawah kakinya. Kalau hal ini berlangsung lama, Gin akan membuat cetakan kaki di lantai bar ini.
Tapi Gin langsung bertindak. Dengan enteng dia memindahkan tangan pria itu.
"Hentikan, lantainya retak" Gin bergumam. Gumamannya sangat kecil. Hanya Li Seng dan penjahat itu yang bisa mendengar nya.
Mata Li Seng melotot saat dia melihat retakan di bawah kaki Gin. Sementara penjahat itu melihat nya dengan tatapan waspada.
"Siapa kau?" Penjahat itu tidak berani meremehkan Gin lagi. Kekuatan genggaman seorang kultivator immortal bisa mematahkan tulang kultivator inti emas dengan mudah. Tapi anak di depannya hanya tubuh perunggu, dan tulangnya sangat keras sekali. Dia tidak bisa menghancurkan nya seakan-akan tulang itu adalah baja yang sangat kokoh.
Ya, sebelum penjahat itu menyerang. Gin sudah menggunakan skill "pengerasan tulang miliknya". Selain itu, dia juga menyelimuti seluruh tulang dengan mananya. Dia menggunakan 10000 MP, hanya agar mana itu menyelimuti seluruh tulangnya. Karena itulah dia bisa bertahan.
Kalau dia tidak mempersiapkan hal ini sebelumnya. Tulangnya akan retak berkeping-keping karena dia hanya seorang kultivator tubuh perunggu.
Li Seng tidak mengerti apa yang terjadi antara Gin dan penjahat itu. Tapi melihat retakan di bawah kaki Gin, dia sadar bahwa mereka saling menyerang diam-diam. Li Seng melihat Gin dengan tatapan takjub. Bahkan di depan kultivator immortal, pemuda itu masih bisa berdiri dengan sangat kokoh.
"Kenapa aku harus mengenal kan diriku pada orang asing seperti mu?" jawab Gin polos. "Ayolah, biarkan aku pergi. Aku sangat sibuk. Hari ini aku harus mengejar game keluaran terbatas. Kau menghalangi ku sekarang. Dan satu hal lagi. Aku tidak bisa menyerahkan buku itu padamu karena itu bukan punyaku. Tapi andai saja buku jelek itu punyaku, aku akan memberikannya padamu dengan senang hati. Aku bukan orang yang pelit" Gin mengoceh. Dan tentu saja ocehannya terdengar di seluruh aula.
Semua orang yang ada disitu menatap Gin seolah-olah dia orang gila. Long Ao dan Ken Ilya tersenyum senang karena mereka mengira riwayat Gin akan tamat di tempat ini. Walaupun dia tidak mati, Gin pasti cacat karena sudah menyinggung kultivator immortal.
Sima Arai, kedua saudara Fei dan Fei Lan, menatap Gin prihatin, seolah-olah dia pemuda yang tidak punya otak. Tidak bisa memikirkan apa yang salah dan benar di situasi berbahaya ini. Tapi tetap ada sedikit tatapan khawatir di mata mereka. Sementara Yusa Arai menatap Gin dengan tatapan misterius. Dia sedang memikirkan sesuatu. Dan dia merasa ada banyak keanehan pada pemuda misterius bernama Gin Arai ini.
__ADS_1
Pemimpin penjahat itu menggertakan giginya. Dia benar-benar marah kali ini. Dia sudah mengalirkan qi nya dan bersiap menghajar Gin, tapi bawahannya langsung menghentikannya.
"Bos, lima kultivator immortal menuju kemari" katanya panik.
Tangan pemimpin penjahat itu berhenti di udara dan dia menatap bawahnya dengan tatapan tidak senang. "Lalu? Bukankah itu bagus? Keluarga Fei ingin menyelamatkan putri kecil mereka"
"Itu bukan keluarga Fei. Mereka dari keluarga lainnya." kata bawahan itu sambil menggeleng lemah.
Pemimpin penjahat itu mengerutkan keningnya, berpikir. Lima melawan satu. Terlebih lagi sandera yang ada di tangan nya tidak ada hubungannya dengan lima kultivator itu. Jujur saja penjahat itu tidak tahu bahwa ada anak-anak dari keluarga besar lain di sini. Dia hanya mendapatkan informasi dari atasannya, bahwa putri Fei akan bermain ke tempat ini, tidak dengan yang lainnya.
Awalnya saja dia tidak kenal siapa itu putri Fei. Dia hanya berteriak sembarangan dan gadis kecil itu menunjukkan dirinya.
"Lima lawan satu..." pemimpin penjahat itu bergumam. Kondisinya sangat tidak diuntungkan sekarang sejak semua bawahannya tidak berguna sama sekali. Apalagi kelima penatua itu adalah kultivator tubuh immortal tahap akhir, sementara dia hanya kultivator immortal tahap awal. Ini jelas-jelas pengeroyokan masal.
"Kita pergi dari sini. Jangan lupa bawa sanderanya. Kita akan menghubungi keluarga Fei untuk datang sendiri. Keluarga besar seperti itu tidak akan melakukan tindakan memalukan untuk meminta bantuan keluarga besar lainnya. Karena harga diri mereka sangat tinggi" dia membuat keputusan.
