
Setelah sesi ujian tertulis berakhir, keesokan harinya mereka langsung menghadapi ujian wawancara di hadapan para pengawas ujian, sekaligus guru mereka. Para murid akan masuk ke ruangan kecil seorang diri, hanya berbicara empat mata dengan pengawas ujian yang berada di ruangan.
Ada lima ruangan kecil yang berisikan lima orang pengawas. Jadi dalam satu sesi, lima orang murid akan maju bersamaan untuk berhadapan dengan tiga orang pengawas itu.
Mona dan Fei Lan maju lebih dulu bersama tiga orang lainnya. Mereka berada di dalam selama tiga puluh menit. Lalu keluar dengan wajah tanpa ekspresi.
Li Seng langsung mengedipkan matanya, mengkode kedua gadia itu. Mona melihatnya tapi langsung mengabaikannya dan keluar dari ruang kelas. Fei Lan hanya tersenyum sebelum keluar dari ruang kelas.
Li Seng menunggu gilirannya sambil menggertakan giginya. Dia benar-benar gugup. Sampai akhirnya tiba gilirannya dan bocah gemuk itu melenggang masuk dengan lesu. Tiga puluh menit berlalu, dia keluar dengan mata ikan mati. Tanpa memperhatikan sekelilingnya dia langsung keluar kelas.
Setelah itu tiba giliran Gin. Gin masuk bersama empat orang lainnya. Dia mendapatkan ruangan nomor lima. Saat masuk, dia melihat Siyan menunggunya di sana.
"Halo guru" kata Gin sopan.
"Duduk"
Gin duduk dengan santai.
Sementara Siyan mengeluarkan selembar kertas dan berkata "coba ulangi kembali apa yang kau tulis di lembar ujian kedua"
Gin mengerjapkan matanya. "Aku sudah lupa" katanya jujur. Dia menjawab semua pertanyaan tanpa berpikir karena skill pemahaman dari sistem membantunya. Jadi saat dia berhenti menggunakan skill, dia tidak akan mengingat apapun. Lebih tepatnya, dia malas mengingat apapun karena hal itu menghabiskan energi.
Siyan mengepalkan tangannya, mencoba menahan amarahnya. "Kau baru saja mengisi lembar jawabannya kemarin bukan? Bagaimana kau bisa lupa?"
"Tapi aku benar-benar tidak ingat..."
"Kau mencontek?" Siyan memancingnya.
"Tentu saja tidak!" jawabnya cepat. "Aku ingin lihat soalnya lagi. Berikan aku pertanyaan yang sama. Aku akan mencoba menjawabnya"
Siyan mengamati bocah aneh ini dengan tatapan ragu. Tapi dia langsung membacakan pertanyaan dari lembar soal itu. Gin menjawab dengan cepat dan hal itu mengagetkan Siyan. Lalu Siyan mencoba menanyakan beberapa pertanyaan, bahkan ada pertanyaan di luar konteks ujian. Dan Gin memberikan jawaban yang sangat mengejutkannya.
__ADS_1
"Apa yang kau pikirkan saat menjawab semua ini? Apa kau yakin hal ini memungkinkan? Terutama tentang teknik kultivasi yang kau sebutkan?"
"Aku tidak mengerti terlalu banyak tentang teknik kultivasi. Aku hanya mengatakan apa yang aku pikirkan"
"Dan meletakkan qi di dalam benda mati untuk memperkuat senjata? Kau tahu hanya batu yang bisa menyimpan energi qi. Benda lainnya tidak bisa"
"Belum ada yang mencoba. Siapa tahu bisa. Sekali lagi ini hanya teoriku" kata Gin. Tapi dia ingat di kehidupan lamanya, mereka bisa memasukkan mana sihir ke dalam pedang dan menamai pedang itu menjadi pedang suci.
"Baiklah. Cukup" Siyan menyerah. Sangat melelahkan berbicara dengan Gin. Dia menguras hampir seluruh energi di tubuhnya untuk berbicara dengan bocah ini. Seakan-akan dari awal, bocah ini tidak mau memberitahunya apapun.
