
Laras baru saja menghentikan langkahnya secara mendadak begitu Eren berdiri dihadapannya dengan tiba-tiba. Raut wajah Eren nampak tidak bersahabat. Matanya menatap tajam, dan dengan satu tarikan tangan, Eren sudah membawa sosok Laras masuk ke dunia dimensi jalanan menuju lembah kelam bernama lembah abu-abu.
Laras terkesiap. Dia kaget dengan sikap tidak biasa Eren kemudian menatap balik pemuda yang kini menutupi wajah itu dengan tudung merah maroon nya.
"Apa kau tidak memikirkan ku sedikitpun!" suara parau itu terdengar sedikit tertahan.
Ada gejolak yang membuat sisi lain si pemuda bangkit, dan Laras hanya terdiam terpaku tidak mengerti akan sikap yang ditunjukan oleh Eren yang kini berusaha mendekatinya secara perlahan.
Laras mundur seiring langkah Eren yang semakin mendekat pada tubuhnya. Tangan tua keriput itu langsung melingkar pada bagian pinggang Laras yang tersandung sesuatu dibawahnya dan membuat gadis itu jatuh ke bagian belakangnya.
"Bisakah kau berhati-hati sedikit!" kini suara parau itu terdengar nampak kesal.
Laras menelisik. Perubahan nada suara dan sikap yang bertolak belakang membuat Laras semakin kebingungan dengan keadaan yang terjadi.
"Sebenarnya apa yang kau rasakan?" Laras bertanya dengan polosnya.
Eren berdiam kaku mendengar itu. Menyadari sikapnya tiba-tiba berlebihan akan sesuatu yang ternyata menganggu pikirannya. Hal itu adalah saat dimana Aksara dengan enteng menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.
"Lupakan!"
Pemilik suara parau itu menunduk sejenak, kemudian berpaling. Membawa sosok keduanya kembali ketempat yang sama. Tempat dimana mereka menghilang.
Eren yang sudah memalingkan tubuhnya, langsung berjalan meninggalkan Laras yang masih kebingungan dengan semua hal yang dilakukan pemuda itu.
Dia menatap punggung si pemuda. Membiarkan pemuda itu berjalan menjauhi dirinya dengan semua rasa yang mengganggunya akan sikap yang dilakukan Aksara didepan umum itu.
"Eren tunggu!"
Begitu Laras memulai langkah, dia melihat Rein menghentikan langkah Eren dengan wajah tersenyum manis yang membuat Laras merasa mengenali sikap Rein yang seperti itu. Senyum pertama Rein ketika Laras sadar dari koma 2 tahun yang lalu.
Laras menahan langkahnya. Detak jantungnya berpacu cepat. Ada banyak rasa bercampur menjadi satu mengingat senyum Rein dan semua ketulusan yang Rein lakukan selama ini kepada dirinya. Senyum itu menunjukan rasa tertarik Rein pada sosok yang dihadapannya. Dan sosok itu adalah...
"Eren! Boleh aku meminta waktu nya?" Rein tersenyum ramah dan berdiri dihadapan pemuda itu dengan gaya nya yang cukup elegan.
"Kau?"
Rein mengangguk dan tersenyum dengan lebih manis lagi. Dia sesekali memainkan rambut ikalnya di depan Eren.
"Ya! Kamu masih mengingatku?"
"Tentu! Teman Laras bukan?!" jawab Eren santai.
__ADS_1
Mendengar jawaban itu, jantung Rein berdetak kuat. Memberi rasa sakit yang tidak tertahankan dihatinya. Namun Rein masih menunjukan wajah ramahnya.
"Iya, aku Rein, temannya!"
Rein menarik tangan Laras yang menyusul dengan ragu-ragu dibelakang Eren. Dia memperhatikan perubahan ekspresi yang ditunjukan Rein begitu menarik tangannya melewati sosok si pemuda.
Pandangan Laras menatap penuh tekanan emosi yang belum bisa ia pahami bagaimana untuk mengendalikannya. Laras terdiam membeku disamping Rein yang tiba-tiba mengatakan kalau dirinya menyukai Eren sejak pertama kali bertemu dengan pemuda itu.
"Benarkah?" tanggap Eren tanpa sadar.
Eren tengah berfokus pada Laras yang berdiri kaku disebelah gadis bernama Rein itu. Dia menelisik setiap gelagat Laras yang sedang mencoba memikirkan sesuatu atau sedang berusaha memahami sesuatu yang terjadi.
"Jadi, " Rein langsung menyita semua perhatian Eren.
Pemuda itu merasakan sesuatu yang berbeda dari gadis yang kini tersenyum dengan manis dihadapannya. Senyum yang membuyarkan konsentrasi Eren ketika akan mencari tahu hal aneh pada sosok gadis itu. Sempat Eren berpindah dimensi berkali-kali dalam beberapa detik begitu coba menangkap keanehan yang ditunjukan gadis didepannya itu. Sampai Eren mengalihkan fokusnya pada Laras.
Berbeda dengan yang dialami Eren, Laras langsung merasakan sakit tak tertahankan pada seluruh bagian tubuhnya. Terutama bagian punggungnya. Seperti sesuatu tengah tercabik-cabik dari bagian belakang tubuhnya.
Laras terperosok dan berjongkok menahan rasa sakit yang muncul pada punggungnya. Dia merintih tanpa disadari oleh siapapun selama beberapa waktu.
Begitu Laras perlahan mampu mengatur rasa sakitnya, Aksara sudah berada disana untuk memakaikan Laras sweater yang tadi sempat dipakainya.