Semua bawahannya mengangguk patuh.
Melihat bahwa orang-orang ini akan pergi, Gin mendesah lega. Tapi tiba-tiba TAK, TAK, TAK, pemimpin penjahat itu menekan sesuatu di dadanya, membuat nya tidak bisa menggerakkan diri sama sekali. Kemudian, pria itu membawa tubuh Gin di bahunya, seperti dia membawa karung beras.
Gin bingung. Ini terlalu tiba-tiba. Kenapa dia bisa terlibat hanya karena buku aneh itu? Tapi, kalau pun penjahat itu menginginkan bukunya, dia bisa mengambil tasnya. Kenapa dia juga harus membawa tubuhnya seperti ini?
Penjahat itu terbang dengan jarak dekat. Mereka menggunakan alat sihir untuk mempercepat terbang mereka. Dan kebetulan saat itu posisi Fei Lan juga sama. Titik akupuntur nya terkunci dan dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Dia juga digendong di atas bahu, seperti karung beras oleh salah satu bawahan penjahat itu.
"...."
"...."
Fei Lan dan Gin pun tanpa sengaja saling bertatapan dalam diam.
***
__ADS_1
Lima kultivator dari keluarga besar itu tiba. Mereka adalah penatua dari keluarga Li, Long, Ken dan Arai. Keluarga Long membawa dua orang Penatua, sementara keluarga lainnya hanya membawa satu.
Para penatua itu sangat khawatir saat mengetahui bahwa Boroxi menyerang negara mereka. Kekhawatiran mereka bertambah saat tahu cucu mereka berada di tempat kejadian. Mereka pun segera menyusul cucu mereka masing-masing karena khawatir dengan keadaan mereka.
Yusa Arai dan Sima Arai melihat kakek mereka datang. Senyum lebar terbentuk di wajah mereka dan mereka langsung berlari memeluk sang kakek.
"Kalian tidak apa-apa? Kemana para tero ris itu pergi?" Kakek Arai bertanya.
Yusa Arai pun menjelaskan semuanya. Tentang tujuan kedatangan para Boroxi. Serta tentang putri Fei yang dibawa sebagai sandera untuk pertukaran dengan batu pusaka.
Haa~ Kakek Arai menghela napas. Siapa yang mengira kalau organisasi itu akan mengincar pusaka keluarga Fei.
"Keluarga Fei yang malang..." dia bergumam. Dia merasa kasihan dengan keluarga Fei, sejak mereka mencari masalah dengan organisasi besar seperti itu.
Yusa menyipitkan matanya. "Kakek, apa kau tahu. Ada anak dengan nama Arai di kelas kamj juga. Dia bernama Gin Arai" kata Yusa.
Deg! Kakek Arai tersentak. Tentu saja dia tahu siapa yang dimaksud. Dia juga sudah mendengarkan informasi tidak terduga ini sebelumnya. Murid dengan tubuh perunggu menghebohkan semua orang karena berhasil masuk ke kelas emas.
"Apa kau mengenalnya? Mungkin saja dia berasal dari keluarga cabang sejak nama keluarga kami sama" kata Yusa sambil berpikir.
"Tidak. Kakek tidak mengingat pemuda bernama Gin di keluarga kami" kata Kakek Arai sambil tersenyum.
"Sudah kubilang, dia bukan dari keluarga kita. kenapa kau masih bersikeras dengan itu sih" sanggah Sima dengan wajah cemberut. Dia tidak suka kakak tertuanya lebih tertarik dengan orang asing daripada saudaranya sendiri.
"Hmm, jadi ini..." Yusa ingin menjelaskan bahwa dia melihat kartu ATM dengan tanda tangan kakeknya di tangan Gin.
Tapi Sima mengoceh lebih dulu dan keras sehingga memotong pembicaraan nya. "Humph, dia sangat sombong. Dia bahkan berani mengancam pemimpin Boroxi. Sekarang mereka membawanya. Orang itu pasti tidak akan kembali dengan sehat. Setidaknya serangga di kelas kita sudah dibersihkan" kata Sima Sarkas.
Tapi pernyataan Sima, membuat mata kakek Arai melotot dan tubuh nya membeku. "Kau bilang dia ditangkap?" kakek Arai tiba-tiba berkata dengan nada dingin, bahkan mengeluarkan aura membunuh yang kuat, sehingga mengejutkan kedua anak itu.
"Kakek, apa yang terjadi?" Sima berkata dengan gugup. Dia tidak mengerti apapun.
__ADS_1
Tapi tidak dengan Yusa. Dia menatap kakeknya dengan tatapan curiga sambil mengerutkan keningnya.
Sikap kakeknya tiba-tiba berubah saat mendengar berita bahwa Gin ditangkap oleh Boroxi. Yusa yakin Gin ada hubungannya dengan keluarga mereka. Tapi kakeknya bersikeras untuk menyembunyikan hal itu. Kenapa? Yusa tidak mengerti. Tapi semakin dia tidak mengerti, semakin dia merasa penasaran dan ingin lebih mencari tahu. Itu adalah sifatnya sejak dia masih kecil. Yusa, kancil kecil yang pintar dan cerdik, itu adalah julukannya semasa kecil.