
Mereka sudah berlari cukup jauh. Tapi tiba-tiba Yusa mengurangi kecepatannya dan berhenti. Semua orang ikut berhenti dan memandangnya dengan wajah bingung.
"Tidak bisa seperti ini. Kita harus kembali" Yusa berkata dengan penuh penyesalan karena meninggalkan Gin sendirian di belakang. Kalau anak itu terbunuh, dia akan dihantui perasaan menyesal seumur hidupnya.
"Apa kau bodoh?" sergah Lian langsung. "Kita sudah susah payah melarikan diri untuk bertahan hidup. Tapi kau ingin kita kembali dan bunuh diri?"
"Aku bisa kembali sendiri" jawab Yusa tegas. Dia menatap Lian dalam-dalam. " kalian bisa terus maju. Kalau bertemu dengan orang-orang yang bisa menolong kami, tolong bawa mereka secepat mungkin." katanya. Lalu dia menghilang dengan cepat. Berlari mundur ke belakang.
"Sialan! Bodoh!" Lian menghentakkan kakinya, kesal. Dia benar-benar murka dengan tindakan Yusa yang seenaknya itu.
"Aku akan ikut dengan kakak" kata Sima cepat lalu dia langsung menyusul Yusa untuk berbalik.
Lian menatap Li Seng dengan mata melotot. "Hei, orang pengecut sepertimu tidak..."
Belum sempat Lian menyelesaikan kalimatnya, Li Seng berkata, "Aku juga pergi"
Lalu ketiganya berbalik arah dan menghilang, meninggalkan Lian sendirian. Lian menarik napas beberapa kali untuk menenangkan emosinya. Dia sama sekali tidak akan mau membahayakan nyawanya dan bertindak bodoh dengan mengambil tindakan bunuh diri seperti itu.
__ADS_1
Dia memiliki tujuan untuk bertahan hidup. Dia tidak boleh mati karena tujuan hidupnya belum tercapai sama sekali. Ditambah, kembali lagi ke pembunuh immortal itu adalah tindakan bunuh diri yang disengaja. Jadi Lian memutuskan bahwa hidupnya lebih penting. Dia memutuskan untuk melarikan diri.
"Persetan dengan kalian" teriaknya, lalu dia meneruskan pelariannya.
Tapi tiba-tiba, dia bisa merasakan keberadaan sekelompok orang di depannya. Lian langsung merasa waspada. Dia sontak bersembunyi sampai dia mengetahui keberadaan orang-orang itu. Tapi orang-orang itu menemukan keberadaannya. Dan Lian mengenalnya.
"Guru..." sentak Lian kaget dengan suara tersengat karena menahan isak tangisnya.
***
Pembunuh itu langsung membeku di tempat. Lalu terjatuh dengan mulut berbusa dan tubuhnya menghitam dalam sekejap.
Ular putih itu menggeledah tubuh pembunuh. Dia sedang mencari telurnya yang menghilang. Hanya ada satu telur yang belum ditemukan. Dia akhirnya menemukan telur miliknya di dalam cincin penyimpanan milik pembunuh itu.
Setelah berhasil mengambil telurnya, ular itu menatap Gin dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca sama sekali. Gin membalas tatapannya dengan wajah bingung.
Ular itu tiba-tiba bergerak mendekatinya dan meletakkan sebuah botol kaca kecil di depan kakinya.
__ADS_1
"Untukmu" katanya ketus.
Gin mengambil botol kaca kecil itu. "Apa ini?"
"Itu adalah racun milikku. Kau bisa menggunakan racun mematikan ini untuk membunuh orang dalam sedetik" jelasnya dengan sedikit nada bangga.
"..." Gin terdiam. Dia tidak memiliki rencana untuk membunuh orang, jadi dia mungkin tidak akan pernah menggunakan racun ini. Tapi Gin tetap mengucapkan terima kasih kepada ular itu untuk pemberiannya.
"Aku tidak ingin melihatmu lagi. Kalau kita bertemu lagi aku akan mengigitmu" ancam ular itu sebelum dia pergi dan menghilang dalam sekejap.
"Kenapa tiba-tiba dia marah?" gumam Gin bingung.
"Cacing itu hanya galak" kata Lily. Dia kembali berbicara setelah beberapa lama terdiam dan menghilangkan keberadaannya.
"Kau sudah bangun?" tanya Gin.
"Ya" Lily berusaha merenggangkan tubuh bungannya yang mungil. "Apa yang terjadi selama aku tidur? Dan ayah, aku lapar..." dia menatap Gin dengan mata berkaca-kacs.
__ADS_1