
"Begitu banyak cara untuk menyembunyikan setiap luka, namun sebuah kepribadian telah terbentuk karena luka"
_Freyesta_
Seorang wanita paruh baya sedang duduk di samping tempat tidur seorang gadis yang sedang terlelap.
Ia terus memanggil manggil nama gadis itu sembari mengelus-elus rambut gadis itu penuh kasih sayang.
"Fey"
"Fey"
"Fey"
Tak lama kemudian gadis itu membuka matanya perlahan dan melihat wanita paruh baya yang memanggil namanya itu.
Raut wajahnya Perlahan lahan berubah menampilkan ekspresi terkejut.
"Mami?" mulut manisnya itu membulat sempurna, menatap sosok yang ada di hadapannya kini dengan haru.
"Iya sayang, ini mami" Jawab wanita itu dengan begitu lembut dan kasih sayang serta kerinduan yang sangat mendalam.
Air matanya sudah tak bisa ia bendung lagi, jawaban dari wanita paruh baya itu membuat air matanya jatuh membasahi pipinya itu.
"Mami? Ini benaran mami?"
Gadis itu mengubah posisinya menjadi duduk.
"Iya, sayang ini benaran mami" jawabnya sembari mengangguk dan langsung disambut pelukan hangat oleh gadis itu.
"Mih, Fey kangen banget sama mami"
"Iya sayang mami tau, Mami juga kangen banget sama banget sama Fey"
"Jangan pernah pergi lagi Mih, jangan pernah ninggalin Fey lagi Mih, Fey sendiri, Fey butuh mami temani Fey, Fey butuh mami di samping Fey" Rilih Freya.
Wanita itu melepaskan pelukannya.
"Iya mami janji gak akan ninggalin Fey, mami janji akan selalu ada buat Fey, Fey juga janji sama mami gak akan nangis lagi dan selalu jadi anak yang kuat" Kata wanita paruh baya itu sembari menghapus air mata gadis yang ada di hadapannya kini menggunakan ibu jarinya
Gadis itu mengangguk pertanda mengiyakan.
"Janji?" Tanya wanita itu sembari mengacungkan jari kelingkingnya.
"Janji" jawab gadis itu mantap dan melingkari jari kelingkingnya di jari kelingking wanita itu, lalu kembali memeluknya.
"Fey sayang banget sama mami"
"Mami juga sayang banget sama Fey"
Mereka berdua sama sama hanyut dalam pelukan.
Namun perlahan tubuh wanita itu mulai menghilang tak kasat mata.
Freya panik seketika saat menyadari tubuh wanita paruh baya itu memudar dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Mih!!!Mih!!!Mih!!! Mami kenapa Mih? Jangan ninggalin Fey Mih!!!!"
"Maaf Fey mami gak bisa nepetin janji mami, tapi mami harap kamu selalu jadi anak yang kuat" bisiknya tepat di telinga Freya membuat gadis itu semakin menangis tersedu sedu.
"Hiks..Mamikan udah janji...hiks...sama Fey gak akan ninggalin Fey...hiks...hiks"
Akhirnya tubuh wanita itu menghilang dan tak dapat ia rasakan dalam pelukannya lagi.
"Mami!!!!"
Tangisnya pecah dan di saat bersamaan ia bangun dari tidurnya.
__ADS_1
ia baru tersadar bahwa kejadian yang ia alami hanya sebatas bunga tidur untuknya.
Namun entah kenapa ia merasa begitu nyata, apa mungkin karena ia sangat merindukan wanita itu?
"Mih Fey kangen banget sama mami " gumam gadis itu sembari mengusap foto ia bersama maminya dengan penuh kasih sayang yang ia ambil dari atas nakas.
"Fey janji akan jadi anak yang kuat" Rilihnya hingga air matanya membasahi pipi dan juga fotonya.
_FREYESTA_
Freya yang sudah rapi dengan pakaian seragam yang sudah membaluti tubuhnya pun segera menuruni setiap anak tangga yang ada di rumahnya berjalan menuju pintu untuk berangkat sekolah.
hingga ia melewati meja makan terdengar seorang wanita memanggil namanya.
"Fey sini ayo makan sama-sama"
Freya yang tak menggubris panggilan wanita itu terus melanjutkan langkahnya menuju pintu.
"Freya berhenti disitu" Bentak seorang laki laki paruh Baya kepadanya yang membuat langkahnya terhenti untuk sesaat.
"kamu gak dengar mama kamu lagi bicara sama kamu"
"Dia bukan mama saya, mama saya sudah mati, dan untuk apa saya harus mendengar perkataan dari seorang pembunuh seperti kalian?" jawabnya sarkastik tanpa melihat wajah lawan bicaranya dan terus melanjutkan langkah kakinya.
"Jaga ucapan kamu anak dur-
Brang
Suara pintu yang terbanting begitu nyaring di telinga dan langsung memotong ucapan pria paruh baya itu.
Freya yang sudah berada di luar itu hanya menghembuskan nafasnya kasar samar samar terdengar percakapan dari dalam penghuni rumah.
"Aku bingung harus bagaimana lagi untuk mendidik dia mit"
"sabar mas"
"sabar" tenang istrinya itu sembari mengelus elus dada bidang suaminya itu.
"Kamu bayangin aja udah berapa kali dia pindah sekolah dalam setahun"
Freya yang sudah tak tahan mendengar percakapn kedua orang yang ia benci itu pun langsung menaiki mobilnya dan langsung tancap gas membelah jalanan kota Jakarta menuju sekolah barunya Anderson high school.
