
Seluruh murid di akademi Jin Shin dikumpulkan dalam satu gedung. Pihak akademi menggunakan gedung aula sebagai tempat evakuasi sementara bagi para murid. Mereka juga menambahkan segel pelindung agar para murid itu aman di dalam gedung.
Saat Gin tiba, ruangan itu dipenuhi oleh banyak sekali manusia. Ini pertama kalinya Gin melihat seluruh murid dari akademi ini. Ada sekitar ribuan orang di aula ini. Untung saja gedung ini sangat besar untuk menampung mereka semua. Setelah Gin sampai, guru yang mendampinginya menyuruhnya untuk istirahat, lalu kemudian menghilang dengan cepat.
Gin melihat sekelilingnya, berusaha mencari teman sekelasnya. Dia tidak buru-buru. Dia hanya berjalan santai sambil mencari wajah yang dikenalnya di antara lautan manusia ini.
Lalu dia menemukan Fei Lan. Gadis itu dikelilingi oleh sekelompok pria yang bukan berasal dari kelas mereka.
"Oh? Gadis itu sangat menarik" Bimba yang sedari tadi bersandar di bahu Gin tiba-tiba berbicara. Tidak ada yang mempedulikannya karena dia menyembunyikan seluruh auranya dan terlihat seperti kucing kecil biasa.
"Apa yang kau lihat?" Gin ingat bahwa dia bisa melihat masa lalu dari seseorang yang diinginkannya.
"Aku melihat kehidupan masa lalunya. Tidak berbeda dari sekarang. Dia sosok yang populer dan jenius"
"Oh" Gin kehilangan minatnya. Dia pikir dia akan mendengar hal yang menarik. Tapi ternyata hanya hal umum yang biasa. Siapa yang tidak tahu bahwa Fei Lan itu jenius dan populer?
"Tapi dia tidak bisa hidup lama" sambung Bimba tiba-tiba.
"Um?" sekarang Gin terlihat tertarik dengan topiknya.
"Dia jenius. Tapi karena kekuatannya, dia mati dengan cepat. Di kehidupan ini dia juga memiliki masalah dengan bakat alaminya. Dia perlu keberuntungan untuk menemukan sesuatu yang mengontrol bakatnya agar tidak melukai tubuhnya" jelas Bimba sambil mengusap wajahnya dengan kaki kecilnya.
Gin menatap Fei Lan. Dia gadis yang sombong dan kesan pertama tentangnya sangatlah buruk. Gin tidak mau terlibat dengannya. Tapi setelah berinteraksi dengannya akhir-akhir ini, Gin merasa bahwa dia tidak seburuk itu. Sangat kasihan bahwa dia memiliki takdir yang berat karena bakatnya. Tapi untuk saat ini, Gin sama sekali tidak mau ikut campur dengan kehidupan orang lain.
Kebetulan dia juga melihat Li Seng di sekitar. "Bagaimana dengan pemuda itu?" tanya Gin pada Bimba.
"Tidak tahu" jawab Bimba acuh.
"Eh? Kenapa? Apa kekuatanmu sudah habis?"
"Tidak" jawab Bimba dingin.
"Lalu kenapa?"
"Aku hanya ingin melihat masa lalu orang yang ingin aku lihat. Aku tidak mau melihat babi itu. Aku hanya mau melihat gadis-gadis cantik" jawabnya heroik.
"...." Gin tak bisa berkata-kata. Tapi dia tidak memaksa Bimba untuk melakukan hal itu karena itu tidak terlalu penting untuknya.
__ADS_1
Gin pun menghampiri teman-teman sekelasnya. Dia bisa melihat semua orang berkumpul di area yang sama.
"Jangan sombong hanya karena kau berasal dari kelas emas. Kami juga berasal dari kelas emas dan tingkat kami lebih tinggi dari kalian"
Gin mendengar teriakan saat dia mendekat.
"Oh? Mereka bukan kelas emas. Mereka hanyalah sekumpulan anak domba yang meminum susu induk mereka"
"Kau benar. Ini benar-benar menarik. Siapa yang menyangka bahwa anak-anak dari keluarga besar akan masuk di tahun yang sama dan berkumpul di kelas yang sama?"
"Sepertinya mereka membayar untuk kelas emas"
"Ya, mereka anak orang kaya yang selalu diberi makan oleh induk mereka. Tentu saja para orang tua itu menyogok sekolah"
"Benar-benar tidak adil"
Para murid yang mengelilingi Fei Lan dan lainnya mulai mengejek dengan suara keras. Murid-murid lainnya yang tidak terlibat mendengar ejekan itu. Dalam sekejap Kelas Emas dari tingkat satu menjadi pusat perhatian seluruh murid yang ada di aula.
"Hentikan!" Fei Lan berteriak marah.
"Hei, kami ini jenius. Kalian hanya sampah kalau dibandingkan dengan kami" Long An maju dengan wajah memerah. Dia menahan diri ingin memukuli mereka.
