
Sosok itu berdiri menghadap bagian pohon dari sisi luar lembah abu-abu. Menatap setiap dahan pohon yang hanya menyisakan beberapa helai daun pada bagian rantingnya.
"Sejak kapan daun pada pohon ini berguguran?!"
Satu jiwa berwarna putih menggeliat keluar dari dalam tanah dibawahnya. Itu adalah sebuah batu nisan yang paling tua disisi lembah itu.
"Sejak penjaga terlarang memasuki sisi lembah ini..."
"Lembah ini kembali hidup dalam kematian." jawab jiwa yang lainnya. Lalu jiwa-jiwa lain pun bangkit. Semua yang bangkit hanyalah jiwa-jiwa berwarna putih yang melayang-layang diatas batu nisan dibawahnya.
"Kau kembali untuk melihat lembah ini?!"
"Kau tahu penjaga lembah telah kembali..."
"Lalu bagaimana dengan penjaga lembah ini?! Maksudku, bagaimana dengan sosok dari dia yang terlarang?!" suara parau itu masih terdengar datar. Hanya bertanya tanpa menunjukan emosi apapun seperti terakhir kali jiwa-jiwa putih itu melihat sosok lain sang penjaga ini pada lembah abu-abu.
"Sosoknya telah terbangun kembali membawa semua ingatannya."
"Kemanakah sosoknya itu kini?! Kenapa lembah kembali terbuka seperti ini?!"
Bayangan sisi lembah abu-abu melintas dibenak semua jiwa yang ada disana. Bagaimana kondisi lembah yang dulu tidak jauh berbeda dari apa yang ditampakkan lembah itu saat ini.
"Dia telah pergi dan menjalani hukumannya sebagai penjaga lembah."
"Dia telah memilih jalannya..."
"Kemana?!"
Matanya mendadak menatap nanar dibalik sisi jubah merah maroon yang menutupinya. Topeng tengkorak itu kembali bergerak menutupi beberapa bagian lain dari wajahnya. Menampakan dua bola mata dengan bulatan hitam yang mengecil pada bagian tengahnya.
"Menjelma menjadi manusia." suara-suara itu nampak begitu memilukan. Suara yang terus diterbangkan angin dan terkadang hanya terdengar suara bisikan yang tidak jelas.
__ADS_1
Suara-suara itu adalah milik jiwa lain yang berputar searah jarum jam. Jiwa-jiwa berwarna abu-abu itu muncul secara tiba-tiba. Membuat para jiwa putih langsung melayang naik ke langitnya satu per satu.
Sebuah pemandangan yang tidak biasa terjadi kembali pada sisi lembah. Dimana semua jiwa putih yang tidak terhitung jumlahnya menggeliat keluar dari bawah batu nisan yang ada lalu melayang naik sampai menghilang diujung cahaya yang menembus ke dalam sisi lembah. Hal itu menjadi pengalaman tersendiri bagi sosok penjaga berjubah merah maroon itu. Dia memperhatikan setiap jiwa putih yang melayang lalu menghilang dari sisi lembah. Menyadari langkah yang telah diambil oleh sang penjaga lembah abu-abu, sosok itu mundur dan keluar sembari menyegel pintu lembah itu rapat-rapat.
"Cuma ini yang bisa aku lakukan saat ini!" Ujar sosok Laras bergaun hitam selutut dengan rambut panjang berponinya. Dia berdiri tepat ditengah-tengah gasebo berpilar putih itu. "Setelah beberapa waktu, aku akan kembali dan menyelesaikan semuanya!"
Dengan memegang bunga es cahaya biru yang ia cari pada sisi terdalam dan terdingin dari bagian lembah, ia melepas segel pertahanannya untuk mengembalikan beberapa jiwa lain yang terkurung abadi pada sisi lembah. Melepaskan jiwa-jiwa itu dari keterikatannya pada lembah dengan mengorbankan wujudnya sebagai sang penjaga.
Butiran cahaya berwarna kemerahan berkedip-kedip pada seluruh isi lembah. Menandakan lembah telah tersegel oleh sosok penjaga lainnya yang telah terpilih. Laras tersenyum sembari menatap bunga es cahaya biru ditangannya.
"Aku pasti merindukanmu!" gumamnya mengingat tentang dia yang menjadi penjaga lembah terpilih lainnya. Bayangan Eren terus melintas pada benaknya. Dari awal pertemuan mereka sampai dengan saat terakhir dia melihat Eren dengan posisi telah bersama gadis lain. Laras tersenyum simpul. Sebelum seluruh tubuhnya berubah menjadi butiran cahaya merah yang menguap ke udara lalu menghilang dari sisi lembah dibawahnya.
