
Akhirnya mereka tiba di Kota Burma. Kota ini benar-benar kecil. Saat mereka masuk ke dalam kota, mereka disambut oleh jalanan yang belum diaspal dan rumah-rumah tua.
"Kalian ingin berkeliling?" tanya Yusa. Ini adalah pertama kalinya mereka berkunjung ke kota pinggiran. Jadi Yusa tidak ingin meninggalkan kesempatan untuk berkeliling di kota kecil ini.
Semuanya mengangguk. Mereka juga ingin berkeliling dan melihat-lihat.
"Jangan lupa untuk berkumpul kembali di depan gerbang kota setelah dua jam" kata Yusa. Semua orang setuju dan berpencar.
Gin berpergian sendiri ke arah pasar. Tujuannya adalah makanan. Tapi bahkan suasana pasar di kota ini terasa seperti kuburan. Hanya ada sedikit toko yang berjualan dan hanya ada sedikit orang yang berlalu lalang. Gin tidak menemukan apapun yang menarik matanya sehingga dia mendesah kecewa.
Seorang anak laki-laki tiba-tiba muncul di depannya. Anak itu memiliki penampilan lusuh dan berjalan tanpa alas kaki. "Kakak, apa kau pendatang? Pakaianmu sangat bagus" anak itu berkomentar.
Gin mengangguk.
"Kakak, apa yang kau inginkan? Aku bisa menunjukkan jalan. Biayanya hanya 1000 flos" kata anak itu polos.
"Aku ingin tahu tempat yang menjual makanan enak" jawab Gin kemudian.
"Ikut aku kakak"
Gin mengikuti anak itu. Dia membawanya ke gang kecil dan mereka berhenti di sebuah toko yang terlihat usang. Anak itu membuka pintu dan dering bel yang sangat menyejukkan terdengar. Gin ikut masuk. Dia bisa melihat bahwa ini adalah sebuah rumah makan atau cafe. Dia juga bisa melihat tiga orang di pojok kanan yang sedang menikmati makanan mereka. Tapi penampilan mereka sangat aneh. Ketiga orang itu menggunakan jubah hitam panjang yang menutupi seluruh tubuh mereka dan tudung yang menutupi kepala mereka.
Gin tidak memperhatikan mereka lagi karena pemilik tempat ini menyambutnya dan menyuruhnya duduk. Lalu dia menyerahkan sebuah menu kepada Gin.
"Apa menu terbaik disini?" tanya Gin.
"Steak udang dan Mie Poli" jawab pemilik cafe.
__ADS_1
"Oke, aku pesan itu. Dua porsi" kata Gin kemudian. Lalu dia menarik anak yang menuntunnya untuk duduk di depannya. "Kau ikut makan juga. Aku akan membayarmu setelah ini" kata Gin.
Anak itu melonggo lalu dia menatap Gin dengan mata berbinar. "Terima kasih kakak"
"Keluarga besar..." tiba-tiba Gin mendengar sayup-sayup suara. Indra pendengarannya cukup bagus sehingga dia bisa mendengar dengan baik walaupun itu hanya sedikit suara.
Gin menggunakan skillnya untuk mempertajam pendengarannya. Suara itu berasal dari tiga orang jubah hitam yang duduk di paling pojok cafe. Gin merasa penasaran karena mereka tiba-tiba menyebut 'keluarga besar' di topik pembicaraan mereka.
"Hutan itu belum pernah dijelajahi oleh seorang pun. Bahkan keluarga besar dari Mozu tidak pernah menyentuhnya"
"Kalau begitu kita akan jadi yang pertama. Jangan biarkan informasi ini tersebar di negara ini atau kita akan rugi"
"Kita harus mendapatkan item itu lebih dulu"
"Tenang saja, kita punya petanya"
"Bagaimana dengan para penjaga?"
Setelah itu ketiganya berhenti berbicara. Mereka berdiri dan membayar makanan mereka dan keluar dari cafe.
Gin berpikir. Kelihatannya mereka membicarakan tentang hutan yang akan mereka jelajahi. Tapi pembicaraan mereka tidak jelas. Dia masih tidak tahu apa itu item dan penjaga. Lalu monyet primitif? Semuanya membingungkan.
