Tuan Muda, Jangan Lari!

Tuan Muda, Jangan Lari!
Kelas Silver


__ADS_3

Keesokan harinya, semua murid dari tingkat pertama kelas emas sangat gugup. Karena hasil ujian mereka akan diumumkan sekarang. Kalau mereka tidak lulus, mereka akan dipindahkan dari kelas emas ke kelas lainnya dan menjadi murid biasa tanpa status.


Siyan datang sambil menatap semua murid dengan ekspresi datar. "Aku benar-benar ingin mempertahankan kalian semua di kelas ini. Bagaimana pun juga aku sedih kehilangan anak didikku sebagai seorang wali kelas" kata Siyan lemah. "Tapi aturan tetaplah aturan. Murid yang tidak memenuhi syarat akan keluar dari kelas ini. Karena kelas emas hanyalah tempat bagi para jenius"


Siyan mulai membuka buku tebal yang dibawanya. "Sayang sekali bahwa hanya ada beberapa murid yang menetap di kelas ini. Bagi murid yang namanya tidak disebutkan, silahkan keluar dan pindah ke kelas silver" dia mengintruksikan dengan tegas.


Siyan pun mulai menyebutkan nama-nama murid satu persatu.


"Murid yang berada di kelas emas adalah Fei Lan"


"Yusa Arai"


"Long An"


"Fei Ren"


"Fei Wu"


"Sima Arai"


"Mona"


"FeiĀ  Ren"


"Long Sun"


"Ken Ilya"


"Ken Aoi"


"Lian"


Siyan menyebutkan dua belas nama.

__ADS_1


Li Seng menunggu dengan gugup. Dia benar-benar cemas dan perutnya sakit. Dia harap namanya segera disebut.


Dan "Li Seng"


Saat namanya disebut, dia langsung melonggo kaget dan detak jantungnya kembali normal.


"Baiklah. Sisanya boleh keluar" Siyan mengakhiri pidatonya.


Seluruh kelas langsung pecah. Ada beberapa murid yang menangis karena tidak mempertahankan kelas mereka. Mereka mulai berpamitan satu sama lain. Dari tiga puluh anak, hanya tersisa tiga belas orang sekarang. Dan semua anak-anak itu didominasi oleh anak-anak dari lima keluarga besar.


"Tidak mungkin, tidak mungkin. Bagaimana mungkin kau tidak lolos?" teriak Li Seng frustasi sambil menggoyangkan bahu Gin dengan cepat.


Tapi Gin hanya memasang ekspresi datar, tidak peduli. "Yah, aku tidak tahu" jawabnya. Tidak masalah kalau dia turun kelas. Malah dia akan merasa lebih tenang dan hidup dengan damai kalau dia tidak terlihat mencolok. Seperti cita-citanya.


"Gin, kemari sebentar. Aku ingin berbicara denganmu" kata Siyan.


Gin menghampirinya. Lalu Siyan berkata "Kali ini jujur padaku. Apa yang kau sembunyikan?"


Gin memiringkan kepalanya, dia tidak mengerti. "Sembunyikan apa?" dia balik bertanya.


Gin meletakkan tangannya. Bola kristal itu dan bersinar dan menunjukkan notfikasi tubuh perunggu level 9. "Aku tidak menyembunyikan apapun guru. Ini memang tingkat kultivasi milikku" katanya.


Ekspresi Sima, Mona, Li Seng dan Fei Lan langsung berubah masam. Mereka tentu saja tidak percaya bahwa Gin adalah kultivator tubuh perunggu.


"Sayang sekali" kata Siyan lemah. "Kau tahu bahwa kultivasi itu sangat penting bukan? Aku memasukkan mu ke kelas emas karena aku ingin melihat perkembanganmu. Tapi itu sia-sia. Kultivator tubuh perunggu tidak memenuhi syarat untuk masuk ke dalam akademi. Tapi aku tahu kau memiliki orang di belakang layar mendukungmu sehingga aku tetap akan membiarkanmu belajar di akademi ini. Tapi kau tidak bisa berada di kelas ini lagi Gin. Tingkat kultivasimu tidak memenuhi syarat sama sekali"


"Aku mengerti guru" kata Gin. Tidak ada nada kesedihan sama sekali dalam suaranya.


Gin melangkah keluar kelas. Sebelum pergi dia melambaikan tangan pada teman-temannya. Sebenarnya tidak buruk berteman dengan mereka, dia menghargainya.


"Sampai jumpa" lalu dia meninggalkan kelas.


Dia masih bisa mendengar ratapan Li Seng, memanggil namanya. Tapi dia mengabaikannya.

