Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Kisah: Pintu Tergelap


__ADS_3

Eren dan Aksara saling pandang. Meski berhasil mengurung sosok mahkluk penjaga bermata seribu itu, namun dia yang membuka portal untuk menyegel mahkluk tersebut juga ikut tersedot ke dalamnya. Hal itu menyisakan rasa sesal tersendiri bagi keduanya.


"Apa yang bisa kita lakukan sekarang?!"


Kedua pemuda kembali mengalihkan pandangannya pada salah satu pintu batu dihadapan mereka. Pintu batu tergelap yang kini tertutup rapat setelah mahkluk bermata seribu tersedot kedalamnya.


Pintu batu pada lembah manapun, biasanya sebuah pintu lembah hanya akan terbuka sekali untuk selamanya dan sebaliknya. Jika sudah tertutup itu juga akan terjadiok selamanya atau bisa saja pintu itu tersegel dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Tergantung tingkatan sang penjaga lembah dalam memahami keadaan lembah yang dijaganya.


"Apa yang biasanya terjadi dibalik pintu lembah yang sudah tertutup rapat seperti itu?!?!"


"Dinetralkan atau dimusnahkan!" jawab Eren.


Ada jeda lama sebelum ia kembali melanjutkan kalimatnya.


"Apapun yang berada dibalik pintu batu yang tertutup rapat, akan dinetralkan. Dibersihkan secara bertahap satu demi satu."


Kedua pemuda kembali terdiam. Hening memenuhi sisi lembah itu dengan cukup lama. Keduanya terpaku menatap pintu batu yang mulai terdengar suara jeritan pilu dan teriakan-teriakan penuh kesakitan.


Eren berusaha mendekati pintu batu yang tertutup tersebut. Namun tubuhnya terpental karena suara kebisingan yang terus menerus mengeluarkan gemanya didepan pintu batu itu.


"Apa yang bisa kau lakukan!!"


"Dia telah menyelamatkan kita berkali-kali."


"Aku tahu!"


Aksara menuding kearah pintu batu yang kembali lagi mengeluarkan gelombang yang saling berkejar-kejaran antara satu gelombang dengan gelombang lainnya. Hempasan angin dari gelombang itu sangatlah kuat dan menghancurkan apapun yang jatuh atau lewat disekitarnya.


Seperti dahan yang jatuh dari pepohonan dibalik pintu batu tersebut. Begitu terkena bagian luar dari gelombang angin itu, dahan tersebut langsung hancur dan menjadi kepingan-kepingan kecil yang melayang dihadapan mata Aksara dan Eren.

__ADS_1


"Sial!!"


Gelombang angin yang keluar dengan kencang dari balik pintu batu berbarengan dengan suara teriakan pilu dari balik lembah pada pintu batu. Hal itu membuat Eren merasa lebih kacau lagi.


Tidak ingin lama-lama berdiam diri, sosok lain Eren sebagai penjaga tertinggi dengan lingkaran 7 bola api kebiruan di bagian belakang atas kepalanya yang tertutupi tudung abunya- langsung mengambil alih tubuh itu.


Sosok itu melesat melawan hempasan angin kuat yang membuatnya terpental berkali-kali ke belakangnya.


"Sejak kapan kau jadi sembrono seperti ini!!" Aksara menyamai lesatan Sosok lain Eren.


"Bukan soal sembrono!" jawabnya dengan suara paraunya. "Bukan hanya semua jiwa yang ada didalam yang akan musnah! Tempat ini pun akan menjadi abu!"


Aksara menghentikan lesatannya dengan ketidaktahuan yang membuatnya cukup kaget ketika mendengar jawaban lain sosok lain Eren itu.


//


Sementara di balik pintu batu yang tertutup rapat.


Teriakan dan jerit ketakutan langsung menggema dari semua jiwa bermata kelam yang kini tersadarkan dari emosi kegelapan yang menguasai jiwanya selama ini. Ada banyak jiwa yang beterbangan tidak jelas sehingga, terlepas dari jangkauan perlindungan dari sosok bayang hitam bermata biru tersebut.


Satu dua kali untuk melindungi jiwa-jiwa yang melayang tidak jelas agar tidak terkena lesatan cahaya yang memusnahkan, sosok bayang hitam bermata biru melepaskan cambuk kilatan petir ungu dan melemparkan serangan itu kearah pintu batu dibelakangnya.


Sosok bayang hitam itu sekali lagi melihat kearah belakangnya. Melemparkan lesatan cahaya yang memusnahkan hal apapun yang dilaluinya, sosok bayang hitam bermata biru itu mengharapkan tindakannya mampu menyelamatkan semua jiwa bermata kelam yang kini telah kembali menjadi jiwa sejatinya.


Satu lesatan cahaya yang begitu besar, sosok bayang hitam bermata biru itu terpental membentur pintu batu. Dalam benturan yang di alaminya, sosok itu melihat masih banyak jiwa bermata kelam yang menggeliat keluar dari dataran lembah dibawah kakinya.


