
Saat ular putih itu melepaskan gigitannya, lengan pembunuh itu mulai membiru. Lalu seluruh tubuhnya juga ikut membiru. Dan dia terjatuh dengan mulut penuh busa. Racun mematikan dari ular itu benar-benar membunuhnya hanya dalam sekejap.
"Kan sudah kubilang..." Gin menatap pembunuh itu sambil menggelengkan kepalanya, kasihan. Lalu dia menatap ular putih dengan tatapan bingung. "Kenapa kau membunuhnya?" dia menanyakan pertanyaan bodoh.
"Aku mencium bau telurku di tubuhnya" kata ular itu sambil mendesis kesal. Dia mulai mendekati tubuh mayat itu lalu menggeledahnya.
Ular putih itu masuk ke dalam baju mayat itu untuk menggeledah tubuhnya. Sementara Gin menemukan cincin yang terlihat aneh di jarinya. Iti bukan cincin pernikahan melainkan cincin ruang penyimpanan. Gin mengambil cincin itu, lalu dia mulai mengeluarkan barang yang ada di dalamnya satu per satu.
Lalu sesuatu yang bulat dan berwarna putih juga ikut terjatuh saat Gin mengeluarkan semua isinya. Itu adalah telur. Telur berwarna putih gading dan sebesar buah jeruk.
Tung, tung, tung. telur itu menggelinding dengan kasar saat terjatuh. Ular putih itu dengan cepat menghampirinya dan menyentuh telur itu dengan ekor ularnya. Lalu mulai melilit telur itu dan membawanya.
"Aku menemukan satu" katanya terharu. Ada setetes air mata yang jatuh saat dia menemukan telurnya.
Gin menghitung dengan jarinya. Ada tiga orang pembunuh yang dia lihat dan juga tiga telur. Dia menarik kesimpulan bahwa ketiga orang ini memiliki masing-masing telur.
Gin memeriksa barang lainnya. Itu adalah permata, ramuan dan kartu ATM. Dia membuang kartu ATM karena dia tidak bisa mengambil isinya. Lalu dia menyimpan beberapa batu permata dan beberapa botol ramuan di dalam ruang penyimpanannya.
Dia juga menemukan beberapa gulungan kertas yang terlihat lusuh. Secara tidak sengaja dia melihat tulisan di salah satu gulungan. Dia mengambilnya dan menemukan bahwa tulisan itu terlihat sangat aneh. Ini bukan bahasa dari Mozu. Tapi entah mengapa dia mengerti artinya karena skill pasif miliknya.
"Kota Burma, Tuan Vensasius"
Gin mengernyitkan keningnya. Dia tidak mengira bahwa dia akan melihat nama kota burma lagi. Dia mencapai kesimpulan bahwa Kota Burma berhubungan dengan para pembunuh ini. Mungkin saja Tuan kota mengirim para pembunuh karena Lian berkelahi dengan putrinya. Tapi dia tidak mengira bahwa tuan kota akan melakukan hal seperti ini, mengingat beberapa di antara mereka adalah anak dari keluarga besar di ibukota. Dia berpikir bahwa hal itu tidak akan sederhana seperti ini.
Gin berpikir tentang langkah selanjutnya yang harus dia ambil. Dia bisa langsung terbang ke kota Burma untuk mencari Tuan Vensasius ini. Atau dia mengelilingi hutan untuk mencari teman-temannya. Atau membantu ular putih menemukan telurnya dan membunuh para pembunuh yang tersisa.
__ADS_1
Bagi Gin semuanya sama saja. Karena dia harus menggunakan tenaganya untuk melakukan semua itu. Oleh karena itu, Gin hanya ingin memilih salah satunya saja.
KRAK! Gin mendengar suara ranting patah. Dia langsung berbalik dan menemukan seorang gadis berusaha mendekatinya diam-diam. Gin mengenalnya. Gadis itu adalah Lian.
"Gin, apa yang terjadi dengan pembunuh itu?" Lian menatap Gin dengan tatapan aneh. "Tidak mungkin kau yang mengalahkannya kan?" katanya dengan nada ragu-ragu.
Gin menggeleng. "Bukan aku". Dia tidak berbohong. Ular putih itu yang membunuhnya.
Entah kenapa, ular putih itu tiba-tiba menghilang saat Lian datang. Gin mengira bahwa dia sudah kembali masuk ke dalam danau karena dia melihat sedikit riak di permukaan danaunya.
