Tuan Muda, Jangan Lari!

Tuan Muda, Jangan Lari!
Pertemuan Guru dan Murid


__ADS_3

Hari ini adalah hari di mana Kakek Arai mengadakan pertemuan pribadi bersama para muridnya. Kakek Arai memiliki lima orang murid yang diangkatnya secara pribadi. Dia merawat mereka sejak mereka masih kecil.


Murid pertama adalah Tu Fa. Tu Fa adalah murid tertua yang seumuran dengan putra-putranya. Tapi sekali lagi, walaupun dia sudah menginjak kepala empat, pria itu belum menikah.


Tu Fa juga tidak membawa nama keluarga Arai dinamanya. Dia sudah merundingkan hal ini dengan kakek Arai bahwa dia ingin menggunakan nama aslinya untuk mengenang kedua orang tuanya.


Saat ini dia sudah menjadi kuktivator immortal tinggi level 10, hampir menerobos ke tubuh ilahi. Tapi sayangnya dia mengalami hambatan bertahun-tahun. Dia menjadi salah satu penatua muda di keluarga Arai.


Murid kedua adalah Rain Arai. Pria itu berumur tiga puluh dua tahun. Berhasil menjadi ketua divisi khusus di kepolisian. Saat ini dia adalah kultivator level 8.


Murid ketiga adalah Brian. Brian juga tidak membawa nama Arai. Dia berkata bahwa nama Brian saja itu lebih keren. Seperti nama penyanyi hip hop favoritnya.


Dia berumur tiga puluh lima tahun dan seorang kultivator tubuh immortal dasar level 10. Sebenarnya bakatnya tidak lebih buruk dari Rain, tapi Brian malas berlatih.


Kakek Arai memberinya kekayaan sehingga dia menghabiskan waktunya untuk pesta dan bersenang-senang. Dia tidak menginginkan posisi apapun dalam hidupnya. Sehingga kakek Arai hanya menyuruhnya untuk mengawasi cucu-cucunya.


Murid keempat adalah Yina. Dia baru berusia dua puluh tahun. Dia adalah kultivator inti emas menengah level 1. Dia cukup berbakat tapi kepribadiannya keras kepala. Kakek Arai menyuruhnya untuk mengawasi keselamatan cucunya yang tidak berguna.


Murid kelima adalah seorang anak berumue sepuluh tahun. Kakek Arai baru saja mengangkat anak itu karena bakatnya. Anak itu bernama Lu Tu, dan sudah berhasil menjadi kultivator tubuh perak level 8 setelah melalui pelatihan selama setahun.


Lu Tu tidak kalah berbakat dengan anak-anak dari keluarga besar. Karena itu kakek Arai berencana mengirimnya ke SMA Jin Shi tahun depan bersama dengan Yuya. Dia juga berharap Lu Tu dapat menjaga Yuya.


Lima orang murid berkumpul dalam satu meja. Dan seorang pria tua duduk di meja paling depan, memimpin acara.


"Semoga panjang umur kakek" semuanya berkata secara bersamaan untuk menyambut kakek Arai.


"Terima kasih" jawab Kakek Arai dengan senyum tulus.


Kakek Arai melihat mereka satu per satu dan berkata "Kalian sudah tumbuh besar. Aku juga bisa melihat bahwa kalian tumbuh dengan baik" katanya.


"Tu Fa, bagaimana keluarga cabang akhir-akhir ini?" Kakek Arai mengutus Tu Fa untuk melakukan inspeksi ke semua keluarga cabang. Karena rumor mata-mata yang beredar dengan cepat, seluruh keluarga besar di ibukota mulai melakukan pengecekan dan pembersihan di keluarga mereka masing-masing.


"Mereka bersih" jawab Tu Fa langsung. "Sejauh ini aku tidak melihat kejanggalan apapun di keluarga cabang. Tapi aku tetap akan terus mengawas mereka." sambungnya dengan nada yang tegas.


"Bagus, bagus" Kakek Arai menganggukan kepalanya. Lalu dia melihat ke arah Rain. "Bagaimana perkembangan tentang penyusup dari negara lain itu, Rain?"

__ADS_1


"Aku yakin tidak hanya ada satu penyusup di Mozu, negara lain pasti mengirimkan mata-matanya ke negara kita. Melihat bahwa penyusup yang kami temukan sudah bersembunyi selama sepuluh tahun. Penyelidikan masih dilanjutkan" kata Rain serius.


"Tapi kau melakukan kerja bagus. Kau berhasil menemukan penyusup itu" Puji kakek Arai.


"...." Rain terdiam beberapa saat. Lalu dia melihat ke arah Yina. Yina juga menatapnya. "Kakek, aku ingin menanyakan sesuatu" Rain menatap Kakek Arai dengan tatapan yang serius.


"Ya?"


"Sebenarnya aku mencurigai satu orang murid di akademi Jin Shi. Aku mengawasinya dan bertemu dengan Yina. Penyusup itu aku temukan secara kebetulan. Orang yang kucurigai itu pemuda yang lain. Dia bernama Gin"


"Puft!" Brian yang sedang minum teh tiba-tiba tersedak. Dan Yina menundukkan kepalanya.


Wajah kakek Arai berubah menjadi sangat dingin. "Jadi?" katanya.


