
Mereka berlima langsung pergi meninggalkan Kota Burma dan bergerak cepat menuju hutan yang dijadikan target penjelajahan. Di sepanjang jalan, Lian masih melampiaskan rasa kesalnya terhadap wanita aneh yang ditemuinya di kota itu.
"Kota miskin itu benar-benar jelek dan tidak menarik sama sekali. Semua orang disana gila" sentak Lian. Dia ingat fenomena di mana semua penduduk tiba-tiba berlutut saat tuan kota itu datang.
Yusa hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kota itu sangat miskin. Korupsi yang besar pasti terjadi di sana. Kita bisa melaporkannya" kata Sima.
"Jangan ikut campur urusan pemerintahan" sela Yusa kemudian.
Sima mengalah tapi di dalam hatinya dia mengeluh karena
Mereka berhenti sebentar karena ingin memastikan apakah mereka menuju ke arah yang benar. Yusa membuka peta yang ada di tangannya. "Ini memang benar tempatnya", kata pemuda itu. "Persiapkan barang-barang yang diperlukan"
Sima dan Lian langsung mengeluarkan buku catatan mereka. Sementara Gin dan Li Seng mengeluarkan kamera untuk mengambil gambar. Yusa akan membimbing mereka sebagai Leader karena kemampuannya membaca peta adalah yang terbaik.
Mereka mulai masuk ke dalam hutan. Saat mereka masuk, mereka disambut oleh tanaman aneh. Tanaman itu berwarna biru dan berbentuk seperti bulat teluar tapi memiliki duri di permukaannya.
Gin segera mengambil foto dan Lian mencatat deskripsi dari tanaman itu di buku catatannya. Lalu mereka bertemu dengan kelinci emas. Mereka cukup kaget karena ini pertama kalinya mereka melihat kelinci dengan bulu emas.
"Kalau itu emas asli, kita bisa menjualnya" kata Li Seng.
"Bodoh" Lian langsung memukul kepalanya dari belakang.
"Kenapa kau memukulku?" protes Li Seng.
"Aku hanya ingin memukulmu. Memangnya perlu alasan" dengus Lian.
Li Seng segera mengambil gambar dan Sima mencatat deskripsi dari tanaman itu. Mereka memiliki tugas masing-masing sesuai jenis yang diselediki. Gin dan Lian khusus tanaman sementara Li Seng dan Sima khusus hewan.
Setelah itu mereka tidak menemukan sesuatu yang spesial. Hutan itu terlihat seperti hutan pada umumnya. Tidak terlihat istimewa sama sekali. Dan tidak terlihat berbahaya. Mereka menemukan beberapa binatang sihir dengan level rendah. Tapi itu adalah binatang yang sangat umum.
Setelah itu, mereka menemukan sebuah pohon berwarna coklat dengan daun berwarna biru. Sima dengan semangat memanjat pohon itu untuk mencatat setiap detailnya.
Mereka terus menjelajah sampai langit menjadi gelap. Mereka pun memutuskan untuk mendirikan tenda di tengah hutan. Setiap orang bertindak mandiri, mereka mengeluarkan tenda yang sudah mereka simpan di ruang penyimpanan dan juga mendirikan tenda itu sendiri.
__ADS_1
Gin masuk ke dalam tenda dan mengeluarkan selimut serta beberapa makanan kering. Sementara di luar, Yusa menyalakan api unggun dan memasak sesuatu. Setelah selesai memasak, dia pergi ke tenda setiap orang untuk menyuruh mereka makan. Sampai akhirnya pemuda itu singgah di tenda milik Gin.
"Ayo makan" kata Yusa dengan senyum ramahnya.
Gin menatap Yusa dan berkata "Aku sudah punya makanan kering" dia menolaknya.
Ekspresi Yusa terlihat sedih seketika. Gin merasa tidak enak, jadi dia berkata "Baiklah, aku akan kesana" katanya.
Yusa tersenyum dan berkata "aku akan menunggumu"
Setelah Yusa meninggalkan tendanya, Gin mendesah lega. Entah mengapa dia merasa Yusa adalah sosok yang sulit dihadapi daripada yang lainnya. Pemuda itu sangat baik, bahkan terlalu baik. Sehingga membuat semua orang tidak nyaman untuk menolak permintaannya. Berbeda dengan saudaranya, Sima, yang keras kepala dan ceroboh.
Saat Gin keluar dari tendanya, dia bisa melihat bahwa semua orang sudah menunggunya di sana.
"Bro, ayo makan. Sialan. Makanan yang dibuat Yusa sangat enak" sentak Li Seng. Dia sudah makan lebih dulu saat yang lain masih menunggu Gin.
