Tuan Muda, Jangan Lari!

Tuan Muda, Jangan Lari!
Lagipula dia bukan dari Keluarga Besar


__ADS_3

Kelompok mereka pun akhirnya berkumpul secara utuh. Lian memeriksa luka Yusa dan Sima. Seperti yang dikatakan oleh Yusa, luka luar mereka sudah berhenti berdarah. Walaupun begitu luka dalam yang mereka derita sangat parah. Sehingga mereka berdua masih kesulitan untuk bergerak.


Lian menatap Gin dan Li Seng yang menatap keduanya dengan wajah datar, yang menyatakan 'aku tidak ingin terlibat'.


"Kalian berdua" Lian menunjuk keduanya. "Li Seng kau bawa Sima. Gin kau bawa Yusa. Kita akan meninggalkan tempat ini dengan cepat."


"Tapi Sima sangat berat" Li Seng mengeluh.


Sima menatap Li Seng langsung dengan tatapan kesal. "Kau harus bercermin sendiri sebelum mengataiku" katanya sarkas.


Wajah Li Seng berubah cemberut. Dia dengan yakin berpikir bahwa berat badannya sudah menurun sekarang. Karena misi penjelajahan ini, dia tidak makan dengan teratur. Ditambah dia harus berlarian sepanjang hari karena dikejar-kejar oleh pembunuh. Dia sudah mengalami hari-hari yang buruk dan dia merasa kasihan dengan perut mungilnya, karena semakin mengecil.


Sementara Gin tidak melakukan protes. Dia mengangkat Yusa di punggungnya tanpa mengeluh.


"Maafkan aku karena merepotkanmu" kata Yusa tidak enak.


"Tidak apa-apa" jawab Gin pelan.


"Bagaimana kalian bisa lolos dari para pembunuh itu?" tanya Yusa penasaran. Dia bertanya saat mereka semua berlari dengan cepat, menjauhi tempat kejadian.


Lian menjelaskan semua yang terjadi. Bagaimana dia bisa bertemu dengan Gin danĀ  Li Seng. Yusa dan Sima terperangah saat mendengarnya. Mereka tidak menyangka bahwa ketiganya akan beruntung seperti itu.


"Beruntung apanya. Aku hampir mati" Li Seng menggerutu. "Untung saja ada penatua itu. Tapi aku juga sudah memanggil ayahku. Mereka akan menuju ke hutan ini untuk menjemput kita"


"Kami juga sudah menghubungi keluarga Arai" sambung Sima.


"itu bagus" kata Lian bersemangat. "Mereka akan sampai dengan cepat. Yang harus kita lakukan hanya bertahan sampai besok"


Baru saja dia tersenyum bahagia, tiba-tiba seseorang muncul di depan matanya dengan cepat. Orang itu lebih tinggi darinya sehingga Lian membelalak kaget melihat dadanya yang hanya berjarak satu sentimeter dari matanya.


"Lian!" dia bisa mendengar bahwa teman-temannya berteriak. Kemudian dia tersadar dan ingin melompat mundur.


Tapi sosok di depannya dengan cepat meraih lehernya dan mencekiknya. Sosok itu tak lain adalah pembunuh yang sebelumnya mengejar Yusa dan Sima. Pembunuh itu tertawa terbahak-bahak sambil mengangkat tubuh Lian ke atas. Dia mencekiknya dengan erat sehingga gadis itu meronta-ronta karena kesulitan bernapas.


Li Seng entah bagaimana bergerak maju lebih dulu daripada yang lain. "Beraninya kau menyakiti seorang gadis" katanya heroik sambil menyerang pembunuh itu.


Li Seng tidak berniat untuk bertarung. Dia hanya ingin fokus pembunuh itu terbagi sehingga Gin bisa mengambil Lian dan mundur. Rencananya berhasil. Pembunuh itu terkecoh, Gin dengan cepat mengambil Lian dan melompat mundur. Li Seng juga langsung mundur saat melihat Lian sudah lepas dari cengkraman pembunuh itu.

__ADS_1


"Kau tidak apa-apa?" tanya Gin saat melihat Lian kesulitan bernapas.


"Tidak apa-apa" jawab Lian lemah. Walaupun bekas melingkar berwarna biru pekat ada di lehernya, menandakan bahwa pembunuh hampir meremukkan leher kecil gadis itu.


"Anak-anak yang licik" sergah pembunuh itu. "Dan bagaimana bisa kalian berkumpul seperti tikus disini? Dasar orang-orang yang tidak berguna." dia mendecakkan lidahnya. Dia mengira bahwa rekan kerjanya melaksanakan misi mereka dengan serius. Tapi semua anak ingusan itu masih hidup dan berkumpul sekarang.


"Yah, ini juga bagus. Aku bisa membunuh kalian sekaligus" dia tersenyum.


Dia mengeluarkan seluruh energi qi miliknya. Lalu dia mengeluarkan pedang kecil dari udara kosong.


Syuu! Dia bergerak untuk menghampiri anak-anak itu.


Target pertamanya adalah Gin. Dalam sedetik dia muncul di depan mata Gin. Dia tersenyum dan mengarahkan pedang itu di leher Gin, berniat memengalnya.