Bahkan Rain berusaha untuk menahan tekanan darinya dan melanjutkan. "Jadi siapa pemuda itu? Kenapa kakek mengutus Yina untuk mengawasinya? Pemuda itu juga sangat mencurigakan kakek, aku tidak mempercayainya"


"Apa maksudmu tidak mempercayainya?" selidik kakek Arai.


"Dia menyembunyikan kultivasinya menggunakan sesuatu. Karena itu dia terlihat mencurigakan. Aku melihatnya bertarung dengan anak-anak yang memiliki kultivasi lebih tinggi darinya, dia bisa dengan mudah mengalahkan mereka"


Lalu dia menatap Yina dengan tatapan tajam dan berkata. "Bagaimana menurutmu? Kau adalah pengawalnya bukan?"


Yina tersentak. "Sejak kapan aku menjadi seorang pengawal?" pikirnya. Dia ingat tugasnya hanya mengawasi pemuda sampah itu dan melindunginya dari kematian.


Dia mengepalkan tangannya erat-erat. Rasa asam di hatinya semakin kuat. Dia tidak mau dipandang rendah oleh pemuda tak berguna seperti itu. Menjadi pengawalnya benar-benar menghancurkan harga dirinya.


"Sejauh ini dia masih sama seperti sebelumnya" Yang artinya pemuda itu masih tetap sampah yang suka bermain. "Lalu dia berhasil menemukan beberapa item langka dan itu membuat kultivasinya meningkat secara drastis" kata Yina.


"Kau tidak memberitahuku informasi yang terakhir." kata Kakek Arai dengan nada tajam.


"Maafkan aku kakek" kata Yina cepat.


"Berapa tingkat kultivasinya sekarang?"


"Tubuh perak level 2"

__ADS_1


Kakek Arai tersentak kaget. Dia tidak mengira bahwa cucunya itu akan bisa mencapai ranah seperti itu. Dia mengira Gin akan mencapai tubuh perak saat dia sudah lulus dari akademi, tapi bocah itu melakukannya lebih cepat.


"Keberuntungan apa yang dia dapat?"


"Kristal ungu" jawab Yina. Yina melihat ada satu kristal ungu di meja ruang tamu milik Gin sebelumnya.


Kakek Arai langsung mengaitkannya dengan pengeluaran fantastis Gin di pelelangan. Mungkin anak itu menghabiskan uangnya untuk membeli kristal ungu itu.


"Tapi itu tidak cukup" gumam kakek Arai. Satu kristal mungkin cukup untuk membantunya menerobos ke satu level. "Anak itu hanya tubuh perunggu level 3 sebelumnya. Tapi dia naik ke tubuh perak level 2 hanya dalam waktu singkat. Itu tidak masuk akal. Dia bahkan belum setahun di akademi"


"Karena itu aku bilang dia mencurigakan kakek" sentak Rain. "Dia bahkan bisa mengalahkan kultivator tubuh perak puncak dengan mudah. Dia menyembunyikan sesuatu" Rain menggertakan giginya. "Kenapa kau menyuruh Yina mengawasinya? Apa dia salah satu muridmu juga?"


"Puft!" Brian tersedak untuk yang kedua kalinya. Dia mengunyah cemilan dengan santai sambil menikmati percakapan di sekitarnya, tapi dia terlalu tersedak setiap kali dia merasa kaget.


Lu Tu yang polos hanya mengamati dalam diam. Dia bingung tapi dia tidak ingin bertanya karena dia tahu bahwa ini adalah pembicaraan orang dewasa. Jadi dia hanya memotong kue di depannya kecil-kecil dan memakan potongan kue itu santai dengan garpu.


"Dia adalah cucuku" kata kakek Arai kemudian.


Semua orang langsung mematung, kecuali Brian dan Yina yang sudah mengetahui hal itu.


"Dia adalah putra pertama Seto"


Kali ini semua orang membelalak kaget setelah mendengar identitas Gin yang sebenarnya.


Kakek Arai menghela napas dengan wajah sedih. "Dia lahir dengan bakat level 3. Dia tidak cocok untuk menjadi kultivator, karena itu aku membuatnya hidup sebagai pemuda biasa yang berkecukupan. Tapi ternyata rasa bersalah itu tetap ada. Jadi aku mengirimnya ke SMA jin shi agar dia bisa mendapatkan koneksi untuk masa tuanya"


Kakek Arai menatap Rain dengan tatapan pahit. "Karena itu ceritamu tidak masuk akal sama sekali. Tidak mungkin dia bisa berkelahi dengan kultivator yang tingkatnya lebih tinggi. Dia terlahir dengan tubuh lemah sejak awal"


"..." Rain terdiam. Sebenarnya dia ingin membela diri dan mengatakan bahwa dia tidak berbohong. Tapi dia tidak berani.


"Baiklah, tinggalkan topik ini" kata Kakek Arai kemudian. "Yina, kau tetap lakukan tugasmu untuk melindunginya. Kalian juga tetap lakukan tugas kalian masing-masing." Dia menatap Brian. "Dan kau, cobalah untuk mencari kerja kalau kau tidak ingin menjadi penatua"


Wajah Brian langsung berubah cemberut.


Rain masih ragu dengan perkataan Kakek Arai. Dia yakin pemuda bernama Gin itu menyembunyikan sesuatu, yang bahkan Kakek Arai sendiri tidak tahu.

__ADS_1


"Gin?" Gumam Lu Tu dengan ekspresi tertarik. Dia menyentuh bibirnya sambil berpikir. Tidak ada yang tahu, apa yang dia pikirkan.


__ADS_2