
Fei Lan mengejar Gin dan bertanya. "Kau tidak apa-apa?"
Gin menggeleng.
"Maafkan aku" katanya dengan wajah menyesal.
"Kenapa kau meminta maaf? Itu bukan salahmu"
"Tapi tetap saja pria itu berasal dari keluargaku. Siapa yang mengira bahwa dia akan menyerang mu seperti itu." kata Fei Lan tidak senang. Dia benar-benar tidak menyukai Fei Lei sekarang.
Mendengar kata "menyerang", Gin bergidik. dia menatap Fei Lan dengan gugup dan bertanya. "Apa pria itu gay?"
"Ha?" Fei Lan melebarkan matanya tak percaya. Dia juga sedikit bingung. "Apa maksudmu?"
"Lupakan" katanya kemudian dengan acuh. Gin sadar bahwa dia sudah melontarkan hal yang sangat konyol.
Malam itu, Fei Lan benar-benar mengantar nya sampai di depan gedung apartemen nya. Melihat Gin sudah masuk dengan aman, Fei Lan menganggukkan kepalanya. Dia merasa lega. Untung saja Gin tidak terluka sedikitpun. Kalau dia terluka karena upah Fei Lei, dia tidak akan bisa membendung rasa bersalahnya.
"Tapi kenapa Gin tidak terluka sama sekali?" gumam Fei Lan bingung. Dia mengerjapkan matanya, berpikir beberapa kali. Tapi dia tidak menemukan jawabannya sama sekali.
Menurutnya, Fei Lei sama sekali bukan orang baik dan pemaaf. Dia sangat kejam. Dia tidak pernah melepaskan targetnya sama sekali. Tapi kenapa Gin baik-baik saja saat berhadapan dengannya?
"Apa aku datang di waktu yang tepat?" dia bergumam dengan mata berbinar.
Tapi dia tetap harus memarahi Fei Lei saat dia pulang nanti. Pria itu terlalu sombong. Dia tidak bisa membiarkan nya untuk menargetkan Gin secara terus menerus. Dia akan menghentikan nya.
Tapi, siapa yang mengira bahwa dia tidak menemukan keberadaan Fei Lei saat dia kembali. Pria itu tidak pulang ke kediaman mereka. Fei Lan pikir dia melarikan diri karena rasa bersalah. Fei Lan tidak terlalu memikirkan nya. Dia mengabaikan nya dan kembali fokus ke pelatihannya.
***
Keesokan harinya, mereka berempat mengunjungi kediaman Li saat sepulang sekolah. Ini pertama kalinya bagi Gin dan Mona. Tapi bukan bagi Fei Lan.
Fei Lan sudah terbiasa mengunjungi kediaman keluarga besar lainnya. Dia sering berkunjung sejak dia masih kecil. Jadi dia tidak terlalu merasa antusias seperti Gin dan Mona.
Mona mengerjap kagum karena dia belum pernah melihat mansion sebesar ini. Dia tinggal di desa sebelum nya, jadi pemandangan seperti ini tidak mungkin ada. Sementara Gin juga sedikit kagum karena mansion kediaman Li lebih besar dari mansion lamanya.
Li Seng mengawal mereka untuk masuk ke dalam rumahnya. Lalu mereka langsung menuju ke kamar pribadi Li Seng.
Li Seng sangat senang. Jujur saja, ini pertama kalinya dia membawa perempuan ke kamar pribadinya. Jadi dia merasa cukup antusias.
__ADS_1
Dia mempersiapkan semuanya dengan baik dari tadi pagi. Merapikan kamar nya, menyemprotkan parfum di seluruh ruangan dan menyembunyikan semua benda-benda terlarang. Dia menata kamar nya dengan rapi dan meletakkan beberapa buku di atas meja belajar mereka.
"Rapi sekali" Mona memuji.
Li Seng langsung tersenyum sambil membusungkan dadanya. Dia sangat bangga saat mendengar ada gadis cantik yang memujinya.
Tak lama kemudian, seorang wanita cantik masuk sambil membawa nampan berisi minuman. Wanita itu tersenyum dan berkata "Silahkan. Jangan lupa diminum". Suaranya mengalir seperti lonceng yang sangat lembut.
"Terima kasih bibi" Fei Lan berkata. Mona juga mengikuti nya untuk berterima kasih.
"Ibu, aku akan membantumu untuk mengambil cookies nya" kata Li Seng sambil beranjak dari tempatnya.
Mata Gin melebar saat mendengar Li Seng memanggil wanita cantik itu dengan sebutan ibu. Dia tidak pernah menyangka bahwa ibu Li Seng akan terlihat seperti Dewi. Mengingat Li Seng dan ayahnya benar-benar mirip.
