
Gin tidak melawan, walaupun dia bisa menggunakan sihir nya untuk membuat tubuhnya bergerak. Tapi dia tidak melakukan nya hanya karena malas. Bahkan dia juga merasa nyaman saat digendong seperti ini. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya dan dia hampir ketiduran.
Para penjahat itu terus terbang selama tiga puluh menit. Lalu mereka berhenti di tengah-tengah hutan dan turun ke bawah. Pemimpin itu langsung menurunkan Gin dari bahunya, tapi dia terkejut saat melihat Gin ketiduran dengan mulut sedikit menganga.
"...."
pemimpin penjahat itu tidak bisa berkata-kata. Apa ada orang yang ketiduran saat dia diculik?
BRAK!
Pemimpin penjahat itu menghempaskan tubuh Gin ke bawah. Dia benar-benar kesal. Membayangkan kalau Gin ketiduran di bahunya sepanjang jalan benar-benar membuat amarahnya naik.
Gin merasakan sakit dipunggung nya dan dia mulai terbangun.
"Kita sudah sampai?" katanya sambil menguap, membuat semua orang menatapnya tidak percaya.
Apakah ada orang yang akan sesantai itu saat diculik? Entah kenapa semua orang disana ini memukul Gin, bahkan Fei Lan juga. Sikapnya yang acuh itu benar-benar membuat kesal.
Urat-urat kekesalan muncul di kepala pemimpin penjahat itu. Dia langsung menarik kerah Gin dan menyeretnya menjauhi semua orang.
"Kau bocah bau! Berani-beraninya kau meremehkan ku! Aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan nyaman!" dia berteriak kesal sambil menatap Gin dengan tatapan pembunuh.
Dia sengaja membawa Gin sebagai sandera karena dia ingin memukul wajah bocah itu sampai ibunya tidak mengenalinya. Lalu dia akan mengirim bocah itu ke rumah sakit setelah dia mengambil buku harta karun itu.
Tapi setelah dia mengeluarkan tenaganya untuk berteriak, Gin hanya melihatnya dengan ekspresi datar yang sangat acuh. Seakan-akan bocah itu tidak perduli sama sekali. Gin juga mengabaikan tatapan marahnya dan melihat jam tangannya.
Gin cemas kalau hari akan semakin gelap. Bagaimana dengan game edisi terbatas yang harus dia beli hari ini. Dia terlalu banyak menghabiskan waktu tidak penting diluar.
Mata pemimpin penjahat itu menajam. Dia tidak bisa mengendalikan amarahnya lagi. Dia langsung mengarahkan tinjunya ke arah Gin.
BAM!
Harusnya tinju itu mengenai manusia. Tapi nyatanya hanya mengenai udara kosong.
Gerakan Gin sangat cepat. Dia bisa menghindari serangan itu dengan mudah. Bahkan dia masih sempat menyapu debu dari pakaiannya dengan ekspresi datar.
"Kau! Dasar bocah bau!"
__ADS_1
Dia mulai akan bersikap serius sekarang. Dia langsung menggunakan teknik immortal miliknya.
Ini adalah teknik bertarung bernama "Tubuh api". Dia sudah menguasai teknik ini sampai level 10. Ini adalah teknik bertarung andalannya. Bahkan kalau dia menggunakan teknik ini untuk meninju gunung, gunung itu akan berlubang. Ini adalah kekuatan sebenarnya dari kultivator tubuh immortal. Mereka bisa menghancurkan sebuah kota kalau mereka ingin.
SYUUU!
Dia dengan cepat berlari, lalu melayang kan tinjunya. Kali ini dia tidak mengenai udara kosong seperti sebelumnya, tapi mengenai targetnya.
Gin tidak tahu seberapa besar kekuatan kultivator immortal. Tapi berdasarkan buku yang dibacanya, mereka benar-benar kuat. Tapi kenapa dia tidak merasakan ancaman sama sekali saat paman di depannya mulai menyerang? Bahkan kucing kecil itu, yang selalu mengaku menjadi raja iblis, memiliki aura yang lebih kuat dari paman yang ada di depannya. Bukankah berarti kekuatan kucing itu lebih besar dari kultivator tubuh immortal?