Sosok bermata kelam yang kembali mengambil wujud penjaga bermata seribu. Dengan tatapan mata yang cukup ganas, sosok penjaga bermata seribu itu berteriak dengan kencang. Membuat seluruh lembah bergetar kuat. Mengguncang sisi pintu batu dan membuat sosok bayang hitam bermata biru kehilangan fokusnya dalam menghalau lesatan cahaya yang memusnahkan bagian dalam lembah tersebut.


Tubuh sosok bayang hitam bermata biru terkena lesatan cahaya yang menghilangkan satu lengannya. Membuatnya kembali kebentuknya semula yang berupa kepulan asap hitam kelam tanpa wujud. Hanya mata dengan cahaya kebiruan itu yang membedakan sosoknya kini dengan semua jiwa bermata kelam dibawahnya.

__ADS_1


Satu lesatan cahaya yang begitu besar muncul dari seberang tempat sosok bayang hitam bermata biru tanpa wujud itu - melayang. Lesatan yang menyilaukan bagi setiap jiwa yang berada dilembah yang telah dikuasai kegelapan selama puluhan ribu tahun. Begitupun untuk sosoknya yang tanpa wujud. Cahaya yang dikenalinya sebagai cahaya yang akan memusnahkan seluruh penghuni lembah yang dijaganya dengan susah payah.


Sosok itu membiarkan cahaya itu melesat melewatinya. Menebarkan butiran cahaya yang jatuh bagaikan hujan deras bagi jiwa-jiwa bermata kelam dibawahnya.


Untuk beberapa saat, sosok itu merasa telah mencapai batas akhirnya dalam melakukan perlindungan pada apa yang telah di jaga olehnya. Namun ternyata, cahaya yang jatuh seperti butiran hujan deras itu membuatnya menemukan apa yang dicarinya selama beberapa waktu setelah terkurung pada lembah buangan yang kini ia pijak.


Melihat tubuh di dalam batu kristal yang berada jauh dibawah kakinya itu, sosok bayang hitam bermata biru tanpa wujud itu melayang ke bawahnya dengan cepat. Melesat dengan cepat sebelum cahaya itu menenggelamkan apa yang menjadi bagian dari dirinya itu.


Tangan itu meraih. Hanya tinggal sedikit lagi, sosok bayang hitam bermata biru tanpa wujud itu meraih sesuatu yang tertidur lelap didalam batu kristal yang kini terus tertelan oleh jumlah rintik cahaya yang melebur setiap bagian sisi lembah.


"Harusnya aku bisa!" suara lemah namun menggema mirip suara hantu itu, mendengung ditelinga sosok bayang hitam bermata biru tanpa wujud tersebut.


Usaha yang terus dilakukannya ditengah meleburnya setiap jiwa pada sisi lembah itu, tidak menyurutkan tekadnya untuk bisa mencapai tubuh pada batu kristal yang kini mulai tertutupi kembali oleh beberapa jiwa bermata kelam yang lolos dari butiran cahaya yang melebur setiap hal dari lembah itu kecuali sosok bayang hitam bermata biru tanpa wujud itu.


Sosok bayang hitam bermata biru itu menyentuh tubuh didalam batu kristal tersebut, menarik sisa jiwa bermata kelam yang lain dan disaat yang bersamaan sosok bayang hitam bermata biru juga menarik sosok penjaga bermata seribu yang sebagian tubuhnya sudah terkikis oleh lesatan cahaya susulan yang langsung memusnahkan apapun yang dilewatinya.


Suara teriakan menggelegar bersamaan dengan benturan lesatan cahaya itu pada pembatas lembah. Peti kristal dibawahnya tertutup tanpa celah. Menyelamatkan sebagian jiwa yang kini berada dalam perlindungan peti batu kristal tersebut.


Tidak hanya dibagian dalam pintu batu, namun dari luar pun teriakan itu membuat sosok lain Eren dan Aksara terpental keluar dari sisi lembah dengan kasar. Keduanya terpental membentur dahan pohon dan gerbang tua pada lembah yang berada entah sebelum atau setelah lembah buangan tadi.


Tubuh Aksara menghancurkan hampir belasan batang pohon yang berdiri disepanjang lembah. Membuat burung-burung dan binatang sekitaran lembah itu berhamburan keluar dari daerah tempat tinggalnya.


Begitu juga Eren. Tubuh itu terpental dan terguling beberapa kali sebelum akhirnya, tubuh itu terhenti setelah membentur dahan pohon yang membentuk pagar yang menjulang tinggi sampai ke langitnya.


Eren berpangku satu tangan pada dataran lembah itu. Dia mengatur keseimbangan ingatan dalam dirinya. Melihat kembali ke bagian sisi lembah, lalu bangkit dengan menjadi sosok penjaga tertinggi dengan lingkaran bola api biru pada bagian atas belakang kepalanya yang tertutupi tudung dengan sebagian besar wajahnya bertopeng tengkorak manusia.


Aksara mendarat tepat disamping sosok lain Eren yang sebagai penjaga tertinggi. Memandang ke sekeliling bagian lembah dengan perasaan yang tidak menentu.


"Lembah manakah lagi ini???"

__ADS_1


...***...


__ADS_2