"Bibi Fon, terima kasih" Fei Lan tersenyum ramah. Ini bukan pertama kalinya dia bertemu dengan Ny. Fon dari kediaman Li.
"Bibi tidak menyangka bahwa nona kecil akan berteman dengan babi kecil itu" kata Bibi Fon, mengejek putranya. "Dia tidak melakukan hal tidak sopan padamu kan?"
"Tidak, tidak, bibi" Fei Lan langsung menyangkal dengan canggung.
"Syukurlah. Dia memang nakal tapi dia tidak jahat. Jadi bibi mohon jangan diambil hati kalau dia bertingkah nakal" kata Bibi Fon sopan.
Saat mendengar nya, Ny. Fon tersenyum senang sekaligus lega. Dia tahu bahwa putranya memiliki reputasi paling buruk diantara anak-anak dari keluarga besar lainnya. Dia takut anak itu membuat masalah dan menyinggung banyak orang. Tapi ternyata hal itu tidak terjadi. Ny. Fon merasa sedikit beban terlepas di hatinya.
Li Seng datang kembali sambil membawa beberapa toples kue. Dia berkata ini adalah cemilan yang dibuat sendiri oleh ibunya. Dia sangat bangga saat mengatakan nya.
"Terima kasih bibi" sekali lagi ketiga anak muda itu berterima kasih karena kebaikan Ny. Fon.
Melihat bahwa mereka sudah bersiap-siap ingin belajar. Ny. Fon meninggalkan ruangan.
"Ibumu sangat cantik" Mona memuji dengan mata berbinar.
"Tentu saja" Li Seng tersenyum bangga. "Tidak hanya cantik. Ibuku juga kuat dan pintar memasak. Dia benar-benar sempurna" Li Seng memuji ibunya.
Li Seng berharap dia bisa menemukan gadis seperti ibunya sebagai pacar. Walaupun dia tahu itu sulit dan bahkan tidak mungkin. Sangat sulit untuk menemukan wanita baik, cantik dan berbakat. Kedua gadis di depannya masuk dalam kategori itu. Sayang nya dia sudah menyerah duluan.
"Lagipula aku tidak bisa melawannya" kata Li Seng dalam hati sambil memandang Gin dengan tatapan iri. Dalam waktu singkat, dia tahu bahwa kedua gadis itu lebih dekat dengan Gin daripada dirinya. Dan dia juga tahu bahwa Gin adalah orang yang sangat misterius. Jadi dia menyerah.
Mereka mulai belajar. Seperti biasa, Fei Lan dan Mona mengajari mereka secara bergantian.
__ADS_1
Gin mengerutkan kening selama pelajaran berlangsung. Bukan karena dia tidak mengerti. Tapi dari tadi, semenjak Ny. Fon meninggalkan ruangan, dia selalu mendengar suara berisik yang menganggu konsentrasi nya.
"Makanan, makanan"
"Tidak enak sama sekali"
"Aku ingin daging"
"Aku ingin terbang"
"Aku ingin tidur"
"Makanan, makanan"
"kumpulkan makanan sampai melimpah"
"Perut kenyang"
"Tidur pun puas"
Itu adalah suara nyanyian. Suara nyanyian itu sangat melengking dan benar-benar tidak enak di dengar. Seperti suara Kakek-kakek yang sedang bernyanyi dengan lirik yang diulang-ulang secara terus-menerus.
Gin memperhatikan yang lainnya. Mereka sama sekali tidak merasa terganggu. Seakan-akan suara nyanyian jelek itu sama sekali tidak adam Hanya dia yang mendengarnya. Mungkin karena skill yang diterima nya dari sistem, Indra pendengaran nya menjadi lebih sensitif.
Gin menggunakan mananya, dia menggunakan skill "telepati" nya dan berkata. "Bisakah kau diam? Suaramu menganggu" kata Gin kesal.
"...."
Dalam sekejap suara nyanyian itu berhenti. Suasana kembali hening. Hanya suara Mona yang terdengar karena gadis itu sedang menjelaskan dengan serius.
Gin merasa lega. Orang aneh itu pasti menghentikan nyanyian nya karena mendengar peringatan nya.
"Siapa kau nak?" Gin mendengar balasan dari orang aneh itu. Nada suaranya terdengar kebingungan.
"Siapa kau kakek?" Gin balik bertanya. Dalam sekejap dia tahu bahwa itu adalah suara seorang pria tua.
"Aku adalah tuan rumah disini. Siapa kau?" Tiba-tiba suara pria tua itu meninggi.
Gin merasakan bahwa tanah dibawahnya bergetar. Ya, pria tua itu marah.
__ADS_1