Gin mengangkat tangannya untuk menangkis pukulan itu.
BAMM!!
Pukulan itu mengenai telapak tangannya. Gin merasa sebuah botol air minum menyentuh telapak tangannya. Dia tidak merasa kan apapun.
Sementara, efek pukulan itu membuat daerah di sekitar mereka hancur berantakan. Hanya dari angin yang dihasilkan sudah membuat beberapa pohon patah dan terbang ke belakang. Lalu dasar tanah juga terkikis ke bawah, membentuk kawan besar. Tapi aneh nya Gin tidak bergerak sedikit pun dari tempat nya. Seakan-akan dia adalah tiang yang kokoh.
"Kau!"
Dia melotot kaget sambil melompat mundur.
"..."
Gin tidak menjawab. Dia sibuk melihat telapak tangannya sambil sesekali mengepal dan membuka tangannya. Dia sedang berpikir. Kalau dia menggunakan seluruh mananya, bukankah dia bisa menghancurkan dunia? Saat memikirkan hal itu, Gin merinding ngeri. Dia tidak ingin hal itu terjadi. Dia masih ingin menikmati hidupnya dengan normal. Semoga saja masalah kehancuran dunia itu tidak akan pernah terjadi sama sekali.
"Kau!" pemimpin penjahat itu berteriak lagi. Dia sangat marah, tapi dia juga tidak berani meremehkan Gin sama sekali. Dia takut untuk bergerak maju karena musuh nya sangat misterius. Pemuda itu jelas-jelas hanya kultivator perunggu. Bagaimana bisa kekuatan nya di luar nalar seperti itu?
"Kau memiliki harta Karun yang bagus di tubuh mu heh?" katanya sarkas. Dia langsung menyimpulkan bahwa Gin menggunakan alat sihir karena dia tidak bisa menemukan sumber kekuatan nya.
"Tidak" jawab Gin singkat. Dia mendekati paman itu dan langsung mengarahkan pukulan nya. Gin hanya menggunakan 10.000 mana untuk memperkuat tubuhnya sekarang. Harusnya paman ini bisa menahannya karena dia adalah kultivator immortal. Gin yakin itu.
Gin ingin mengetes kekuatan nya lagi. Dia ingin tahu apakah kekuatan dengan 10.000 mana nya bisa bersaing dengan kekuatan kultivator immortal. ini sangat penting karena dia harus tahu dimana batas kekuatannya agar tidak menggunakan kekuatan itu terlalu berlebihan di masa depan nanti.
Tapi, KRAKK! Terdengar bunyi tulang patah saat pria itu menangkis pukulan Gin dengan menyilangkan kedua tangannya. Bahkan pria itu terseret mundur. BAM! Lalu menabrak pohon besar di belakang nya dengan meninggalkan jejak kaki terseret seperti lorong cacing di tanah.
Paman itu menutupi wajahnya. Gin tidak bisa melihat bagaimana ekspresi nya. Jadi Gin memutuskan untuk melakukan serangan lainnya. Tapi kali ini dia mengenai udara kosong karena paman itu melarikan diri.
__ADS_1
"..."
Gin tidak percaya. Dengan penglihatan tajamnya dia bisa melihat pria itu melarikan diri meninggalkan nya.
"Apa-apaan..." gumam Gin tidak senang. Dia mengejarnya dengan mudah dan mereka bertatapan.
Pemimpin penjahat itu menelan ludah dengan wajah pucat. Dia merasakan kekuatan pukulan itu dan dia takut. Dia bisa merasakan bahwa kedua tulang lengannya sudah hancur sekarang dan rasanya sangat menyakitkan. Jadi dia langsung melarikan diri karena rasa takutnya yang muncul tiba-tiba itu. Dia menggunakan teknik kaki terbaik, tapi bocah itu berhasil mengejar nya. Seketika dia menyadari sesuatu.
Dia berhenti dan PAP! Langsung berlutut di tanah sambil meminta maaf. "Maafkan aku karena sudah menyinggung penatua" katanya sambil menangis dalam hati.
