
Beberapa jam sebelum kejadian peti harta karun.
Pagi sudah menjelang dan murid-murid dari akademi Jin Shi mulai berkeluaran dari tempat peristirahatan mereka. Termasuk Gin dan teman-temannnya. Hari ini adalah hari terakhir, jadi mereka mengerahkan seluruh tenaga mereka untuk mencari lebih banyak bendera.
"Ohhh!" Sima tiba-tiba berteriak. Dia memanjat ke atas pohon dan membawa turun satu bendera. "Kalian lihat? Aku menemukan bendera!" katanya sombong. "Kalian tahu, sangat susah menemukan bendera secara kebetulan seperti ini. Aku memang hebat dan keberuntunganku sangat bagus" dia mulai membanggakan dirinya.
Gin tidak menghiraukannya. Dia juga sibuk mengamati sekitarnya untuk menemukan beberapa bendera tersembunyi.
"..." Li Seng memasang wajah datar. Kalau kejadian ini terjadi sebelum Gin memberinya bendera, dia mungkin akan memuji Sima dengan mata berbinar.
Lian berkata "kerja bagus" dengan nada iri. Dia juga ingin lebih banyak bendera.
"Ehem, baiklah. Kita harus menyusun rencana sekarang" kata Sima. "Lian, bisakah kau mendeteksi musuh yang berada di dekat kita?"
Lian mengangguk. "Aku bisa mendeteksi keberadaan mereka. Tapi aku tidak bisa mendeteksi kekuatan mereka" dia mengingatkan. Mereka bisa saja tidak beruntung dan bertemu musuh yang kuat.
"Itu sudah cukup. Aku punya rencana" kata Sima. "Lakukan"
Lian mulai menggunakan teknik kultivasi miliknya. Dia menutup matanya dan berusaha merasakan keberadaan mahluk hidup di sekitar mereka. Teknik ini adalah teknik untuk mendeteksi energi qi dari mahluk hidup. Selama mereka hidup, Lian akan bisa mendeteksi keberadaan mereka. Batas deteksinya adalah lima ratus meter dari tempatnya berdiri. Kalau dia berhasil meningkatkan teknik kultivasi miliknya sampai ke level 10, dia bisa mendeteksi keberadaan mahluk hidup bermil-mip jauhnya. Tapi hal itu memerlukan banyak energi qi. Dia hanya menguasai teknik level 1 sekarang.
"Aku melihat sekelompok orang. Di depan kita ada dua kelompok yang saling bertarung. Di samping ada satu kelompok yang berlari ke depan. Di belakang juga ada kelompok lainnya. Oh? Kelompok itu mendekat ke arah kita..."
"Sialan! Sembunyi" Sima memerintahkan. Dia langsung naik ke atas pohon. Ketiganya juga langsung naik ke atas pohon dan berusaha menyembunyikan keberadaan mereka didaunan.
Lalu tiga orang kelompok datang di tempat di mana mereka berdiri sebelumnya. Mereka adalah dua pemuda dari keluarga Ken, Ken Ilya dan Ken Aoi.
"Ini menyusahkan. Tapi kenapa cuma ada dua orang?" pikir Sima.
"Kita mati" kata Li Seng dengan tubuh bergetar. Kebetulan dia bersembunyi di pohon yang sama dengan Gin.
Saat dia panik, Gin tiba-tiba memberinya satu buah bendera dengan santai "ini"
"...." Li Seng tak bisa berkata-kata. Dia langsung menaruh bendera itu dengan cepat disakunya. Dia ingin memarahi Gin karena selalu bersikap acuh seperti ini. Tapi dia langsung teringat siapa Gin dan dia hanya bisa menyerah.
Gin menemukan tiga buah bendera di batang pohon. Dia melompat ke beberapa pohon tanpa ada yang menyadarinya dan mengambil bendera itu. Sekarang dia punya dua belas bendera. Dan Li Seng memiliki tujuh. Dia tidak yakin berapa banyak bendera yang harus dia kumpulkan untuk lulus ujian praktek ini. Dia hanya akan mengumpulkan sebanyak mungkin.
__ADS_1
Sima menatap rekan-rekannya. Mereka bersembunyi tidak jauh satu sama lain. Dia berpikir bisa mengalahkan kedua pemuda itu dengan empat orang dari mereka.
Dia sudah level 8, sama seperti Ken Aoi. Dia yakin dia bisa menghadapi Ken Ilya yang berada di level 9. Tapi dia butuh pendamping untuk itu. Li Seng dan Lian sama-sama level 6. Mereka berdua bisa menghadapi Ken Aoi. Lalu untuk Gin, dia berharap pria lemah itu bisa membantunya walaupun sedikit.
Sima mulai memberi isyarat kepada semuanya untuk menyerang. Mereka semua mengangguk.
Akhirnya, mereka langsung turun dan menyerang kedua orang itu secara bersamaan dengan teknik mereka.
BAM!
Suara benturan bergema dan bahkan membuat beberapa burung yang bertengger di pohon langsung berterbangan. Kabut pasir langsung menyebar karena serangan mereka menghantam tanah.
