
Mona melihat resepsionis dengan tatapan penuh kekaguman. "Astaga, siapa yang mengira bahwa dia seorang kultivator immortal. Dia masih muda dan tampan" tanpa sengaja dia memuji berlebihan.
Gin mengernyitkan keningnya. Dia merasakan rasa asam sedikit di hatinya. Tapi rasa itu hilang dalam sekejap karena dia mengabaikannya dengan cepat.
"Seorang kultivator immortal adalah resepsionis. Gin, tempat ini benar-benar tidak biasa. Kita beruntung bergabung dengan asosiasi ini" kata Mona.
Gin hanya mengangguk. Tapi perkataan Mona benar.
Beberapa menit kemudian, resepsionis itu memanggil mereka. "Ini adalah kartu anggota kalian" dia menyerahkan sebuah kartu kepada Gin dan Mona. "Nona Bianca sudah memberitahuku identitas kalian. Seperti yang kuduga dari SMA Jin Shi. Selalu ada bakat setiap tahun dari sana" dia memuji. "Kalian bisa meningkatkan level kalian. Tapi kalian perlu lulus ujian untuk itu dan ujiannya tidak mudah. Kalian berdua bisa kembali ke sini setelah kalian berhasil meningkatkan kemampuan kalian" katanya.
"Terima kasih" kata Mona.
Gin mengambil dan melihat kartu anggotanya.
Nama: Gin Arai
Anggota: Level 1
Alkemis Magang
Itulah yang tertulis di kartu itu.
"Lalu kartu anggota ini juga memiliki beberapa keistimewaan. Hanya menunjukkan kepada orang lain bahwa kalian adalah alkemis, semua orang akan menghargai kalian" katanya percaya diri. "Kalau kalian ingin membeli ramuan dan bahan obat, para penjual akan memberi kalian prioritas pertama"
"Selamat bergabung dengan asosiasi alkemis. Jangan lupa bekerja keras karena impian kalian masih panjang" dia berkata untuk yang terakhir kalinya.
"Terima kasih" kata Mona dan Gin secara bersamaan. Lalu mereka meninggalkan gedung asosiasi.
Saat mereka keluar dari gedung, sekelompok orang menghalangi jalan mereka. Gin mengenalnya. Itu adalah pemuda arogan yang sebelumnya mengacau di dalam gedung bersama para bawahannya.
Saat melihat orang-orang itu mengepung mereka, Mona refleks menyembunyikan dirinya di punggug Gin sambil memegang lengan Gin erat-erat.
__ADS_1
"Hei kau" pemuda arogan itu menunjuk Gin dengan penuh kebencian. "Kau mengejekku bukan tadi? Kurang ajar kau. Kau pikir kau siapa?" katanya dengan mata memerah. Sebenarnya emosinya memuncak karena harga dirinya jatuh ke tanah. Dia dikalahkan oleh seorang resepsionis. Tapi karena tidak bisa membalas kepada resepsionis itu, dia menjadikan Gin pelampiasan amarahnya. Hanya karena mereka saling bertatapan dengan tidak sengaja.
"..." Gin tidak mengerti mengapa pemuda ini tiba-tiba ingin berkelahi dengannya. Tapi entah kenapa dia merasa kesal. Padahal biasanya dia tidak peduli dengan hal seperti ini. Tapi dia merasa dia ingin memukul mereka semua. Ditambah Mona berlindung di belakang punggungnya, jadi dia ingin menunjukkan sedikit harga dirinya. Hanya sedikit, dia tidak akan membunuh orang.
"Oh?" pemuda itu mengangkat alisnya. "Kalian berasal dari SMA Jin Shi." dia tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. "Ternyata anak-anak manja dari sekolah gila itu" dia mengejek. Dia melihat Gin dan Mona secara bergantian "Tubuh perak level 2, tubuh perak level 10. Sampah! Bagaimana bisa sampah seperti kalian bisa masuk ke SMA itu" katanya sombong. Tapi dia juga merasa iri.
Kemudian dia melihat Mona yang bersembunyi ketakutan di belakang Gin, "Nona, kau cukup cantik. Aku mengizinkanmu menjadi wanita tuan muda ini" katanya narsis. "Aku ini tuan muda dari keliuarga Long. Kau tidak akan menyesal menjadi wanitaku, kau tahu" katanya.
Mona melihatnya dengan tatapan menjijikan. Ini pertama kalinya Mona melihat orang menjijikan dengan matanya sendiri. Biasanya dia melihatnya di film yang ditontonnya. Dia tidak pernah menemukan orang menjijikan seperti ini di akademi. Walaupun ada beberapa anak nakal di akademi yang merendahkannya, mereka tidak bertindak semenjijikan ini. Karena mereka masih mengerti mengendalikan sikap mereka.
Pemuda itu mengerti tatapan penolakan dari Mona. Dia bisa melihat dengan jelas bahwa Mona melihatnya dengan tatapan jijik. Amarahnya semakin memuncak.
"Hajar pemuda sialan ini dan bawa ja lang ini padaku!" dia memerintahkan tiba-tiba.
Gin masih berdiri di tempatnya, dia akan menyerang kalau mereka berani menyentuhnya.
