
Aligator itu tidak membiarkan mangsanya kabur. Dia ingin memakan mereka. Baginya manusia-manusia itu terlihat sangat enak. Dia langsung berlari dengan cepat untuk menyusul para manusia. Gerakannya mengejutkan Nio karena raksasa itu bisa bergerak dengan cepat walaupun tubuhnya besar. Saat dia mengejar rombongan yang melarikan diri, pohon-pohon yang diinjaknya mulai rata menjadi tanah.
"Lawanmu disini" Nio berusaha menghentikannya. Dia langsung melompat dan memukul kening aligator raksasa itu. Tapi pukulannya tidak berefek apapun. Malah tangannya mulai sakit.
Tapi dia tidak menyerah. Tiga tinju api raksasa menghantam aligator itu. Lalu dia juga menendangnya. Di sisi lain, Zam mulai menembaki aligator itu dengan pistolnya sambil bergerak dengan cepat.
GROARRR! Aligator raksasa itu semakin marah. Dia melompat dengan cepat lalu memukul Nio dengan ekor raksasanya. Nio yang tidak sanggup menahan momentum serangan itu terlempar beberapa meter jauhnya.
"Paman Nioo!" Qiqi masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dan dia menangis histeris. Lalu dia berusaha memanggil ayahnya. Dia menghancurkan liontin yang diberikan ayahnya. Itu akan mengaktifkan tanda darurat yang bisa memanggil sang ayah. Ayahnya berkata dia akan menghampirinya kalau tanda darurat itu diaktifkan.
"Paman Zam, aku sudah memanggil Papa. Ayo selamatkan Paman Nio! Papa akan datang menolong kita" kata Qiqi dengan percaya diri. Dia bahkan tidak tahu bahwa membutuhkan waktu untuk melintasi antar negara. Walaupun boss besar mereka datang menolong, dia akan tiba satu jam paling cepat dengan terbang melintasi langit. Itu akan terlambat. Tidak ada seorang pun yang bisa mengulur waktu lebih jauh. Dia juga terluka.
"Maaf Nona..." Zam menggendong Qiqi dengan paksa lalu melarikan diri dengan cepat.
Aligator raksasa itu melihat bahwa Nio terkapar dan tidak sadarkan diri. Matanya berbinar seakan dia menemukan makanan enak. Dia langsung membuka mulutnya.
Qiqi yang melihat semua itu berteriak histeris sambil menangis. Dia ingin menolong paman Nio tapi Zam menghalanginya. Sementara Zam dan yang lainnya hanya bisa memejamkan mata mereka pasrah. Dia harus melarikan diri dan dia tidak akan melupakan pengorbanan Nio untuk ini.
Aligator itu hampir menyentuh Nio.
"Tidak! Paman Nio! Hiks! Paman!" Qiqi masih terus memberontak.
Tapi tiba-tiba sosok kecil terbang entah darimana dan menerjang mulut aligator itu. Anehnya serangan itu cukup ampuh. Aligator itu terpukul dan mundur beberapa langkah ke belakang.
Lalu sosok kecil itu mendarat di depan Nio yang pingsan dengan segulung kertas di mulutnya. "Apa-apaan ini?" dia menggumam kesal saat melihat Nio yang hampir mati. "Untung saja aku tepat waktu" gumamnya.
Melihat binatang sihir raksasa itu mundur dan terpelanting ke belakang. Zam berhenti. Lalu dia dan yang lainnya bisa melihat kucing berwarna orange yang muncul di depan Nio. Kucing itu bergerak cepat, bahkan Zam tidak bisa melihat pergerakannya sama sekali.
__ADS_1
Bimba langsung muncul di depan Zam dan yang lainnya. "Hei, aku ingin mengantarkan peta" katanya dengan bahasa manusia. Mereka tidak pernah mendengar seekor kucing berbicara, jadi mereka langsung tersentak kaget.
Qiqi langsung mengambil peta dari mulut Bimba. "Kucing jelek?" gumamnya tak percaya.
Bimba menatapnya dengan wajah cemberut. "Bagaimana kalian bisa begitu bodoh meninggalkan peta itu?" protesnya. "Kalian bahkan belum kakek-kakek"
Zam hanya menggaruk kepalanya malu.
Bimba langsung menghilang dengan cepat. Lalu tiba-tiba muncul dalam sedetik sambil membawa Nio yang tidak sadarkan diri dengan giginya. Dia melemparkan tubuh Nio ke arah Yurion. Yurion menangkapnya dengan cepat.
"Paman Nio!" Qiqi langsung menghampiri Nio. Kali ini Zam tidak menghalanginya. Lalu gadis itu mengeluarkan pil hitam aneh dan memasukkannya ke dalam mulut Nio. Kelihatannya itu adalah pil penyembuh.
GROARR! Aligator raksasa itu mengaum marah karena dipukul dan diabaikan. Dia menatap semua orang dengan tatapan kebencian yang besar.
