
"Apa kau tahu siapa aku?" gadis kecil itu berteriak marah karena dia tidak bisa melepaskan tangannya dari cengkraman Gin. "Berani-beraninya kau memperlakukanku seperti ini" dia memberontak seraya memukul dan menendang secara random.
Gin menghempaskan gadis itu ke lantai seakan-akan dia menghempaskan sampah. Gadis itu terjatuh dengan posisi terduduk.
"Kau!" gadis kecil itu menggertakan giginya kesal.
"Aku tidak peduli, kalian berdua keluar" kata Gin tegas. Lalu dia menatap serius ke arah Lu Tu. "Pulanglah ke rumah kalian masing-masing" Gin memegang kepalanya yang sakit karena harus berurusan dengan kedua bocah yang nakal ini.
"Hump!" Gadis kecil itu mendengus kesal. "Aku akan memanggil kakek dan membuatnya memukulmu" sambungnya sambil menggertakan gigi seperti hewan buas.
"Kau tahu, aku adalah putri kecil dari keluarga Arai!" kemudian dia menepuk-nepuk dadanya dengan percaya diri.
"Arai?" Gin mengernyitkan keningnya.
"Kenapa? Kau takut sekarang? Tapi sudah terlambat" gadis kecil itu tersenyum sombong.
Tak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara teriakan, "Nona!" lalu sesosok bayangan menerobos masuk ke dalam dari jendela apartemen milik Gin.
Sosok itu tidak lain adalah Yina.
"Nona aku merindukanmu!" teriak Yina histeris. Dia memeluk gadis kecil itu erat-erat dan mencubit kedua pipinya. "Nona semakin lucu, seperti kelinci kecil" dia memuji.
Wajah gadis kecil itu memerah dan dia tersenyum kecut. "Maksudmu aku tambah gendut?"
"Tidak nona, tidak" balas Yina cepat. "Aku bilang nona sangat lucu, bukan gendut"
Gadis kecil itu masih tidak puas dengan jawaban Yina. Tapi dia hanya menatap tajam Yina dan merubah topiknya, "Bagaimana kau bisa ada disini?"
"Dia penguntit" jawab Gin cepat.
Yina menatap Gin dengan mata melotot, lalu tersenyum ramah pada gadis kecil itu, "Tidak, tidak, aku kebetulan lewat"
"Pembohong" kata Gin dan Lu Tu secara bersamaan.
__ADS_1
"..." Yina langsung terdiam. Aura membunuh langsung keluar dari dalam tubuhnya.
"Nona, jangan dengarkan orang-orang bodoh itu. Aku tidak mau nona ternodai karena dekat dengan serangga" katanya jijik.
Gadis kecil itu mengangguk setuju. Dia tidak menyukai Gin. Dia juga tidak menyukai Lu Tu. Karena mereka seumuran dan hanya Lu Tu yang selalu mengabaikannya, disaat semua orang berusaha dekat dengannya. Karena itulah, dia tidak menyukai anak laki-laki itu sama sekali.
"Ehem" Yina membersihkan tenggorokannya dan membuat suara aneh. "Nona, bagaimana anda bisa ada di tempat kotor ini?" katanya kasar sambil melirik Gin dalam sedetik, dengan tatapan penuh kebencian.
"Aku ingin membawa pulang Lu tu karena orang-orang mencarinya. Tapi dia sama sekali tidak mau mendengarkan omonganku, humph!" gadis itu menggembungkan pipinya dan memasang wajah cemberut. Ekspresinya terlihat seperti hamster kecil walaupun saat ini dia sedang murka.
Gin mengernyitkan keningnya. Semua orang-orang ini ternyata berasal dari keluarga Arai. Dia sebenarnya tidak mau tahu tentang mereka. Tapi kenapa orang-orang dari keluarga Arai mendatanginya seperti semut dan dia adalah gulanya.
Gin menatap Lu Tu. Bocah ini bisa jadi sepupu atau keponakannya.
"Bukan" jawab Lu Tu, seakan-akan dia bisa mengerti isi pikiran Gin.
"Aku adalah murid termuda Kakek Arai. Aku sama sekali tidak memiliki darah Arai di tubuhku"
"Aku sama sekali tidak menghina. Kau ngantuk?" Lu Tu menatapnya dengan wajah polos.
Gadis itu menggertakan giginya kesal. Dia ingin memukul pemuda di depannya. "Kau berkata seolah-olah kau tidak mau menjadi bagian dari keluarga Arai. Itu adalah penistaan!"
