
Di kelas penjelajahan, Gin juga melihat beberapa wajah yang familiar. Ada Sima Arai dan Yusa Arai. Lalu ada Lian. Bahkan Li Seng juga ada di sana walaupun wajahnya kelihatan sangat lesu. Dia tidak mengira bahwa kelas ini akan cukup populer. Dan muridnya bahkan lebih banyak dari kelas pil Obat.
"Broooo" Li Seng menghampirinya sambil merengek. "Aku benar-benar dikutuk! Aku dikutuk!" katanya.
"Apa yang terjadi?"
"Test sialan itu. Test sialan itu" Tubuh Li Seng bergetar, menahan kebenciannya. "Aku ingin masuk ke kelas binatang sihir dan kelas alat sihir. Tapi pria gemuk sialan itu memberiku pertanyaan yang tidak aku ketahui. Aku...aku gagal menjawabnya..."
"Lalu kelas apa yang kau ambil?" Gin merasa lega setelah mendengar keluhan Li Seng. Ini cukup adil. Ternyata tidak hanya dirinya yang mendapatkan ketidak adilan di sini.
"Kelas pertarungan dan kelas penjelajahan..." jawab Li Seng. Dia kehilangan semangatnya dalam sekejap saat mengingat hal ini. Dia ingin menghindari kedua kelas ini tapi dia malah mendapatkannya. Dia merasa kesal dengan keberuntungannya yang rendah.
"Baiklah" Gin mengangguk kecil. "Semangat" katanya.
Li Seng menatap Gin dengan wajah cemberut karena dia merasa Gin sedang mengejeknya.
Setelah itu kelas dimulai. Seorang guru pria dengan kacamata bulat memasuki kelas. Guru itu memiliki tampilan seorang kutu buku. Bahkan semua murid tersentak kaget, karena penampilan sama sekali tidak cocok dengan kelas penjelajahan ini. Sosok itu terlihat sangat lemah. Bahkan tubuh kurusnya bisa dihempas angin kencang dengan mudah. Begitulah yang anak-anak itu pikirkan karena mereka tidak mengetahui tingkat kultivasi sang guru.
"Aku Yu Fei" Dia menaikkan kacamatanya yang turun tanpa sengaja. Lalu dia mulai melemparkan segulung kertas, masing-masing satu ke setiap meja. "Um...itu adalah peta negara Mozu" katanya. "Daerah dengan tanda merah adalah daerah yang belum pernah dijelajahi oleh manusia sama sekali"
Gin melihat peta di depannya. Peta ini berbeda dari peta yang biasanya dijual di pasaran. Peta ini dibuat dengan lebih detail. Gin bisa melihat setiap kota yang ada di dalam peta dengan sangat jelas.
__ADS_1
Lalu Yu Fei mulai menjelaskan beberapa tentang daerah yang belum dijelajahi itu. Alasannya adalah tidak banyak orang yang ingin menjadi penjelajah karena pekerjaan itu sangat melelahkan dan bayarannya sedikit. Jadi beberapa daerah merah bisa diselidiki saat ada sekelompok orang yang menjalankan misi khusus ke daerah tersebut.
Yu Fei menunjukkan lima daerah khusus yang dipilihnya. Lima daerah ini akan digunakan sebagai pelatihan bagi para murid di akademi. Dia kemudian menerangkan lebih detail tentang lima daerah yang akan mereka jelajahi nanti.
Mendengar bahwa mereka harus pergi menjelajah, Gin dan Li Seng langsung kehilangan semangat hidup mereka.
"Kalian akan melakukan penjelajahan selama sebulan bersama kelompok yang sudah ditentukan. Sebelum kegiatan itu dimulai, aku akan menjelaskan beberapa hal yang kalian lakukan sebagai penjelajah. Tugas kalian hanya satu, yaitu mencatat dan mengambil foto" Yu Fei mulai menunjukkan beberapa contoh dokumentasi yang dilakukan oleh para penjelajah sebelumnya.
Mereka harus mengambil foto saat mereka melihat spesies asing yang belum pernah mereka lakukan. Begitu juga dengan tanaman dan binatang sihir jenis baru yang belum pernah terdaftar. Lalu mereka harus mencatat secara rinci binatang sihir dan tanaman yang ada di daerah itu.
