
Gin dengan cemas turun ke bawah untuk melihat kondisi pembunuh itu. Knife benar-benar sudah tidak sadarkan diri. Bahkan tanah di bawahnya retak dengan cetakan seperti bentuk tubuhnya, menandakan bahwa serangan yang dia terima sama sekali tidak ringan.
Gin memeriksa denyut nadinya. Setelah mengetahui bahwa dia masih hidup, Gin mendesah lega. Kelihatannya hanya patah tulang di area kaki dan dada. Dia dengan cepat membawa pembunuh yang tidak sadarkan itu ke kantor polisi.
Kali ini Gin memilih kantor polisi terdekat. Dia tidak akan kembali ke kantor polisi sebelum nya, yang sudah menangkapnya dan Li Seng. Kebetulan sekali kantor polisi ini berada di dekat hutan tempat mereka berada sekarang.
Kantor polisi ini lebih kecil daripada kantor polisi sebelumnya. Gin hanya melihat tiga orang polisi saat dia masuk.
Saat Gin masuk dengan orang aneh di punggungnya, seluruh staff polisi yang ada si ruangan itu tersentak kaget.
"Apa yang kau lakukan nak?" seorang polisi yang kelihatannya sudah cukup tua menghampiri nya. "Apa ada yang menyakiti kalian?" dia bertanya sambil melirik pria terluka di punggung Gin.
"Disini bukan rumah sakit. Kami bisa memanggil kan ambulan untukmu" jawab polisi lainnya. Polisi ini terlihat lebih muda dari dua polisi lainnya. Dia mengira Gin datang ke kantor polisi karena ingin meminta pertolongan untuk pria yang pingsan itu. Mereka bukan dokter. Mereka tidak bisa menyembuhkan orang yang terluka. Jadi itu adalah jawaban yang sangat logis.
"Tidak" kata Gin sambil meletakkan Knife di kursi kosong. "Aku datang karena ingin menyerahkan pembunuh ini" katanya.
"..."
Semua orang terdiam. Mereka membeku, masih syok dengan informasi yang mereka terima.
"Pembunuh?" polisi yang lebih tua itu berkata sambil mengernyitkan keningnya bingung.
"Ya" Gin mengangguk. Dia mengeluarkan lencana muridnya dan menunjukkannya pada polisi itu. "Um...aku adalah siswa dari SMA Jinshi. Pria ini adalah target misi. Jadi sekarang aku membutuhkan konfirmasi dari kantor polisi bahwa aku sudah menyerah kan pembunuh ini hidup-hidup. Agar aku bisa melakukan klaim untuk poin Kontribusiku" Gin menjelaskan semuanya dengan sangat singkat dan jelas.
Polisi itu melihat lencana Gin dengan mata melebar, karena kaget.
"Hei kau, cepat cek orang ini segera!" katanya kepada polisi termuda sambil menunjuk pembunuh yang tidak sadarkan diri itu.
Polisi muda itu dengan cepat melakukan apa yang diperintahkan. Dia sedikit malu karena sudah salah paham sebelumnya, tapi dia mengatur ekspresinya dengan baik.
Polisi itu meletakkan borgol langit pada tubuh si pembunuh. Lalu dia melepaskan maskernya dan melakukan identifikasi wajah bersama dengan polisi lainnya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, mereka menyerahkan hasilnya kepada polisi tua itu.
Mata polisi tua itu melebar saat dia membaca laporannya. Dia menatap Gin "Tunggu sebentar. Aku akan membuatkan laporannya untukmu" katanya.
Lalu dia menatap dua polisi lainnya. "Hubungi cabang pusat cepat! Kita tidak bisa meletakkan penjahat inti emas di kantor kecil ini dalam waktu yang lama. Kalau dia sadar, dia akan dengan mudah melarikan diri." dia memerintahkan. Dan dua polisi lainnya melakukan apa yang disuruh dengan cepat.
Polisi tua itu membuat sebuah laporan jasa untuk Gin. Dia membuat nya dengan cepat dan meletakkan stampel kepolisian asli. Lalu dia menyerahkan kertas itu kepada Gin dengan senyum hormat. "Terima kasih. Ini adalah laporan jasanya." katanya. Dia tidak berani memperlakukan Gin seperti anak-anak lagi sekarang.
Gin menerima kertas berharga itu dengan senyum lebar. "Terima kasih kembali" katanya sebelum dia berbalik pergi meninggalkan kantor polisi.
Polisi tua itu mendesah saat dia melihat kepergian Gin.
"Anak-anak dari sekolah itu memang monster. Bagaimana mereka bisa membuat penjahat inti emas sampai sekarat seperti itu..." katanya.
"Saat aku seumuran nya, aku tidak akan bisa menangkap penjahat kuat seperti ini..." polisi lainnya berkata.
"Tentu saja kau tidak bisa. Kau bahkan bukan berasal dari sekolah elit itu" kata yang lainnya sarkas.
