Tuan Muda, Jangan Lari!

Tuan Muda, Jangan Lari!
Pahlawan Muda


__ADS_3

Keesokan harinya, Gin memberitahu Lu Tu untuk tidak mengacak-acak apartemen miliknya. Dia akan pergi selama sebulan untuk menjalankan misi dari sekolahnya.


Gin tidak merasa khawatir untuk membiarkan orang asing tinggal di rumahnya. Lagipula selalu ada yang menyusup. Tidak ada privasi lagi di rumahnya dan tidak ada barang penting sama sekali.


"Aku ingin ikut" kata Lu Tu sedih.


"Tidak bisa" tolak Gin cepat.


Wajah Lu Tu berubah cemberut.


"Jangan lupa beri makan Bimba dan Muca" kata Gin. "Aku tidak akan memberimu uang, aku tahu kau punya banyak uang" Itu adalah kata terakhirnya sebelum dia menutup pintu apartemennya.


"...." Lu Tu tidak bisa berkata-kata.


***


Gin menuju ke sekolah. Dia merasa sedikit aneh karena dia mengenakan pakaian biasa saat ini. Biasanya dia selalu memakai seragam saat berangkat sekolah. Dia juga tidak membawa ransel, hanya sebuah sling bag kanvas kecil yang digantungkan di bahunya.


Gin sampai di akademi, dia melihat Lina sudah menunggu disana. Gadis itu memakai baju kasual dengan sepatu dan membawa ransel besar hitam di punggungnya. Dapat dilihat bahwa dengan penampilannya, dia sudah cocok menjadi seorang petualang.


Tak lama kemudian, Yusa dan Sima datang. Li Seng adalah yang terakhir.


"Kita akan pergi secara normal" Kata Yusa. "Kita tidak bisa menggunakan kereta sihir karena itu akan terlihat mencolok. Lebih baik meminimalisir hal itu agar tidak mengundang musuh untuk menyerang kita"


"Musuh?" gumam Li Seng dengan wajah bingung.


"Gendut bodoh, apa kau lupa identitas kita?" sergah Sima.


Li Seng tersentak. Dia langsung mengerti dan mengangguk cepat seperti ayam.


Tiga dari mereka adalah anak-anak dari keluarga besar. Tentu saja mereka memiliki banyak sekali musuh yang tak terhitung di luar ibukota. Mereka mungkin aman di ibukota karena daerah ini adalah pusat kekuatan mereka. Tapi di daerah lainnya mereka tidak bisa menjamin hal itu.


Anak-anak dari keluarga besar sudah diajarkan sejak kecil oleh keluarga mereka bahwa mereka tidak boleh bertindak arogan dan ceroboh di luar ibukota. Mereka harus membuat aura kehadiran mereka sekecil mungkin dan menghindari konflik yang tidak perlu sebisa mungkin. Karena mereka masih lemah. Tapi saat mereka menjadi lebih kuat, mereka bisa bertindak seperti apapun yang mereka inginkan. Begitulah mereka dilatih.


Ketiganya tidak membawa pengawal sama sekali dalam penjelajahan ini. Karena memperlakukan perjalanan kali ini sebagi misi dari akademi. Tapi mereka membawa alat-alat rahasia yang bisa mempertahankan hidup mereka dari situasi tidak terduga.


Yusa menatapĀ  Lian dan Gin. "Bila situasi terduga terjadi karena kita bertiga, aku harap kalian berdua bisa melarikan diri dengan cepat. Kami bertiga memiliki sesuatu yang bisa menyelamatkan nyawa kami di saat-saat genting, tapi kalian berdua tidak. Jadi jangan khawatirkan kami dan lari" dia memperingatkan.


Lian mengangguk cepat. Gin tidak merespon selama sesaat sebelum akhirnya dia mengangguk kecil.

__ADS_1


Yusa tersenyum.


Setelah keluar dari ibukota, keamanan mereka sangat tidak terjamin. Itu akan menjadi petualangan berbahaya mereka untuk yang pertama kalinya. Mereka harus berhati-hati. Pengalaman berbahaya ini juga pelatihan penting bagi mereka untuk menjadi kultivator yang kuat di masa depan.


Yusa memutuskan untuk naik pesawat menuju ke kota kecil bernama Burma. Burma adalah kota kecil yang berbatasan dengan Aksara. Saat mereka tiba di kota itu, mereka akan menuju ke daerah target melalui jalur darat.


"Woah, ini pertama kalinya aku naik pesawat" kata Li Seng sambil menempelkan wajahnya ke jendela pesawat.


Anak-anak dari keluarga besar selalu terbang dengan kereta sihir bersama keluarga mereka. Mereka tidak pernah menyentuh pesawat sama sekali karena ini adalah transportasi umum untuk penduduk biasa.


"Benda ini tidak buruk" gumam Yusa.


Sima mengangguk.


Ini adalah pengalaman pertama bagi Yusa dan Sima juga. Hanya Gin dan Lian yang sudah pernah naik pesawat sebelumnya.


Perjalanan menuju ke kota Burma dari ibukota memerlukan waktu tempuh empat jam. Itu adalah waktu yang cukup lama, jadi Gin dan Li Seng langsung tertidur di pesawat. Begitu juga Sima. Hanya Lian dan Yusa yang masih tetap terjaga.