Gin berusaha mengacuhkannya. Tapi dia akan menjelajah selama sebulan di hutan itu. Dia ingin menghindari masalah sebisa mungkin. Tapi sepertinya ini tidak akan mudah. Karena masalah selalu muncul di depannya dan waktunya tidak terduga.
Setelah itu, makanan yang dipesannya telah datang. Gin mencicipinya. Rasanya tidak buruk tapi tidak seenak itu. Dan anak ini bilang, makanan ini adalah yang terenak di kota ini.
Sementara anak di depan Gin makan dengan lahap seperti hewan yang sangat rakus. Kelihatannya dia benar-benar kelaparan.
__ADS_1
"Hei, apa kau tidak makan selama beberapa hari?" tanya Gin saat meliihatnya makan terlalu lahap.
Anak itu menggeleng. "Aku makan setiap hari satu kali" katanya polos. "Roti dan susu" sambungnya. "Tapi aku belum pernah makan seenak ini" dia menatap makanan di depannya seolah-olah dia melihat harta karun.
"Apa kau tinggal sendirian?"
"Tidak. Aku tinggal bersama ibu. Tapi dia sakit." kata anak itu dengan suara yang pilu, dia menyembunyikan rasa sedihnya. Anak itu bercerita bahwa dia dan ibunya tinggal di sebuah desa di dekat kota Burma. Tapi penyakit aneh secara tiba-tiba menyerang desa mereka. Penyakit itu hanya menyerang para wanita. Orang-orang yang terkena penyakit itu jatuh sakit dan meninggal dunia. Karena itulah dia membawa ibunya ke kota untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut. Dan dia mencari uang untuk biaya pengobatan ibunya.
"Berapa banyak biaya pengobatan itu?" tanya Gin.
"Dua juta flos" katanya.
Gin tiba-tiba mengeluarkan tas dari udara kosong. Anak itu terkesiap karena barang yang tiba-tiba muncul di udara. Lalu dia meletakkan tas itu di depan sang anak.
"Ada lima juta flos di dalam. Gunakan dengan baik untuk pengobatan ibumu" kata Gin kemudian.
"...." Anak itu membeku. Matanya melonggo dan mulutnya menganga saking kagetnya. Dia tidak pernah menduga bahwa hal ini terjadi padanya. Hari ini dia hanya bekerja seperti biasa untuk menuntun para pelancong yang tersesat di kota ini.
PLAK! Anak itu menampar kedua pipinya dengan tangannya. Dia menamparnya hingga pipi mungilnya memerah.
"Apa yang kau lakukan?" sentak Gin tak percaya.
"Aku hanya memastikan bahwa aku tidak bermimpi" katanya. Dia melihat tas di depannya lalu dia memberi hormat penuh pada Gin. "Terima kasih kakak." katanya tegas. "Aku tidak akan menangis. Aku akan menggunakan uang ini dengan benar untuk menyembuhkan ibu. Aku akan menjadi kuat dan membalas budi suatu hari nanti" katanya dengan tubuh bergetar, menahan tangisnya.
Gin tersenyum. Dia mengelus kepala anak itu. "Hiduplah dengan baik" katanya tulus. Entah kenapa dia merasa iba dnegan anak-anak yang hidup seperti itu. Sama seperti Lu Tu. Dia tidak mengerti kenapa anak-anak seperti mereka tidak bisa merasakan kehangatan keluarga yang lengkap. Dia juga terlahir seperti itu. Tapi dia mengacuhkannya karena jiwanya adalah jiwa pria tua. Tapi mereka masih anak-anak. Mental mereka masih rusak karena masalah ini.
Setelah mencicipi makanan terbaik di kota ini, Gin pergi ke pusat kota. Dia meihat orang-orang berkumpul dengan bentuk lingkaran seolah-olah mereka sedang mengelilingi sesuatu. Gin mendekat. Dia melihat bahwa dua orang sedang berkelahi di sana.
__ADS_1
Gin membelalak kaget. Dia mengenalnya. Dia adalah Lian. Kelihatannya gadis itu sedang beradu mulut dengan gadis lainnya.
Gadis lainnya berpenampilan aneh. Dia mengenakan dress mewah dengan banyak renda di kota kecil seperti ini. Dan dress miliknya memiliki campuran warna warni yang menyilaukan mata. Lalu dia juga mengenakan make up yang sangat tebal, yang membuat penampilannya menjadi lebih aneh.