"Hentikan kalian berdua" polisi tua itu berkata dengan wajah cemberut. "Apa kalian sudah menghubungi Tuan Gu?"
"Ya, setengah jam lagi tuan Gu akan kesini untuk mengambil penjahat itu"
"Sampai tuan Gu tiba, letakkan dua borgol langit pada tubuh pembunuh itu. Kita tidak bisa membiarkannya melarikan diri"
Kedua polisi lainnya mengangguk patuh.
Tiga puluh menit kemudian, Tuan Gu dan Polisi wanita Fei tiba.
"Mana Knife?" Tuan Gu bertanya.
Ketiga polisi itu langsung membawa Knife, yang saat ini masih tidak sadarkan diri ke hadapan mereka.
__ADS_1
Tuan Gu tersentak saat melihat kondisi menyedihkan Knife. Walaupun pria itu tidak mati. Beberapa tulang nya patah dan membutuhkan waktu lama untuk sembuh. Bahkan dia mungkin akan pingsan selama tiga hari karena luka dalamnya terlalu parah.
"Siapa yang sudah menangkap nya" Fei bertanya penasaran. Hari ini mereka memang berniat menangkap Knife, tapi berakhir menangkap dua bocah kurang ajar yang tidak tahu diri itu.
Polisi tua itu segera memberikan laporan jasa kepada Fei. Di dalam laporan itu tertulis identitas siapa yang menangkap pembunuh ini beserta foto resminya.
"Dia..." Fei tersentak kaget. Dia melihat foto resmi Gin dan dia terkejut.
Tuan Gu juga penasaran, jadi dia mencuri lihat. Dalam sekejap dia mengenali nya. "Oh? Bukankah ini anak yang tadi?" katanya tak percaya. Anak itu baru saja lepas dari kantor polisi beberapa saat yang lalu. Tapi dia sudah menangkap pembunuh nya dengan cepat.
"Mungkin kedua anak itu meminta Tuan Li untuk membantu mereka" katanya kemudian. Dia berpikir Tuan Li turut campur tangan, karena itulah kondisi Knife sangat menyedihkan sekarang.
"Tapi anak itu membawa pembunuh itu sendiri di punggung nya. Tidak ada orang lain..." kata polisi tua itu. Berusaha mengkonfirmasi apa yang dilihatnya.
"Ya, bisa saja tuan Li pergi lebih dulu dengan putranya. Dan anak ini yang bertugas mengantarkannya sejak mereka sama sekali tidak mau repot" jawab Tuan Gu. Di matanya posisi Gin sangat rendah sejak dia tahu bahwa anak itu bukan dari keluarga besar. Lagipula anak itu harusnya merasa bersyukur karena Tuan Li mau membantunya untuk memperoleh poin Kontribusi.
Tidak ada yang membantah pernyataan tuan Gu. Sementara Fei masih menatap laporan itu dengan kening berkerut. "Anak itu bisa menangkap pembunuh itu seorang diri..." katanya sambil menggertakan gigi. "Aku melihat kekuatan nya dengan mataku sendiri saat itu" katanya dengan tatapan benci.
Tuan Gu membuat wajah ragu. Dalam pikirannya, tidak mungkin seorang anak seperti Gin sudah mencapai tubuh inti emas. Hanya ada satu kultivator inti emas di usia semuda itu, dan itu adalah Putri Lan. Kabar itu bahkan menyebar seperti air di ibukota. Dia tidak pernah mendengar ada orang muda lainnya yang jenius seperti itu.
Dia tidak mempercayai Fei, tapi dia tetap tersenyum. "Fei, kenapa kau begitu tidak menyukai anak itu? Walaupun dia sudah menyinggung mu sebelumnya seharusnya kau bisa melupakan nya karena dia masih anak-anak" kata Tuan Gu.
Fei menatap Tuan Gu dengan tatapan tajam, membuat pria setengah baya itu bergidik ngeri. Walaupun mereka berdua adalah kultivator inti emas, kultivasi Fei tetap lebih tinggi. Bisa dibilang Fei adalah gadis muda jenius lainnya di kepolisian mereka. Gadis itu bisa naik pangkat dengan mudah kalau dia tidak terlalu pilih-pilih.
"Humph!" Fei hanya mendengus kesal. Dia bahkan tidak peduli untuk bersikap hormat pada atasannya, Tuan Gu.
Fei langsung membawa Knife yang tidak sadarkan diri itu ke mobil.
BAM! Dia bahkan menutup pintu mobil dengan keras. Meninggalkan Tuan Gu di belakang yang menatap nya dengan wajah canggung.
"Gadis muda itu sangat galak..." polisi tua itu berkomentar.
__ADS_1
"Biasanya dia tidak seperti itu. Dia adalah gadis yang ceria. Mungkin dia sedang datang bulan..." Tuan Gu menambahkan.