
Hari ini mereka belajar bermeditasi lagi. Gin benar-benar bosan. Dia bermeditasi seharian dan hampir tertidur. Anak-anak lainnya juga merasakan hal yang sama. Tapi mereka tidak bisa membantah perintah sang guru.
Sampai akhirnya Jia berkata "Kelas meditasi berakhir. Kalian semua melakukannya dengan baik" Dia tersenyum tulus kepada para muridnya sehingga tidak ada seorang pun yang tega untuk mengeluh.
"Guru, jadi apa yang akan kita pelajari hari ini?" Pil Su, sang ketua kelas bertanya.
"Teknik kultivasi" jawab Jia.
Wajah semua orang langsung berubah bersemangat. Inilah yang mereka sudah tunggu-tunggu dari dulu. Belajar bagaimana caranya bertarung.
"Apa kalian sudah memilih teknik kultivasi kalian?" Jia bertanya.
Semua orang mengangguk.
"Apa ada yang belum mempunyai teknik kultivasi?" tanyanya lagi.
Tidak ada jawaban.
Sementara Gin bingung. Dia belum mempelajari teknik apapun. Dia pergi ke perpustakaan untuk mencari teknik bertarung tapi berakhir menemukan teknik meditasi. Tapi dia ingat bahwa kakek hendrik mengajarkannya satu teknik saat dia masih kecil. Gin memijat keningnya untuk mengingat kembali nama teknik yang dia pelajari waktu itu. Dan dia mengingatnya. Itu adalah teknik tinju bernama tinju angin.
Melihat semua orang tidak menjawab, Jia tersenyum dan berkata "Aku akan membantu memaksimalkan teknik kultivasi kalian" katanya. Lalu dia mulai menyuruh murid yang duduk di kursi depan untuk maju. "Serang aku dengan teknikmu" katanya tiba-tiba.
"Eh?" murid itu melonggo kaget.
"Jangan khawatir. Serang aku dengan serius. Aku akan memberitahumu kelemahanmu" kata Jia percaya diri.
Murid itu mengangguk lalu menyerang Jia dengan kekuatan penuhnya. Jia adalah kultivator tubuh inti emas tinggi level 5. Anak-anak ini hanyalah kultivator tubuh perak. Dia bisa menghindari serangan mereka dengan mudah. Lalu, keahlian utama Jia adalah observasi. Teknik observasinya sangat tinggi daripada teknik bertarungnya. Karena itulah dia dipilih sebagai wali kelas agar dapat membimbing para murid memaksimalkan kemampuan mereka, dengan memperbaiki kelemahan mereka. Walaupun murid-muridnya bukanlah orang yang berbakat.
__ADS_1
Satu per satu murid di kelas itu mulai melakukan sparring dengan Jia. Setelah beberapa serangan, Jia akan memberitahu kelemahan dari teknik-teknik milik mereka dengan mudah. Lalu menyuruh mereka memperbaiki kelemahan itu. Dan tibalah giliran Gin. Dia adalah murid terakhir karena kursinya terletak di barisan paling belakang.
"Apa teknik kultivasimu?" tanya Jia.
"Tinju angin" jawab Gin.
"Tunjukkan padaku"
Gin terdiam di tempatnya. Dia berpikir bagaimana caranya menyerang Jia. Dia takut dia menggunakan mananya dan hal yang tidak diinginkan terjadi. Oleh karena itu, Gin memastikan dia tidak memakai mana apapun untuk memperkuat tubuhnya. Lalu dia mulai memanggil energi qi yang tersimpan di pusat dantiannya. Energi qi itu mulai menyebar ke seluruh pembuluh darahnya. Gin merasakan sensasi hangat itu lagi.
Lalu BLASH! Dia melayangkan tinjunya. Itu adalah sebuah tinju yang sangat normal, tapi cepat. Jia menghindari serangan itu dengan mudah. Lalu dia memukul tangan Gin kembali dengan elegan.
"Kau sudah maju ke tubuh perak? Dan ini level 2?" sahutnya tak percaya. Dia mengira bahwa Gin akan menerobos ke tubuh perak sekitar dua atau tiga tahun, melihat bakatnya. Tapi dia berhasil menerobos dan bahkan maju ke level 2.
"Aku beruntung" jawab Gin. Dia tidak mau memberitahu terlalu banyak tentang dirinya.
