
Ini pertama kalinya Bimba menginjakkan kaki di rumah Gin. Dia melompat, lalu naik ke atas sofa dan melengkungkan tubuhnya.
"Heh, rumahmu bagus. Mereka merawatmu dengan baik walaupun membuangmu" kata Bimba sarkas.
Gin tidak menjawab. Dia menuju ke arah kulkas untuk mengambil minuman dingin. Lalu meminumnya. Setelah itu, dia menyalakan monitor TV di depannya dan mulai bermain game yang baru saja dibelinya.
Tapi tiba-tiba Bimba terbangun. Seluruh bulunya berdiri dan dia berteriak marah. "Kurang ajar, kurang ajar. Itu membakarku" katanya sambil melompat ke bawah.
Gin menatapnya bingung. "Ada apa?"
Bimba naik ke atas meja, lalu menunjukkan sesuatu yang berada di atas sofa. "Ada benda sialan disana. Benda itu membakarku. Benda aneh apa yang kau letakkan di atas sofa" dia mengamuk.
Gin mulai mengecek sofa itu. Lalu dia membalikkan bantalan sofa dan menemukan sebuah buku hitam jelek yang tertimbun di dasarnya. "Oh? Ini?" Gin akhirnya ingat dengan buku bernama "Hagemoni iblis" ini. Ini adalah buku aneh yang membantunya berkultivasi. Walaupun begitu, dia tidak bisa maju lagi. Dia merasa bakatnya sudah mencapai batasnya. Atau dia hanya perlu mengumpulkan banyak batu kristal untuk menyerap energi qi di dalamnya. Tapi itu melelahkan, jujur saja dia malas. Dia sudah menyerah untuk berlatih.
Bimba mendekat lalu menyentuh buku itu dengan tangan kecilnya. "Ini aneh. Buku ini aneh. Aku tidak bisa membacanya." katanya.
Gin membuka buku itu. "Ini tidak kosong. Ada gambar di dalamnya" katanya.
"Bukan itu. Aku sama sekali tidak bisa membaca asal muasal benda ini" kata Bimba cemberut. Dia menatap buku tua itu dengan tatapan kebencian. Buku itu membuat harga dirinya jatuh karena dia tidak bisa membacanya.
"Hm.." Gin ingat, dia hanya meminjam buku ini seminggu. Tapi dia sudah menyimpan buku ini lama sekali di rumahnya. Dia akan mengembalikannya besok dan dia harus bersiap untuk membayar dendanya.
Lalu Bimba mulai mengelilingi ruang tamu Gin dengan indra penciumannya. Seakan-akan dia mencari sesuatu.
"Ada apa?"
"Ada penyusup yang masuk ke rumahmu. Aku mencium bau orang lain" kata Bimba.
"Tidak apa-apa. Dia adalah seorang wanita di lantai atas" respon Gin datar. Dia tidak tahu mengapa wanita galak itu selalu mengawasinya dan menyusup ke dalam apartemennya. Tidak ada benda berharga di tempat ini.
"Um, aku juga mencium bau yang enak" kata Bimba bersemangat. Lalu dia melompat ke atas meja dan menatap sebuah batu yang membeku di atasnya. "Ini, ini. Berikan ini padaku oke?" katanya sambil menatap Gin dengan mata kucingnya. Itu terlihat sangat menggemaskan.
"Untuk apa?"
"Aku ingin memakannya" jawab Bimba. "Aku yakin rasanya akan sangat enak"
Mendengar Bimba ingin memakannya, batu itu tiba-tiba bergerak. Dia melompat dengan cepat dan menghantam wajah Bimba dengan tubuh kerasnya. BAK! Lalu dia memantul ke atas bahu GIn.
__ADS_1
"Dasar, hewan buas. Enak saja kau ingin memakanku!" batu itu protes.
Bimba bisa merasakan sakit yang teramat sangat di keningnya walaupun dia binatang sihir tubuh immortal. Serangan batu itu benar-benar membuatnya kesakitan. "Sialan!" dia berteriak marah. "Gin, berikan batu itu padaku. Aku akan mencabik-cabiknya dengan taringku!" katanya. Harga dirinya jatuh karena dia dipukul oleh sebuah batu.
"Tuan, jangan berikan aku padanya. Aku mohon..." batu itu tiba-tiba memohon pada Gin dengan tubuh mengigil.
"Sejak kapan aku jadi tuanmu?" tanya Gin balik.
"Sejak kau memberikan mana padaku" jawab batu itu. "Ngomong-ngomong, aku mau lagi" katanya tak tahu malu. Padahal sebelumnya dia memohon ketakutan. Sekarang dia meminta mana Gin seolah-olah dia meminta es krim.
