
Segempul asap tiba-tiba keluar dari pohon raksasa itu. Dia menguap saking marahnya karena perkataan monster bunga kecil di depannya.
"Kurang ajar!" pohon raksasa itu berteriak marah sambil menyerang ke arah Gin.
Gin menghentikan ranting pohon yang menyerangnya dengan tangannya. Ranting pohon itu sebesar batang pohon sehingga tangan Gin terlihat seperti semut bila dibandingkan.
Tapi TRAK! Gin mematahkannya dengan mudah menggunakan tangan kecilnya.
"Itu baru ayahku" kata Lily bangga sambil bersorak gembira.
"SEMUT SIALAN! KAU BENAR-BENAR MEMBUATKU MARAH!" Seluruh tubuh pohon raksasa bergetar hebat. Lalu sosoknya tiba-tiba berubah menjadi merah dan Gin bisa melihat lidah-lidah api di atas kepalanya. Kemudian seluruh padang rumput di bawahnya mengering dan menghitam. Padang rumput nan hijau itu berubah menjadi padang gosong dalam sekejap.
"Kenapa kau menyerang anakmu seperti itu?" tanya Gin. Dia tidak mengerti mengapa pohon raksasa ini marah dan menyerang anaknya sendiri hanya karena ejekan ringan.
"ANAK?" Suara pohon raksasa itu bergema diseluruh tempat. Kemudian pohon itu mulai tertawa terbahak-bahak. Suaranya terdengar sangat mengerikan. "DIA HANYALAH MAKANAN." Dia menatap Lily dengan tatapan menakutkan. "SETELAH AKU MEMAKANMU. AKU AKAN MENGUASAI DUNIA INI!" Suaranya membuat udara di sekitar mereka bergetar.
Lily gemetar ketakutan dan dia menyembunyikan dirinya di rambut Gin dan menempel erat-erat di kepalanya.
"Kau itu apa?" tanya Gin.
"AKU ADALAH DEWA" Sahut pohon raksasa itu bangga. "DAN BUNGA ITU ADALAH MAKANAN YANG AKU INGIN AKU MAKAN SAAT MEKAR. TAPI KALIAN MENCURINYA" Dia berteriak lagi dan sekali lagi udara di sekitar mereka bergetar.
Dia mulai menyerang Gin dengan ranting-ranting raksasa yang muncul dari segala arah. Gin tidak bisa menghindar karena semua batang kayu itu menyerangnya dari seluruh sisi, tidak memberinya celah sama sekali. Ranting-ranting pohon itu membentuk bola raksasa dengan terjalin erat, lalu membuat Gin terjebak di tengah-tengahnya.
Lalu BASH! Bola ranting raksasa itu terbakar dan menjadi bola api.
Pohon raksasa itu tersenyum, dia mengira bahwa Gin sudah mati dan menjadi abu. Dia yakin bahwa tidak ada seorang pun yang berhasil melarikan diri dari bola raksasa itu.
Tapi tiba-tiba bola api itu retak dan hancur. Gin langsung melesat keluar. Pakaiannya robek karena terkena api tapi tidak ada luka sama sekali di tubuhnya.
__ADS_1
Gin hampir terbakar. Tapi skill pasifnya aktif secara otomatis. Skill resistensi terhadap unsur apapun, sehingga tubuhnya bisa menahan efek api itu.
Tapi Lily tidak bisa menahan efek api, bunga kecil itu mendapati salah satu daunnya terbakar habis. Dia tidak berteriak kesakitan, tapi dia menangis.
"Maafkan aku" kata Gin menyesal. Dia meletakkan Lily di saku bajunya yang masih utuh dan tidak terbakar.
"Tidak apa-apa. Itu akan tumbuh lagi" jawab Lily. Dia berkata dengan nada tegar sambil sesegukan.
"DASAR SERANGGA! KENAPA KALIAN BENAR-BENAR SULIT DIHANCURKAN" Pohon raksasa itu meraung kesal. Tiba-tiba tubuhnya semakin besar dan tinggi. Bahkan kepala pohon itu sudah membelah langit-langit saking tingginya.
Pohon raksasa itu bergerak dan menginjak Gin dengan kakinya yang sebesar kota manusia.
Pohon raksasa itu sudah dengan percaya dirinya yakin bahwa Gin akan mati di bawah kakinya. Tapi dia merasa aneh. Suara BAM dari hentakan kakinya, seperti yang dibayangkannya sama sekali tidak muncul. Kakinya juga terhenti di tengah-tengah, seakan-akan ada sesuatu yang menahannya.
