Tuan Muda, Jangan Lari!

Tuan Muda, Jangan Lari!
Menjalankan Misi


__ADS_3

Gin dan Li Seng meninggalkan kediaman Fei saat malam menjelang. Mereka langsung menuju ke daerah distrik lampu merah untuk mencari bar bernama Cat Cit. Ternyata mereka dapat menemukan bar itu dengan mudah. Bar itu berdiri dengan mencolok diantara bangunan lainnya.


Kedua pria itu langsung masuk dengan sikap santai. Tapi kehadiran mereka langsung menarik perhatian tamu lainnya. Bukan karena penampilan mereka yang mencurigakan, tapi karena pakaian yang mereka kenakan.


Pakaian yang diberikan oleh Fei Lan adalah pakaian mewah, menandakan hanya orang kaya atau orang penting yang mampu membelinya. Karena itulah penampilan mereka sangat mencolok.


Tapi kedua pria itu tidak tahu menahu mengenai hal itu. Gin tidak terlalu mengerti barang mewah. Hal seperti itu tidak terlalu penting untuknya.


Sementara Li Seng tidak terlalu mengerti pernak pernik wanita. Dia hanya membeli apa yang dia inginkan tanpa tahu apakah itu barang mewah atau tidak.


"Bukankah mereka semua menatap kita? Kelihatannya kita populer. Apa kita secantik itu?" Li Seng berbisik padanya.


"Aku tidak yakin" kata Gin ragu. Penampilan mereka memang baik tapi mereka tidak secantik itu dibandingkan wanita lainnya di tempat ini.


Mereka berdua mencari tempat kosong untuk duduk. Ini bukan pertama kalinya Li Seng bermain di bar, jadi dia beradaptasi dengan cepat. Tapi ini adalah pengalaman pertama untuk Gin, jadi dia masih merasa sedikit canggung.


Gin tinggal di desa kecil selama ini. Walaupun rumahnya mewah dan memiliki banyak pelayan, tidak ada fasilitas seperti bar dan mall di sana. Hanya ada sawah, hutan dan sungai. Tempat tinggalnya benar-benar desa tapi suasananya sangat menyejukkan.


"Kau ingin minum apa?" Li Seng bertanya. Dia ingin memesan minuman.


"Sama sepertimu" Gin menjawab singkat. Li Seng pun langsung memesan minuman untuk mereka berdua.


Setelah Li Seng, meninggalkan tempat duduk, Gin mengamati seluruh bar. Dia mencari sang pembunuh, sesuai dengan ciri-ciri yang diberikan. Walaupun cukup sulit, Gin menemukannya!


Dia melihat seorang pria dengan ciri-ciri yang sama di sudut bar. Setelah Li Seng kembali, Gin segera memberitahunya tentang hal itu.


Pembunuh itu memakai pakaian yang cukup modis. Wajahnya ditutup masker hitam, hanya menyisakan bagian mata dan juga rambutnya. Tapi Li Seng bisa dengan cepat mengenali nya juga karena rambut pembunuh itu sangat khas.


"Tingkat kultivasinya lebih tinggi dari kita. Jadi kita harus hati-hati" kata Li Seng sambil menyesap minumannya. Walaupun ekspresinya terlihat santai, dia sebenarnya sangat gugup.


"Um"


Mereka terus mengawasi pembunuh itu. Tapi sikap mereka tidak berlebihan karena mereka tidak ingin pembunuh itu curiga dan melarikan diri.


Sampai akhirnya pembunuhan itu mulai meninggalkan tempat duduknya dan berjalan ke arah mereka.

__ADS_1


"Halo, wanita-wanita cantik"


"Uhm, halo" Li Seng meninggikan suaranya agar terdengar seperti suara wanita. Tapi itu malah terdengar seperti suara burung kejepit.


"Ada apa?" sebuah suara wanita murni keluar dari mulut Gin. Li Seng bahkan terkejut dengan kemampuan Gin. Gin sebenarnya menggunakan sedikit mananya untuk menggunakan skill perubah suara.


"Bisakah aku bergabung dengan kalian?" pria itu bertanya. Saat kedua wanita ini masuk ke dalam bar, dia sudah mengunci matanya pada mereka. Kedua wanita bodoh itu sangat cocok sebagai target pembunuh nya. Tidak ada alasan spesifik kenapa dia memilih mereka. Dia hanya merasakan dua wanita kaya ini menyebalkan dan sombong. Jadi dia ingin membuat mereka mati dengan menyedihkan.


Sang pembunuh memiliki fetish yang sangat aneh. Dia suka mengincar wanita-wanita kaya dan sombong. Lalu membunuh mereka perlahan-lahan sampai mereka kehilangan kesombongan di mata mereka. Dia menyukai wajah memohon, tangisan dan jeritan mereka. Ada perasaan lega dan puas saat dia melakukan hal seperti itu.


Gin dan Li Seng berpura-pura terjebak. Mereka tidak mengira bahwa semuanya akan menjadi semulus ini. Pembunuh itu benar-benar menjadikan mereka target.


