Tuan Muda, Jangan Lari!

Tuan Muda, Jangan Lari!
Penjelasan Lu Tu


__ADS_3

Akhirnya kedua wanita penganggu itu pergi dari rumahnya. Gin benar-benar sangat senang. Tapi pemuda bernama Lu Tu itu masih menempelkan pantatnya di sofa miliknya sehingga dia tidak senang.


"Kenapa kau tidak pergi?" tanya Gin sarkas.


Wajah Lu Tu berubah sedih. "Kakak, aku tidak berbohong...." dia berkata dengan mata berkaca-kaca. Tentu saja Gin tidak percaya.


Melihat Gin masih bersikukuh untuk mengusirnya, Lu Tu mulai menjelaskan semuanya pada Gin dengan nada lirih.


Bahwa dia adalah murid termuda dari kakek Arai. Dia dibawa oleh kakek tua itu saat dia kecil sehingga dia tidak bisa mengenali wajah orang tuanya. Tapi Lu Tu yakin bahwa orang tuanya masih hidup karena dia memiliki peninggalan mereka. Jadi alasannya untuk mencari orang tuanya itu bukanlah kebohongan. Tapi itu bukan alasan yang benar sepenuhnya. Dia juga ingin menyelidiki Gin karena penasaran, tapi tentu saja dia tidak berani mengatakan hal itu.


"Lalu kau bisa pergi mencarinya dan jangan ganggu aku lagi" kata Gin dingin.


Lu Tu menundukkan kepalanya sedih.


"Besok aku berumur sebelas tahun..." gumamnya lirih. "Kakek berjanji padaku akan mengabulkan satu permohonan di ulang tahunku. Jadi aku meminta padanya bahwa aku ingin mencari orang tuaku"


"..." Gin terdiam. "Bagaimana caranya kau menemukan orang tuamu?"


Lu Tu mengeluarkan sebuah liontin dari sakunya. "Kakek mengatakan bahwa liontin ini ada bersamaku sejak aku masih kecil. Aku bisa menemukan mereka dengan ini" katanya percaya diri.


Gin mengernyitkan keningnya. Dia tidak mengerti bagaimana bocah itu menemukan orang tuanya hanya dengan liontin. Tapi dia tidak tertarik untuk bertanya lebih jauh.


"Kenapa kau memata-mataiku?" Gin mengganti topiknya.

__ADS_1


Lu Tu menundukkan kepalanya. Dia menjawab dengan terbata-bata "Aku mendengar tentangmu dari kakak Rain..."


"Siapa lagi Rain itu? Aku tidak kenal" sergah Gin langsung. Siapa yang mengira bahwa ada orang-orang yang menggosipkannya. Padahal dia tahu bahwa dia tidak populer sama sekali. "Dia dari Keluarga Arai ?"


Lu Tu mengangguk.


Gin tenang. Dia merasa ini masuk akal. "Apa yang dia bicarakan tentang aku?"


Lu Tu mulai menjelaskan bagaimana Rain Arai mendapatkan tugas dari pemerintah untuk mendeteksi para penyusup yang masuk ke negara mereka. Dari situlah nama Gin disebut. Dan Gin dicuragai oleh Rain. Walaupun Rain menemukan bahwa Gin bersih. Lu Tu mulai menjelaskan dia tertarik dengan Gin karena hal itu.


Gin berusaha menenangkan dirinya dengan menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan saat dia mendengar semuanya. "Aku mengerti" kata Gin. "Aku akan membiarkanmu disini, tapi aku tidak mau ikut campur dengan urusan keluargamu."


Wajah Lu Tu langsung cemberut. Tapi dia mengangguk setuju.


Gin pun menuju kamarnya, ingin melanjutkan tidurnya. Tapi tiba-tiba seekor burung masuk. Dia tidak lain adalah Muca. Burung itu membawa sebatang bunga kecil di mulutnya. Bunga itu berteriak dengan sangat kencang.


Muca mempererat gigitannya dan hal itu membuat tulang Lily hampir patah.


"Rasanya tidak enak" gumam Muca.


"Hei kau sialan! Argh, tanganku!" Lily memberontak kesakitan.


Gin mengambil Lily dan meletakkannya di atas sofa. Lalu dia menegur Muca. "Jangan menyakitinya"

__ADS_1


Muca menundukkan kepalanya sedih.


Tak lama Bimba juga datang. Kucing buntal itu melompat naik ke atas sofa dan melihat Lily dengan seksama. "Mahluk apa ini?" dia bergumam. "Hei, kau pasti bukan dari dunia ini kan?"


Lily memiringkan kepalanya bingung. "?"


"Darimana kau berasal? Kau benar-benar mengeluarkan aroma aneh" Bimba mulai mengendusnya.


"Tapi dia tidak enak" sambung Muca.


Lily masih bingung. "Aku tidak tahu" jawabnya lirih.


"Gin, darimana kau mendapatkan akar ini?" tanya Bimba.


Urat-urat kekesalan muncul di kepala Lily, "Akar? Hei, aku bukan akar. Aku bunga!" teriaknya kesal.


"Sama saja" jawab Bimba acuh.


Gin menjelaskan bahwa dia menemukan dunia aneh di hutan yang belum pernah dijelajahi. Lalu ada pohon raksasa. Dia menemukan bunga ini di dalam perut pohon raksasa itu.


Bimba mengangkat tangannya ke dagu, pose berpikir. "Aku yakin dia bukan berasal dari dunia ini" gumamnya. "Kau tahu jiwaku berpindah ke dunia ini setelah aku mati bukan? Aku merasakan bahwa akar itu juga sama. Tapi aku tidak bisa menebak darimana dia berasal. Lalu tentang pohon raksasa dan dunia itu juga mengagetkanku."


Wajah Gin datar. Dengan respon acuh dia bertanya. "Hei, aku mau tidur sekarang" katanya.

__ADS_1


Bimba tidak meresponnya, sibuk berpikir. Muca mulai mendekati Lily lalu mematuknya sesekali. Hal ini membuat Lily kesal dan mengomel.


Mereka tidak tahu bahwa ada yang melihat mereka dengan wajah bodoh dan mulut menganga. Sosok itu tidak lain adalah Lu Tu. Dia membeku saat melihat kucing, burung dan setangkai bunga mulai berbicara satu sama lain dengan bahasa mereka sendiri. Lalu dia juga melihat Gin berbicara dengan mereka dan membicarakan hal yang tidak masuk akal sama sekali.


__ADS_2