"Kita bertemu lagi kadal tua" kata Bimba. Dia bergerak cepat dan melayang di depan mata aligator raksasa itu. "Waktu itu kita seri. Tapi aku akan mengalahkanmu sekarang" kata Bimba dengan wajah sombong.
Zam dan lainnya menatap adegan itu dengan mata melonggo, "....". Mereka terlalu syok untuk mencerna apa yang terjadi.
"GROARRR! Jadi itu kau!" Aligator itu mulai berbicara dengan suara yang serak dan tidak jelas. Suaranya sangat berbeda jauh dari suara Bimba yang jernih dan tampan.
Aligator raksasa itu langsung maju dan menerkam Bimba dengan taringnya. Bimba menghindar lalu dia melompat dan mencakar kedua mata aligator itu dengan kuku kakinya.
Darah langsung bercucuran dan aligator itu berteriak kesakitan karena matanya terluka. Lalu dia mulai mengeluarkan bola-bola hitam secara acak untuk menyerang Bimba.
DUAR! DUAR! DUAR! Bola-bola hitam itu menghancurkan seisi hutan. Zam dan Yurion memasang perisai pertahanan untuk melindungi semua orang di tengah kekacauan. Sementara Qiqi melakukan penyembuhan pada Nio sambil sesekali melihat pertarungan di depannya. Wajah Qiqi sangat datar, tidak tahu apa yang dipikirkannya.
Tapi serangan aligator itu tidak mengenai Bimba sama sekali. Bimba mulai melompat di atas punggung aligator. Lalu dia mengigit aligator itu dengan taringnya. Aligator itu menggelepar sambil berteriak kesakitan. Bimba terus mengigitnya sampai akhirnya leher binatang itu terputus.
__ADS_1
"Cih sangat keras" kata BImba sambil membuang beberapa darah dan sisik yang menyangkut di giginya. "Rasanya seperti ikan mentah" gumamnya sedih.
Harusnya rasa aligator raksasa itu enak, tapi itu terasa mentah dan amis untuknya. Semenjak dia menyerap mana milik Gin, makanan hidup lain yang biasa dia makan terasa menjijikan.
Pertempuran antara dua hewan raksasa itu berakhir dalam sekejap. Bimba tidak merasa bahwa kadal yang diinjaknya sekuat yang dulu. Walaupun dia level 2, kadal itu level 1. Harusnya dia menjadi musuh yang sedikit menantang. Tapi kadal itu benar-benar terlihat lemah. Aneh sekali. Tapi Bimba tidak mau berpikir terlalu banyak. Mungkin dia hanya menjadi lebih kuat dari binatang sihir bodoh lainnya. Lagipula dia adalah Raja iblis.
"Nona, jangan kesana"
Bimba mendengar suara Zam. Lalu dia melihat sosok kecil menghampirinya tanpa takut. Itu adalah Qiqi.
Qiqi terbang ke arahnya. Lalu gadis itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Kucing jelek, terima kasih" katanya sambil memeluk kaki raksasa milik Bimba.
Bimba merasa aneh. Seumur hidupnya dia ditakuti dan selalu dimusuhi oleh semua orang. Dia hanya tahu bertarung dan membunuh. Yang kuat akan menang dan bertahan hidup. Dia belum pernah mendengar seseorang mengucapkan "terima kasih" padanya. Jadi perasaan yang aneh timbul di hatinya.
Tubuh Bimba secara perlahan mengecil dan kembali ke bentuk kucingnya. Qiqi langsung tersenyum dan membawa kucing itu dalam pelukannya. "Kucing jelek, kau sangat kuat" katanya sambil mengelus kepala Bimba.
Qiqi adalah gadis yang aneh dengan pikiran sederhana. Setelah melihat semua ini, dia bahkan tidak mempertanyakan apapun. Seperti siapa itu Bimba dan bagaimana asal usulnya. Dia hanya tahu binatang itu menolongnya dan dia sangat senang.
"Sampaikan terima kasihku juga pada kakak" kata Qiqi.
Qiqi menggendong Bimba dan membawanya ke semua orang. Zam dan yang lainnya merasa canggung. Mereka tidak tahu harus bagaimana bersikap. Singa raksasa itu menjadi kucing kecil normal dalam sekejap. Menyembunyikan semua auranya.
"Binatang sihir ini seratus persen sama dengan tuannya!" pikir mereka serentak saat melihat Gin menyembunyikan kekuatannya dengan baik.
Zam mengeluarkan sesuatu dan memberikannya pada Bimba. "Ini adalah imbalan terima kasih dari kami" katanya. Lalu dia menunduk malu. "Aku tahu kalian tidak terlalu membutuhkannya di tingkat kalian sekarang. Tapi kristal ungu benar-benar berharga" katanya gugup.
Dia meletakkan satu kristal ungu sebelum pergi di apartemen milik Gin. Lalu sekarang dia ingin memberikan semua kristal ungu yang dia punya. Ada lima kristal ungu dalam kantong itu.
__ADS_1