Tuan Muda, Jangan Lari!

Tuan Muda, Jangan Lari!
Perut Pohon Raksasa


__ADS_3

Pohon raksasa itu terus berteriak. Gin menatap ketiga jubah hitam itu dan berkata. "Sebaiknya kalian kembalikan barang yang diinginkan oleh pohon aneh itu"


"Enyah kau!" gadis itu memakinya. Dia menatap Gin seperti dia ingin menerkam dan mencabik-cabiknya.


Gin sedikit merinding saat melihat gadis yang menatapnya dengan galak seperti hewan buas.


"MANUSIA, KALIAN BENAR-BENAR HARUS MATI!" pohon raksasa itu semakin meraung marah. Dia membuka mulutnya yang besar dan mulai menghisap segala sesuatu ke dalam mulutnya.


Angin yang sangat kencang berusaha menarik Gin dan yang lainnya. Mereka terombang ambing di udara, berusaha menahan tarikan udara yang memaksa mereka masuk ke dalam mulut raksasa itu.


Tapi akhirnya mereka tidak bisa menahannya dan ikut tersedot masuk ke dalam mulut pohon raksasa itu. Teriakan gadis galak itu bahkan masih terdengar sayup-sayupnya walaupun raksasa itu sudah menutup mulutnya.


Gin terpana. Dia tidak pernah mengira bahwa dia akan dimakan. Dia ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat dan membunuh pohon raksasa ini. Tapi dia berpikir lagi bahwa ada rahasia tersembunyi di dunia ini. Dia ingin tahu lebih dalam karena itu dia berpikir untuk bersabar dan mengeksplorasi kebih jauh.


Dia masuk ke dalam perut pohon raksasa ini bersama manusia yang lainnya. Gin berpikir bahwa dia akan berada di dalam perut binatang, tapi ternyata mereka terdampar di sebuah hutan. Hutan yang gelap dan penuh dengan pohon-pohon tandus, karena tidak ada cahaya matahari yang masuk. Lagipula mereka berada di dalam perut bukan hutan yang sebenarnya.


"Sialan!" gadis itu memaki sambil berusaha berdiri.

__ADS_1


Dua orang jubah hitam lainnya kehilangan tudung jubah mereka sehingga Gin bisa melihat wajah mereka dengan jelas. Mereka berdua adalah laki-laki dengan tubuh kekar.


Pria satunya memiliki rambut hijau muda seperti pucuk teh. Kulitnya gelap dan matanya berwarna merah. Rambut biru mudanya panjang sepunggung sehingga keberadaannya terlihat unik di mata Gin.


Pria lainnya memiliki rambut merah api yang sangat pendek dan hampir botak. Kulitnya jauh lebih terang daripada dua lainnya, tetapi masih masuk dalam kategori cokelat terang. Ada bekas luka di kedua pipinya yang terlihat seperti luka sayat yang tidak bisa memudar. Bekas luka itu memberinya kesan yang lebih garang daripada pria lainnya.


"Nona, kau tidak apa-apa?" tanya pria hijau muda khawatir.


"Tentu saja" kata gadis itu arogan bercampur dengan rasa percaya diri yang kuat. "Kau kira aku apa? Aku adalah kultivator immortal" dia berkata dengan sombong.


Wanita berambut putih ini adalah jenius berbakat di klannya. Dia berhasil mencapai tubuh immortal dasar di umur dua puluhan dan merupakan kultivator immortal termuda di Aksara.


Gin bingung. Dia masih tidak mengerti mengapa wanita ini menaruh dendam yang besar padanya. Padahal dia tidak pernah memprovokasinya sama sekali.


Gin dengan mudah berpindah satu langkah. Lalu dia memegang lengan wanita itu dengan cengkraman yang cukup kuat.


Wanita itu membeku. Dia tidak mengira bahwa Gin akan menghentikan teknik cakar singanya dengan mudah.

__ADS_1


Dia bisa tahu dengan jelas bahwa Gin lebih muda darinya. Tapi bisa menghadapinya. Melihat sosok yang lebih jenius darinya, menatapnya dengan rendah seperti itu membuat rasa benci di hatinya semakin besar.


Gin mencengkram tangan wanita itu, lalu dia mengangkat tubuhnya dengan mudah seperti mengangkat tongkat dan melemparkan wanita itu ke depan.


Wanita yang terlempar langsung mendaratkan tubuhnya dengan sigap ke tanah dengan kedua kaki dan tangannya. Dengan posisi itu dan tatapan kebenciannya, dia terlihat sangat mirip dengan hewan buas.


"Hei, bibi. Bukankah lebih baik tidak berkelahi disini? Kita sedang terjebak. Bukan waktu yang tepat untuk berkelahi satu sama lain" sahut Gin dengan wajah datarnya.


Wajah wanita itu semakin memerah setelah mendengar Gin memanggilnya 'bibi'. Dia tidak setua itu untuk dipanggil dengan panggilan bibi.


"Nona, anak ini benar. Lebih baik menyimpan kekuatan untuk saat ini" pria hijau muda itu berkata.


"Ryan benar. Setelah kita keluar dari tempat ini, kami akan turun tangan untuk membunuhnya" pria dengan rambut merah api juga menatap Gin dengan intens.


Jujur saja, entah kenapa Gin sudah merasa terbiasa dengan pandangan tajam penuh kebencian yang selalu diarahkan kepadanya. Walaupun dia masih tidak mengerti salahnya di mana.


Ketiga orang itu mulai berdiskusi di antara mereka sendiri. Sementara Gin duduk sambil melipat kakinya dengan jarak beberapa meter dari mereka. Gin berpikir untuk menghancurkan tempat ini lagi. Tapi sekali lagi dia merasa membunuh pohon raksasa ini dengan cepat adalah keputusan yang buruk. Tapi dia ingin pulang. Sehingga dia merasa sangat sedih sekarang.

__ADS_1


Tak lama kemudian, ketiga orang itu berpencar ke arah yang berbeda. Kelihatannya mereka ingin menyelidiki seluruh isi perut, maksudnya hutan mati ini dan berusaha menemukan cara untuk keluar dari sini.


__ADS_2