
"Nona, kau tidak apa-apa?" tanya Ryan khawatir. Dia takut Gin mencari mereka untuk membunuh mereka. Tidak lupa dia juga ingat tindakan kurang ajar nona mereka.
"Tidak apa-apa" jawab wanita itu. "Pria tua itu tidak tahu identitasku. Dia tidak akan bisa menemukanku" Wanita itu tanpa sadar mengigit jarinya karena rasa khawatirnya yang besar.
"Lagipula apa-apaan pertarungan itu. Apa itu bagaimana kultivator tubuh ilahi bertarung?" Rak akhirnya membuka mulutnya. Sedari tadi pemuda itu hanya diam.
Tidak ada yang menjawab perkataannya karena pertarungan antar kultivator tubuh ilahi jarang ditemukan. Pertarungan terakhir terjadi puluhan tahun yang lalu setelah itu dunia damai sampai sekarang. Para kultivator tubuh ilahi mulai melakukan pelatihan tertutup dan keberadaan mereka terlupakan. Hanya menjadi sebuah legenda.
Wanita itu menjadi sombong karena keberadaan kakeknya dan klan mereka yang terkenal. Tapi dia tidak begitu bodoh untuk menjadikan kultivator tubuh ilahi sebagai musuhnya. Karena itu dia melarikan diri dengan cepat.
"Aku juga mendengar kata dewa. Apa dewa itu benar-benar ada?" Ryan bergumam dengan wajah bingung.
"Omong kosong" wanita itu langsung membantah. "Tidak ada dewa di dunia ini. Kultivator tubuh ilahi adalah sosok setengah dewa. Kultivator yang berhasil menembus ke alam selanjutnya adalah sosok yang dianggap dewa oleh semua orang. Tapi sosok seperti itu tidak akan menetap di dunia ini. Mereka akan menjelajahi ruang angkasa" kata wanita itu.
Dia mengingat dengan jelas dongeng yang selalu orang tuanya bacakan sebelum tidur. Tentang eksistensi para kultivator yang menjadi dewa. Dia mempercayai hal itu karena kakeknya juga mengatakan hal yang sama. Karena itulah, dia ingin menjadi dewa. Selama dia bisa mencapai tubuh ilahi, umurnya akan meningkat sebanyak ratusan tahun. Dia memiliki kesempatan untuk menerobos tubuh ilahi kalau dia terus berlatih.
"Akademi Jin Shi..." wanita itu kemudian teringat sesuatu secara tiba-tiba. "Entah kenapa pria tua itu berhubungan dengan akademi itu. Kita akan mengunjungi akademi itu nanti" wanita itu tersenyum penuh arti. Dia memikirkan banyak ide ekstrem dipikirannya dan hal itu membuatnya sangat bersemangat.
"Bagaimana pun juga aku harus mendapatkan rahasia awet muda itu" matanya berubah menjadi penuh tekad. Dia benar-benar tidak mau menyerah tentang hal itu.
Ryan dan Rak hanya bisa menggelengkan kepala mereka dengan wajah lesu. Bagaimana pun juga, saat nona mereka membuat masalah, mereka juga harus terkena getahnya.
***
Gin kembali ke desa dalam sekejap. Ternyata desa itu tidak jauh, padahal Gin merasa bahwa dia melalui lorong yang sangat panjang saat dia memasuki ruang bawah tanah itu. Mungkin karena dunia palsu dan penghalang aneh, dia jadi berkeliling tidak jelas dan hal itu menghabiskan beberapa jam waktunya.
Saat dia sampai, desa itu lebih ramai dari sebelumnya. Semua penduduk desa berkumpul di alun-alun. Lalu dia melihat anggota kelompoknya bersama dengan dua sosok yang tidak dikenalnya. Dia menduga bahwa dua orang itu adalah pihak yang dikirim oleh akademi.
__ADS_1
Melihat Gin datang bersama dengan kepala desa yang tidak sadarkan diri, semua orang menatap mereka dengan syok.
"Broooo" Li Seng menghampirinya dan memeluknya sambil menangis. "Aku benar-benar mengkhawatirkanmu." Lalu dia mulai memeriksa tubuh Gin dari atas sampai bawah. "Kau tidak apa-apa bukan? kau tidak apa-apa bukan?" katanya panik.
"Dia baik-baik saja" sebuah suara menjawabnya dengan nada yang tenang. Itu adalah Yusa. Walaupun penampilan Gin compang-camping, dia tidak khawatir karena kalung yang diberikannya masih dalam keadaan utuh. Dia mengira Gin memiliki keberuntungan dan berhasil melarikan diri dari tiga orang asing itu.
"Gin, mereka adalah guru dari akademi" Yusa memperkenalkan dua sosok di sampingnya.
Gin menatap keduanya dengan ekspresi bingung. Pasalnya dia tidak pernah melihat keberadaan keduanya padahal mereka guru.