Sekarang dia tahu alasan kenapa Gin sangat kuat. Dia berpikir Gin adalah seorang kultivator tingkat tinggi pengembara yang sedang menyamar. Dia pernah mendengar informasi bahwa beberapa kultivator ilahi menyamar menjadi orang lain dan menyembunyikan kekuatan mereka yang sebenarnya. Jadi sekarang masuk akal kalau bocah tubuh perunggu itu bisa sekuat ini. Dia adalah seorang kultivator tua yang sedang menyamar! Dia bukan seorang bocah sama sekali!
Dia menjadi sangat panik. "Murid ini terlalu sombong karena sudah bersikap tidak sopan kepada Penatua" katanya menyedihkan. Tulangnya hancur, dan dia harus dengan cepat menyembuhkan lukanya untuk menghadapi keluarga Fei. Dia mulai berpikir bahwa nasibnya di misi ini sama sekali tidak beruntung. Dia harus menemukan kultivator ilahi pengembara dan bahkan menyinggung nya. Dia benar-benar dalam situasi yang sangat kritis sekarang!
Gin menatap paman di depannya dengan wajah linglung. Bagaimana tidak? Pria itu tiba-tiba berlutut dan memanggil nya penatua. Padahal dia tidak setua itu kalau dia mengingat penampilannya.
"Bertarung lagi" kata Gin singkat. Dia ingin mengetes kekuatan nya lagi. Semuanya masih belum jelas. Sedikit lagi. Kalau paman ini berhasil di kalahkan, maka dia bisa menggambarkan kekuatan 10.000 mana ini sama dengan kultivator immortal. Jadi dia bisa menyesuaikan kekuatannya di masa depan saat ingin berhadapan dengan orang lain.
Tapi perkataan Gin seperti pisau untuk pria itu. Dia langsung membenturkan kepalanya ke tanah sambil menangis. "Murid benar-benar minta maaf karena sudah menyinggung penatua!" dia berteriak dengan sangat keras
"Aku tidak mengerti. Kenapa kau memanggilku penatua. Aku tidak setua itu. Ayo bertarung lagi. Sebentar saja karena setelah ini aku harus pergi ke toko" kata Gin.
Tangisan paman itu semakin keras. "Maafkan murid ini penatua!" dia membenturkan kepalanya lagi. Bertemu dengan kultivator ilahi di tempat ini. Dia benar-benar tidak beruntung. Dia merasa sangat teraniaya sekarang.
"..."
Gin merasa tidak nyaman melihat orang lain berlutut sambil membenturkan kepalanya di tanah. "Baiklah, berhenti sampai disini" dia menyerah.
Paman itu tersenyum cerah. "Terima kasih penatua" katanya sungguh-sungguh. "Murid ini akan membalas kebaikan penatua suatu hari nanti"
Gin merasa tidak nyaman dengan panggilan penatua itu. "Sudah kubilang aku bukan penatua. Jangan memanggilku seperti itu lagi. Ada apa denganmu paman? Kau tidak seperti ini sebelumnya" kata Gin tidak senang.
"Maafkan aku..." katanya lirih. Lalu dia menatap Gin sungguh-sungguh. "Aku akan mengenalkan diriku. Aku Yurion, dari organisasi Boroxi. Maaf karena tidak sopan. Tapi bolehkah aku tahu nama penatua ini?"
"Sudah kubilang aku bukan penatua. Namaku Gin."
"Ah, Tuan Gin" kata nya langsung. "Apakah Tuan Gin baik-baik saja dengan panggilan ini?"
__ADS_1
Gin sudah terbiasa dengan panggilan "Tuan" karena dia tinggal bersama dengan para pelayan sejak dia masih bayi. Panggilan ini setidaknya lebih baik daripada panggilan sebelumnya, yang membuatnya merasa seperti seorang kakek tua. Walaupun dia memang kakek tua kalau dihitung berdasarkan masa kehidupan yang sudah dia alami .
"Itu tidak masalah" dia menjawab.