Tapi Gin memberikan mananya tanpa protes. Jari telunjuknya menempel pada batu, lalu Gin merasa batu kecil itu memakan 5000 mana miliknya. Ini cukup banyak. Tapi ini tidak berarti apapun untuk Gin. Mananya akan pulih dalam waktu dua puluh empat jam.
Setelah selesai, batu itu tidak membeku seperti sebelumnya. Tapi permukaan batu itu tiba-tiba retak. Retakannya semakin besar dan akhirnya itu retak sepenuhnya seperti cangkang telur. Seekor hewan kecil mengeluarkan kepala mungilnya. Saat batu itu retak sepenuhnya, seekor burung kecil terbang dan menghinggap di atas kepala Gin. Burung kecil itu memiliki bulu emas yang sangat mencolok dan ekor berwarna merah api.
"Uhu, terima kasih Tuan" burung kecil itu berkata sambil membersihkan sela-sela sayapnya.
"Hei, pantasan baunya enak. Ternyata itu ayam" kata Bimba kemudian.
Urat-urat kekesalan muncul di kepala burung kecil itu. "Ayam kepalamu. Aku ini phoenix. Aku adalah hewan legenda bukan kucing gemuk dan jelek sepertimu." dia mencibir Bimba.
"Aku bukan kucing gemuk. Aku ini adalah dewa iblis tahu. Berani-beraninya kau mengejekku" kata Bimba marah.
Gin mengambil burung kecil itu dan meletakkannya di telapak tangannya. "Batu itu adalah telur" katanya tidak percaya. "Phoenix ya. Kau benar-benar binatang sihir milik keluarga Fei" Gin ingat bahwa dia melihat phoenix raksasa dari keluarga Fei.
"Apa itu keluarga Fei. Aku tidak kenal. Aku phoenix milik tuan" jawab burung itu keras kepala.
"Baiklah, aku akan memberimu nama karena sangat tidak enak memanggilmu burung" kata Gin. "Namamu Muca"
Burung kecil itu menundukkan kepalanya seolah-olah dia tidak setuju dengan nama itu.
"Bwahahahaha, Muca, muca. Namamu terdengar seperti kuman" ejek Bimba.
"Diam kau kucing jelek" kata Muca kesal.
Tak lama kemudian, kening burung kecil itu bercahaya. Kejadian yang sama seperti Bimba sebelumnya.
"Ummm, aku mendapatkan mana lagi" kata Muca bersemangat. "Sekarang aku adalah binatang inti emas dasar" katanya.
__ADS_1
"Hanya inti emas dasar? Kau benar-benar seekor ayam" ejek Bimba.
"Aku ini phoenix!"
Layar transparan muncul di depan Gin.
(Segel: 2 /10)
Gin pun mendapat kesimpulan bahwa angkanya akan bertambah kalau dia berhasil mendapatkan binatang sihir. Apa yang terjadi saat dia berhasil mengumpulkan sepuluh binatang sihir? Gin tidak tahu.
Gin menatap Bimba dan berkata. "Karena Muca bisa memakan manaku, apa kau juga bisa ?"
"Aku tidak tahu" Bimba menggelengkan kepalanya. "Tempat ini tidak memiliki energi mana sama sekali. Jadi aku tumbuh dengan menyerap energi qi" jawab Bimba. "Aku saja baru tahu kau bisa memberikan manamu kepada ayam itu dengan mudah"
"Aku ini phoenix!"
"Apa kau ingin mencobanya?" tanya Gin dengan ekspresi penasaran.
"Boleh saja"
Gin mengarahkan telunjuknya ke kening Bimba. Bimba pun merasakan perasaan hangat yang masuk ke seluruh tubuhnya. Dia langsung menyerapnya. Dalam sekejap Gin kehilangan 10.000 mana miliknya.
"Bagaimana?" tanya Gin saat melihat Bimba tidak menunjukkan reaksi apapun.
Tiba-tiba seluruh bulu Bimba berdiri seperti jarum. "Aku akan meledak!" katanya panik.
"Hei, hei, jangan meledak disini. Kau akan merusak rumahku" respon Gin cepat.
"Bagaimana kalau di kota?"
"Aku akan membunuhmu"
Gin mengangkat Bimba dan menuju ke arah jendela. "Kau bisa meledak di hutan" katanya santai. Lalu dia melempar kucing itu dari lantai 150. Bimba berteriak dan mengutuk. Tapi Gin menutup jendela kamarnya dengan santai sehingga suara kucing gemuk itu benar-benar lenyap dari telinganya.
Gin menghela napas lalu dia duduk di sofa kembali sambil meraih konsol gamenya. "Benar-benar buang waktu"
"Anu, tuan..." Muca tiba-tiba mencicit.
__ADS_1
"Apa kau ingin meledak juga?" tanya Gin dengan ekspresi yang sama sekali tidak bisa dibaca.
"...." Muca terdiam.