
"Aku yakin kau pasti tahu sesuatu bukan? Dia sangat aneh. Kau tahu dia menyelesaikan misi seorang diri dan itu bukan misi biasa sama sekali. Kalau aku menelponya dia pasti akan mengabaikanku. Kalau aku bertanya langsung, dia juga pasti akan mengabaikanku. Jadi memang lebih baik bertanya langsung padamu" Fei Lan mengomel sambil menatap Li Seng lekat-lekat. "Apa tingkat kultivasinya? Kenapa dia menyembunyikan kekuatannya?"
"Eh...Dewi Lan, aku benar-benar tidak tahu..."
"Jangan bohong!" potong Fei Lan langsung.
"Aku benar-benar tidak tahu tentang tingkat kultivasinya" kata Li Seng sedih. "Tapi aku tahu bahwa dia kuat. Sebelumnya, kita juga mengejar seorang pembunuh dan dia berhasil menyelesaikan misi itu seorang diri. Lalu dia juga bisa mengumpulkan banyak sekali bendera dalam sekejap. Dia benar-benar kuat." katanya dengan mata berbinar. Lalu dia menatap Fei Lan lekat-lekat. "Mungkin dia bisa mengalahkanmu" katanya sambil terkikik.
"Humph" Fei Lan mendengus. "Itu tidak mungkin" katanya tidak setuju. "Mungkin tingkat kultivasinya tinggi tapi itu tidak akan melewati tubuh inti emas. Aku percaya bahwa dia kultivator tubuh perak level 9. Pencuri itu, seseorang membantunya. Lalu tentang bendera, dia memiliki teknik untuk mendeteksi yang sangat baik dan keberuntungan. Mungkin seseorang juga membantunya dalam misi kali ini. Aku benar-benar ingin tahu latar belakangnya." Fei Lan mulai menganalisis apa yang terjadi dengan logikanya. "Kenapa dia menyembunyikan kekuatan yang sebenarnya? Kenapa dia ingin turun kelas? Apa dia ingin merencanakan sesuatu di akademi ini?" Dia mulai tenggelam dalam imajinasinya sendiri.
"Bagaimana kalau kita mengawasinya?" Fei Lan tiba-tiba mengatakan hal yang bodoh.
"Hei, hei...." Li Seng tersenyum aneh. "Bukankah itu terlalu berlebihan?" katanya tidak setuju.
"Kau tidak penasaran dengan identitas Gin?" tanya Fei Lan.
"Ya, penasaran. Tapi..."
"Tenang saja. Kita hanya akan mengawasi dari jauh. Kita tidak akan menganggunya" kata Fei Lan sambil tersenyum misterius.
***
Keesokan harinya, hasil ujian di Kelas Silver diumumkan. Peraturannya masih sama seperti sebelumnya, bagi nama yang tidak disebutkan berarti mereka harus melangkahkan kaki keluar dari kelas.
Gin tidak mendengar namanya disebutkan. Dia bersama dua orang lainnya, gugur dalam ujian kali ini.
"Kalian bertiga semangat" kata Jima. "Ujian semester akan tiba. Bekerja keraslah. Kalian mungkin akan naik ke kelas yang lebih baik" katanya.
Gin menguap sedikit saat mendengar pidatonya. Sementara dua orang lainnya menunduk sedih, hampir menangis.
Setelah itu, Gin mengganti lencananya lagi. Kali ini itu adalah lencana perunggu polos yang terbuat dari besi. Gin tidak terlalu memikirkan penampilan lencana itu. Dia langsung mengaitkannya ke saku seragamnya.
Jujur saja, Gin belum pernah melihat murid-murid dari kelas perunggu. Karena murid biasa, Gin berpikir bahwa jumlah mereka lebih banyak. Tapi Gin salah, kelas silver lebih mendominasi dan sisanya adalah kelas emas.
__ADS_1
Sekolah ini sangat besar, tetapi murid yang belajar disini benar-benar sedikit. Jika Gin membandingkan sekolah ini dengan sekolah lamanya di bumi, perbandingan populasinya benar-benar berbeda jauh.
Jima memberitahu mereka bertiga bahwa ruang kelas perunggu berada di halaman belakang akademi. Tempat itu cukup jauh.
"Siapa nama kalian?" tanya salah satu murid yang dipindahkan. Dia adalah murid perempuan yang berasal dari kelas silver.
"Adia" jawab murid satunya. Dia juga murid perempuan yang berasal dari kelas silver.
"Gin" jawab Gin dengan nada datar.
"Aku Diora. Senang berkenalan dengan kalian" gadis itu tersenyum.
