Abu-Abu

Abu-Abu
Kutukan Cincin Batu Senja : Rindu.


__ADS_3

Melihat tubuh Laras berjalan meninggalkannya lagi, lagi, dan lagi, baik itu ditengah kegelapan, hutan rimba, tanah tandus, jurang kehidupan, ataupun di tengah keramaian, sosok itu hanya bisa tetap terpaku dari tempatnya berdiri. Membiarkan keramaian itu berubah menjadi kegelapan yang paling gelap, sampai bayang gadis itupun sudah tidak mampu ia lihat lagi. Tapi suara gemerincing lonceng itu membuatnya berlari cepat mencari arah dari si pemilik suara itu. Suara gemerincing yang terdengar begitu nyaring di telinganya. Sosok itu kini sudah masuk ke dalam riak air yang dangkal. Melangkah perlahan sampai langkah itu membawanya terjatuh ke dalam lembah yang begitu kelamnya.


Dia menikmati waktu ketika ia mulai jatuh terjerumus. Seakan menyeberangi dua dimensi, tubuh itu kini melayang di antara terang dan gelap.


"Titik ini lagi!" gumamnya. Tubuh itu tetap berada di antara kedua dimensi itu. Menandakan Laras masih memiliki pilihan itu di dalam takdirnya. Pilihan yang membuatnya harus terus terpisah dari sosok gadis itu. Seberapa jauh pun dia berusaha mendekatkan kembali dirinya pada sosok Laras, gadis itu tetap kekeh pada pilihan yang telah di buatnya. Pilihan sialan yang membuat dirinya harus berusaha setidaknya ribuan kali untuk tetap bisa mengetahui keberadaan dan keadaan Laras sampai dengan detik ini.


"Aku telah melewati semua cobaan itu untukmu! Tidak bisakah kau memaafkan ku?!"


Tangan sosok itu terbuka, merubah sosoknya menjadi bayangan berjiwa gelap dengan jubahnya yang menyatu dengan dimensi dibawahnya. Membawa sosok itu berkali-kali mengulurkan tangannya ke udara yang di penuhi dengan kehampaan.


"Kenapa harus pilihan itu!! Aaaaaaaaaaaa!!!" teriaknya yang menggema di kedua dimensi. Membuat pergolakan yang mengguncang sebuah lembah kelam yang bernama lembah abu-abu. Lembah yang sudah hampir 1000 tahun tidak muncul pada gelombang alam semesta. Lembah itu seakan bergejolak dan menimbulkan percikan kecil pada kedua garis dimensi. Membuat sebuah bayangan muncul dengan tidak kentara. Bayangan dari sebuah vas kecil yang berisi ribuan cahaya ingatan hidup seorang Laras.


"Aku.... merindukanmu..."


Tepat pada saat Eren menutup matanya untuk kembali terjaga sebagai sosok hakim tertinggi lembah kematian, di dalam kamarnya, Laras terjaga dari tidurnya dimalam itu. Gadis itu mengingat sosok bayangan kegelapan yang selalu mengintainya. Sosok yang memiliki kebencian yang sangat besar kepada dirinya. Sosok yang entah kenapa membuat Laras merasa sangat bersalah dengan kesedihan yang mendalam.


Untuk sesaat Laras terdiam, lalu tersenyum kecil. Dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, lalu seberkas cahaya berwarna keunguan menyeruak pada pergelangan tangan Laras. Membentuk sebuah benang takdir yang harusnya telah terpotong menjadi dua bagian.


“Benang tanda pengikat takdir yang telah ku putus secara sepihak… tapi kepada siapa?” gumam Laras. “Apakah sosok itu?”


Laras mengingat sebuah bayang punggung dengan sayap hitamnya yang terkibaskan dengan begitu megahnya di hadapan Laras yang saat itu berstatus sebagai penjaga lembah larangan/ lembah kutukan. Lembah yang tidak mengijinkan penjaganya memiliki perasaan terhadap hal apapun di dunia. Lembah larangan merupakan lembah hukuman dan juga sebagai sebuah lembah anugerah bagi mereka yang telah memilih melepas semua ikatan yang ada di dunia.


Namun takdir tetaplah takdir. Setiap mahkluk memiliki takdir hidup mereka di alam semesta dan setiap  takdir yang di pilih menentukan takdir seperti apa yang akan mereka jalani berikutnya.


“Lalu pilihan seperti apa yang aku ambil sampai memiliki benang ungu ini?”


Dan sekali lagi, benang itu berkilau ungu keemasan. Memercikan bayang kegelapan yang beradu dengan warna api kemerahan.


“Kau bergolak lagi??!!”


Diruang dimensi yang berbeda, sosok Eren sebagai sang hakim tertinggi tengah mengibaskan sayapnya dan siap menembakan jutaan kilatan cahaya berwarna merah kehitaman pada satu pintu batu dihadapannya. Satu pintu batu yang hanya sosoknya saja yang mengetahui letaknya. Pintu batu yang menjadi satu-satunya kunci akan ingatan yang dilupakan oleh Laras. Dimana setelah sebuah ciuman yang dilakukan Laras didasar danau pelangi waktu itu di saat dirinya berada dalam keadaan setengah sadar, sosok Laras langsung menjadi dingin dan menghilang begitu saja dari hadapannya di depan pintu batu yang tersegel setelah kejadian itu. Eren mengepakkan sayapnya sekali, dan ribuan kilatan cahaya berwarna kemerahan menghujam pintu batu itu kesekian kalinya.


