
"Hei kakek" Wanita itu tiba-tiba menegur Gin dengan kasar. "Bagaimana kau bisa memiliki wajah awet muda seperti itu?" tanyanya. Dia benar-benar penasaran. Lagipula ini adalah hal yang paling penting bagi para wanita.
Wanita itu secara tiba-tiba mendekati Gin dan mencubit pipinya. "Ini wajah asli atau topeng" katanya bersemangat tanpa rasa takut sama sekali.
Ryan dan Rak langsung melonggo. Mereka tidak menyangka nona mereka akan melakukan hal seperti itu. Keringat dingin mengalir di kening mereka karena sikapnya yang tidak sopan. Mereka takut penatua di depan mereka murka dan membunuh mereka tanpa pandang bulu.
Gin langsung menyingkirkan tangan wanita itu dari wajahnya. "Hentikan" dia sebenarnya cukup kesal. Dia tidak suka orang asing menyentuhnya tanpa izin seperti itu.
Wanita itu melihat Gin dengan ekspresi syok. Bukan karena Gin menyingkirkan tangannya, tapi karena dia tahu bahwa wajah Gin asli, bukan topeng.
"Bagaimana mungkin..." dia tidak bisa berkata-kata. Lalu dia menyentuh bahu Gin dan menggoyangkannya dengan keras. "Hei kakek, beritahu aku obat atau apapun yang kau minum. Bagaimana bisa kau terlihat muda seperti itu padahal kau pria tua?" dia berkata tidak sopan dengan tatapan yang polos.
Urat-urat kekesalan muncul di kepala Gin. Dia menyingkirkan kedua tangan yang menempel di bahunya dan berkata. "Aku bukan pria tua. Jaga mulutmu bibi" katanya.
Wajah wanita itu berubah cemberut. "Heh, kalau aku bibi, kau adalah kakek" dia membalas ejekan Gin dengan cepat. "Cepat beritahu aku rahasianya. Aku tahu diri dan tidak akan mendapatkannya secara gratis. Aku akan membayar" katanya sombong.
Gin menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Dia benar-benar sedang berusaha keras untuk tidak memukul wanita menyebalkan di depan matanya. Dia langsung berbalik pergi, mengacuhkan wanita itu.
Melihat Gin mengacuhkannya, wanita itu langsung mengejarnya dengan cepat. Dalam sekejap perhatiannya teralihkan. Awalnya dia ingin batu hijau itu tapi batu itu sudah menjadi monster bunga. Dan rahasia awet muda Gin benar-benar menarik baginya.
"Hei kakek, berapa umurmu?" dia mengekor pada Gin. "Apa tujuanmu menyamar sebagai seorang remaja? Apa kau pedofil? Beritahu aku rahasia awet mudamu, maka aku akan menjaga rahasiamu. Berikan padaku, berikan padaku" dia terus mengoceh sambil terus mengikuti Gin dari belakang.
"Aku masih lima belas tahun" jawab Gin ketus. Dia hampir berada di ambang batas kesabarannya.
__ADS_1
"Puft" wanita itu langsung menutup mulutnya, berusaha menahan tawanya. "Kalau begitu aku dua belas tahun" katanya kemudian sambil terkikik.
Gin mengeluarkan lencana akademi miliknya. Bukti bahwa dia benar-benar masih seorang pelajar. "Lihat, aku masih seorang siswa". Di lencana siswanya, nama dan umurnya terpampang jelas.
Wanita itu menjulurkan kepalanya untuk melihat lencana Gin lekat-lekat. "Woah, kau bahkan membuat hal seperti ini. Benar-benar totalitas" Dia mengatakannya dengan nada kagum dan mengejek secara bersamaan.
"..." Gin menyerah. Dia memutuskan untuk mengabaikan kehadiran wanita aneh ini. Dia akan menganggap wanita itu tidak ada dan fokus untuk keluar dari tempat ini.
Wanita itu tidak menyerah. Saat Gin berjalan, dia terus membuntutinya dan mengoceh panjang lebar tentang ramuan awet muda. Sementara Gin mengacuhkannya.