"Semoga kita bertemu kembali pada takdir lainnya!"
Kini sosok itu berdiri diluar lembah yang tersegel. Semak belukar berkuncup merah dengan cahaya berkedip seperti cahaya pada kunang-kunang menghiasi pagar lembah yang menjulang tinggi sampai ke langitnya.
"Aku pasti akan menunggumu!"
"Kau menyegelnya?!"
"Lalu bagaimana dengan Laras?"
"Inilah pilihan dari dia yang terlarang!"
"Apa maksudmu dengan ini adalah pilihannya?!"
"Ada hukuman lain yang mengikatnya pada sisi lembah ini!"
Eren mengingat kembali beberapa kalimat yang ditunjukan oleh jiwa-jiwa putih itu pada dirinya. Salah satunya adalah jiwa tertua yang tetap tinggal dibalik satu-satunya pohon tua pada dataran lembah abu-abu bagian luar. Selama jiwa-jiwa putih melayang satu persatu dan menghilang pada bagian tertinggi langit diatasnya, sosok jiwa putih dari balik pohon itu menyampaikan beberapa hal yang memang harus Eren ketahui.
"Kami telah menjalani hukuman karena kelalaian penjaga lembah ini..."
__ADS_1
"Meski tidak sepenuhnya menjadi kelalaiannya, tapi sebagai sang penjaga lembah, sudah seharusnya dia memperbaiki semua yang sudah terjadi dibawah lembah yang dijaga oleh nya..."
"Ketika masuk ke lembah ini, kami masih manusia yang hidup dalam keputusasaan. Ada yang entah dengan sengaja atau tidak telah membuka pintu lembah untuk kami..."
"Dan menyegel baik tubuh dan jiwa kami secara abadi pada sisi lembah abu-abu!"
"Itulah yang membuatnya terlahir sebagai sosok terlarang pada dunia manusia."
"Yang menjadikannya paralel dunia untuk takdir dan jiwa kami yang telah tersegel pada sisi lembah."
"Membutuhkan waktu seribu tahun dan satu kehidupan manusia untuk menunggu bunga es cahaya biru untuk tumbuh!"
"Dia kini dia telah memetiknya. Menggunakan bunga es itu untuk memperbaiki bagian lembah dengan mengorbankan jiwanya."
"Kini lembah harus tersegel untuk memurnikan semuanya. Untuk mengembalikan semua takdir manusia yang tertelan oleh lembah ini..."
"Dan untuk membuatnya kembali terbangun pada sisi lembah yang sama."
Setelah itu, kilatan cahaya menyilaukan turun menyorot pada pohon tua itu dan membawa pergi cahaya lainnya bersamaan dengan menghilangnya sosok jiwa putih dihadapan Eren itu.
"Sebelumnya lembah ini tersegel dengan sendirinya. Lalu sekarang kau menyegelnya sendiri. Takdir penjaga lembah disini benar-benar memusingkan yah?!" Zara mendengus kesal. "Padahal aku baru saja kembali dari masa hukumanku untuk bisa bertemu dengan gadis terlarang itu!!"
"Kau masih bisa menemui sosoknya didunia manusia. Benar begitu kan, Eren?!" Aksara menekankan bagian kata terakhirnya. Hal itu membuat Eren menyadari sesuatu.
"Siapa dia sebenarnya?" gumam Eren sembari menatap pada Aksara dengan tatapan menelisik. Aksara yang tidak tahu harus menjawab apa, hanya bisa mengangkat bahunya sedikit lalu berpaling kepada Zara.
"Apa ada sesuatu antara kalian?? Kenapa saling menatap seperti itu?!" Zara yang kebingungan dibuat semakin bingung oleh ulah ke dua pemuda yang kini menatapnya dengan penuh rasa kepuasan. Menemukan sosok lain yang bisa mengungkapkan kejanggalan yang dialami oleh keduanya pada sosok Laras berambut pendek.
Sosok yang kini tiba-tiba bersin diatas sofa ruang tamunya karena telah dipikirkan dengan begitu sangat oleh kedua pemuda yang sama-sama memiliki perasaan hang berbeda pada sosok yang mereka kenali sebagai Laras.
...***...
__ADS_1