
Ken Ilya telah dikalahkan. Sima yang melihat semuanya masih mematung karena tidak bisa!! memproses yang terjadi dengan logikanya.
Lian melihat Ilya yang terkapar. "Astaga, kau benar-benar mengalahkannya?" katanya tak percaya.
"Kakak" Aoi ingin menghampiri kakaknya.
Tapi Li Seng menghalanginya. "Kau kira aku akan membiarkanmu hah?" dia tersenyum.
Aoi menggertakkan giginya, kesal. "Aku akan menghancurkan kalian! Berani-beraninya kalian curang"
"Siapa yang curang? Dari awal ketua kami memang hebat. Hanya kakakmu saja yang lemah" kata Li Seng tak tahu malu sambil menggosok hidungnya.
Kemarahan Aoi memuncak. Dia mengerahkan seluruh energinya di pedang qi miliknya.
"Mati kau!" dia langsung menyerang Li Seng sambil mengeluarkan aura pembunuh.
BAM!
Li Seng terkena serangannya. Dia terlempar ke belakang lalu batuk darah.
Lian langsung menghampirinya. "Kau tidak apa-apa?"
"Apa aku terlihat baik-baik saja" balasnya kesal dengan mata melotot. Dia lengah dan sibuk mengolok-olok lawan. Untung saja dia menggunakan alat sihir perisai sehingga pedang itu tidak memotong tubuhnya. Tapi dia masih terkena luka dalam yang membuatnya muntah darah.
Li Seng cepat-cepat mengambil sesuatu dari sakunya. Itu adalah pil obat kecil berwarna hitam. Setelah dia meminum pil itu, tiba-tiba tubuhnya bercahaya selama sedetik dan luka-luka kecil ditubuhnya menutup. Itu adalah pil penyembuhan khusus yang dia bawa dari rumah.
"Untung aku bawa banyak" gumamnya.
Lian melihat ke arag Sima yang masih membeku di tempatnya dan berteriak. "Kau sedang apa disana? Dia sudah dikalahkan olehmu. Bantu kami!"
Sima akhirnya tersadar. Dia melihat Ilya yang terkapar di tanah. Lalu melihat Gin yang berjalan menjauh dan duduk di bawah pohon sambil menyandarkan dirinya. Dia benar-benar tidak mengerti yang terjadi sama sekali.
__ADS_1
"Sima!" Lian berteriak lagi.
"Eh...iya..." Sima akhirnya menuju ke arah mereka dengan ekspresi ragu.
Pertarungan tiga lawan satu pun terjadi. Gin menonton sambil duduk santai. Dia merasa sangat bosan.
Setelah beberapa menit, Ken Aoi pun dikalahkan. Pemuda malang itu menatap langit dengan tampilan babak belur sambil mengutuk lawannya. "Kalian benar-benar curang. Sampah..." Lalu dia kehilangan kesadarannya.
"Yeah!" Li Seng bersorak girang.
"Kau benar-benar hebat Sima, bisa mengalahkan pria berotot itu dengan mudah" kata Lian.
"Eh? I...iya" Sima menjawab dengan gugup. Tidak ada tanda-tanda kebahagiaan di wajahnya sama sekali.
Li Seng langsung memindahkan dua orang itu dan mulai menjarah tubuhnya. Dia menemukan total dua belas bendera dari keduanya.
"Sima, kau bisa mengambil enam. Aku dan si gendut bisa mengambil tiga masing-masing" kata Lian. "Bagaimana?"
"Bagaimana dengan Gin?" tanya Li Seng.
Lian menatap Gin yang sedang duduk di bawah pohon dengan ekspresi cemberut. "Dia tidak melakukan apapun. Saat kita bekerja sama mengalahkan Ken Aoi, dia bahkan tidak bergerak sedikit pun" dia mengomel.
Lian pun mulai membagikan bendera itu. Li Seng dengan cepat menyimpannya. Sementara Sima masih membeku, sepertinya dia tidak fokus dan pikirannya melayang.
Setelah itu, Lian kembali mendeteksi area sekitarnya.
"Dua kelompok yang ada di depan masih bertarung. Mau kesana?"
Li Seng dan Sima mengangguk.
Lian dan Li Seng pun langsung berlari kesana. Sementara Sima menghampiri Gin dan melemparkan tiga buah bendera di depannya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu kenapa kau berakting seperti itu" katanya sambil menatap tajam Gin. Tanpa menunggu balasan Gin, dia langsung menyusul yang lainnya.
Sekarang Sima merubah pandangannya tentang Gin. Dia bukan lagi siswa bodoh dan lemah di kelas mereka. Dia hanyalah badut yang berakting seolah-olah dia lemah dan menyembunyikan kekuatannya untuk mendapatkan simpati dari orang lain. Dia paling membenci orang-orang seperti itu.
Gin melihat tiga bendera di depannya. Dia tidak mengerti perkataan Sima. Dia sama sekali tidak pernah berakting. Dia bahkan buruk dalam berakting karena itulah tidak ada yang mau merekrutnya dalam drama sekolah.
"Sekarang aku punya lima belas bendera" gumam Gin. Dia menyimpannya dengan santai dan mengacuhkan perkataan Sima.
Mereka menuju ke arah di mana kedua kelompok itu bertarung dan mengintip dari balik semak-semak.
"Kakak!" Sima berteriak kaget. Ternyata yang bertarung adalah dua murid jenius dari kelas mereka bersama dengan kelompoknya. Mereka adalah Yusa Arai dan Fei Lan.
Sima langsung turun ke tengah-tengah pertandingan. "Aku akan membantumu kakak" katanya.
Yusa yang melihat adiknya hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Kenapa kau ada disini? Kau tahukan kita musuh sekarang karena tim kita berbeda?"
"Aku tidak akan pernah memandangmu sebagai musuh seumur hidupku" kata Sima heroik sambil memukul dadanya. "Aku akan selalu melindungi saudara-saudaraku!"
Dan terjadilah pertarungan empat lawan tiga. Gin, Li Seng dan Lian tidak ikut campur sama sekali. Mereka hanya mengintip dari balik semak-semak.
"Kau tidak mau membantu Fei Lan?" Li Seng membuka suara sambil menatap Gin.
"Untuk apa?" Gin balik bertanya.
"..." Li Seng kehilangan kata-kata. Dia lupa kalau saat ini dia berbicara dengan batu. "Ya sudahlah"
"Lagipula dia tidak akan mati" sambung Gin acuh. Dia akan menolongnya kalau dia berada di kondisi hidup dan mati.
Ini hanyalah pertarungan antar murid sekolah. Tidak berbahaya dan mereka tidak diizinkan membunuh satu sama lain. Lagipula ada beberapa guru yang mengawasi mereka dari kegelapan juga. Jadi Gin tidak memiliki alasan untuk membantu.
Jadi mereka bertiga hanya menyaksikan pertarungan kedua kelompok itu tanpa ikut campur sama sekali.
__ADS_1