Tuan Muda, Jangan Lari!

Tuan Muda, Jangan Lari!
Kakek, Siapa itu Gin?


__ADS_3

Yuya kembali dengan cepat ke kediamannya. Dia keluar secara diam-diam sehingga dia melangkah dengan hati-hati dan cepat melesat masuk ke kamarnya.


"Haa..." dia mendesah lega saat tiba di kamarnya dengan aman. Tidak ada satupun orang di rumah itu menyadari keberadaannya. Begitulah pikirnya.


Sampai akhirnya, Tak! Bunyi saklar lampu dan tiba-tiba kamarnya yang gelap langsung mengeluarkan cahaya menyilaukan.


Di depannya ada seorang wanita yang menunggunya dengan wajah menyeramkan sambil menyilangkan kedua lengannya.


"I...ibu..." Yuya tergagap kaget.


"Dari mana ?" suara tenang Cyntia bergema di seluruh ruangan.


Yuya menenangkan dirinya. Ekspresi gugupnya menghilang dalam sekejap. "Um, dari toilet. Perutku sakit" katanya sambil memegang perutnya dengan ekspresi kesakitan.


Dia melakukannya dengan sangat perfect seolah-olah dia sudah ahli berbohong.


Cyntia mengernyitkan keningnya. Dia yakin bahwa putrinya berbohong. Tapi setelah melihat dia kesakitan, dia tidak tega. Jiwa keibuannya muncul.


Dia mulai berkata dengan lembut kepada Yuya dan menyuruh gadis kecil itu untuk beristirahat di atas tempat tidur. Setelah itu dia menyuruh Yuya untuk meminum pil obat.


Saat melihat pil berwarna hitam itu, wajah Yuya pucat pasi. Tapi terlambat. Dia sudah berbohong bahwa dia sakit. Kalau dia menolak, Cyntia akan curiga. Jadi dia langsung melahap pil itu dalam sedetik. Rasa pahitnya menyebar di seluruh mulutnya membuatnya meneguk banyak air.


Cyntia hanya tersenyum. Setelah itu dia mengelus kepala putrinya dan menyuruhnya berbaring. Sambil menepuk lembut perut Yuya, dia menyanyikan lagu pengantar tidur.


Mata Yuya secara perlahan mulai terasa berat dan dia tertidur. Setelah memastikan Yuya tertidur, Cyntia menyelimutinya dan mengecup keningnya, lalu dia keluar dari ruangan sambil menutup pintu kamarnya pelan-pelan.


Keesokan paginya, Yuya terbangun. Dia bangun pagi padahal tidak ada jadwal latihan hal ini. Dia berjalan di lorong mansion pagi-pagi dan membuat semua orang bingung. Nona muda mereka selalu bangun siang. Bahkan butuh usaha lebih untuk membuatnya bangun pagi untuk latihan.


Yuya berhenti di depan ruang kerja kakeknya. Dia tahu bahwa kakek sedang ada di dalam, karena hari ini Kakek Arai masih berada di mansion.


Yuya menerobos masuk. Kakek Arai menyambutnya dengan senyum lembut saat melihat cuci kecilnya berjalan tertatih tatih ke arahnya. Baginya, cara jalan Yuya benar-benar imut.


"Apa kau ingin duduk disini?" kakek Arai menepuk kedua kakinya, berharap Yuya duduk di pangkuannya.

__ADS_1


Yuya langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia dengan sigap meraih kursi di depannya dan duduk berhadapan dengan kakek Arai, hanya dipisahkan oleh sebuah meja kerja.


"Kenapa bangun pagi-pagi sekali? Hari ini tidak ada jadwal latihan bukan?" tanya kakek Arai. Dia mulai menyadari sikap aneh cucunya.


Yuya kembali menggelengkan kepalanya dengan cepat. Lalu dia menatap Kakek Arai dengan tatapan serius.


"Kakek, siapa itu Gin?" tanya Yuya langsung, tanpa basa basi apapun.


Uhuk! Kakek Arai langsung tersedak.


Mata Yuya melebar, penuh dengan rasa penasaran setelah melihat respon kakeknya. "Apa dia berasal dari keluarga Arai juga ? Lu Tu tidak mau memberitahuku. Yina juga. Seakan-akan identitasnya adalah sebuah rahasia. Kenapa ?" dia bertanya berturut-turut.


Kakek Arai tersedak berkali-kali. Lalu dia mulai membuka mulutnya. "Um, aku juga tidak tahu" katanya pelan.


Wajah Yuya berubah cemberut. "Kakek! Aku serius! Siapa dia ? Kenapa semua orang tertarik padanya? Lalu kenapa semua orang bertingkah mencurigakan?"


"Mungkin saja dia kenalan Yina dan Lu Tu"


"Tidak mungkin! Dia juga memiliki nama Arai. Bagaimana dia bisa memiliki nama itu kalau bukan atas persetujuan kakek?"