"Karena kau bilang semua adalah teorimu" Siyan memberi nilai 0 di lembar jawaban miliknya. "Nilaimu adalah nol, karena tidak sesuai dengan apa yang ada di buku"
Gin kaget. Dia berpikir dia akan mendapatkan skor tinggi saat dia menjadi pintar. Kenapa guru ini memberinya nilai nol? Seketika Gin merasa kecewa. Tapi dia tidak bisa melakukan apapun.
Tanpa perlawanan, dengan nada pasrah dia berkata " jadi sudah selesai bukan?"
Siyan menggertakan giginya. Dia mengancam Gin dengan nilai nol agar anak ini lebih serius, tapi ternyata dia bersikap seolah-olah itu bukan hal yang penting untuknya. Entah kenapa dia merasa kesal dengan sikapnya itu.
BRAK
Meja di depannya rusak karena tidak mampu menahan tekanan dari tangannya.
"Anak nakal itu!" kata Siyan geram sambil menggertakkan giginya.
Gin langsung keluar kelas dan menemukan teman-temannya di sana. Terlihat Mona dan Fei Lan yang menghibur Li Seng yang hampir mati. Wajah pemuda itu pucat dan matanya kosong.
"Ada apa dengannya?" tanya Gin.
"Aku tidak tahu" kata Mona.
"Dia tidak mau mengatakan apapun" sambung Fei Lan.
__ADS_1
Pasalnya, mereka berdua sudah bertanya pada Li Seng. Tapi Li Seng mengabaikan mereka.
"Apa yang terjadi?" tanya Gin.
"Aku mati..." Li Seng akhirnya membuka mulutnya.
"Kau masih hidup" balas Gin. "Kau bahkan bicara. Bagaimana mungkin kau mati?"
Urat-urat kekesalan muncul di kepala Li Seng. "Bukan mati yang itu, hei!" katanya kesal. "Aku mati karena aku tidak lulus ujian" sambungnya lagi sambil menangis. "Kalau ayah tahu, dia akan membunuhku. Aku akan diusir. Tidak ada uang jajan" katanya merengek. "Aku benar-benar mati..."
Gin mengernyitkan keningnya. "Belum ada pengumuman bahwa kita lulus ujian atau tidak. Lagipula masih ada ujian praktek bukan? Kenapa kau bisa tahu bahwa kau tidak lulus?"
"Karena nilaiku rendah! Kau bayangkan aku dapat 5 poin dari 100 poin!" teriak Li Seng frustasi.
Mendengar perkataannya, Mona dan Fei Lan menatapnya dengan kasihan.
"5 ? Poinku nol" jawab Gin santai.
"Kau lihat kan? Aku pasti tidak lulus. Dan poinmu bahkan...Apa?" Li Seng membelalakan matanya.
Mona dan Fei Lan juga kaget.
"Apa kau bilang tadi? Kau dapat nol?" teriak Li Seng tak percaya.
"Memangnya ada yang salah? Tapi kan masih ada satu ujian lagi" respon Gin santai.
Li Seng tertawa terbahak-bahak. Dia langsung merangkul Gin dengan mata berbinar. Nyawanya kembali dalam hitungan detik.
"Temanku, kau benar-benar temanku!" katanya bahagia. Li Seng benar-benar bahagia saat tahu ada manusia yang lebih bodoh darinya. Selama ini ayahnya selalu berkata bahwa dia adalah manusia terbodoh di dunia. Tapi nyatanya hal itu tidak benar. Masih ada yang lebih bodoh lagi darinya. Dan orang itu adalah sahabatnya sendiri. Ya, mulai hari ini status Gin berganti dari teman menjadi sahabat di hatinya.
Mona dan Fei Lan hanya bisa menggelengkan kepala mereka saat melihat tingkah dua pemuda bodoh itu.
__ADS_1