__ADS_1


Kelas silver berada di gedung yang berbeda dari kelas emas. Jujur saja gedung kelas emas benar-benar di istimewakan. Gedung itu berdiri megah di tengah-tengah akademi sehingga setiap murid bisa mengakses fasilitas akademi dengan mudah.


Gedung kelas silver berada agak jauh, terletak di pinggiran akademi, tapi gedung itu masih terlihat cukup layak.


Gin dan enam belas murid lainnya mulai berkumpul di depan gedung. Ada seorang guru di sana. Mereka harus melepaskan lencana emas di seragam mereka, dan menggantinya dengan lencana baru. Lencana dari kelas silver ini berwarna putih bersih dan tidak terlihat elegan. Lencana itu terlihat seperti koin biasa dan mungkin dibuat dari bahan yang sama.


Saat mereka masuk ke dalam gedung, semua murid dari kelas silver melihat ke arah mereka. Ruang kelas silver sangat besar tapi dipenuhi oleh banyak murid. Dia menghitungnya. Ada 84 murid dalam satu ruangan dan terlihat berdesakan karena ruang kelas itu tidak cukup untuk menampung mereka.


Para murid dari kelas silver mulai bergosip tentang mereka. Beberapa dari mereka mencibir dan sisanya hanya penasaran. Gin tidak terlalu mempedulikan hal itu.


Gin memilih kursi paling belakang yang tidak mencolok sama sekali. "Astaga, kursinya sangat keras" dia menggerutu tanpa sadar.


Dia mulai merasakan perbedaan yang besar dengan kelas lamanya. Kelas emas memiliki kursi yang sangat empuk. Bahkan posisi mejanya terlihat sangat pas saat dia ingin menyandarkan kepalanya. Tapi kursi di kelas ini hanyalah kursi kayu biasa. Dan posisi mejanya juga sangat rendah.


"Tapi setidaknya aku bisa sedikit lebih bersantai" pikir Gin. Kelas emas itu menuntut terlalu banyak hal. Dia harus belajar dan berlatih, sementara dia tidak mau membuang-buang tenaganya. Dulu, dia sangat tertarik dengan batu kristal, hadiah dari misi. Tapi sekarang dia kehilangan minatnya karena batu itu tidak bisa membuat kultivasinya naik dengan cepat.


"Setidaknya aku hanya harus diam disini sampai lulus. Setelah itu aku akan kembali ke mansion dan menghabiskan waktuku untuk bersantai sampai tua" dia mulai tersenyum. Dia sudah berangan-angan tentang hidupnya. Dia berjanji bahwa dia tidak akan bekerja keras dan membuang tenaganya. Lagipula dia kaya.


Seorang guru pria dengan tubuh gemuk dan kacamata masuk ke dalam kelas. Saat guru itu masuk, semua murid langsung terdiam.


Guru itu tersenyum sambil menatap Gin dan murid lainnya yang baru saja pindah. "Selamat datang di kelas silver. Aku harap kalian menyukai kelas ini. Perkenalkan saya Jima, wali kelas silver tingkat pertama" katanya ramah.


Lalu dia mulai menatap seluruh murid di dalam ruangan. "Aku berharap keberuntungan kalian besok" kata guru itu tiba-tiba. "Tenang saja, ujian tidak akan menakutkan. Itu hanyalah ujian yang di perlukan untuk mengukur tingkat kemampuan kalian. Kalau kalian layak kalian akan tetap di kelas ini. Kalau tidak kalian akan turun kelas"


"..." Gin dan murid lainnya yang baru saja pindah kehilangan kata-kata.


Satu orang murid mantan kelas emas langsung mengacungkan tangannya. "Guru, apa maksudmu dengan ujian besok?"


"Oh, kalian baru saja pindah kelas jadi kalian tidak tahu. Besok ada ujian penetapan untuk semua murid dari kelas silver. Kalau kalian layak, kalian akan tetap di kelas ini. Kalau tidak, kalian akan turun ke kelas berikutnya" dia mengatakan hal seperti itu dengan senyum malaikat. Membuat semua orang bergidik.


Mata Gin melotot. Dia bermaksud bersantai di kelas ini. Tapi dia harus menghadapi ujian lagi, padahal dia baru saja pindah.


"Apa dewa mengutukku?" gumamnya sambil menggertakan gigi kesal. Seolah-olah selalu ada event dimana dia harus menggunakan tenaganya saat dia ingin bersantai. Seakan-akan takdir tidak mengizinkannya duduk diam, seolah dia harus berkerja!

__ADS_1


Nun jauh disana. Ada sebuah istana di atas awan. Duduk seorang pria tua raksasa dengan janggut panjang putih.


"Tentu saja aku mengutukmu hohoho" pria tua itu berkata, seolah-olah dia menjawab pertanyaan Gin sambil tertawa dengan nada aneh.


__ADS_2