"Gin, menghindar" Yusa melemparkan sesuatu yang berbentuk seperti Bom. Itu adalah Bom asap. Saat bom itu meledak, seluruh tempat dipenuhi dengan asap yang pekat.


Gin bisa merasakan bahwa seseorang menarik tangannya.


"Apa yang kau tunggu, ayo lari" itu adalah Li Seng.


Tapi Syuu! Suara tebasan yang sangat kuat terdengar.


"Menunduk!" titah Yusa dan semua orang dengan cepat menunduk.


Tebasan raksasa melintas tepat di atas kepala mereka. Melewati pepohonan dan memotong hutan menjadi dua bagian. Dalam sekejap asap yang mengelilingi mereka juga terbelah menjadi dua. Di tengah belahan itu sang pembunuh tersenyum sambil memainkan pedang miliknya.


Kalau saja mereka tidak menunduk, menghindari tebasan pedang itu, kepala mereka sudah terpisah dari tubuh mereka.


"Benar-benar seperti kecoak yang sangat lincah" dia bergumam. Lalu dia bergerak lagi.


Mereka berlima langsung berkumpul di satu titik dan Sima menggunakan alat sihir terakhirnya untuk melindungi mereka semua. Tapi pelindung itu retak dengan mudah saat terkena tebasan pedang pembunuh itu.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" kata Li Seng gugup.


"Aku akan menahannya, kalian lari" kata Yusa kemudian.


"Kakak! Tidak!" Sima tidak setuju.

__ADS_1


"Lihatlah dirimu, kau yang paling parah lukanya. Kau akan mati dalam sedetik" sambung Li Seng.


"Tapi aku yang paling kuat dari semuanya" kata Yusa sedih. "Pergilah, aku masih memiliki beberapa trik untuk mempertahankan hidupku" katanya.


"Kami tidak akan pergi!" jawab Sima.


Tapi Lian tiba-tiba menariknya. "Ayo pergi. Kalian harus percaya padanya. Dia bisa mengalihkan perhatian pembunuh itu dan melarikan diri" Kata Lian sambil menatap semua orang dengan serius.


"Tidak, aku tidak akan pernah meninggalkan kakakku!" Sima menghempaskan tangan Lian dari tubuhnya. "Aku akan tetap disini. Kalaupun harus mati, kami akan mati bersama-sama" dia berteriak histeris dan menangis. Belum pernah dia mengalami kejadian yang putus asa seperti ini dalam hidupnya. Sehingga tangisannya pecah.


Gin menghela napas. Dia merasa lelah. Dia menggelengkan kepalanya saat melihat semua drama yang ada di depannya. Dia pun melangkah ke depan, mendekati sang pembunuh. Tindakannya membuat semua orang membeku di tempat. Anak-anak dan sang pembunuh melihat Gin dengan tatapan bingung.


Bagi pembunuh dan anak-anak itu, Gin adalah yang terlemah. Hanya kultivator tubuh perunggu, tapi berusaha unjuk diri untuk menghadapi kultivator immortal. Itu adalah hal yang terbodoh. Kultivator immortal bisa membunuhnya hanya dengan menjentikkan jarinya.


"Gin, apa yang kau lakukan?" teriak Yusa tak percaya.


Gin berjalan perlahan sambil mengangkat salah satu tangannya dan berkata, "tidak apa-apa, aku akan mengurusnya"


"Dia melakukan hal gegabah itu lagi" Lian menggertakan giginya kesal. Dia ingat ketika Gin tiba-tiba pergi untuk menyelamatkan Li Seng.


"Bro, hati-hati" teriak Li Seng. Walaupun dia ragu, entah kenapa dia sedikit percaya dengan kekuatan Gin. Dia tahu bro-nya sangatlah kuat. Walaupun tidak cukup untuk mengalahkan kultivator immortal, setidaknya bisa mengecohnya. begitulah pikir Li Seng.


Mendengar perkataan Li Seng, semua orang langsung menatapnya.


"Percaya saja pada bro-ku. Dia tidak selemah itu. Ayo pergi" kata Li Seng.


"Tidak mungkin kita meninggalkannya. Dia akan mati" kata Yusa tidak setuju.


"Dia bisa mengalihkan perhatian pembunuh itu" entah kenapa tiba-tiba Sima mendukung Li Seng. "Kakak, dia pasti menyembunyikan sesuatu di lengan bajunya. Dia tidak akan semudah itu mati. Aku pernah melihat kekuatan miliknya. Tidak seperti kultivator tubuh perunggu sama sekali"


"..." Yusa dan Lian tidak bisa berkata-kata.


"Ayo pergi, setidaknya kita harus menemukan keluarga kita dan kembali untuk membantunya" kata Li Seng. Dia berusaha berpikir dengan logis sekarang.


Akhirnya semua orang mengangguk setuju. Mereka pun berlari dengan cepat.


"Lagipula dia bukan dari keluarga besar. Tidak apa-apa" gumam Lian pelan. Sangat pelan sehingga tidak ada yang mendengar perkataannya. Seakan-akan tidak apa-apa mengorbankan Gin yang bukan siapa-siapa untuk menyelamatkan anak-anak dari keluarga besar.

__ADS_1


__ADS_2