“Hal seperti apa yang kau sembunyikan rapat-rapat di balik pintu sialan ini??!!”  serangan yang kesekian kalinya. Lebih dahsyat dan lebih dari jutaan kilatan cahaya kemerahan yang tersebar menghujam setiap inci bagiannya, namun pintu batu itu tidak mengalami kerusakan sedikitpun.


//


“Lupakan apa yang sudah berlalu…dan mulailah setiap pilihan takdir yang sedang berjalan…” jawab Laras atas kilatan hitam yang terus memercik dari benang takdir ungu yang terus mengusik malam harinya. “Aku terjaga karena mu… hentikanlah.”

__ADS_1


 Dan serangan terakhir dari sosok Eren dengan mengerahkan semua sisa kekuatan yang dia miliki.


“Aku bertaruh pada serangan ini!!”


Kilatan cahaya menyembur pada seluruh bagian dimensi pintu batu itu. Mendengungkan suara yang memekakkan telinga dan kilatan cahaya yang menyilaukan pandangan mata. Pintu batu itu bergetar hebat, namun sosok Eren sebagai sang Hakim tertinggi terpelanting dan jatuh melayang tidak sadarkan diri.


 Begitu membuka matanya, sepasang mata lain menatap sosok Eren dengan bergembira.


“Akhirnya kamu sadar.” Ujar sosok itu ceria. “Aku kira terjadi sesuatu padamu…”


“Aku?” ujar Eren. “Ada apa denganku?”


“Aku menemukanmu tidak sadarkan diri di tepi sungai, jadi kami membawamu kemari.”


“Benarkah?”


“Hmm….” Jawab sosok lain yang datang dengan membawa sebaskom air dan sebuah handuk kecil basah. Sosok yang sangat amat familiar dalam ingatan Eren.


“La…ras…” Eren langsung mengenali sosok yang baru datang dengan sebaskom air itu sebagai Laras.


"Laras?"


“Apa dia juga hanyut di sungai bersamamu?” tanya sosok yang membawa sebaskom air yang akhirnya ia letakkan diatas meja disamping tempat duduk itu.


Mendengar pertanyaan itu, Eren menggeleng. Namun matanya tidak melepaskan sosok si pembawa baskom sama sekali. Sosok berambut hitam panjang tanpa poni. Bermata bulat dengan wajah yang tidak jauh berbeda dari sosok Laras yang ia kenal. Eren terdiam cukup lama sembari memperhatikan sosok gadis yang mirip dengan Laras itu dengan seksama.


“Rui.” Ujar sosok yang satunya mengulurkan tangan tanda memperkenalkan dirinya pada Eren. “Dan dia…”


“Aku tidak mempunyai nama.” Jawab sosok pembawa baskom. “Tapi warga sekitar suka memanggilku dengan panggilan Amarilys.”


Eren mengangguk. Tapi tatapannya tetap tidak lepas dari sosok yang baru saja memberinya jawaban tersebut.


“Aku akan menyiapkan makanan. Kalau kau sudah merasa lebih baik, datanglah ke ruang makan yang ada didepan.”


Eren mengangguk kembali.


“Hmm….Kau bisa berganti pakaian agar merasa lebih baik.” Rui menatap Eren dengan senang. “Aku bantu dia masak dulu yah.”

__ADS_1


Berlari kecil, Rui menyusul langkah gadis yang menyebut dirinya Amarilys itu.


Tidak butuh beberapa lama, Eren sudah berkumpul bersama Rui dan Amarilys dengan duduk di meja makan yang berada di halaman depan. Dengan beberapa hidangan sederhana, mereka menikmati makan malam mereka dengan suka cita. Tidak ada banyak percakapan, hanya saja Eren tidak melepaskan tatapannya sedikitpun dari Amarilys. Setiap detail dari gadis itu tidak ada bedanya dengan Laras. Bahkan sebuah gelang dengan lonceng perak kecil dipergelangan tangannya, sama percis dengan ikat rambut yang sering Laras gunakan.


“Hei.” sapa Eren menyusul langkah Amarilys dengan membawa mangkuk piring makanannya. “Dimana aku harus mencuci ini.”


“Ikut aku.”


Setelah mencuci mangkuk piringnya, Eren tidak langsung meninggalkan Amarilys karena saking penasarannya.


“Ini sebenarnya dimana?”


“Sebuah desa kecil di pinggiran lembah lily.” Jawab gadis itu. “Kamu pasti dari jauh, pakaianmu saat hanyut siang tadi…” Amarilys memperhatikan lagi bagaimana Eren tengah menggunakan pakaian yang sama dengan warga sekitar.


Menyadari dirinya menggunakan pakaian yang berbeda, Eren tersenyum kecil.


“Kelihatannya cocok denganku.”


Amarilys mengangguk setuju.


“Siapa namamu?” tanya gadis itu. Tatapan matanya lembut namun terlihat begitu tegas. “Kau belum menyebutkannya tadi.”


Mengusap tangannya yang basah pada bagian bawah atasan yang di gunakan, Eren menjabat tangan Amarilys.


“Eren.”


“Amarilys.”


“Itu bukan namamu bukan?”


“Aku sudah terbiasa mendengarnya, jadi tidak apa-apa.”


“Maaf kalau kurang sopan.” ujar Eren. "Tapi, bolehkah aku memanggilmu dengan sebuah nama yang ku suka?”


Gadis itu mengangguk.


“Kalau Laras, bagaimana?”

__ADS_1


"Laras?"


...***...


__ADS_2