_FREYESTA_
Prang
Suara gelas yang jatuh terdengar dari bawah di iringi suara perdebatan dari sepasang suami istri yang menggelegar seisi rumah.
"KAMU BISA GAK SEKALI AJA NGERTIIN AKU?"
"KAMU YANG BISA GAK SEKALI AJA NURUTIN KEMAUAN AKU?"
"SEKALI KAMU BILANG SEKALI AJA? SEKALI AJA NURUTIN KAMU? SELAMA INI AKU SELALU NURUTIN APA YANG KAMU MAU. TAPI KAMU? KAPAN NGERTIIN AKU?"
" AKU KURANG NGERTIIN KAMU APALAGI DINA? SELAMA INI AKU YANG SELALU NGERTIIN KAMU, NGERTIIN YANG KAMU MAU, NURUTIN SEMUA YANG KAMU MAU, DAN ITU MASIH BELUM CUKUP UNTUK KAMU?"
"INI YANG KAMU BILANG NGERTIIN? INI YANG KAMU BILANG NURUTIN HAH?"
"AK-"Mah....Pah aku berangkat dulu" Pamit seorang anak laki laki yang terlihat sedang menuruni anak tangga dengan santai.
" Lanjut aja berantemnya, tenang aja gak bakal ada yang berani ganggu"
Sembari terus melanjutkan langkahnya menuju pintu dan berhenti tepat di depan pintu.
"Oh iya lupa satu lagi, tuh gelas sama piring di dapur masih banyak kalo mo di ancurin" lanjutannya.
Lalu membuka pintu rumahnya keluar dari tempat yang ia anggap neraka itu walau samar samar masih terdengar suara perdebatan kedua orang tuanya itu.
__ADS_1
"SEMUA INI SALAH KAMU!!!!"
"KOK JADI SALAH AKU?"
"TERUS SALAH SIAPA? SALAH AKU? SALAH AKU IYA FARESTA JADI BEGITU?"
Faresta hanya menghembuskan nafasnya kasar, ia tak tahan berada lama lama di rumahnya, ia tak tahan terus mendengar perdebatan ke dua orang tuanya setiap hari.
Akhirnya ia pergi menaiki motornya menjauh dari tempat yang ia anggap neraka membelah jalanan kota Jakarta.
_FREYESTA_
Freya yang sudah sampai di Anderson high school turun dari mobilnya dan melangkahkan kakinya memasuki sekolah barunya itu dengan langkah gontai menuju ruang kepala sekolah untuk mengetahui di mana kelas, namun tiba tiba......
Bruukk
"Aw..... OMG CAKE GUE!!!! HEH LO KALO JALAN PAKE MATA DONG" teriak seorang gadis yang sudah tersungkur di lantai bersama Cakenya yang sudah hancur di lantai.
"ck.. dimana mana jalan tuh pake kaki bukannya mata, lulus TK gak sih?"
"Heh kok lo yang nyolot???!!!!" Bentak gadis itu sembari mengubah posisinya menjadi berdiri dan membuat mereka menjadi pusat perhatian karna perkelahian antara mereka.
"Lo yang nyolot gue yang di salahin, lo yang nabrak, lo yang jatuh, gue yang di salahin. Capek gue omong sama orang gak lulus TK kayak lo" sindirnya.
"BERANI LO SAMA GUE?"Bentak gadis itu geram
"berani"
"Lo gak tau siapa gue?"
"Gak, lagian kalo gue tau pun gue gue gak akan peduli siapa lo"
"Lo nantangin gue"
" kalo iya kenapa?"
Gadis itu pun mengangkat tangan kanannya bersiap untuk menampar Freya. namun sebelum tangan kanannya berhasil menyentuh pipi Freya, tangannya sudah terlebih dahulu di cekal oleh Freya dan.....
Plak
Sebuah tamparan tepat mendarat di pipi manis gadis itu sampai ia kembali tersungkur di lantai dan membuat semua orang yang menyaksikan kejadian itu terkejut dengan apa yang baru mereka saksikan itu.
" Dengar baik baik kata kata gue, GUE GAK TAU SIAPA LO!!! DAN GUE JUGA GAK PEDULI SIAPA LO!!! TAPI SEKALI LAGI LO NGUSIK GUE, LO BAKAL DAPAT LEBIH DARI INI" ancam Freya dengan nada dingin sebelum akhirnya pergi meninggalkan gadis itu yang masih membeku di lantai sembari memegang pipinya yang merah akibat tamparan Freya.
Dari kejauhan terlihat seorang pria sedang memperhatikan mereka sedari tadi dengan senyuman yang tak dapat di artikan.
"menarik"gumamnya lalu akhirnya ia pergi.
_FREYESTA_
Aurel yang masih diam membeku sedari tadi sampai....
"Lo gak pa pa?" Tanya seorang lelaki dengan seragam AHS menghampiri Aurel yang masih diam membeku sembari membantu Aurel untuk bangun.
"Iya" Jawabnya tapi tiba-tiba....
"Aw"ringisnya.
"Lo kenapa?" tanya anak lelaki tersebut dengan tampang yang khawatir walau masih terlihat kalo ia hanya berpura pura.
"Kayaknya kaki gue terkilir deh" keluhnya dengan nada yang di buat buat manja.
"Sini biar gue aja yang gendong" ucapnya sambil mengedipkan matanya lalu langsung menggendong Aurel ala bridal style menuju UKS.
"Thank's Far"
"No problem honey" godanya sembari kembali mengedipkan matanya pada Aurel.
__ADS_1
To Be Continued