Tuan Muda, Jangan Lari!

Tuan Muda, Jangan Lari!
Kristal Biru


__ADS_3

Keesokan harinya, setelah pelajaran umum selesai, Gin langsung meninggalkan kelas. Dia langsung menuju ke Ruang kontribusi untuk melakukan klaim poin kontribusinya. Bahkan dia tidak ingat keberadaan Li Seng, yang satu tim dengannya. Sampai akhirnya penatua aula itu mengingatkan nya.


"Kemana teman timmu?" penatua itu bertanya saat Gin menyerahkan kertas jasanya.


"Oh?" Gin tersentak. Dia benar-benar lupa untuk memberitahu Li Seng bahwa dia sudah berhasil menyelesaikan misi.


"Dia akan datang menyusul. Bisakah aku mendapat kan poin Kontribusiku lebih dulu?" kata Gin tidak sabar. Dia ingin memperoleh kristal aneh itu dengan cepat karena rasa penasaran nya. Seperti seorang anak yang tidak sabar untuk membeli mainan barunya.


"Baiklah. Berikan aku lencanamu"


Gin dengan cepat memberikan lencananya dan poin Kontribusi secara otomatis di transfer ke dalamnya. Saat lencananya kembali, Gin segera mengecek statusnya.


Nama : Gin Arai


Umur : 15 tahun


Tingkat : 1 (Kelas Emas)


Poin Kontribusi: 1000


Gin tersenyum cerah setelah melihat status barunya. "Terima kasih" kata Gin cepat. Dia langsung meninggalkan tempat itu, dan menuju ke tempat penukaran poin kontribusi.


Sebenarnya tempat pengambilan misi dan penukaran koin masih berada di dalam gedung yang sama. Hanya saja counternya berbeda. Ada tiga counter utama di depan, dengan antrian yang sangat panjang, untuk melakukan klaim pengambilan dan hadiah misi. Sementara counter untuk penukaran poin Kontribusi berada di sudut ruangan. Dan tempat itu lumayan sepi.


Gin dengan cepat menuju ke tempat itu untuk menukarkan poin Kontribusi nya.


"Sepuluh kristal biru" kata Gin langsung sambil meletakkan lencananya di atas meja.


Penatua yang menjaga counter penukaran itu tersenyum profesional. "Baiklah, tunggu sebentar" dia mengambil semua poin dari lencana Gin dengan cepat.

__ADS_1


Dalam sekejap status poin Kontribusi di lencananya kembali menjadi 0. Gin sedikit sedih saat memikirkan nya. Poin Kontribusi itu hanya numpang lewat di lencana muridnya.


Setelah itu, penatua itu memberinya sepuluh kristal biru kecil. "Ini"


"Terima kasih" Gin langsung meletakkan sepuluh batu kristal itu di dalam ranselnya.


Sebelum keluar dari tempat ini, Gin kembali melihat papan misi. Dia berharap ada misi berguna yang menghasilkan poin kontribusi yang bagus. Tapi tidak ada misi yang menarik matanya di sana. Semuanya hanyalah misi mengumpulkan beberapa tumbuhan atau membantu bersih-bersih. Bahkan poin reward yang didapatkan juga tidak lebih dari seratus.


Jadi Gin menyerah. Dia akan kembali lagi nanti untuk melihat misi yang Bagus. Tapi sebenarnya ada banyak misi bagus di papan misi tingkat menegah. Mereka bahkan memberikan beberapa ratus poin sebagai hadiah reward misi mengumpulkan tanaman. Tapi Gin tidak bisa mengambil misi itu karena dia masih murid baru. Mereka akan mengizinkan nya untuk mengambil misi saat semester keduanya dimulai. Dan itu masih beberapa bulan lagi.


Gin meninggalkan ruang Kontribusi, menuju ke ruang klub untuk memberitahu Li Seng tentang penyelesaian misi mereka.


Gin bisa melihat Li Seng duduk lesu di sofa empuk. Hanya ada dia seorang di ruang klub ini sekarang.


"Ada apa denganmu?" Gin spontan bertanya karena dia melihat wajah Li Seng yang menyedihkan.


"Kau disini?" Li Seng menoleh tapi dia masih menyandarkan kepalanya dengan nyaman di atas sofa. "Aku kira aku akan selamat kemarin. Tapi ternyata tidak. Ayahku benar-benar mengambil kartu dan tidak memberiku uang" katanya sedih.


Li Seng mengernyitkan keningnya. "Klaim apa?" dia bertanya bingung sambil mengangkat kepalanya dari sofa.


"Tentu saja klaim atas misi kita kemarin"


Mata Li Seng melotot. Dalam sekejap rasa malasnya menghilang dan dia melompat dari sofa. Dia dengan cepat meraih kertas jasa itu dan membacanya dengan mulut menganga.


"Gin, kau benar-benar menangkapnya sendiri?" katanya tak percaya.


