
Mereka memutuskan untuk mengunjungi rumah Gin sekarang dan langsung belajar disana dengan alasan menghemat waktu. Ujian mereka akan dimulai enam hari lagi. Jadi untuk hari pertama, mereka memutuskan untuk belajar di rumah Gin. Kemudian hari selanjutnya mereka akan belajar di rumah Fei Lan, Li Seng dan Mona secara berturut-turut. Mereka melakukan ini agar semuanya terlihat adil. Serta berharap kalau mereka bisa saling mengenal dan bisa menjadi lebih dekat. Tidak ada yang keberatan dengan usul itu.
Gin yang awalnya merasa kesal pun perlahan menenangkan dirinya, saat tahu bahwa rumahnya hanya dikunjungi satu kali saja. Walaupun dia tetap enggan mengikuti kelompok belajar seperti ini, tapi dia tidak berani menolak lagi karena merasa tidak enak.
Mereka hanya akan membentuk kelompok belajar selama empat hari. Saat weekend, mereka akan belajar sendiri sampai waktu ujian tiba. Itu bukan keputusan yang memberatkan sama sekali. Jadi Gin berusaha menerimanya.
Ketiga orang itu pun mengikutinya pulang ke apartemennya. Selama perjalanan, Fei Lan berusaha dekat dengan Mona, dengan cara mengajak gadis pendiam itu untuk mengobrol.
Mona merespon nya dengan canggung. Tapi itu hanya beberapa menit, sampai akhirnya mereka menemukan topik pembicaraan yang cocok. Rasa canggung itu pun menghilang dan Mona melihat Fei Lan dengan tatapan kagum.
Li Seng sedikit cemberut. Dia ingin mengobrol dengan kedua gadis itu. Tapi suasana mengatakan bahwa dia tidak diizinkan masuk sama sekali. Seakan-akan kedua gadis itu berada dalam dunia mereka sendiri.
Jadi Li Seng mulai menargetkan Gin karena dia sangat bosan. "Apa rumah mu masih jauh?" Li Seng langsung melingkarkan lengan gemuknya di leher Gin. Membuat Gin harus sedikit membungkuk karena terbawa oleh Li Seng yang lebih pendek darinya.
"Sebentar lagi" walaupun Gin sedikit tidak senang karena Li Seng mulai menganggunya, dia tetap berusaha bersikap tenang.
"Aku sudah bilang padamu sebelumnya, lebih baik kita naik mobil..." kata Li Seng mengeluh. Dia tidak suka jalan kaki. Lebih tepatnya dia tidak suka semua aktivitas fisik, bahkan kultivasi. Kalau bukan karena tuntutan keluarga, dia mungkin tidak akan pernah berlatih kultivasi. Dan menetapkan tujuannya sebagai tuan muda kaya raya yang selalu bermain dan menikahi banyak gadis cantik. Tapi itu hanya angan-angan. Selama dia terlahir dari keluarga besar, hal itu tidak akan pernah terjadi.
Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya sampai ke gedung apartemen milik Gin. Fei Lan dan Li Seng sedikit tersentak saat tahu Gin tinggal di tempat ini. Pasalnya ini bukan tempat biasa, tapi gedung apartemen yang sangat berkelas di ibukota. Dan tentu saja biaya menginapnya juga tidak murah.
Awalnya mereka mengira bahwa Gin tinggal di lantai bawah. Sehingga mereka cukup terkejut saat lift terus menuju ke lantai atas.
Kedua orang itu tahu tingkatan kelas di gedung apartemen ini. Apartemen yang berada di lantai atas adalah apartemen untuk orang-orang khusus dan tidak bisa disewakan. Mereka yang ingin tinggal harus membeli apartemen itu dengan harga yang sangat fantastis. Karena itulah hanya orang-orang kaya dan penting saja yang bisa tinggal di lantai ini.
Gin membuka pintu apartemen nya dengan sensor kartu otomatis. Mereka pun masuk. Li Seng sekali lagi terkejut saat dia melihat isi di dalam apartemen Gin. Apartemen nya penuh dengan furniture mewah yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
__ADS_1
"Gin, apa kau membodohi ku selama ini?" akta Li Seng dengan mata melotot. Dia merasa Gin benar-benar membodohi nya untuk menjadi orang miskin selama ini.
Kalau dia mengetahui hal ini sebelumnya, dia tidak perlu takut diusir dari rumah oleh ayahnya. Dia masih bisa menginap di apartemen Gin dan bersenang-senang!
Gin tidak tahu isi pikiran Li Seng. Untuk kebaikan mentalnya, lebih baik dia tidak tahu isi pikiran bocah buntal itu.
"Apa maksudmu?" Gin mengerutkan kening tidak mengerti sambil meletakkan tas sekolahnya di atas meja.
Li Seng langsung melempar kan diri nya di atas sofa empuk di ruang tamu. "Kau berpura-pura sebagai pemuda miskin. Kau benar-benar membohongi ku. Apa kau putra dari seorang pengusaha kaya?" kata Li Seng dengan bibir cemberut.
"Aku tidak pernah melakukan hal seperti itu." jawab Gin malas.