"Gin..." gumam Mona khawatir sambil memegang lengan Gin erat-erat. Dia merasa takut. Walaupun Gin kuat, dia berpikir pemuda di depannya hanya kultivator inti emas paling tinggi. Dan ada lima inti emas menengah di depan mereka. Dia khawatir dengan keadaan Gin. "Ayo lari dan lapor pada polisi" dia berbisik.
Entah kenapa Mona mempercayainya walaupun itu mustahil. Tapi dia tetap percaya pada Gin dan berdiri di tempatnya.
Saat lima orang itu ingin menyerang tiba-tiba seseorang muncul di depan mereka. Gin dan Mona membelalak kaget. Itu adalah Long An!
Long An menatap Gin tanpa mempedulikan yang lain. "Kau bergabung dengan asosiasi?" dia bertanya dengan nada yang sangat dingin.
Gin mengangguk. Dia ingat bahwa Long An adalah Tuan muda dari keluarga Long. Dia berpikir Long An juga akan menyerangnya bersama dengan pemuda menjijikan itu.
"Hei, Long An" tegur Mona. "Ada apa dengan saudaramu? Kenapa dia suka membuat onar dan mengancam orang lain dengan identitasnya?" tanya Mona, tapi nadanya sangat sarkas. "Tidak tahu malu" gumam Mona kesal.
"Saudara?' Long An mengedip bingung.
"Ya, pemuda di belakangmu. Kau ingin bergabung dengannya dan menganggu kami bukan? Aku akan melaporkan hal ini pada guru" sentak Mona.
__ADS_1
Long An menoleh dan dia memang melihat seorang pemuda. Dia menatap pemuda itu. Pemuda itu menundukkan kepalanya dengan wajah pucat. "Siapa kau? Aku tidak ingat pernah punya saudara sepertimu" katanya. Dia membenci orang yang mengaku-ngaku dari keluarganya dan membuat onar diluar.
Pemuda itu membuka mulutnya dengan suara bergetar karena gugup. "Itu...tuan muda...anda ingat saya? Saya berasal dari kota V. Kita pernah bertemu saat kita masih kecil..." dia berusaha menjelaskan.
"Oh? Kau berasal dari keluarga cabang?" Long An mengerti. "Maafkan aku. Aku tidak mengenal satu pun anak dari keluarga cabang." katanya, yang berarti bahwa keberadaan keluarga cabang sangat tidak penting di matanya. "Lain kali jangan mengaku-ngaku sebagai orang lain" tambahnya sarkas.
"Dia mengaku sebagai tuan muda dari keluarga Long" Mona menambahkan. Dia semakin percaya diri saat tahu bahwa pemuda menjijikan itu berbohong padanya.
"Dia bahkan tidak pantas disebut tuan muda" kata Long An dengan nada merendahkan.
Pemuda itu menundukkan kepalanya, ketakutan. "Tuan, jangan bilang ayahku..."
"Aku tidak akan bilang kalau kau pergi dari hadapanku sekarang" potong Long An secepat kilat.
Pemuda dan lima bawahannya pun langsung menghilang dengan cepat.
"Kenapa kau tiba-tiba muncul di asosiasi alkemis? Apa kau ingin menganggu kami juga?" Mona bertanya pada Long An dengan mata melotot. Dia tahu Long An sangat suka menganggu Gin.
"Cih, aku tidak ada waktu" katanya. Dia menunjukkan kartu anggota asosiasi nya pada mereka berdua.
Gin dan Mona tersentak kaget.
"Aku juga anggota asosiasi dan aku sudah bergabung dua tahun yang lalu" katanya dengan nada sombong. "Sekarang aku ingin mengambil ujian untuk naik ke level 2" dia menatap Gin dengan sangat tajam. "Aku juga berhasil menerebos ke tubuh inti emas dasar sekarang" dia mulai pamer.
Semenjak kalah dengan memalukan dari Gin, dia benar-benar bekerja keras. Dia berkelahi dengan beberapa orang dan berhasil menerobos ke tubuh inti emas. Dia berniat membalaskan dendamnya pada Gin. Tapi dia ingin duel yang adil. Dia tidak mau menjadi preman dan menantang orang secara sembarangan seperti sebelumnya. Dia akan mengerahkan semuanya pada pertarungan yang adil dan membuat Gin jatuh di kakinya.
Long An melintas dan berbisik pada Gin. "Aku akan menunggumu di kompetisi sekolah. Persiapkan diri supaya kau tidak cacat" katanya sarkas, lalu langsung masuk ke dalam gedung.
Gin memiringkan kepalanya bingung. "Kompetisi sekolah?"
"Oh, itu kompetisi yang diadakan setiap tahun. Setiap murid dari setiap kelas akan melakukan duel. Kompetisi sekolah akan diadakan sebelum libur semester, sehabis kelas campuran selesai" jawab Mona. "Ada apa dengan kompetisi sekolah Gin?" tanya Mona. Dia tidak mendengar bisikan Long An pada Gin.
__ADS_1
"Tidak apa-apa" jawab Gin. Tapi Gin merasa frustasi karena dia tahu dia tidak memiliki jeda untuk beristirahat dengan santai di sekolah ini.