
Ini pertama kalinya Gin bertemu dengan binatang sihir ilahi. Tentu saja Bimba tidak dihitung. Gin ingat bahwa Bimba bertarung dengan seekor binatang ilahi sebelumnya. Tapi dia tidak ingat secara detail tentang hal itu.
"Hei cacing, kau tidak sopan pada ayah" teriak Lily. Entah kenapa bunga kecil itu berhasil mengumpulkan keberaniannya untuk melakukan hal itu.
"Kau kerdil. Kau kelihatan enak" ular putih itu berkata.
Tubuh Lily mengigil lagi dan dia menyembunyikan diri dalam-dalam di kepala Gin.
"Manusia, kenapa kau menganggu tidurku?" ular putih menggeram, lalu pupil matanya secara perlahan memerah karena rasa marah yang memuncak.
Gin langsung melambaikan kedua tangannya, reflek berkata "tidak, tidak. Aku tidak pernah ingin menganggumu".
"Itu benar. yang kami lakukan hanya mandi" jawab Lily lagi sambil menongolkan kepala kecilnya. "Cacing, kenapa kau menganggu kami mandi?" dia balik bertanya.
"...." Ular putih itu tidak merespon . Tapi kemudian dia menggeram, kelihatannya semakin marah karena perkataan Lily. Dia merasa bahwa Lily sedang mengejeknya saat ini. Dia merasa direndahkan dan dia semakin marah.
"Cukup sudah" ular putih itu menyerang. Dia terbang dengan cepat ke arah Gin dan membuka mulutnya lebar-lebar. Racun yang ada di giginya mulai menetes dan mengenai danau di bawahnya. Dalam sekejap danau itu menghitam, menandakan bahwa racun itu sangat mematikan.
Tapi tiba-tiba ular itu merasa tercekik dan pergerakannya terhenti di udara. Rupanya Gin dengan cepat mencengkram tubuh ular itu, lalu dia merentangkan tangannya jauh-jauh agar racun ular itu tidak menetes di tangannya.
Ular putih itu terkejut. Dia berusaha memberontak dan mengigit tangan Gin. Dia meliuk-liukkan tubuhnya seperti mie. Tapi dia tetap tidak bisa melepaskan dirinya dari cengkraman Gin.
"Bagaimana mungkin..." ular putih itu syok. Dia adalah salah satu raja di hutan ini dan dia sadar bahwa dia sangat kuat. Dia perlu berkultivasi selama ribuan tahun untuk mencapai tahap ini dan berbicara secara normal.
__ADS_1
Tapi manusia di depannya, memegang tubuhnya seakan-akan dia hanyalah hewan kecil. Harga dirinya terluka lebih dalam sekarang.
Lily tertawa. Dia mulai menjulurkan lidahnya untuk mengejek ular putih itu. "Kau benar-benar terlihat seperti cacing sekarang." katanya sarkas.
Urat-urat kekesalan muncul di kepala sang ular putih. "Lihat saja nanti, aku pasti akan membunuhmu" kata ular itu sambil menggertakan giginya kesal.
"Hei, aku tidak bermaksud menganggumu. Kelihatannya kau bukan binatang sihir biasa sejak kau bisa bicara" kata Gin, memotong pembicaraan mereka. "jadi maafkan aku" Gin berkata dengan canggung.
Dia tahu ular putih ini berbahaya dan memusuhinya. Tapi dia tidak berniat untuk membunuh binatang itu sama sekali.
"Baiklah" jawab ular putih itu kemudian.
Gin melonggo. Dia tidak menyangka bahwa konfliknya akan selesai seperti ini.
Ular putih itu tertawa. "Kau akan mati. Kau kira aku sebodoh itu untuk mempercayai manusia licik seperti kalian" katanya dengan nada penuh kebencian.
Skill pasif Gin langsung aktif. Tubuhnya bereaksi terhadap racun mematikan yang mulai memasuki darahnya.
Gin merasakan kebas pada lengannya sehingga ular putih itu dengan mudah melepaskan diri dari cengkramannya. Tapi Gin tidak merasakan reaksi aneh lainnya. Setelah beberapa saat, rasa kebas itu menghilang. Gin mencengkram kembali ular itu dan sang ular langsung berhenti tertawa dalam sekejap.
"Padahal aku ingin mengakhiri semua ini tanpa membunuh" kata Gin sambil menatap ular putih dengan tatapan dingin.
Ular itu tanpa sadar bergidik dan mengeluarkan keringat dingin. Dia takut dengan tatapan Gin, tapi harga dirinya tidak mengizinkannya untuk memohon. Dia takut karena Gin kebal terhadap racun ularnya yang mematikan. Harga dirinya benar-benar jatuh ke bawah sekarang.
__ADS_1
Gin memperkuat cengkramannya. Ular putih itu langsung merasa tercekik dan sulit bernapas. "Hei!" ular itu berteriak. "Manusia benar-benar mahluk yang egois. Mereka yang berbuat jahat dan binatang sihir seperti kami yang harus mati" teriaknya marah. Ada rasa sedih samar-samar di suaranya. Dia masih tidak mau menyerah walaupun nyawanya terancam.
"...." Gin terdiam. Dia langsung mematung dan melonggarkan cengkramannya.
Ular putih itu langsung melepaskan dirinya dengan cepat.
"Ya, sudahlah. Aku akan pergi dari sini" kata Gin kemudian. Dia naik ke daratan dan mulai mengambil pakaian yang digantungnya di ranting pohon sekitar.
"..." Ular itu mengamati Gin. Saat Gin akan pergi meninggalkan danau dia tiba-tiba berkata "Hati-hatilah, di depan ada banyak sekali manusia jahat" katanya.
Gin berhenti dan menoleh. Tapi ular putih itu masuk kembali ke dalam danau. Dia memikirkan perkataan ular putih itu. Berarti ada orang lain di hutan ini, tidak hanya dia dan kelompoknya.
"Terima kasih" balas Gin walaupun sang ular tidak ada lagi di tempat itu. Setelah itu Gin memutuskan kembali bersama kelompoknya.
Gin tidak tahu bahwa ular putih itu merendam dirinya di dasar danau dan masih bisa mendengar perkataannya.
Ular itu menjulurkan kepalanya di atas danau, melihat punggung Gin sampai menghilang dari matanya.
Gin kembali ke perkemahan. Saat dia kembali, semua orang sedang berkumpul di api unggun. Li Seng melambaikan tangannya, menyuruhnya untuk bergabung.
"Broo, kenapa kau lama sekali mandinya?" Li Seng mengeluh. Dia ingin makan. Tapi Yusa melarangnya karena mereka harus menunggu Gin yang sedang mandi. Yusa ingin mereka makan bersama-sama.
"Aku juga tidak tahu" jawab Gins sambil duduk di posisi kosong yang sudah disediakan.
__ADS_1