"Kalian menyerang diam-diam. Dasar licik!" gerutu Ken Ilya. Untung saja dia berhasil menghindari serangan licik itu bersama saudaranya.
"Huh? Tidak ada yang namanya licik dalam pertarungan apapun. Semuanya adalah strategi" balas Sima tidak tahu malu.
"Kalian berdua serang bocah itu. Serang dia secara bersamaan" perintahnya. "Lalu Gin, bantu aku"
Gin mengangguk dengan polos. Dia tidak mengerti bagaimana harus membantunya. Dia bisa mengalahkan anak-anak itu dengan satu sentilan jari.
"Terima ini!" Dia mengarahkan pukulan ke arah Sima.
"Cepat" Sima langsung menghindar sambil melindungi kepalanya dengan kedua tangannya.
SYUU! Pukulan Ilya mengenai udara kosong. Tapi berhasil membuat udara di sekitarnya begetar. Sima bahkan melihat ada luka gores di tangannya karenq serangan itu.
"Sialan!" Sima mengaktifkan teknik kakinya. Sekarang dia bergerak lebih cepat. Dia tahu kekuatan fisiknya tidak sekuat Ilya, tapi dia lebih cepat.
Sima mengeluarkan pedang kecil, yang entah dia simpan di mana. Dan menyerang Ilya dengan pedang itu. Ilya menahan serangannya. Pedang Sima membuat beberapa luka gores di tubuhnya.
Disisi lain, pertarungan antara Li Seng, Lian dan Aoi juga cukup intens. Mereka berdua berusaha mengeroyok bocah itu dengan menyerangnya memakai dua teknik sekaligus.
Gin mengakati mereka semua di tengah-tengah pertarungan dengan ekspresi datar.
"Dimana mereka menyimpan pedang itu selama ini?" pikir Gin saat dia melihat Sima dan Aoi mengeluarkan pedang panjang dari udara kosong. Gin merasa sedikit tertarik.
__ADS_1
"Uhuk!" Sima memuntahkan sedikit darah. Perutnya terkena pukulan Ilya. Rasa sakitnya benar-benar gila. Dia bahkan menjadi lebih gila lagi saat melihat Gin tidak melakukan apapun dan hanya menonton.
"Hei, kau Sialan. Bantu aku!" teriaknya kesal. Dia berharap walaupun dia tidak berguna, setidaknya dia bisa membantu walaupun sedikit.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Gin. Dia berjalan santai ke arah mereka.
"Apapun bodoh!" Sima benar-benar kesal sekarang. Dia tidak lagi memiliki energi untuk bertengkar dengan si bodoh Gin.
"Baiklah" Gin mengangguk kecil dan dia langsung berdiri di depan Ken Ilya.
"Apa yang kau lakukan?" Sima melotot tak percaya. Pria di depannya benar-benar bodoh. Kalau dia berdiri seperti itu di depan Ilya, dia akan terluka. "Menyingkir dari sana!"
Gin menatap Sima seakan-akan dia bocah yang labil. Sebelumnya menyuruhnya agar membantu. Sekarang menyuruhnya untuk menyingkir. "Plin plan sekali" gumam Gin cemberut.
Ken Ilya melihat sosok lemah yang berdiri di depannya. Pria ini adalah pria paling lemah di kelas mereka. Saat dia melihatnya dari dekat, dia terlihat lebih lemah dengan tubuh kurusnya dan auranya yang sangat lemah. Benar-benar seperti manusia biasa. Dia bahkan tidak bisa merasakan energi qi di dalam tubuhnya.
Ken Ilya kesal karena pria lemah itu beradu mulut dengan Sima dan mengabaikannya. Seolah-olah dia tidak ada disana. Dia pun langsung merasa geram.
"Dasar sampah!" Ilya mulai melayangkan tinjunya.
"Awas" Sima langsung maju untuk melindunginya.
Tapi terlambat. Tinju Ilya berhasil mengenainya. Tapi terasa aneh. Terutama bagi Ilya karena dia merasa bahwa dia meninju tembok.
Ya, Gin menahan serangan itu dengan tangannya. Dia tidak merasakan sakit sama sekali, seakan-akan bola kapas menyentuhnya.
Mata Ilya melotot kaget. Dia masih bisa melihat Gin berdiri di depannya. Dia bahkan melihat pria itu menatapnya sambil tersenyum kecil. Membuatnya semakin geram.
"Sialan!" Ilya melayangkan tinjunya lagi tapi di blokir dengan mudah.
Gin mulai memegang pergelangan tangannya dengan hati-hati. Dia takut kelebihan tenaga dan berakhir mematahkan lengan pria itu. Lalu dia mengangkat tubuh Ilya dengan cepat dan menghantamkannya ke tanah, seolah-olah dia melempar botol plastik.
"Tidak mungkin..." Ilya mengeluarkan kata-kata terakhirnya sebelum akhirnya pingsan tidak sadarkan diri.
Sementara Sima yang menyaksikan semua itu, membeku di tempat. "Apa-apaan..." gumamnya tak percaya.
__ADS_1