Tuan Muda, Jangan Lari!

Tuan Muda, Jangan Lari!
Aku tidak Cemburu


__ADS_3

Keesokan harinya, Li Seng kembali diseret oleh Fei Lan untuk mengawasi Gin. Li Seng merasa enggan tapi karena dia diseret, mau tidak mau dia harus ikut. Saat jam pulang tiba, mereka langsung menunggu Gin untuk keluar dari sekolah. Lalu mereka mengawasi pemuda itu dari belakang di sepanjang jalan.


Gin menyadari bahwa dia diikuti. Dia hanya bisa menghela napas. Dia tidak tahu kenapa dua orang itu mengikutinya. Dia tidak bisa menebak alasannya sama sekali.


"Oh, lihat. Dia pergi ke toko game" gumam Fei Lan. Lalu dia mendorong Li Seng. "Ikuti dia masuk ke dalam" katanya.


Li Seng menatap Fei Lan dengan tatapan memohon bahwa dia tidak mau. Tapi Fei Lan malah melototinya. Sehingga dia masuk ke dalam toko itu dengan wajah lesu.


Li Seng melihat bahwa Gin memasukkan beberapa jenis game dan membawanya pulang. Setelah Gin keluar dari toko, dia bergabung kembali dengan Fei Lan dan mengikuti Gin kembali di jalanan.


Lalu tiba-tiba, Gin dan Mona bertemu secara kebetulan. Mona baru saja keluar dari toko serba ada saat Gin kebetulan melintas di depan toko. Keduanya berbicang dan mereka pulang bersama-sama. Saat melihat hal itu, wajah Fei Lan langsung berubah cemberut.


"Oh, itu Mona. Aku rindu masakannya" kata Li Seng. "Aku juga ingin melihatnya dengan celemek, dia sangat cantik. Seperti ibuku" kata Li Seng sambil cengengesan.


Wajah Fei Lan berubah semakin masam. PLAK! Dia langsung memukul kepala Li Seng.


Li Seng tersentak sambil menatap Fei Lan dengan tatapan tak percaya. "Dewi Lan, kenapa aku dipukul?"


"Aku tidak perlu alasan untuk memukulmu, humph" jawab Fei Lan. Lalu dia mengacuhkan Li Seng.


"..." Li Seng yang tidak tahu apapun hanya bisa kebingungan di sepanjang jalan.


Sementara, Gin dan Mona berjalan bersama-sama sambil menanyakan kabar satu sama lain.


"Bagaimana kelasmu yang sekarang? Apa itu menyenangkan ?" tanya Mona.

__ADS_1


"Tidak buruk" jawab Gin. "Kau baru saja membeli bahan makanan?" tanyanya sambil melihat kantong belanjaan yang dibawa oleh Mona.


"Iya" Mona mengangguk. "Kau baru saja membeli game?" tanyanya sambil melihat kantong belanjaan milik Gin.


Gin mengangguk.


Lalu keduanya refleks berkata "Kau tidak berubah sama sekali". Setelah itu mereka terdiam saat menyadari bahwa mereka mengatakan hal yang sama. Wajah Mona langsung berubah merah sementara Gin bersikap acuh. Walaupun Gin berpikir bahwa ini adalah kebetulan yang aneh.


Melihat interaksi manis Gin dan Mona, Li Seng berkata "Wah, mereka sangat cocok, seperti..."


Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya. KRAK! Dia mendengar suara patah di dekatnya. Lalu dia melihat Fei Lan mematahkan satu lampu jalan.


Li Seng melonggo dengan mulut terbuka. "A...apa yang kau lakukan?"


Fei Lan melihat Li Seng dengan ekspresi penuh kekesalan. "Aku tidak melakukan apapun" jawabnya. Lalu dia menempelkan telapak tangannya di tempat yang patah. Tiang besi itu mulai meleleh dan menyatu kembali. Lalu tiba-tiba ada es yang terbentuk di sekitar retakan. Es itu pecah dalam sedetik dan tiang lampu itu berdiri dengan kokoh.


"Aku merasa ada dengar sesuatu" Mona menoleh ke belakang dengan cepat. Tapi dia hanya melihat beberapa orang yang lalu lalang dan tidak ada kejadian aneh sama sekali.


"Ada apa?" tanya Gin.


"Sepertinya ada yang rusak atau patah. Tapi mungkin cuma perasaanku" jawab Mona.


Lalu mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka kembali. Karena Mona ingin berbicara dengan Gin, dia berusaha memperlambat langkahnya sehingga waktu mereka untuk sampai bisa lebih lama. Gin menyadari bahwa langkahnya menjadi lamban tapi dia tidak mengatakan apapun.


Mona mulai menceritakan apa yang terjadi di kelas mereka setelah ujian itu. Semua orang sibuk berlatih. Lalu sudah ada beberapa orang yang berhasil menerobos ke tahap selanjutnya. Ini semua karena mereka merasa direndahkan oleh para senior saat itu.

__ADS_1


Lalu Mona mengeluhkan latihannya. Dia merasa bahwa dia akan menerobos ke tahap inti emas dasar tapi dia mengalami sebuah hambatan. Dia hampir menerobos tapi hambatan di meridiannya menghalanginya. Ini hal yang wajar dan terjadi pada semua kultivator. Mona hanya perlu bersabar dan terus berlatih sampai hambatan itu retak.


Jujur saja, Gin juga merasakan hal yang sama. Dia hampir menerobos ke tubuh perak. Tapi ada hambatan besar sehingga walaupun dia menyerap banyak energi qi, dia tidak bisa menerebos. Tapi dia menyerah dan berpikir mungkin hambatan itu akan retak suatu saat nanti.


Mereka akhirnya sampai. Wajah Mona langsung berubah sedih karena dia harus berpisah dengan Gin.


"Aku akan main ke kelasmu nanti" kata Mona.


Gin hanya menatapnya lalu mengangguk pelan. "Sampai jumpa" kata Gin.


"Anu Gin..." Mona berkata dengan gugup.


"Ada apa?"


"Semenjak kau tidak ada di kelas aku benar-benar merasa kesepian. Walaupun aku berusaha berteman dengan teman-teman yang lain, mereka membuat jarak padaku. Sehingga aku tidak bisa merasa dekat dengan mereka sama sekali" Mona menjelaskan dengan ekspresi sedih. "Aku merindukanmu..." tambahnya kemudian dengan suara mencicit.


Tanpa menunggu tanggapan Gin, dia berkata "sampai jumpa lagi nanti" lalu berlari masuk ke dalam gedung dengan wajah memerah.


Li Seng bisa melihat semuanya. Dia menatap Gin dengan tatapan iri dan berkata "Cih, gadis baik itu menyukai bro ku. Tapi dia tidak peka" kata Li Seng cemberut.


Lalu dia melihat Fei Lan dan ingin menanyakan sesuatu. Tapi wajah Fei Lan terlihat menakutkan. Bahkan aura yang keluar dari tubuhnya juga sangat menakutkan. Li Seng membeku. Dia melihat ke arah Gin dan Mona, lalu Fei Lan lagi. Dan sampai akhirnya dia mengerti sesuatu.


"Dewi Lan, kau cemburu?" tanya Li Seng tak percaya.


Fei Lan menatap Li Seng dengan tatapan dingin. Lalu tanpa aba-aba dia menendang Li Seng dengan keras dan bekata "Aku tidak cemburu!" dengan seluruh emosinya.

__ADS_1


Li Seng yang terlempar memasang wajah sedih. Dia merasa hal tidak adil selalu menimpanya. Padahal dia tidak salah sama sekali.


__ADS_2