Yuya mulai melontarkan beberapa pertanyaan tapi kakek Arai memberikan jawaban random dan aneh padanya. Dia berusaha membohongi Yuya.


Tapi Yuya tidak semudah itu dibohongi. Dia terus mendesak kakeknya. Tapi kakek Arai tetap tidak mau memberitahunya.


"Mungkin saja itu pacar Yina..." kake Arai mulai memberikan pernyataan random lagi.


"Cukup!" Yuya memukul meja karena rasa kesalnya memuncak. "Berhenti berbohong padaku kakek. Siapa Gin ?"


PRANG ! Tiba-tiba terdengar suara gelas pecah.


"...." Suasana menjadi sunyi dalam sekejap.


Yuya menoleh dan melihat ibunya berdiri di depan pintu ruangan, membeku.

__ADS_1


Cyntia ingin mengantarkan minuman kepada putri dan ayahnya. Dia membuatkan susu dan kopi untuk kedua orang itu. Dia baru saja melangkah masuk dan mendengarkan nama Gin. Refleks dia terkejut sambil menjatuhkan nampan yang dipegangnya.


Ketiganya saling bertatapan dalam kesunyian. Tapi Yuya akhirnya bersuara untuk memecah kesunyian.


"Siapa Gin? Kalian mengenalnya bukan? Kenapa merahasiakan dia sampai seperti ini? Apa dia benar-benar penting?" Yuya berkata dengan penuh frustasi.


"Ba...bagaimana kau mengenal Gin?" tanya Cyntia.


Yuya mulai memberitahu ibunya bahwa dia bertemu Gin saat mengejar Lu Tu. Saat itu dia juga bertemu Yina yang entah bagaimana mendapat tugas dari kakek untuk menjaga pemuda itu. Karena itulah Yuya merasa penasaran dengan identitas Gin. Ditambah lagi dia memiliki nama Arai di namanya. Dan Yuya tidak mengenal dia sama sekali.


Yuya memiliki daya ingat yang sangat kuat. Dia mengenal seluruh keluarga Arai dari keluarga utama sampai keluarga cabang. Dia juga mengingat nama-nama dari empat keluarga besar lainnya. Dan dia belum pernah mendengar nama Gin sama sekali. Karena itulah dia merasa bahwa keberadaan Gin sangat mencurigakan.


Setelah mendengar cerita Yuya, Cyntia menangis. Hal ini membuat Yuya kaget karena ibunya tiba-tiba mengeluarkan air mata, walaupun tidak terisak.


Kakek Arai menghela napas. Dia menatap Yuya lekat-lekat dan berkata "Gin memang berasal dari keluarga Arai" katanya pelan.


"Sungguh? Dari keluarga mana ? Kenapa dia tidak ada di sisilah keluarga Arai?"


"Dia adalah anak dari keluarga cabang. Ayahnya berasal dari keluarga Arai. Tapi kedua orang tuanya meninggal dalam misi. Sehingga keluarga dari pihak ibunya mengambil alih hak asuhnya. Dia masih memakai nama pemberian ayahnya. Tapi dia tidak masuk dalam sisilah keluarga kita, karena dia mengikuti keluarga ibunya." Kakek Arai mulai menjelaskan.


"...." Yuya terdiam. Dia mengernyitkan keningnya. Dia melihat ibunya dan wanita itu sudah tidak ada disana. Pecahan gelas yang terjatuh juga tiba-tiba dibersihkan oleh para pelayan.


Penjelasan Kakek Arai masuk akal. Tapi Yuya merasa bahwa semuanya sangat janggal. "Tapi kenapa kakek menyuruh Yina mengawasinya? Kenapa ibu menangis? Kenapa Lu Tu juga mengawasi pemuda itu ?" Dia bertanya lagi.


"Um, ini sebenarnya rahasia. Jangan mengungkit ini di depan Yina. Yina, gadis itu, menyukai pemuda bernama Gin." kata Kakek Arai.


Yuya melotot kaget. "A..apa?"


"Ehem, dia memang kelihatannya membenci pemuda itu tapi dia menyukainya. Karena itulah dia ingin menjadi penjaganya" kata kakek Arai dengan senyum kecilnya.


Yuya masih tidak mempercayai fakta ini.


"Untuk Lu Tu, mungkin mereka bertemu secara kebetulan dan berteman baik. Ibumu menangis karena dia tahu bahwa kisah pemuda itu sangat malang" sambung kakek Arai.

__ADS_1


Yuya mengernyitkan keningnya. Walaupun semuanya masuk akal, entah mengapa dia merasa bahwa masih ada fakta yang hilang. Dia semakin curiga dan bertahap dia mulai tertarik dengan pemuda bernama Gin itu. Ditambah lagi dia merasakan bahwa kekuatan pemuda itu juga tidak sinkron.


__ADS_2