Gin duduk di samping Li Seng dan mengambil mangkuk kosong yang sudah disediakan. Dia bisa melihat sup daging di dalam panci besar di depannya.
"Kau membawa daging segar?" tanya Gin.
Gin mulai makan. Dia tersentak. Li Seng tidak bohong. Sup daging ini benar-benar enak. Gin menatap Yusa. Yusa juga menatapnya dengan wajah bingung sambil memiringkan kepalanya.
"Ada apa?" tanya Yusa.
"Tidak apa-apa" jawab Gin sambil meneruskan makannya.
Mereka pun sibuk makan. Lian masih tidak bisa move on dengan kejadian yang dialaminya di kota Burma. Dia terus mengeluh tentang Tuan kota dan putrinya yang gila. Sementara Li Seng mengeluh ingin pulang.
"Gin, aku ingin bertanya?" kata Yusa tiba-tiba.
"?"
"Aku bisa melihat bahwa kau memiliki nama Arai di namamu" kata Yusa sedikit gugup.
Mendengar perkataan Yusa, suasana menjadi hening dalam sekejap. Dan semua orang mulai berhenti makan secara serentak.
__ADS_1
"Apa kau juga berasal dari keluarga Arai?" sambung Yusa. Dia tahu ini pertanyaan yang sensitif. Tapi dia benar-benar ingin tahu hal ini. Walaupun dia tahu bahwa ada banyak orang menggunakan nama 'Arai' di dunia sana. Dan ada kemungkinan juga Gin berasal dari kelurga cabang. Tapi bagaimana bisa dia mendapatkan kartu ATM yang sama seperti miliknya? Dia merasa penasaran. Daripada menebak-nebak, dia ingin bertanya langsung pada yang bersangkutan.
Sima juga sangat penasaran, jadi dia juga sangat menunggu jawaban Gin.
"Mungkin..." jawab Gin ragu. Dia tidak ingin mengakui bahwa dia berasal dari keluarga itu karena dia ingin menghindari masalah yang tidak perlu.
"Apa maksudmu mungkin?" sela Sima. "Hei, kita sekelompok sekarang dan pertanyaan itu sangat umum. Aku juga ingin bertanya kenapa kau menyembunyikan kekuatanmu dan berpura-pura lemah seperti itu?" hardiknya. Rasa kesalnya memuncak karena sikap acuh Gin.
"Hei Sima, tenanglah" Yusa membujuknya.
Sima langsung menenangkan dirinya. Tapi dia masih melihat Gin dengan tatapan tajam.
Gin membuka mulutnya, "Aku mendapat nama ini sejak aku lahir. Tapi aku hidup bersama para pelayan dan tidak pernah melihat keluargaku sama sekali. Aku dibesarkan oleh kepala pelayan. Tapi tiba-tiba keluargaku menyuruhku pindah ke ibukota untuk masuk ke SMA Jin Shi" jawab Gin. Lalu dia menatap Sima. "Ini adalah kultivasiku yang sebenarnya, aku tidak menyembunyikannya"
"..." Semua orang langsung membisu. "Dia yatim piatu!" pikir semua orang secara bersamaan.
"Jadi aku benar-benar tidak tahu dan tidak mau tahu" sambung Gin kemudian dengan nada acuh.
Semua orang mulai menatap Gin dengan tatapan kasihan.
"Maafkan aku sudah menanyakan pertanyaan sensitif seperti itu" kata Yusa. Dia tidak tahu tentang masa lalu Gin. Dan dia tidak mau memaksanya untuk mengingat masa lalu menyedihkan seperti itu.
Yusa menatap Sima seakan-akan dia mengisyaratkan sesuatu. Sima menundukkan kepalanya lalu dia berbicara malu-malu. "Maafkan aku juga sudah berkata kasar seperti itu..." katanya.
Yusa memutuskan untuk melupakan kecurigaannya terhadap kartu ATM yang mirip itu. Sima memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan kekuatan tersembunyi milik Gin.
"Tidak apa-apa" jawab Gin.
Li Seng langsung merangkul Gin. "Jangan khawatir bro. Aku akan selalu menemanimu. Ayo semangat" katanya. Li Seng bersikap seolah-olah dia sedang mabuk.
"..." Gin hanya melihat Li Seng dengan tatapan kesal tapi dia tidak menolak rangkulannya.
Di momen seperti itu, tiba-tiba Lian mengubah topiknya. "Hei, ada yang mendekat kemari" katanya.
Semua orang langsung terkesiap. Li Seng menutup mulutnya. Yusa mematikan api unggun di depannya. Mereka langsung bersikap waspada.
__ADS_1