"Lily, apa kau tahu cara keluar dari sini?" tanya Gin.
Lily memiringkan kepalanya, dengan posisi masih merebahkan tubuh kecilnya di kepala Gin. "Um? Memangnya kenapa? Bukannya ini hutan?" katanya dengan nada bingung. Logikanya bekerja, hanya berjalan dan keluar dari hutan. Semudah itu. Dia tidak tahu tentang keberadaan pohon raksasa sama sekali.
Gin menggunakan 50.000 mana untuk meningkatkan kekuatan tubuhnya. Lalu dia mulai menghentakkan salah satu kakinya ke tanah. Gerakannya sangat mulus dan santai. Bahkan saat kakinya menyentuh tanah, tidak ada suara hentakan yang terdengar.
Tapi sedetik kemudian, tanah di bawahnya mulai terbelah. Retakan yang besar mulai muncul satu persatu dengan kaki Gin sebagai pusatnya. Lalu retakan itu menjalar ke seluruh hutan, menyebabkan longsor besar dan gempa saat seluruh tanah mulai jatuh ke bawah. Dia menghancurkan seluruh tanah yang berada di hutan itu hanya dengan satu hentakan kaki.
Gin langsung terbang. Begitu juga dengan yang lainnya. Karena tanah di bawah mereka langsung terbelah dan runtuh.
Ketiga orang dari Aksara itu melihat Gin dengan mulut menganga sakinfg kagetnya. Mereka tidak mengira bahwa pemuda itu benar-benar menghancurkan seluruh hutan hanya dengan kekuatan fisiknya. Pasalnya mereka tidak melihat Gin menggunakan teknik kultivasi apapun.
"Tubuh ilahi..." gumam Ryan. Dia yakin ini adalah kekuatan dari kultivator tubuh ilahi. Sekarang dia semakin merinding karena mengingat kembali bagaimana dia memperlakukan Gin dengan tidak sopan.
__ADS_1
Rak terdiam. Sementara wanita itu melihat Gin dengan tatapan ragu dan tidak nyaman.
Gin tidak melihat reaksi yang diinginkannya sama sekali setelah dia menghancurkan seluruh hutan di bawahnya menjadi puing-puing. Jadi dia mulai menambahkan 10.000 mana lagi pada tubuhnya.
Lalu dia mulai meninju ke udara secara random. Tinjunya menghasilkan pukulan angin yang sangat kuat yang membuat orang-orang dan pepohonan di sekitarnya terhempas.
Gin merasa bahwa pukulannya tidak memberikan efek apapun. Tapi sebenarnya pohon raksasa itu meraung kesakitan karena perutnya terasa sakit. karena tidak tahan, dia mulai berusaha memuntahkan isi perutnya.
Angin yang sangat kencang seperti badai tiba-tiba menerpa Gin dan yang lainnya. Membuat mereka terhempas dengan cepat.
Angin itu menghempaskan mereka keluar dari dalam perut pohon raksasa itu. Mereka semua pun keluar dari mulut pohon raksasa itu dan mendarat di padang rumput sebelumnya.
Gin melihat pohon raksasa yang menjulang ke langit itu. Lalu dia berkata pada Lily, "Lihat, dia ayahmu yang sebenarnya" kata Gin dengan ekspresi khidmat, seakan-akan dia sudah melakukan kebajikan yang besar.
Lily mengintip dari balik rambut Gin. Dia dan pohon raksasa itu saling bertatapan.
"Kau..." pohon raksasa itu melihat Lily dengan tatapan kaget. Lalu dia menjulurkan salah satu rating pohonnya ke bawah dan berkata dengan nada yang sangat lembut, "Kemarilah nak,"
Semua orang melihat reuni antara ayah dan anak itu dengan tatapan haru. Bahkan wanita gila yang selalu mengoceh sebelumnya hampir menangis. Mata Ryan berkaca-kaca. Sementara Rak masih tanpa ekspresi.
"Siapa kau pohon jelek?" suara Lily tiba-tiba bergema di tempat yang sunyi ini.
"..." Semua orang langsung membeku.
__ADS_1