
Eren, Aksara dan sosok penjaga di balik jubah hitam itu langsung terpaku dengan pemandangan yang dilihatnya. Tubuh mereka seperti terkunci dengan sendirinya pada tempat mereka kini. Tidak ada yang bisa mereka lakukan kecuali hanya bisa melihat bagaimana Laras yang dilindungi ke dua jiwa orang tuanya diserang oleh jiwa kelam ke 24 anak TK itu.
Laras tersenyum menyambut semua jiwa anak-anak itu. Membuka lebar kedua tangannya untuk memberikan pelukan hangat kepada semua jiwa kelam anak-anak itu.
Satu persatu jiwa anak-anak yang masuk dalam jangkauan pelukan jiwa Laras yang telah menyatu bersama jiwa kedua orang tuanya, membawa kembali jiwa murni dari anak-anak itu. Jiwa kelam itu kembali menjelma menjadi jiwa anak-anak dengan semua dunianya yang penuh dengan keceriaan, warna-warni dunia dan kebahagiaan.
Senyum merekah dari ketiga jiwa yang memurnikan jiwa kelam ke 24 anak TK itu membiaskan cahaya yang menyilaukan. Membuat sosok lain di balik jubah hitam itu menghilang ditelan oleh cahaya yang memurnikan semua bagian pada jalanan setapak batu bata merah itu. Termasuk mengembalikan sayap Aksara yang berupa tulang belulang menjadi sayap berbulu putih yang indah dan melambangkan keagungan bagi Aksara.
Pada Eren sendiri, kilatan cahaya penuh keajaiban itu tidak memberikan perubahan apapun karena Eren sudah mendapatkan wujud terbaiknya ketika bermaksud melindungi Laras dari kehancuran tubuh dan jiwanya beberapa kali.
Bias cahaya yang dilihat Eren menunjukan bayangan tiga orang dewasa yang menuntun jiwa murni ke 24 anak TK itu ke dalam perjalanan menuju tempat yang terbaik di seluruh alam semesta.
Sebelum bias cahaya itu sirna dari pandangan, satu dari tiga sosok itu menoleh dan tersenyum kepada Eren dan melambaikan tangannya pada kedua mahkluk yang sampai sekarang masih terpaku pada hal yang terjadi tanpa bisa mereka membantu hal apapun karena semua berada diluar tugas dan sudah menjadi takdir dari jiwa yang terlarang dalam menentukan pilihan jalan hidupnya.
"Dia memilih jalan yang tidak terpikirkan.." Aksara dengan sayap barunya yang berkilauan berdiri disamping Eren dengan perasaan yang aneh.
"Kenapa kau tidak kembali saja menjadi kakek Laras. lebih manusiawi kalau sosok itu yang mengatakan hal tadi."
__ADS_1
"Kau memang tidak bisa dikelabui."
"Aku terkecoh diawal." jawab Eren "..dan menyadarinya di akhir."
Dia tengadah ke langit yang mulai menampakan setitik cahaya yang menembus dahan-dahan pepohonan pada jalanan setapak batu bata merah yang sampai kini masih dipijaknya. Jalanan setapak batu bata merah itu kembali terang dengan sinar yang menembus dedaunan dari dahan pohon disepanjang jalanan yang ada. Bunga lili lembah tumbuh subur dan mekar disaat yang bersamaan dengan laju laju yang kiat melambat namun menyisakan rindu dalam hati Eren.
Diujung mata itu, setitik air mata menggenang dan dihapusnya dengan perlahan. Eren merasa kehilangan jiwa yang tengah menganggu tenang perjalanan takdirnya sebagai seorang penjaga berparas tampan selama ribuan tahun.
"Kemanakah dia pergi?" ujarnya.
//
Sementara itu di dalam lembah kelam bernama lembah abu-abu, jiwa putih, hitam, dan abu-abu yang terkurung didalamnya kembali merasakan guncangan. Semua jiwa menggeliat dan terbangun dari tidurnya setelah sisi lembah itu terkunci Karena sosok terlarang telah mengubah takdirnya sekali lagi. Dentang waktu pada batu penunjuk waktu di bagian lembah itu berjalan cepat. Waktu di dalam lembah berubah. Dan tetesan air jatuh setetes demi setetes dari langit-langit lembah yang kelam.
Tetesan air melebur semua jiwa pada lembah itu. Memurnikan hampir semua jiwa. Menghilangkan setiap warna kelam dan jahat dari jiwa-jiwa itu. Menuntun mereka menemukan perjalanan terkahir mereka. Dan membebaskan semua jiwa itu dari lembah kelam yang masih tertutup rapat oleh lilitan semak berduri yang mengitari seluruh pembatas lembah yang menjulang tinggi sampai ke langitnya.