Lian mendekat lalu mengecek mayat pembunuh itu. "Dia keracunan" katanya syok. "Apa kau tahu dia keracunan apa?" dia melihat Gin dengan tatapan antusias. Dia penasaran dengan sesuatu yang bisa membuat kultivator tubuh immortal mati keracunan. Itu pasti racun yang sangat kuat.
"Ular?" jawab Gin ragu sambil menggaruk kepalanya.
"Hah?" Wajah Lian berubah jelek. "Hei, jangan bercanda" katanya. Dia tidak percaya seekor ular bisa membunuh kultivator immortal. Dia lebih berharap Gin jujur dan berkata, aku punya ramuan racun mematikan, daripada jawaban seperti ini.
"Setidaknya itu harus ular tubuh immortal tingkat akhir. Apa kau kira aku bodoh? Kalau ada hewan berbahaya seperti itu disini, kau pasti juga mati" Lian mengomel.
"Aku tidak bohong" Gin menundukkan kepalanya lesu.
"Hah, pasti kau tidak tahu apa-apa" semprot Lian langsung. Dia mengambil kesimpulan dengan cepat.
"..." Gin tidak tahu harus menjawab apa.
Tak lama kemudian, Lian mengeluarkan sebuah jarum suntik dari ruang penyimpanannya. Dia mengambil darah dari mayat itu dan memasukkannya ke dalam sebuah botol kecil. Dia mengambil sampel racun ini dan dia akan menyelidikinya nanti setelah kembali ke akademi.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, kau tahu Tuan Vensasius?' tanya Gin saat Lian sedang sibuk menggeledah mayat pembunuh itu.
Lian membeku sesaat. "Aku tahu" jawabnya kemudian. Lalu dia memandang Gin dengan ekpresi tak percaya. "Bagaimana mungkin kau tidak tahu? Kau tidak membaca buku panduannya?"
Sebelum dikirim dalam misi penjelajahan ini, mereka diberi buku panduan oleh pihak akademi. Buku itu berisi informasi penting tentang daerah penjelajahan beserta beberapa tempat di sekitarnya. Termasuk informasi umum tentang kota Burma. Hanya saja Gin malas membaca hal seperti itu.
"Tuan kota Burma?" Gin menebak.
Lian mengangguk. "Jadi kau membacanya" katanya. "Kenapa tiba-tiba bertanya tentang pria tua itu?" Mood Lian berubah jelek. Dia teringat tentang konflik yang dialaminya di kota pinggiran itu. Dia mengingat kembali penampilan wanita gila yang menghinanya di tengah-tengah kota.
Gin mengeluarkan potongan kertas aneh itu dan memberikannya pada Lian. Dia juga menjelaskan bahwa dia mendapatkan kertas itu di tubuh mayat ini.
Ekspresi Lian mengeras. "Dia yang mengirim para pembunuh ini?" Lian memikirkan hal yang sama. "Tapi bagaimana mungkin?" dia merasa bingung kembali. Pasalnya Vensasius hanyalah seorang tuan kota di kota pinggiran. Lalu dia juga bukan kultivator. "Keberadaannya tidak begitu penting. Bagaimana dia bisa memanggil tiga kultivator tubuh immortal untuk membunuh kita?"
Gin juga memikirkan hal yang sama.
Tiba-tiba Gin teringat dengan alat komunikasi yang diberikan oleh pihak akademi kepada mereka. Dia mengeluarkannya dan ingin menggunakannya. Tapi Lian mencibir. "Alat itu tidak bisa digunakan"
"?"
"Para pembunuh itu memblokir sinyal dari perangkat komunikasi apapun di hutan ini. Untuk menggunakannya kita perlu pergi menjauh dari tempat ini terlebih dahulu dan memanggil bantuan". Lian menjelaskan bahwa ada alat penghalang sinyal yang disebarkan di hutan ini. Tapi dia tidak tahu seberapa luas jangkauan areanya. Sehingga mereka harus menjauh dari tempat ini sejauh mungkin untuk mencari sinyal.
Akhirnya tujuan ditetapkan, Gin mengikuti Lian untuk menjauh dari hutan. Kebetulan Lian sangat ahli dalam menyelinap dan melarikan diri. Karena itulah, dia bisa menghindari para pembunuh itu dengan mudah daripada anak-anak lainnya.
"Gin, kau pasti mengambil uangnya kan?" tanya Lian saat keduanya sibuk berlarian di tengah hutan.
__ADS_1
"..."
"Kultivator immortal itu pasti kaya. Kau benar-benar beruntung" dia menggerutu. Jujur saja Lian merasa cemburu dengan keberuntungan Gin yang selalu bagus,