DOR!


Tiba-tiba, terdengar bunyi suara tembakan di pesawat. Semua orang langsung terkejut. Gin dan yang lainnya refleks langsung terbangun.


Tentu saja keamanan di pesawat ini sangat rendah karena tidak ada pengecekan apapun. Semua orang bisa naik asalkan mereka membeli tiket. Tiket pesawat juga termasuk terjangkau untuk semua orang.


"Angkat tangan kalian atau aku akan menembak" salah seorang dari mereka mengancam.


Semua orang langsung mengangkat tangan mereka.


Para penjahat itu mulai ke arah penumpang secara satu per satu. Lalu ketiganya berhenti di barisan Gin dan yang lainnya. Penjahat itu melihat mereka dengan penuh nafsu dan tersenyum. Seakan-akan dia mendapatkan mangsanya.


Itu karena penampilan mereka terlihat seperti anak-anak kaya. Para penjahat itu bisa melihat bahwa mereka semua memakai baju merek terkenal. Jam tangan mahal dan sepatu mahal. Mereka adalah mangsa yang sangat sempurna.


Salah satu penjahat juga menatap Lian dengan tatapan mesum dan menjilat bibirnya. Lian langsung mengeluarkan aura membunuh. Tapi Yusa menatapnya dan menggeleng pelan. Memberinya arahan untuk tidak mengamuk sekarang.


"Kalian berlima. Serahkan tas kalian dan barang-barang kalian" kata penjahat itu sambil menodongkan pistol ke arah kepala mereka.


"Siapa kalian?" tanya Yusa.


"Heh, kau tidak mengenali kami? Kami adalah penjahat internasional terkenal. Kami adalah triple brothers" salah satu dari mereka menjawab dengan percaya diri.

__ADS_1


Li Seng tanpa sengaja langsung tertawa terbahak-bahak. Dia tidak merasa takut dengan orang-orang ini. Mereka hanyalah penjahat kelas teri. Tapi mereka menyebut diri mereka sendiri sebagai penjahat internasional seperti Boroxi. Padahal jika dibandingkan dengan Boroxi mereka hanyalah kotoran. Karena itulah, tawanya pecah.


"Berhenti tertawa bodoh, telingaku sakit" sergah Sima.


"Maafkan temanku" kata Yusa. Dia berdiri dan menyerahkan dompet dan jam tangannya. "Dia memiliki kelainan otak yang membuatnya tertawa saat dia ketakutan" katanya kemudian.


Li Seng hampir muntah darah.


"Humph, alasan seperti itu tidak bisa dimaafkan" kata penjahat itu sambil menggertakan giginya, marah. Dia merasa sangat kesal karena Li Seng menertawakannya seperti itu.


DOR!


Dia menembak tanpa aba-aba.


Li Seng mengaktifkan alat sihrnya. Peluru itu menabrak pelindung yang tidak terlihat dan jatuh ke lantai karena kehilangan momentumnya.


"Kultivator...?" penjahat itu berkata dengan gugup.


Yusa bergerak cepat, TAK, dia mematahkan tangan salah satu penjahat. pistol yang dipegangnya terjatuh. Dia langsung mengambilnya.


Lian tanpa tanggung-tanggung memukul leher salah satu penjahat yang melihatnya dengan tatapan penuh nafsu. Pria itu langsung terkapar tak sadarkan diri karena tendangannya. Dia mungkin mati karena Lian tidak menahan tenaganya sama sekali.


Sementara, Li Seng meninju penjahat terakhir tepat di wajahnya. Lalu dia menendan lutunya dan mematahkan kakinya. Penjahat itu berteriak kesakitan sambil memegangi kakinya yang patah.


Yusa kemudian mengeluarkan tali tambang dan mengikat ketiganya, lalu menyumpal mulut mereka dengan kaos kaki.


"Jadi karena itulah kau menyuruh kita membawa tali tambang" gumam Gin. Dia tidak tahu bahwa tali tambang itu bisa digunakan seperti itu.


Setelah selesai membereskan ketiga penjahat itu, suasana di pesawat menjadi lebih hening dari sebelumnya. Para orang biasa itu merasa segan dan gugup karena ada para kultivator di pesawat mereka. Bahkan kapten pesawat dan pramugari juga tidak berbicara karena gugup.


"Nona, saat kita mendarat kau bisa memanggil polisi untuk membawa mereka" kata Yusa.


Pramugari itu linglung sebentar dan dia menjawab dengan malu-malu. "I..iya" katanya dengan wajah memerah. Baginya Yusa sangat tampan dan kuat. Dia merasa tersipu karena sosok seperti idola itu berbicara padanya.


Setelah itu Yusa berkata kepada semua orang. "Kami mohon maaf karena sudah menganggu kalian" katanya sambil membungkuk dengan sopan.


Melihat sikap sopan Yusa, suasana tegang itu mencair. Seorang pria tua berkata. "Tidak apa-apa nak. Terima kasih sudah membantu" katanya.


Lalu penumpang lainnya mulai berterima kasih secara satu per satu. Karena kejadian ini, para penumpang di pesawat ini mulai membuat gosip di dunia luar bahwa mereka diselamatkan oleh para pahlawan muda dari para penjahat.

__ADS_1


__ADS_2