Semua jiwa dalam lembah kelam bernama lembah abu-abu itu menghilang satu persatu setelah jiwa mereka dimurnikan oleh tetesan air yang membasahi semua bagian tempat itu. Setiap batu nisan disana lebur dan menghilang bersama jiwa yang sebelumnya bersemayam dibawahnya. Jam batu disudut lembah mulai berputar normal searah jarum jam. Desir angin semilir berputar didalam lembah.
__ADS_1
Perjalanan waktu di tempat itu berjalan semakin lambat dengan ketiadaan satu pun penghuni lembah yang telah menghilang dan menyatu bersama air, api, tanah, dan udara. Sekeliling tempat itu berubah menjadi genangan air yang menyerupai danau dengan warna air biru kehijauan. Menyisakan satu kehidupan kecil di dalam lembah. Tepat ditengah-tengah lembah yang kini dikelilingi air danau, berdiri kokoh sebuah pohon tua yang dulunya menjadi titik pusat lembah kelam bernama lembah abu-abu. Pohon tua yang semula hanya berdaun dengan warna senada yang mengikuti banyaknya kekuatan dari jiwa-jiwa yang mendominasi dilembah itu.
Kini pohon itu tumbuh dengan tunas dauh hijau dengan nuansa bunga berwarna merah muda pada beberapa bagian ujung dahannya. Tunas dauh itu bertumbuh, lalu menghijau. Dari tunas daun menjadi daun muda kemudian menjadi dauh tua berwarna hijau tua. Bagain tunas daun yang paling awal tumbuh menjadi berwarna sedikit kekuningan di bagian bawahnya. Lalu daun tua berwarna hijau tua. Daun berwarna hijau muda. Disusul dengan tumbuh tunas daun yang pada beberapa bagian dahannya tumbuh tunas bunga berwarna merah Cherry.
Sebagian dari tunas bunga yang tumbuh mekar menjadi bunga dengan 7 kelopak bunga berwarna merah muda. Putik bunganya berwarna kuning keemasan dan nyiur angin membawa beberapa helai daun dan bunga yang sudah tumbuh di awal berterbangan kemana-mana. Awalnya mengitari seisi lembah tanpa penghuni. Lalu sebuah pusaran angin menerbangkannya sampai ke langit. Membawa helai daun dan bunga yang berguguran menghilang dari sisi lembah kelam yang bernama lembah abu-abu itu.
Angin semilir berhembus pelan. Mengalir ke seluruh penjuru tempat dimana sosok Laras pernah menghabiskan waktunya. Dihalaman utama sekolahnya. Didalam kelas tempatnya menuntut ilmu. Dihalaman parkir belakang sekolah. Jalan pintas yang sering digunakan Laras sebagai akses masuknya. Jalanan utama menuju sekolahnya. Pertigaan tempat Laras dan Eren pertama kali bertemu. Lalu jalan turunan dimana Laras menangkap sosok Aksara untuk pertama kalinya sebagai sosoknya yang bukan manusia.
Lingkungan perumahan tempat Laras tinggal menjadi lingkungan yang paling asri. Beberapa tanaman merambat dan berbunga tumbuh di beberapa sudut lingkungan. Tanaman merambat dengan warna bunga putih, kuning, merah, ungu muda dan merah muda itu tumbuh dan mekar disaat yang bersamaan. Menjalar disepanjang jalan yang menghubungkannya ke bagian tembok rumah yang pernah ditempati Laras bersama kakek dan neneknya.
Halaman rumah itu tumbuh rumput yang padat dan langsung memanjang seperti halaman yang tidak terurus. Bagian bangunan dari halaman rumah itu ditumbuhi semak belukar berduri dan beberapa tanaman merambat lainnya. Lumut tumbuh subur didekat talang air yang berada di belakang bangunan utama rumah yang sudah tertutupi tanaman merambat.
Dari seluruh halaman rumah yang ada, hanya dibagian talang air itulah yang sampai sekarang menyisakan bunyi tetesan air yang tidak pernah kering. Tetesan air itu selalu jatuh dan mengaliri setiap bagian halaman rumah yang kini nampak seperti rumah tak terurus. Seakan-akan, rumah itu sudah sangat lama tidak berpenghuni. Dan masyarakat disekitar meyakini, bahwa rumah itu telah menjadi rumah tua yang ditinggalkan semua pemiliknya dalam kematian yang damai.
...***...
__ADS_1