Itu adalah Gin. Dia menambahkan lagi 10.000 mana dan menahan kaki pohon raksasa itu dengan tangan kanannya. Jujur saja, Gin merasa bahwa tubuh raksasa itu sangat berat. Dia merasa bahwa dia mengangkat satu galon air.
Gin melempar kaki raksasa itu. Pohon raksasa itu kehilangan keseimbangannya karena dorongan Gin dan mulai mundur beberapa langkah ke belakang. Gerakannya membuat gempa yang sangat besar tapi anehnya, tanah di bawahnya tidak terbelah terlalu banyak. Hanya terasa getaran yang sangat hebat dan bunyi gemuruh yang besar.
"Kau itu apa..." gumam pohon raksasa itu syok.
Gin melesat terbang dengan cepat sampai ke atas, sampai akhirnya dia bertatapan langsung dengan pohon raksasa itu.
Gin mengangkat tangannya dan mengepalkannya. Lalu dia meninju pohon raksasa itu tepat di keningnya.
"Tinju angin" gumam Gin. Dia tidak tahu teknik berkelahi apapun. Dia hanya tahu gerakan tinju angin ini. Dan tentu saja dia hanya menggunakan kekuatan fisiknya tanpa menggunakan energi qi.
Saat Gin meninju pohon raksasa itu, udara di sekitar tangannya mulai bergelombang seperti riak air.
Lalu BAM! Bunyi ledakan yang besar terdengar. Kepala pohon raksasa itu pecah menjadi serpihan-serpihan kecil. Walaupun kepalanya hancur, tubuh raksasanya (batang pohon) masih berdiri dengan kokoh di tempatnya.
__ADS_1
Suasana menjadi hening sejenak.
Lalu TRANG! Terdengar bunyi retakan kaca. Dan dunia di sekitar mereka mulai retak, seluruh tanah dan langitnya. Retakan itu meluruhkan padang rumput gosong dan warna langit yang biru. Lalu batang pohon raksasa itu bersinar dengan sangat terang dan menjadi serpihan abu.
Dunia aneh ini hancur berantakan, digantikan dengan hutan normal. Hutan yang rindang dengan pepohonan dan langit yang sangat normal. Bukan padang rumput hijau dan langit yang aneh seperti sebelumnya.
Saat pohon raksasa itu hancur menjadi serpihan abu, sebuah batu bulat berwarna hijau tiba-tiba jatuh ke lantai. Batu itu sebesar kelereng.
Gin mengambilnya. "Dewa ya..." dia bergumam. Ini pertama kalinya dia bertemu dengan dewa di dunia ini. Gin hanya merasa bahwa semuanya tidak masuk akal.
"Ayah..." Lily tiba-tiba keluar dari saku bajunya dan menempel pada batu aneh itu. "Aku mau ini" dia menatap Gin dengan tatapan anak anjing.
Gin merasa bahwa batu aneh ini tidak berguna. "Kau bisa mengambilnya" katanya acuh.
Lily tiba-tiba membuka mulutnya dan menelan batu itu bulat-bulat. "Gulp" batu itu tiba-tiba lenyap di dalam tubuhnya yang kecil. Bahkan Gin melonggo kaget.
"Puwah, ini enak. Kapan aku bisa mendapatkan makanan seperti ini lagi" gumam Lily. Dia merasa puas dan mengantuk. Dia langsung bergegas masuk ke dalam saku baju milik Gin dan tertidur dalam sekejap.
Gin baru menyadari bahwa hanya ada dia seorang di tempat ini. Dia tidak melihat tiga orang dari Aksara itu sama sekali.
Tidak, dia tidak sendiri. Dia menemukan pria tua di posisi tidak jauh darinya. Dia adalah kepala desa. Pria tua itu masih pingsan, dan karena keberuntungannya yang besar, dia selamat.
Gin menarik kepala desa. "Aku harus menemui yang lainnya sekarang" gumam Gin. Dia melupakan keberadaan orang-orang dari Aksara itu dengan cepat, seolah-olah dia tidak pernah melihatnya. Lalu dia menghilang dengan cepat dari tempatnya berdiri.
Sementara di sisi lain, sosok tiga orang berlari dengan seluruh kekuatan mereka. Mereka berlari dengan rasa takut yang besar, seperti dikejar hantu.
"Apa-apaan yang aku lihat ini!" pikir mereka bersamaan.
Saat mereka melihat pertarungan antara Gin dan pohon raksasa itu, mereka membeku di tempat dan tidak bisa bernapas. Seakan-akan mereka melihat sesuatu yang tabu dan menakutkan.
__ADS_1
"Kita harus meninggalkan Mozu sekarang" wanita itu berkata dengan rasa gugup. Dia takut Gin mengejar mereka untuk menuntut balas padanya karena ejekan itu.