"Gin, sebelumnya kau berada dari kelas emas bukan?" tanya Adia penasaran.
Gin mengangguk pelan.
Melihat respon Gin yang tidak antusias, Adia mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh. Lagipula turun dari kelas emas ke kelas perunggu, benar-benar hal yang menyedihkan dan memalukan. Adia pun melihat Gin dengan tatapan kasihan.
Seseorang membuka pintu dari dalam dan seorang wanita gemuk dengan senyum ramah menyambut mereka.
"Selamat datang anak-anak" wanita itu melihat ketiga murid di depannya dengan mata berbinar. "Saya adalah Jia, wali kelas dari kelas perunggu. Silahkan masuk"
Gin masuk ke dalam gedung kayu itu. Dia langsung melihat ruang kelas kecil dan sempit. Ruang kelas ini sangat normal. Ada papan tulis besar di depan, kursi kayu dan meja kayu. Benar-benar terlihat seperti ruang kelas kecil dari sekolah di pinggiran. Dan hanya ada sepuluh murid disini. Kesepuluh murid itu langsung menaruh perhatian kepada para anak baru. Terutama kepada Adia dan Diora.
"Uwahhh, murid perempuan!"
"Akhirnya kelas kita memiliki murid perempuan"
"Ini keajaiban hahahaha"
Para murid dari kelas perunggu itu mulai bersorak bahagia. Ya, sepuluh dari mereka adalah pria. Jadi mereka merasa bahagia melihat murid perempuan masuk ke kelas mereka.
Adia dan Diora hanya menundukkan kepala mereka karena malu dengan sambutan berlebihan seperti itu.
__ADS_1
Kemudian, ketiganya memperkenalkan nama mereka. Setelah itu, mereka bertiga mengisi kursi kosong yang sudah disediakan.
Gin merasa sedih. Kursi kayu ini bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Pantatnya sakit.
"Andai saja aku bisa membelinya sendiri..." pikir Gin. Lalu dia terdiam sebentar. "Membeli?" Matanya langsung melebar. "Benar sekali. Aku bisa membeli barang-barang yang aku inginkan. Tapi memangnya diizinkan membawa barang ke akademi?" dia ragu sejenak.
Gin mengangkat tangannya dan menanyakan sesuatu kepada Jia. "Guru, apakah boleh membawa barang-barang pribadi ke ruang kelas?" tanya Gin.
Jia berkata "Tentu saja" dengan senyum lebar tanpa memikirkan barang pribadi apa yang akan dibawa oleh Gin.
Setelah pulang, Gin pun membeli meja kayu dan sebuah kursi empuk. Dia sengaja memberi yang terbaik sehingga punggungnya tidak akan encok. Harga tidak masalah sama sekali.
"Apa? Akademi Jin Shi?" pemilik toko terkejut saat mendengar Gin untuk melakukan pengantaran barang-barang ini ke akademi.
"Ya, aku sekolah disana. Bisakah kau mengantarnya?" tanya Gin.
"Maaf Tuan, saya tidak bisa" pemilik toko itu menggeleng lemah. "Pihak akademi tidak pernah mengizinkan orang luar masuk sama sekalim Kecuali mereka yang memanggil pihak itu" katanya.
"Begitu"
Gin berpikir keras sekarang. Dia bisa mengangkat barang-barang ini tapi semuanya akan terlihat mencolok. Lalu dia teringat sesuatu.
"Apa kau tahu alat sihir ruang yang bisa menyimpan barang? Maksudku menyimpan barang di ruang kosong lalu mengeluarkannya secara otomatis" Gin melihat alat seperti itu sebelumnya di hutan. Beberapa anak menggunakannya untuk menyimpan senjata mereka.
"Maaf tuan, aku tidak tahu banyak tentang alat sihir para kultivator" jawabnya dengan nada sedih lagi. "Tapi tuan bisa pergi ke pelelangan. Ada banyak barang menakjubkan seperti yang tuan muda katakan" dia memberikan saran yang cukup berguna.
"Dimana pelelangan itu?"
"Di pusat kota. Ibukota hanya punya satu rumah lelang. Tapi pelelangan hanya dilakukan di saat tertentu. Tuan bisa bertanya langsung di tempat yang bersangkutan."
"Terima kasih pak" jawab Gin tulus.
Dia membayar lebih sebagai tips bagi pemilik toko karena sudah memberinya informasi berguna. Sang pemilik berusaha menolak tapi Gin memaksanya untuk mengambilnya. Lalu kursi dan meja yang baru dia beli akan diantarkan langsung ke apartemen oleh pemilik toko. Sementara Gin langsung menuju ke rumah lelang.
__ADS_1