Tuan Muda, Jangan Lari!

Tuan Muda, Jangan Lari!
Kelinci Percobaan


__ADS_3

Pelindung kura-kura milik Li Seng semakin menipis. Walaupun itu tidak rusak, pelindung itu semakin menipis dan menipis. Li Seng ketakutan sementara pembunuh itu tertawa bahagia.


"Bersiaplah untuk kehilangan kakimu nak" katanya sarkas.


Li Seng tidak menyerah. Walaupun dia berada disituasi hidup dan mati, dia berusaha melakukan apapun untuk bertahan hidup.


Dia mulai mengeluarkan berbagai alat sihir yang dia punya. Dia mengaktifkan alat sihir pelindung berturut-turut. Lalu dia mengeluarkan alat sihir yang bisa menyerang dari jarak jauh. Tapi semua serangan itu tidak berguna. Kultivator tubuh immortal bisa menghindari semua serangan dengan mudah.


"Apa kau pikir mainan itu bisa menyerangku?" pembunuh itu menatap Li Seng seolah-olah dia menatap orang bodoh.


Pelindung kura-kura itu memudar dan akhirnya menghilang. Li Seng gemetar ketakutan. Dia melarikan diri dengan kecepatan maksimalnya sambil memasang tumpukkan pelindung pada tubuhnya.


Pembunuh itu mengejarnya sambil tertawa girang. Dia menyukai ekspresi ketakutan Li Seng yang seperti anak ayam. Dia merasa semakin antusias untuk bermain dan membuatnya ketakutan sampai gila.


Pembunuh itu tiba di depan Li Seng dalam sekejap mata dan tersenyum geli. "Kau benar-benar seperti anak babi" dia melihat Li Seng dengan tatapan menghina.


BAM! Pembunuh itu melancarkan pukulannya. Pukulannya tepat mengenai dada Li Seng karena pemuda itu tidak sempat menghindar.


Li Seng pun terlempar beberapa meter ke belakang. Pelindung yang melindungi tubuhnya secara perlahan retak satu persatu karena tidak mampu menahan serangan kultivator immortal.


Li Seng batuk darah. Bahkan pelindung berlapis-lapis tidak bisa meminimalisir efek dari serangan itu.


Pembunuh itu tiba di depannya lagi dan melihatnya dengan mata melotot. Keduanya saling bertatapan satu sama lain dan pembunuh itu tersenyum.


Pembunuh itu berbisik di samping telingan Li Seng, "mati~" lalu dia mengangkat tangannya untuk menyerang, memukul tepat di wajah Li Seng.


Li Seng mengaktifkan sebanyak mungkin alat sihir pelindung yang dimilikinya. Lalu dia menutup matanya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya.


BAM! BOM! Suara ledakan yang sangat keras terdengar dan bergema di seluruh hutan.

__ADS_1


Li Seng sudah bersiap menahan serangan menakutkan yang mengenainya. Tapi anehnya dia tidak merasakan rasa sakit seperti sebelumnya. Dia bahkan tidak terlempar dan masih berdiri kokoh di tempatnya semula.


Secara perlahan Li Seng mulai membuka matanya. Dimulai mata kirinya, lalu mata kanannya. Lalu dia melongo bingung. Pembunuh yang sebelumnya berdiri di depannya tiba-tiba menghilang.


Li Seng mengedipkan matanya beberapa kali. Dia membeku di tempat. Setelah kesadarannya kembali dia mengucek matanya beberapa kali untuk memastikan bahwa matanya tidak buta.


"Apa yang terjadi?" gumamnya tak percaya. Tidak mungkin pembunuh itu melarikan diri.


BAM!


Tiba-tiba seseorang terjatuh dari langit dan menghantam tanah. Hal itu menyebabkan kawah besar terbentuk dalam sekejap.


Li Seng membeku untuk yang kedua kalinya. Dia mengenal sosok itu, itu adalah sang pembunuh. Tapi kenapa pembunuh itu tiba-tiba terjatuh dari atas langit? Penampilannya bahkan terlihat compang-camping.


Pembunuh itu menggertakan giginya. "Sialan! Siapa kau!" teriaknya. Lalu dia melesat terbang ke atas langit.


Li Seng bisa melihat sosok lainnya di atas langit. Tapi dia tidak bisa melihat sosok itu dengan jelas karena pertarungan antara pembunuh dan sosok itu terjadi dengan cepat di udara. Dia tidak bisa melihat pergerakan mereka sama sekali.