"Mereka mengajar murid tahun ketiga, tentu saja kau belum pernah bertemu mereka" jawab Sima ketus sambil menatap Gin tidak senang. Dia menjawabnya dengan tepat seakan-akan dia bisa membaca isi kepala Gin.
Melihat Gin yang kebingungan, Yusa tersenyum dan berkata "tenang saja. Tentang pandemi di desa ini dan asal usul mereka, kita sudah mengetahuinya" kata Yusa. "Mereka adalah imigran dari utara dan sudah tinggal di hutan ini selama beberapa puluh tahun. Pihak akademi sudah melaporkan hal ini ke pihak pemerintah dan semua penduduk desa ini akan didaftarkan sebagai penduduk Mozu. Lalu pihak akademi juga akan mencarikan solusi untuk mengobati pandemi yang terjadi" Yusa menjelaskan dengan tenang.
Lalu dia menatap Gin dengan tatapan serius, "karena itu kau perlu melaporkan apa yang terjadi padamu dan siapa ketiga orang misterius yang berada di desa ini karena kau mengetahui bahasa aneh yang orang-orang desa ini gunakan"
"Jangan terlalu tegang, kami tidak akan memakanmu" salah satu dari mereka membuka mulut karena melihat Gin yang melihat mereka seperti patung tanpa ekspresi apapun. "Beritahu kami semua yang kau lihat dan dengar"
Gin pun menjelaskannya semuanya sesuai permintaan pihak kedua. Tapi dia tidak memberitahu beberapa hal yang dianggapnya tidak perlu seperti keberadaan Lily dan pohon raksasa dan dunia aneh itu.
"Tiga orang yang aku dan Yusa temui adalah orang-orang dari Aksara" Gin memulai penjelesannya.
Kedua orang di depannya terkejut.
Gin melanjutkan, "Ada dua orang pria dan satu wanita. Mereka mengincar desa ini karena kepala desa menyembunyikan sesuatu yang mereka anggap sebagai harta karun. Jadi keduanya melakukan pertukaran. Kepala desa ingin obat yang bisa menyembuhkan pandemi di desannya dan mereka menginginkan harta karun itu"
"Aku mengikuti mereka berempat. Dan kami tiba di tempat yang aneh. Aku tidak ingat terlalu jelas apa yang terjadi tapi ketiga orang dari Aksara itu bertarung. Saat pertarungan terjadi, aku pingsan. Saat aku bangun, mereka bertiga sudah pergi dan aku hanya menemukan kepala desa yang juga pingsan" Gin mengatakan kebohongan dengan lancar di akhir ceritanya.
__ADS_1
Kedua orang itu melihat Gin dengan mata menyipit. Lalu mereka menyuruh Gin untuk kembali ke kelompoknya. Mereka memutuskan untuk menemui kepala desa dan mendengar cerita dari sisinya. Kebetulan saat itu kepala desa sudah sadarkan diri.
Tapi kondisi kepala desa sangat aneh. Dia berteriak ketakutan sambil menatap semua orang dengan tatapan waspada. Lalu dia juga menginggau bahwa ada monster yang memakannya. Sehingga tidak memungkinkan untuk menanyakan hal itu padanya.
"kelihatannya dia terkena teknik ilusi" keduanya mendapat kesimpulan yang logis saat melihat kondisi kepala desa. Pria tua itu hanya manusia biasa dan keduanya berpikir teknik ilusi itu merusak otaknya.
Mereka melaporkan kepada akademi bahwa tiga orang mata-mata dari Aksara menyusup ke hutan perbatasan karena mencari sesuatu.
Setelah itu, mereka bertanya kepada Gin dan teman-temannya. "Apa kalian masih ingin melanjutkan misi penjelajahan atau kembali ke akademi?"
"..." Tidak ada yang menjawab.
"Aku beritahu, ada tiga mata-mata dari Aksara yang berkeliaran di hutan liar ini. Misi kalian akan menjadi lebih berbahaya. Aku sarankan kalian kembali"
"Aku memutuskan untuk melanjutkan" jawab Yusa. Dia merasa tidak puas dengan misi penjelajahan ini sama sekali. Dia merasa bahwa ketidakberuntungan menimpa mereka. "Aku ingin belajar lebih banyak dan tidak ingin menyerah di tengah jalan. Kami berjanji, saat kami menemukan bahaya, kami akan lari dan tidak akan bertindak gegabah lagi seperti ini" Yusa menjawab dengan teguh.
"Nak, aku akui kau pemberani. Tapi sebagai pemimpin, kau harus memikirkan pendapat teman-temanmu juga" utusan itu memperingatkan.
Yusa menatap semua orang.
"Aku setuju dengan kakakku" jawab Sima cepat.
"Ya, aku juga ingin menemukan sesuatu yang menarik" jawab Lian.
"Terserah" respon Gin acuh.
Li Seng sebenarnya ingin pulang, tapi karena semua orang ingin lanjut. Dia hanya bisa mengangguk lemah yang menyatakan bahwa dia juga setuju.
__ADS_1