
Gin ingin tidur. Tapi dia tidak bisa tidur. Dia merasa aneh karena suasana sekitarnya menjadi lebih hening dari sebelumnya. Mungkin karena dia merasa terbiasa dengan keributan yang dibuat oleh Bimba dan Muca.
"Aku sama sekali tidak kesepian" dia menyangkalnya dengan cepat. Dia ingin menikmati hidupnya dengan damai seorang diri. Itulah impiannya. Oleh karena itu, rasa kesepian sama sekali tidak diperlukan.
Tapi kemudian dia bergumam "Mungkin aku perlu mencari dan membawa mereka nanti" Dia bisa menempatkan kedua benda itu di balkon apartemennya. Lagipula dia tetap harus memberi mereka makan mana secara rutin. Setelah memutuskan hal itu, akhirnya Gin bisa menutup matanya.
Keesokan harinya setelah menyelesaikan kelasnya, Gin langsung pulang ke apartemennya. Tapi dia tidak melihat kedua hewan kecil itu. Ini sangat aneh. Sebelumnya saat dia melempar Bimba, kucing itu kembali dengan cepat. Apa karena dia mengusir mereka berdua?
Gin menggunakan skill pendeteksi miliknya. Dalam sekejap dia menjangkau seluruh ibukota dengan skill miliknya. Dia mengeluarkan 2000 mana untuk menjangkau area seluas ini. Setelah itu dia menetapkan Bimba dan Muca sebagai target pencariannya. Lalu dua titik merah muncul. Gin langsung menuju ke arah titik-titik merah itu.
Gin melesat terbang ke arah pemukiman yang tidak pernah dia kunjungi sebelumnya. Walaupun dia berada di ibukota, dia tidak pernah mengelilingi kota ini sama sekali. Karena itu tidak penting dan dia terlalu malas untuk membuang energinya.
Gin melihat Bimba merenggangkan tubuhnya sambil menguap. Sementara Muca mengepakan kedua sayap kecilnya. Mereka berada di salah satu atap rumah di salah satu pemukiman kumuh. Kelihatannya keduanya baru saja bangun tidur.
Gin langsung muncul dan berdiri di depan keduanya. Keduanya kaget karena kemunculan Gin benar-benar seperti hantu dan mereka tidak bisa mendeteksinya.
Muca terbang ke arah Gin dengan bahagia. "Tuan, Tuan, kau merindukanku?"
Gin membiarkan burung kecil itu hinggap di bahu kanannya.
"Apa kau lapar?" Gin mengabaikan pertanyaan Muca dan mengalihkan topiknya.
Muca memiringkan kepalanya. Dia tidak butuh makanan seperti manusia. Dia bisa hidup hanya dengan menyerap energi qi disekelilingnya. Tapi kemudian dia teringat sesuatu. "Ah, mana, mana, mana" katanya bersorak gembira.
Gin memberinya 5000 mana dan burung kecil itu menerimanya dengan wajah senang.
__ADS_1
Sementara Bimba melihat semuanya dengan tatapan iri. Dia berada di tubuh ilahi level 1. Tapi saat dia menerima mana milik Gin, dia berhasil naik ke level 2. Tapi dia tidak menyukai perasaan saat mananya meledak di dalam tubuhnya. Dia berhasil menerobos tapi mana itu juga melukainya. Dia menghancurkan setengah hutan karena ledakan mana dalam tubuhnya.
Tubuh Muca bersinar saat dia menyerap mana yang diberikan oleh Gin. Tak lama kemudian dia berkata dengan lemah. "Tuan, aku ingin tidur" katanya. Lalu dia tidur dengan cepat di bahu Gin dan membungkus tubuhnya dengan sayapnya.
Gin membawa Muca di telapak tangannya. Lalu dia melihat Bimba, "Ayo pulang".
Bimba pun melihatnya dengan mata berkaca-kaca dan mengikutinya.
Harusnya Gin bisa pulang dengan damai, tapi tiba-tiba pintu rumah di bawah mereka terbuka. Gin melihat wajah yang sangat familiar. Orang itu juga melihat Gin dan langsung melesat ke arah Gin. Kemudian, memeluk kaki Gin dengan erat.
"Penatuaaaa!" teriak Yurion histeris.
"...." Gin masih syok. Dia tidak menyangka bahwa dia akan bertemu dengan Yurion di tempat acak seperti ini. Tapi dia selalu bertemu dengan pria tua ini di tempat acak yang tidak pernah dia duga. Ini sangat aneh. Gin tidak mau memikirkannya lebih jauh. Karena itu hanya membuatnya merinding.
"Penatua, tolong aku!" Yurion memohon sambil menangis.
"Penatua, tolong kami!" mereka memohon bersama-sama sambil menangis.