"Ya."


"Tapi itu adalah pembunuh inti emas! Bahkan dewi Lan akan kesulitan untuk menangkap nya walaupun tingkat kultivasi mereka sama. Dan kau menangkap nya sendiri? Itu sangat tidak masuk akal!" Li Seng berkata dengan cepat sampai liurnya berhamburan dari mulutnya. "Katakan padaku sekarang! Berapa tingkat kultivasi mu dan kenapa kau menyembunyikan nya?" Li Seng tidak bisa lagi menahan rasa ingin tahu ini. Atau dia akan benar-benar gila karena penasaran. Gin terlalu bersikap misterius di depan semua orang.

__ADS_1


Gin mengerjap polos. "Aku tidak mengerti apa maksudmu. Kenapa aku harus menyembunyikan tingkat kultivasi ku? Aku benar-benar baru saja sampai di tubuh perunggu lv.5 baru-baru ini" katanya tulus.


Dia sama sekali tidak berbohong. Dia tidak mempunyai bakat kultivasi sama sekali. Dan untuk kekuatan solo Leveling itu adalah hal lainnya. Dia tidak akan pernah memberitahukan hal itu pada siapapun karena itu akan merepotkan.


"Gin, jangan berbohong. Kita akan menjadi tim selama beberapa tahun ke depan. Kita seharusnya jangan saling menyembunyikan sesuatu. Bahkan kekuatan itu bukan hal yanh harus disembunyikan!" kata Li Seng kesal.


"Tapi aku tidak berbohong sama sekali..." kata Gin lirih. Dia memang memiliki kultivasi yang lemah. Apa yang harus dia sembunyikan dari itu?


"Aish!" Li Seng mendengus kesal. Dia menyerah. "Baiklah, kalau kau tidak mau memberitahuku. Aku akan melakukan klaimnya sekarang. Ngomong-ngomong, barang apa yang kau tukarkan?" Li Seng mengalihkan topik pembicaraan nya.


Gin mengeluarkan tumpukan kristal biru dari tasnya. "Ini"


Li Seng menatap benda itu dengan tatapan remeh, seakan-akan itu bukan hal yang menarik. "Aku berharap akan ada benda bagus yang bisa ditukarkan" katanya lemah. "Setidaknya aku ingin alat sihir yang bisa melindungi nyawaku atau yang bisa digunakan untuk mengintip wanita mandi" katanya tanpa sadar.


"..."


Gin tak bisa berkata-kata. Dia kagum dengan kejujuran bocah gemuk di depannya. Bahkan dia berani mengatakan hal tabu seperti itu. Untung saja tidak ada wanita yang mendengar perkataannya.


Gin menyerahkan kertas jasa itu kepada Li Seng. Sejak dia sudah mengklaim poin Kontribusi nya, kertas itu sudah tidak berguna lagi baginya. Setelah itu dia meninggalkan sekolah dan kembali ke apartemennya.


Gin bersiap untuk menyerap qi dari batu kristal itu. Tidak lupa dia menggunakan teknik meditasi aneh yang didapat nya dari buku misterius. Gin pun mulai berlatih. Dia memejamkan matanya dan bermeditasi.


Qi dari kristal itu mulai bergerak ke dalam tubuhnya. Karena teknik meditasi aneh ini, Gin bisa menyerap qi dari dua tempat yang berbeda, yaitu kristal dan alam. Sehingga kecepatan penyerapan nya meningkat dari biasanya.


Satu jam berlalu, sudah empat kristal yang hancur. Dan Gin dengan mudahnya menerebos ke lv. 6. Dia melanjutkan pelatihannya hingga tiga jam berlalu. Sampai seluruh kristal birunya habis. Dia membuka matanya. Sekarang dia menerobos dan berada di lv. 7 tubuh perunggu.


Sepuluh batu kristal untuk menerobos naik menjadi dua level. Gin tidak tahu apakah ini normal atau tidak. Tapi dia menyukai perasaan saat dia menerobos. Seakan-akan tubuhnya menjadi lebih fit.


Saat levelnya meningkat karena sistem, Gin tidak merasakan perubahan apapun pada tubuhnya. Tapi saat kultivasi nya mulai meningkat, Gin merasakan perubahan besar pada tubuhnya seakan-akan sistem kultivasi dari dunia ini memang dibuat untuk nya.

__ADS_1


Gin mencoba meninju udara kosong dengan teknik tinju aneh yang diajarkan oleh Kakek Hendrik. Saat tinju itu terlepas, Gin bisa mendengarkan udara disekitar nya juga ikut terhempas. Kekuatan fisiknya menjadi lebih kuat.


"Aku jadi berminat untuk mempelajari teknik kultivasi lainnya..." gumam Gin, seakan-akan dia menemukan pencerahan tentang aktivitas yang harus dilakukan nya besok. "Mungkin aku harus mencarinya di perpustakaan besok..."


__ADS_2