Walaupun Fei Lan juga kaget, dia tidak bertingkah seperti Li Seng. Dia masih diam dan mengamati Gin dengan wajah bingung. Dia berpikir dugaan Li Seng mungkin benar. Gin mungkin anak dari beberapa pengusaha kaya yang ada di ibukota. Itu bisa menjelaskan semuanya. Walaupun para pengusaha itu kaya, tidak semua dari mereka yang memiliki keturunan dengan bakat kultivasi. Karena itulah derajat para pengusaha itu masih sangat jauh dari lima keluarga besar.
Lagipula ada banyak manusia yang tidak mempunyai bakat kultivasi. Mereka lebih memilih untuk menjadi manusia biasa dan bekerja untuk bisa hidup. Rasio perbandingan kultivator dan manusia biasa di seluruh dunia adalah 30:70. Karena itulah para kultivator memiliki derajat yang sangat tinggi di mata para manusia biasa.
Walaupun ada para politikus yang mengatur jalannya negara ini. Mereka tetap tidak akan bisa menyentuh lima keluarga besar. Karena lima keluarga besar adalah pemimpin sebenarnya dari negara Mozu. Tapi karena aturan para kultivator tidak boleh ikut campur dalam urusan manusia biasa, lima keluarga besar memutuskan untuk tidak ikut campur urusan politik negara. Lebih tepatnya mereka tidak tertarik. Mereka hanya tertarik untuk meningkatkan tingkat kultivasi mereka.
"Aku akan menyiapkan beberapa makanan dan minuman" kata Gin. Suaranya langsung membuyarkan pikiran Fei Lan.
"Aku akan membantu" kata Mona kemudian.
Kedua orang itu pun pergi ke dapur belakang untuk menyiapkan cemilan dan minuman. Sementara Fei Lan secara perlahan duduk di atas sofa.
"Kira-kira apa latar belakangnya?" tanya Fei Lan tiba-tiba.
__ADS_1
Li Seng tersentak. Dia dengan cepat menegapkan tubuhnya dan berkata. "Siapa? Gin?"
Fei Lan mengangguk.
Li Seng langsung memasang wajah ragu. Tapi dia tetap menjawab. "Kelihatannya dia anak penguasaha. Dia benar-benar pembohong yang handal. Bagaimana dia bisa pergi ke sekolah dengan penampilan menyedihkan seperti itu kalau dia punya banyak uang" Li Seng mengeluh.
"Walaupun dia anak dari pengusaha kaya. Dia hidup di dunia yang berbeda dari kita juga" Fei Lan merenung. "Dia bisa hidup dengan nyaman dan tidak perlu mempertaruhkan nyawa" kata Fei Lan melankolis.
Mendengar perkataan Fei Lan, wajah Li Seng langsung berubah sedih. Seakan-akan dia teringat hal yang menyakitkan itu sekali lagi. "Aku sangat iri dengan nya. Andai saja aku tidak terlahir di keluarga besar, tapi keluarga kaya" kata Li Seng sambil menyandarkan kepalanya di sofa dan melihat langit-langit dengan mata merenung. "Persetan dengan kultivasi dan menjadi orang kuat sedunia. Aku sama sekali tidak menginginkan nya" Li Seng mengumpat.
"Kedua orang itu" Fei Lan menunjuk ke arah Gin dan Mona. "Dimasa depan jalan mereka akan berbeda dari kita. Mereka mungkin tetap akan tinggal di ibukota. Tapi kita harus berlatih kuktivasi dengan giat sampai mencapai alam dewa" Dia menatap Li Seng dengan serius. "Kau tidak boleh lupa tujuan dari lima keluarga besar"
"Aku tahu" jawab Li Seng cemberut. "Lagipula ujian masuk ke Sekte kuno itu masih lama. Kita bahkan belum lulus SMA" Li Seng berkata dengan nada tidak senang. Dia harus berlatih dan belajar sampai akhir hayat hidupnya. "Bahkan aku tidak percaya bahwa mereka memiliki dewa di Sekte kuno itu. Aku juga tidak percaya bahwa sekte itu benar-benar ada"
"Itu ada. Ayahku mengikuti tes masuk nya. Sayangnya dia tidak lolos" sanggah Fei Lan.
"Aku mungkin bernasib sama dengan ayahmu" Li Seng mengangkat kedua tangannya dan berkata dengan acuh.
Mereka terus berbicara tentang sebuah sekte kuno yang terletak di atas langit dan tidak pernah muncul di dunia fana. Itu adalah tempat impian para kultivator. Mereka mengatakan bahwa sekte itu memiliki banyak sekali kultivator di atas tingkat ilahi dan ujian masuk nya hanya dibuka selama sepuluh tahun sekali.
"Jangan lupa tentang pertandingan itu juga" lanjut Fei Lan.
"Ah" Li Seng tersentak. Ekspresi nya berubah buruk. "Pertandingan sialan itu! Aku benar-benar lupa kalau itu sudah dekat. Ayahku pasti akan memaksa ku untuk bertarung dengan anak-anak dari keluarga besar itu! Aku benar-benar akan mati!"
Itu adalah pertandingan antara generasi muda dari lima keluarga besar yang akan tiba beberapa bulan lagi. Fei Lan menantikan nya dengan serius. Sementara bagi Li Seng itu adalah mimpi buruknya
__ADS_1