Yurion bersembunyi di pemukiman kumuh ini. Lalu tiba-tiba dia merasakan bahwa ada seseorang di atap rumahnya karena dia bisa mendengar sebuah suara dengan jelas. Tak lama kemudian, dia melihat cahaya yang sangat menyilaukan. Jadi dia keluar dan menemukan Gin.
Dia benar-benar merasa bersyukur menemukan Gin. Perasaan yang dirasakannya sama seperti saat dia mendapatkan harta karun. Dia langsung memeluk kaki Gin tanpa berniat melepaskannya.
"...." Gin tidak bisa berkata-kata. Dia tidak tahu kenapa keberuntungannya seburuk ini. "Aku tidak mau ikut campur" jawab Gin. Dia ingin melempar semua orang yang memeluk kakinya.
Tapi tiba-tiba seseorang melesat ke arah mereka dengan cepat. "Akhirnya aku menemukan kalian" kata orang itu dengan aura yang sangat menakutkan. Dia adalah paman Nio yang diutus Qiqi untuk mencari Yurion.
__ADS_1
"Hei pak tua, kau berhasil naik tingkat lagi?" seru Yurion tak percaya. Pria di depannya sekarang kultivator immortal menengah level 4. Saat Yurion pergi dia hanya level 2. Yurion mengernyit iri. Dia juga ingin naik level, tapi dia sedang mengalami hambatan sekarang dan masih tetap di tubuh immortal dasar level 1.
"Jangan banyak bicara. Nona mencarimu. Ikut aku" kata pria bernama Nio itu.
Yurion dengan cepat langsung bersembunyi di belakang Gin. Lima bawahannya mengikutinya. Yurion memegang bahu Gin erat-erat. Dia memunculkan kepalanya sambil berkata "Kau tidak akan bisa membawaku. Langkahi dulu penatua sebelum kau membawaku" katanya dengan senyum mengejek.
Nio menjadi kesal. "Pemberontak ini" gumamnya. Lalu dia melihat Gin dari atas sampai bawah. Dia mengernyitkan keningnya. Pria muda di depannya hanyalah kultivator tubuh perunggu. Dia tidak mengerti mengapa Yurion bersikap seperti ini pada bocah di depannya.
"Hei bocah, jangan ikut campur. Aku takut kalau aku tidak sengaja membunuhmu" kata Nio sombong.
Senyum mengejek milik Yurion malah semakin lebar. Nio menatap tajam Yurion. Dia merasa semakin kesal sekarang. "Aku benar-benar akan mematahkan tulang-tulangmu" dia mengancam sambil menggertakan giginya.
Gin tidak mau ikut campur. Dia langsung menghindar. Tapi saat dia bergerak, Yurion dan lima orang lainnya mengikutinya. Yurion memegang bahunya erat-erat bahkan menggunakan teknik kultivasinya. Begitu juga lima orang lainnya. Mereka menempel erat pada Gin seperti lem.
Gin mulai melayang tapi Yurion dan yang lainnya juga melayang. Gin terlihat seperti layang-layang manusia saat dia mencoba terbang.
Nio kehilangan kesabarannya. "Cukup!" dia berteriak. Dia melancarkan serangannya ke arah Gin dan yang lainnya. Itu adalah teknik pukulan api. Saat dia mengangkat tangannya, sebuah tinju api raksasa mengarah ke arah Gin dan yang lainnya.
Gin tidak sempat menghindar. Dia menggunakan mananya untuk memperkuat tubuhnya. Lalu dia menggunakan skill pertahanan dan memusatkannya pada telapak tangannya. Tinju api raksasa itu mengenai telapak tangan Gin.
BLAR! Bunyi ledakan yang sangat besar terdengar. Lalu asap hitam mulai terbentuk dan menyebar.
Nio tersenyum. Dia merasa bersalah karena menyakiti bocah tidak dikenal. Tapi setidaknya dia memberi pelajaran kepada Yurion dan bawahannya. Dia menggunakan kekuatan penuhnya. Walaupun Yurion masih bertahan, dia tetap akan babak belur. Dan untuk para bawahannya, mereka tidak akan mampu menahan serangannya. Mungkin mereka akan hancur bersama anak itu. Tapi setidaknya mereka tidak mati. Dia akan membawa anak itu ke rumah sakit nanti dan memberi ramuan penyembuh kepada para bawahan Yurion.
"Kali ini aku benar-benar akan memukulnya" Nio mendekat, dia ingin menarik Yurion yang babak belur dan memukulnya.
__ADS_1
"Eh?" tapi dia melonggo kaget saat melihat orang-orang itu baik-baik saja. Bahkan pemuda di depannya tidak terluka. Padahal dia berada di posisi paling depan. Pemuda itu menatapnya dengan polos sambil membuka dan menutup pergelangan tangannya. Seakan-akan dia baru saja melakukan pemanasan kecil.