Kalau dalam kondisi khusus mereka menemukan manusia yang hidup di daerah bertanda merah, mereka harus memanggil pihak akademi dan meninggalkan tempat itu diam-diam. Karena pihak akademi akan mengurus masalah para penduduk yang illegal itu.
"Kalian akan mulai menjelajah bulan depan. Untuk sekarang aku hanya akan memberikan beberapa materi dasar untuk bertahan hidup di hutan belantara. Dan bagaimana melakukan dokumentasi. Tapi sebelum itu" Botol dengan isi berbagai gulungan kertas tiba-tiba muncul di depan Yu Fei.
"Pemilihan kelompok akan dilakukan lebih awal. Supaya kalian bisa saling mengakrabkan diri sesama kelompok. Akan ada enam kelompok yang terdiri dari lima orang murid. Baiklah, barisan paling depan boleh maju lebih dulu dan mengambil undian"
Satu per satu mulai maju ke depan untuk mengambil nomor undian mereka. Tiba giliran Gin. Dia mengambil gulungan kertas di depan kelas lalu kembali ke kursinya. Dia membukanya dan angka "6" tertulis di sana.
"Duduklah sesuai dengan kelompok kalian. Kelompok satu di baris paling depan. Kelompok dua di barisan kedua. Dan seterusnya" titah Yu Fei.
Para murid langsung berpindah posisi sesuai dengan kelompok yang mereka dapat. Gin pindah ke barisan paling belakang. Dia tersentak kaget saat melihat kelompok miliknya. Ada Li Seng, Lian, Sima dan Yusa.
__ADS_1
Li Seng juga kaget saat melihat Gin datang ke barisan paling belakang, dia melambaikan tangannya dengan senyum lebar. "Brooo, kita sekelompok!" katanya antusias.
"Heh? Bagaimana bisa aku sekelompok dengan kalian lagi" gumam Lian cemberut. Dia sekelompok dengan Gin, Li Seng dan Sima sebelumnya. Sekarang dia harus sekelompok dengan para lelaki bodoh ini. Padahal dia ingin sekelompok dengan murid perempuan, tapi dia malah dikelilingi murid laki-laki.
Sementara Sima menatap Gin dengan ekspresi cemberut. Dia tidak suka sekelompok dengannya. Yusa menyadari perasaan adiknya dan berkata "jangan seperti itu. Mulai sekarang kalian harus akur. Jangan menindas orang lain" katanya bijak sambil tersenyum ramah.
"Kakak kau tidak mengerti" bantah Sima. "Dia benar-benar menyebalkan. Aku membencinya! Aku paling membenci pengecut" katanya sarkas. Dia benci orang-orang seperti Gin, yang berpura-pura lemah untuk menarik simpati dari orang lain.
Yusa hanya menggelengkan kepalanya. Dia hanya berharap Sima tidak membuat masalah untuknya karena sifatnya yang temperamental itu.
Dalam sekejap, kelompok enam menjadi perhatian seluruh kelas. Tentu saja karena semua orang yang berada di kelompok itu berasal dari kelas emas, kecuali Gin. Mereka merasa bahwa distribusi kekuatan setiap kelompok tidak merata sama sekali.
Yu Fei juga menyadarinya. Tapi murid-murid itu berada di dalam kelompok yang sama karena kebetulan. Dia berpikir mungkin mereka terikat oleh takdir yang tidak terlihat. Kejadian seperti ini pernah terjadi beberapa kali sebelumnya.
"Baiklah, berhenti berbicara" sentak Yu Fei. "Duduk di kursi kalian masing-masing sekarang. Pelajaran akan segera dilanjutkan"
Setiap murid pun duduk dengan rapi. Gin duduk di kursi kosong yang berada di pojok paling kanan. Li Seng duduk di sampingnya.
Yu Fei lanjut menjelaskan. Bagi Gin dan Li Seng hal itu membosankan. Jadi keduanya menggunakan kesempatan ini untuk tidur. Beruntung mereka duduk di barisan paling belakang sehingga bisa melakukan hal itu dengan mudah.
Lian yang duduk di samping Li Seng, hanya bisa melihat keduanya sambil menggelengkan kepalanya. "Dua idiot" gumamnya. Lian berpikir untung saja Sima dan Yusa masih sedikit normal sehingga dia bisa menjaga kewarasannya untuk sekelompok dengan mereka.
__ADS_1