Laras yang masih berusaha menopang tubuhnya, kembali merasakan sakit yang sama secara mendadak, lalu perlahan mereda tetapi di detik kesekian, sakit itu langsung membuat ambruk tubuh Laras dengan tatapan mata nanar yang tak tertahankan.
"Ada apa?!" Aksara dan Eren langsung menahan tubuh Laras agar tidak terperosok jatuh.
Eren menahan tubuh gadis itu terlebih dahulu dan membawa Laras dalam dekapannya. Aksara langsung menarik pegangan tangannya lalu berpaling pada sosok Rein yang bersikap terlalu santai dengan hal yang terjadi dihadapannya.
Eren dapat merasakan sesuatu yang salah telah terjadi disini. Lalu dia mengalihkan kembali tatapannya pada sosok Rein. Rein yang tetap tersenyum dengan wajah datarnya melihat keadaan Laras yang sedang kacau.
"Siapa kau?!" tanya Eren dan Aksara bersamaan pada Rein yang tengah memelintir rambut ikalnya dengan semua keadaan yang ada.
"Kau?!"
Laras mencoba memfokuskan pandangannya pada sosok gadis disampingnya itu. Sesosok bayangan hitam pekat tanpa bentuk sejati menampakan dirinya di depan Laras. Sesosok yang mengusik ingatan Laras akan sebuah kejadian disebuah lembah tak berpenghuni yang selalu di lewati oleh jiwa-jiwa tanpa arah tujuan. Ingatan Laras langsung tersedot ke sebuah ingatan akan lembah lain.
Itu adalah sebuah lembah hijau dengan dikelilingi oleh banyak pepohonan. Jalanan dilembah itu berupa tumpukan tanah terapung yang melayang dan membentuk sebuah jalan untuk sampai pada ujung sisi lembah di seberangnya.
Di sisi seberang lembah itu sekilas Laras melihat seperti bayangan tiga jalanan lain. Disalah satu dari tiga pintu ada sesosok hitam yang bersembunyi dan sesekali mencuri pandang ke arah Laras melihat. Laras mengerutkan dahinya.
"Siapa?"
__ADS_1
Laras memperhatikan dengan seksama. Mencoba melihat dengan jelas sesosok hitam tanpa wujud itu.
Tapi kembali ingatan Laras tersedot dan menyadari pegangan Eren semakin erat pada bahunya. Laras menoleh kearah Eren. Dia kembali ke dunianya saat ini.
Aksara dan Eren yang tidak mampu menjangkau pandangan Laras, hanya bisa bersiaga dengan hal aneh yang terus mengusik mereka. Bahkan ketika mereka tetap berusaha mencari tahu asal mula hawa aneh yang menyerang, baik Eren maupun Aksara hanya bisa berdiam diri.
"Lepaskan aku..." ucap Laras pada Eren.
Laras langsung menarik dirinya dari dekapan Eren dan melangkah mendekati Rein yang dikendalikan oleh bayang hitam tanpa wujud itu.
Langkah itu sempat ditahan oleh Aksara, tapi Eren menahan tindakan Aksara itu. Eren mulai memperhatikan setiap detail tindakan Rein dan berharap Aksara dapat membantunya ketika sosok Rein melakukan hal diluar perkiraan mereka.
"Kembalikan Rein!"
"Siapa yang kau maksudkan?" suara melengking seperti suara penyihir itu bertanya santai.
"Bukan dia yang kau mau!! Tapi aku!"
Laras mengulurkan tangannya kehadapan Rein yang dikendalikan oleh bayang hitam tanpa wujud itu. Rasa sakit itu kembali menyerang Laras ketika ujung tangannya menyentuh bagian bayang hitam tanpa bentuk itu. Laras sempat terhuyun tetapi kembali menguatkan diri dan tetap berdiri kokoh dihadapan tubuh Rein. Dan dua pemuda di belakang Laras hanya terus bersiaga.
"Bukan urusan kita terlibat pada masalah ini!" ujar Eren ketika menyadari kalau sosok didepan mereka bukanlah sosok yang bisa mereka hadapi.
"Apa maksudmu?"
"Pertemuan mereka memiliki keterikatan!"
Eren mengangkat sedikit dagunya. Mengarahkan pandangan Aksara pada sedikit kepulan asap hitam yang menghubungkan tubuh Laras pada sosok bayang hitam tanpa wujud yang mengendalikan tubuh Rein saat ini.
"Hanya dia yang terhubung yang bisa melihat alasan dibalik keanehan yang ada sekarang!"
Eren mengibaskan tangannya. Merubah sosoknya menjadi sosok sang penjaga berjubah maroon. Menidurkan seluruh penghuni kampus dan memasukan mereka ke dalam mimpi yang tidak berarti.
Sementara Aksara yang sudah menjadi sosok sejatinya, sanga pengantar, mulau mengaburkan sosok mereka berempat dari dunia mimpi yang diciptakan Eren untuk tetap menjada berjalannya takdir lain yang seharusnya terjadi.
"Ini cukup!" tegur Eren menepuk bahu Laras begitu sosok Rein yang dikendalikan sosok bayang hitam tanpa wujud itu- pergi dari hadapan mereka tanpa mengatakan hal apapun.
Laras menarik uluran tangannya. Menahan rasa panas yang sedari tadi menjalar pada telapak tangannya. Segurat cahaya merah keemasan bersinar pada telapak tangan itu tanpa disadari oleh ketiga sosok yang kini saling melempar pandangan pada dimensi yang tercipta.
"Tempat apa ini?!" Eren dan Aksara memandang dengan heran. Dan Laras hanya bisa terdiam dengan pemandangan yang tersaji dihadapannya.
...***...
__ADS_1