
Tanah di bawah mereka bergetar dengan hebat, seakan-akan gempa dengan kekuatan besar terjadi. Tak lama kemudian seluruh tanah retak satu per satu dan akhirnya roboh.
Tiga orang berjubah hitam itu terbang ke atas dengan cepat. Gin juga. Saat ketiganya melihat sosok Gin yang melayang bersamaan, mereka terkesiap kaget.
Hanya kepala desa yang panik dan tidak bisa menyusul para kultivator untuk terbang. Pria tua itu memejamkan matanya, pasrah, saat tanah di bawah kakinya retak dan tubuhnya melayang jatuh.
Hatinya dipenuhi penyeselan. Gambaran istri dan putranya muncul dalam benaknya. Begitu pula senyuman para penduduk yang bergantung padanya.
Semua ini adalah kesalahannya. Dia lah yang membawa pandemi itu ke dalam desa. Saat dia menemukan padang rumput misterius ini. Dia tertarik dengan daun-daun berkilau yang ada di pohon raksasa itu. Jadi dia mengambilnya dan menunjukkannya kepada istrinya.
Istrinya mengira bahwa itu adalah daun teh. Jadi dia menyeduhnya dan menyajikannya kepada semua orang di ruangan itu.
Dia dan putranya baik-baik saja setelah meminumnya. Tetapi istrinya mengalami demam tinggi di malam hari dan bekas ruam yang besar mulai muncul di seluruh tubuhnya. Dia mencoba merawat sang istri, tapi luka itu semakin besar.
__ADS_1
Tak lama penyakit itu mulai mengenai beberapa wanita di desa. Para penduduk mengetahui hal itu dan memintanya untuk mengusir istrinya yang menjadi penyebab pandemi ini.
Pikirannya hampir gila saat dia harus memilih antara keluarganya dan penduduk desa. Tapi akhirnya dia memilih penduduk desa. Dia mengasingkan istrinya keluar dari desa. Putranya yang mengetahui hal itu, mengamuk dan pergi meninggalkannya.
Situasinya semakin memburuk sejak itu. Semua wanita di desa mereka jatuh sakit. Dia tidak tahu bagaimana menyembuhkannya. Dia semakin panik saat mengingat bahwa semua yang terjadi adalah ulahnya.
Kepala desa sudah dengan pasrah menerima nasibnya. Dia berharap kematiannya akan menebus dosa-dosa yang sudah dia lakukan.
Tapi dia tidak mati. Tubuhnya tiba-tiba melayang secara misterius melawan momentum gravitasi. Dia langsung membuka matanya dan melihat seorang pemuda menarik bajunya dengan kedua jarinya, seolah-olah dia memungut serangga.
Tidak hanya kepala desa, ketiga jubah hitam itu juga tidak menyadari keberadaan Gin.
"Siapa kau?" sosok pendek itu bertanya. Dia benar-benar yakin bahwa Gin hanyalah kultivator tubuh silver. Tapi bagaimanan dia bisa terbang dengan mudah? mereka juga tidak menyadari keberadaannya sama sekali selama ini. Itu sangat menakutkan.
__ADS_1
Gin mengacuhkan sosok pendek itu. Dia fokus melihat tanah yang retak satu per satu dan pohon yang tiba-tiba bergoyang dari tempatnya.
"Kurang ajar!" sosok pendek itu berteriak kesal. Dia langsung menyerang Gin.
Gin mengangkat tangannya. Dan pukulan mereka berdua saling bentrok satu sama lain. Lalu sosok pendek itu terhempas mundur dan jatuh ke bawah.
Kebetulan tudung hitam yang menutupi kepalanya juga terhempas sehingga Gin bisa melihat sosoknya dengan jelas.
Dia adalah seorang wanita berambut pendek. Rambutnya berwarna perak sangat kontras dengan kulitnya yang hitam. Matanya yang merah, juga membuat sosoknya sangat mencolok.
Gin mengerjapkan matanya. Dia mencoba menggali sesuatu di kepalanya. Dia merasa sosok itu sangat familiar. "Orang dari Aksara?" dia mengingatnya.
Lalu dia juga ingat bahwa dia berada di perbatasan antara Aksara dan Mozu. Tapi hutan ini masih berada dalam daerah Mozu. Ketiga sosok berjubah hitam ini adalah penyusup dari Aksara
__ADS_1
Note: Aku lagi sibuk gaes T.T