"Gerakan bertarungmu sangat kaku. Saat kau menggunakan teknik tinjumu, aku bisa melihat banyak sekali kelemahan. Area perut, wajah, kaki." Jelas Jia. "Teknik tinjumu cepat, kau harus memaksimalkannya. Untuk saat ini kau harus meningkatkan kecepatan dan kelincahanmu. Aku akan memberikan tugas untukmu. Mulai besok cobalah lari dengan kecepatan maksimal ke akademi." Dia memberikan secarik kertas pada Gin. "Ini jadwal latihanmu selama seminggu ke depan"
Gin melihat tulisan singkat yang tertera di kertas itu "Senin sampai jumat, lari pagi mengelilingi akademi sampai jam pulang sekolah"
Gin membeku. Jia tersenyum dan memberinya semangat dengan senyum polosnya.
"Baiklah, mulai besok kelas akan menjadi kelas latihan pribadi. Kerjakan tugas yang sudah kuberikan pada kalian selama seminggu ini. Jangan bolos atau bermalas-malasan karena aku akan mengecek hasilnya nanti. Kalau kalian gagal, aku akan memberikan hukuman kepada kalian" kata Jia serius. "Satu hal lagi yang perlu kalian ingat. Ingatlah kenapa kalian belajar di akademi ini dan tujuan kalian. Kalian harus bekerja keras atau kalian akan gagal dan menjadi sampah"
Seluruh kelas menjadi hening. Ekspresi Jia cukup menakutkan saat dia mengatakan hal yang kasar seperti itu. Karena mereka selalu melihat Jia dengan senyum lemah lembutnya. Jia memiliki senyum keibuan yang membuat semua orang menyukainya.
Jia kembali tersenyum dan berkata "Baiklah, sekarang saatnya istirahat. Saat kelas dimulai kembali kalian harus menelaah tugas individu yang sudah kuberikan pada kalian. Aku akan ada urusan sebentar. Kalian bisa berlatih kalau kalian ingin sampai kelas berakhir" katanya. Setelah itu dia pergi.
__ADS_1
Saat Jia pergi semua murid mulai heboh. Mereka mulai membicarakan tugas individu yang mereka dapatkan. Beberapa dari mereka mengeluh dan sisanya sangat bersemangat untuk berlatih. Sementara Gin merasa hari-harinya yang damai telah hancur.
Tapi tiba-tiba kelas itu menjadi sunyi lagi. Gin mengira Jia kembali masuk ke kelas. Tapi ternyata itu bukan mereka melainkan tiga orang murid lainnya dari kelas lain.
Mona dengan cepat menemukan Gin dan dia melambaikan tangannya. "Gin, aku mengunjungimu" katanya. Lalu ada Li Seng dan juga Fei Lan disana.
Gin kaget. Semua murid di kelas perunggu juga kaget. Lalu mereka semua melihat ke arah Gin dengan serentak. Mereka semua tidak pernah menduga bahwa anak-anak dari kelas emas akan menginjakkan kaki ke kelas mereka!
Gin langsung menghampiri Mona dan bertanya "Apa yang kau lakukan?"
Melihat respon tidak nyaman Gin, Mona merasa sedikit sedih. Dia berkata "Kami ingin mengajakmu makan bersama. Sudah lama aku tidak melihatmu dan aku berjanji akan mengunjungimu di kelas nanti" katanya gugp.
Gin menghela napas. Dia melihat ke arah Fei Lan dan Li Seng. Li Seng tersenyum canggung sambil mengangkat tangannya. Sementara Fei Lan mengalihkan pandangannya dengan cepat. Keduanya masih merasa canggung karena kejadian terakhir. Fei Lan menguntit dan Li Seng merusak isi apartemen Gin.
"Baiklah, ayo" kata Gin.
Mona tersenyum bahagia. Lalu mereka berempat melenggang keluar kelas.
"Bro, bagaimana pelajaran di kelasmu? Menyenangkan?" Li Seng mengusir rasa canggungnya. Dia melingkarkan lengan gendutnya ke bahu Gin seperti biasa.
"Tidak" jawab Gin.
Li Seng mengerutkan keningnya. "Kenapa tidak? Apa yang kalian pelajari?"
Gin menggerakan jarinya seperti sedang menghitung. "Meditasi dan tugas lari" dia menjawabnya dengan ekspresi datar.
"...." Mona, Fei Lan dan Li Seng terdiam. Tidak tahu harus merespon apa.
__ADS_1