Tak lama kemudian, dia merasakan sosok asing melesat ke arahnya. Li Seng sudah menyiapkan aba-aba menyerang. Dia mengira itu musuh. Tapi ternyata itu adalah Lian yang menatapnya dengan wajah cemberut.


"Kenapa kau mengarahkan tinju padaku?" Lian menatapnya dengan mata melotot. Dia langsung memukul kepala Li Seng.


"Apa-apaan kau? Tiba-tiba datang dan memukulku?" Li Seng protes. "Lagipula itu salahmu karena tiba-tiba muncul"


Wajah Lian cemberut. Dia langsung menginjak kaki Li Seng dan membuat pemuda itu menjerit kesakitan. "Mana pembunuh itu?" dia langsung mengubah topiknya dengan cepat.


Lian melihat bahwa pembunuh itu mengejar Li Seng dan memukulnya. Li Seng terlempar cukup jauh. Setelah itu dia mencarinya dan menemukan Li Seng sendirian dengan wajah bodohnya.


Li Seng tersenyum bangga sambil meletakkan kedua tangannya di pinggangnya. "Seseorang menyelamatkanku" jawabnya. Lalu dia menunjuk ke arah suara gemuruh berasal. "dengar, mereka bertarung dan pembunuh bodoh itu babak belur"

__ADS_1


Lian mengernyitkan keningnya bingung. Dia tidak menyangka akan ada kultivator immortal lainnya di hutan ini. "Apa kau melihat Gin?" dia bertanya lagi.


"My bro?" Li Seng memasang wajah bingung. "Tidak" dia menggeleng cepat. "Apa dia ada disini? Dimana?" dia langsung menoleh ke kiri dan kanan untuk mencari.


"Dia ingin menyelamatkanmu dan pergi dengan cepat" jawab Lian.


"...." Li Seng terdiam. "Tidak mungkin sang penyelamatku itu Gin kan?" gumam Li Seng. Dia tidak tahu mengapa dia memikirkan hal bodoh seperti ini. Padahal dia tahu bahwa itu tidak mungkin.


PLAK! Lian memukul kepala Li Seng. "Dasar bodoh. Itu tidak mungkin." katanya cepat.


Li Seng tertawa canggung. "Hahaha...memang tidak mungkin..." katanya ragu-ragu.


"Selagi ada yang menahan pembunuh itu, ayo pergi sekarang. Kita cari Gin" kata Lian.


Tanpa mereka sadari bahwa suara gemuruh pertarungan itu sudah berhenti dan hutan kembali senyap.


***


Gin tepat waktu. Dia melhat pembunuh itu hampir memukul Li Seng. Jadi dia dengan cepat menendangnya dengan gaya tendangan sepak bola.


Pembunuh itu langsung terlempar dan melayang dengan cepat. Bahkan pembunuh itu tidak merasakan keberadaan asing yang menyerangnya karena Gin tidak mengeluarkan aura apapun untuk di deteksi.


Gin mengejar pembunuh itu lagi. Lalu melayangkan tinju anginnya dan membuat pembunuh itu terlempar ke atas. Lalu dia terbang dan melayangkan pukulan berturut-turut yang menyebabkan pembunuh itu terlempar ke sana kemari seperti bola pimpong.


Pembunuh itu jatuh ke tanah dan berteriak marah. Dia tidak pernah tahu bahwa ada kultivator immortal lainnya yang bertindak licik dan menghajarnya secara diam-diam seperti ini. Dia menyerang Gin dengan kekuatan penuhnya. Tapi Gin menghindari serangan itu dengan mudah.


Lalu Gin mulai memukul pembunuh itu lagi. Dia memukul perutnya. Lalu kakinya. bokongnya. Dadanya dan yang terakhir wajahnya. Membuat pembunuh itu terlempar ke sana kemari seperti bola.


Lalu pembunuh itu jatuh ke tanah dengan benturan yang sangat keras dan tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Gin turun perlahan-lahan sambil melihat pembunuh yang tidak sadarkan diri itu. "Dia tidak mati kan..." dia bergumam dengan nada kecewa. Dia ingin mencoba mengetahui kekuatannya karena itu dia menyerang dengan jumlah mana yang berbeda-beda. Tapi hanya berlangsung beberapa menit dan kelinci percobaan sudah tidak sadarkan diri. Gin benar-benar kecewa.


__ADS_2