"Tapi aku memang bukan keluarga Arai. Aku bahkan bukan keturunan apapun dari keluarga itu. Kau lupa bahwa kami semua hanyalah murid bukan anak atau pun cucu?" jawab Lu Tu sambil tersenyum sarkas.
"..." Gadis itu langsung terdiam.
"..." Yina juga terdiam seperti merenungkan sesuatu.
"Itu tidak penting. Yang penting, kau benar-benar menyebalkan dan selalu merendahkan keluarga Arai!" Gadis kecil itu bersiteru, tidak mau kalah.
"Nah, berhenti berteriak satu sama lain. Kalian semua pergi dari rumahku" Gin mulai berbicara lagi. Tapi dia kembali di abaikan lagi karena gadis kecil dan Lu Tu saling beradu mulut satu sama lainnya. Mereka berdua bertengkar dan tidak menganggap keberadaan Tuan rumah sama sekaln.
Gin ingin melempar kedua anak ini keluar dari jendela apartemenntmya, tapi tiba-tiba seseorang menghentikannya.
__ADS_1
Yina tersenyum jijik ke arah Gin dan berkata "Kau tidak berhak menyentuh nona" katanya sambil menghempas tangan Gin dengan kasar.
"Nona Yuya, ayo kembali. Jangan terlalu mengkhawatirkan Lu Tu. Dia punya kaki tangan yang lengkap untuk pulang sendiri" dia menatap tajam Lu Tu.
Bagi Lu Tu, Yina adalah seniornya. Dia menghormati semua kakak seniornya. Jadi dia menundukkan kepalanya, sedikit takut pada Yina.
"Siapa yang mengkhawatirkannya!" sentak Yuya kesal. Dia menatap semua orang dengan wajah cemberut. Target kebencian utamanya adalah Lu Tu, "Lihat saja kau nanti, aku akan melaporkan semuanya pada kakek"
Lu Tu memasang ekspresi datar seolah-olah dia tidak pernah mendengarkan perkataan Yuya dan membuat gadis itu semakin kesal.
"Kau juga" Yuya melotot pada Gin. "Humph!" dia mendengus dan melompat turun dari balkon apartemen. Yina mengikutinya karena dia ingin mengawal nona mudanya kembali dengan aman.
Tak lama kemudian seekor elang raksasa entah muncul darimana dan terbang membawa Yuya dan Yina di punggungnya.
"Siapa dia?" tanya Yuya tiba-tiba dengan nada serius.
"Eh?" Yina langsung tersentak kaget.
"Jangan berpura-pura bodoh. Karena aku tahu semuanya. Kakek mengirimu untuk mengawasinya bukan? Lu Tu juga tiba-tiba menempel pada pemuda itu. Lalu dia juga memiliki nama Arai" kali ini semua sifat kekanak-kanakan Yuya langsung menghilang dalam sekejap.
"..." Yina terdiam. Dia belum pernah melihat sosok Yuya seperti ini. Nona muda favaoritnya adalah nona muda yang lincah, lucu dan bersemangat. Bukan gadis dengan wajah serius dan dingin ini. Dia meragukan bahwa gadis di sampingnya adalah Yuya.
"Kenapa kau tidak mau memberitahuku?" Wajah Yuya cemberut. Kali ini dia menggembungkan pipinya seperti hamster sehingga aura dingin disekitarnya langsung mencair.
"Nona, ini adalah perintah kakek. Aku tidak bisa melakukan apapun tentang itu" jawab Yina pasrah.
Yuya mengernyitkan keningnya. Keberadaan Gin benar-benar sangat aneh baginya. Dia akan bertanya pada kakeknya nanti, siapa sebenarnya Gin itu.
"Dan dia jauh lebih kuat dariku walaupun tingkat kultivasinya masih dibawah milikku" sambungnya lagi. Yuya merasa bahwa dia tidak bisa melakukan apapun saat Gin mulai mengunci pergerakannya. Seolah-olah dia bukan melawan kultivator tubuh perunggu, melainkan kultivator dengan tingkat di atasnya.
Yina membuka mulutnya, dia ingin menjawab bahwa itu tidak benar. Tapi Yuya langsung memotongnya dengan cepat. "Dia menyembunyikan kekuatannya..."
"..." Yina hanya bisa terdiam. Dia tidak percaya bahwa Gin lebih kuat daripada Yuya. Mungkin saja Gin menggunakan alat sihir aneh yang membuat nona mudanya bingung.
__ADS_1