Mereka pun menerima pria itu untuk minum bersama. Sampai akhirnya pria itu mulai mengundang mereka ke suatu tempat.


"Kemana?" tanya Li Seng.


"Tempat yang akan membuat kalian merasa sangat bahagia. Ini adalah tempat rahasia dan penuh dengan pria tampan" jelas pemuda itu. Dia sangat percaya diri bisa menarik mereka. Lagipula para wanita kaya itu selalu tertarik dengan hal seperti ini.


Wajah Li Seng berkedut. Apa mereka benar-benar terlihat seperti tante kaya yang ingin bermain dengan pria muda tampan?


Mereka berdua pun mengikuti sang pembunuh keluar bar. Mereka berpura-pura polos dan berjalan dengan santai.


"Apa kita tidak pergi dengan mobil?" tanya Li Seng merenggut.


"Tempatnya dekat nona" pembunuh itu menjawab sambil terkekeh kecil. Jujur saja suara sang pembunuh itu tidak buruk, seperti suara pria muda yang tampan. Hanya saja mereka masih tidak melihat wajahnya yang asli karena dia terus memakai masker hitam.


Mereka berhenti di sebuah jalanan kecil dan sepi. Pembunuh itu mengajak mereka masuk ke salah satu bangunan gelap di pinggir jalan.


"Apa benar tempat nya disini?" Li Seng mengernyitkan keningnya ragu. Dia tidak mau masuk.


"Tempatnya sangat jelek." gumam Gin.


Wajah pembunuh itu berkedut sebelum dia tersenyum dari balik masker nya. "Tempat bagus selalu tersembunyi. Percayalah padaku"


Tapi kedua wanita di depan nya menatap nya dengan penuh keraguan.

__ADS_1


"Aku tidak mau masuk. Tempatnya sangat kotor. Aku tidak mau bajuku dan sepatuku berdebu" kata Li Seng sombong. Dia benar-benar mendalami perannya.


Gin mengangguk setuju.


Wajah pembunuh itu memerah. Dia kehilangan kesabarannya. "Persetan!" dia memaki. Lalu dia mengeluarkan alat sihirnya dan menyegel seluruh jalanan. "Aku akan membunuh kalian disini..." jawabnya kejam.


Li Seng langsung mengeluarkan jimat untuk melarikan diri dari tas kecilnya. "Kau ambil satu" dia menyerahkan jimat lainnya pada Gin. Walaupun dia tidak menyukai Gin, dia juga tidak ingin Gin terluka. Lagipula di matanya, Gin adalah yang paling lemah disini.


"Oh?" pembunuh itu menaikkan alisnya saat melihat jimat yang dikeluarkan Li Seng. "Jimat teleportasi ya? Tapi sayangnya kalian akan mati dan tidak akan sempat menggunakan jimat iti" dia maju dan menyerang mereka dengan pisau hitamnya.


Menurut sang pembunuh, membunuh kedua wanita di depannya akan sangat mudah. Kultivasi mereka masih berada di bawahnya. Bahkan salah satu dari mereka hanya seorang tubuh perunggu. Dia hanya harus memotong leher mereka atau menusuk perut mereka. Itu adalah cara yang paling efisien.


Tapi ternyata kedua wanita itu sangat lincah. Mereka terus menghindar saat dia akan menyerang.


Li Seng menggunakan teknik kakinya untuk bergerak lebih cepat. Dia sebenarnya ingin melarikan diri, tapi dia akan melakukan nya saat hidupnya terancam.


Sementara Gin menggunakan sedikit mananya untuk mempercepat pergerakan nya. Dia belum mempelajari teknik kaki dari dunia ini.


Mereka bertiga terus bergerak cepat di tempat yang sama, saling mengejar satu sama lain. Pembunuh itu semakin marah. Dia tahu bahwa situasi saat ini tidak benar. Dia harus bersikap serius sekarang.


Pembunuh itu berhenti. "Cukup. Aku akan akhiri disini saja!" katanya kesal. Dia langsung mengeluarkan qi dalam tubuhnya. Bersiap menggunakan teknik pisaunya.


Li Seng merasakan aura membunuh yang sangat tebal. Dia langsung panik.


Pembunuh itu ingin mengarahkan serangannya kepada Gin lebih dulu. Karena dia berpikir Gin adalah target terlemah.


"Hati-hati" Li Seng memperingati nya.


Pembunuh itu maju ke arahnya, Gin hanya mengerjap kan matanya dengan polos seolah-olah bukan apa-apa. Di matanya, gerakan pembunuh itu sangat lamban. Dia bisa menghindari nya dengan mudah.


Tapi tiba-tiba sebuah pedang asing terbang dengan cepat ke arah si pembunuh. Pembunuh itu langsung mundur dengan cepat untuk menghindari pisau.


"Akhirnya aku menemukanmu "knife"!" suara yang sangat arogan tiba-tiba muncul.


Gin dan Li Seng tersentak. Mereka bisa melihat bayangan empat orang di atas gedung di samping mereka.

__ADS_1


__ADS_2