"Jenius?" salah satu murid senior menjawabnya dengan nada mengejek. "Siapa murid terkuat di kelas kalian? Oh? Hanya inti emas dasar level satu?" dia menatap Fei Lan dan Yusa Arai dengan tatapan merendahkan.
"Hei, aku mengakuinya kau benar-benar hebat sudah mencapai inti emas dasar level satu saat menjadi murid baru. Tapi di kelas emas kami. Kultivator inti emas dasar level satu adalah yang terlemah" murid senior lainnya tersenyum geli.
"Benar sekali. Kalian sama sekali bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan kakak senior Lei"
"Dia sekarang sudah menjadi kultivator inti emas menengah. Dia maju dengan pesat walaupun tidak didukung oleh keluarga besar manapun. Dia adalah jenius sejati"
"Kelas emas kalian adalah sampah. Aku bahkan tidak yakin kalian akan maju ke inti emas menegah saat kalian naik ke tingkat dua" sambung lainnya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Hei, bukannya keterlaluan bagi senior membuly junior? Kami akan melaporkan hal ini ke guru agar kalian dihukum" kata Li Seng.
"Lihat, lihat. Seperti yang kukatakan. Hanya segerombolan domba yang minum susu pada induk mereka. Lapor saja sana. Dasar pengecut."
Fei Lan tidak tahan. Dia ingin menghajar mereka. Tapi Yusa menghentikannya. Yusa menggelengkan kepalanya pelan saat Fei Lan menatapnya. Itu adalah kode "biarkan saja. abaikan mereka"
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan?" sosok lainnya tiba-tiba muncul. Dia adalah seorang pria dengan rambut pirang panjang. Dia bernama Lei Kong. Murid jenius pertama dari tingkat dua.
"Kakak senior Lei!"
"Aku minta maaf atas kelakuan mereka" Lei Kong tersenyum. Dia menatap Fei Lan dengan senyum polos. "Kau sangat cocok dengan julukan dewi itu. Bakatmu bagus dan kau sangat cantik. Dewi yang agung, aku minta maaf atas kelakuan kasar dari teman-teman sekelasku"
Fei Lan menatapnya cemberut, tidak memberinya respon apapun.
Lei Kong masih tersenyum. Dia mengibaskan rambutnya dengan percaya diri. Dia sangat memuja penampilannya sendiri sebagai pria tampan dan jenius. Banyak murid perempuan yang mengejarnya, tapi dia tidak menerima satu pun dari mereka. Karena mereka semua di bawah levelnya. Sampai akhirnya dia melihat Fei Lan dan sadar bahwa dia menemukan pasangan yang se-level dengannya.
"Dewi Lan, sebagai permintaan maafku. Aku akan mentraktirmu makan malam" dia berkata dengan lembut.
Perkataannya membuat para murid perempuan menjadi heboh karena kaget. Mereka menatap Fei Lan dengan tatapan penuh permusuhan karena mencuri senior favorit mereka.
"Tidak perlu" jawab Fei Lan acuh.
Beberapa murid pria di kelas emas tingkat satu juga menatap Lei Kong dengan wajah masam. Terutama Long An, karena dia juga sedang berusaha menaklukan Fei Lan.
"Bagaimana kalau hadiah? Aku akan memberikan barang apapun yang kau inginkan" kata Lei Kong dengan nada percaya diri.
"Tidak perlu..."
Belum selesai Fei Lan berbicara, tiba-tiba seekor kucing kecil mendarat di kepala Lei Kong.
Lei Kong langsung melotot kaget dan membeku. Pasalnya dia sama sekali tidak menyadari kehadiran kucing itu sampai benda itu mendarat di kepalanya. Dia adalah orang yang sensitif. Dia bisa merasakan mahluk apapun yang berusaha menyentuhnya. Tapi kali ini dia bahkan tidak bisa mendeteksi kehadiran seekor kucing.
"Apa yang kau lakukan?" Gin datang dan memegang tubuh Bimba. "Lepaskan"
"Miao, Miaw, Miauuu (Rambut ini cocok sebagai kasurku!)" protes Bimba sambil mengaitkan cakarnya ke rambut Lei Kong.
Tapi Gin menariknya dengan paksa sehingga cakar kucing itu menarik dan membuat rambut panjang Lei Kong berantakan.
Gin akhirnya berhasil melepaskan Bimba dari kepala orang itu. Tapi Bimba tetap protes. "Miaooo. miaoooo (Kasurku. Aku ingin itu!)"
"Tidak bisa" jawab Gin langsung. "Apa kau ingin membuatnya menjadi botak dengan mengambil rambutnya? Walaupun cocok sebagai tempat tidur, tidak baik membuat seseorang menjadi botak tanpa izin" kata Gin. Dia bahkan tidak menyadari bahwa semua orang bisa mendengarkan omongannya dengan jelas.
"..." Lei Kong terdiam.
__ADS_1