
Pagi itu Laras langsung menunggu Eren diparkiran sekolah. Dengan duduk dipelataran parkiran sekolah, Laras terus saja memperhatikan setiap mobil yang memasuki halaman parkiran itu. Sudah mobil ke tujuh, Eren belum juga menampakan diri bersama mobilnya.
“ Apa hari ini dia juga tidak datang! ” gumam Laras cukup frustasi. Beberapa kali Laras nampak menepuk-tepuk buku tua bersampul hitam yang tumben-tumbennya ia keluarkan dari dalam tasnya. Sambil menunggu, Laras membuka beberapa halaman buku itu. Tidak semua halaman bisa ia buka. Dan beberapa sisanya hanya berisi tulisan-tulisan yang masih sulit untuk ia baca karena tulisan itu tidak begitu jelas dan nampak kabur.
Dari kejauhan, Aksara memperhatikan sikap tidak biasa yang Laras tunjukan. Walaupun setiap harinya apapun yang berkaitan dengan Laras memang selalu aneh baginya. Melihat Laras mengeluarkan dan membalikan beberapa halaman buku tua bersampul hitam yang menurut Aksara itu adalah buku milik Laras, membuatnya berpikir ulang dengan takdir sang gadis yang bahkan sosoknya begitu ambigu bagi kehidupan. Tidak ada catatan perjalanan hidup milik Laras selama 15 tahun terakhir. Yang ada hanya sebuah catatan yang menunjukan perjalanan dari jiwa yang terlarang. Itu adalah sosok jiwa yang tidak pernah hidup ataupun terlahir kedunia tapi juga tidak pernah mengalami kematian.
“ Siapakah sosok mu itu? ” gumam Aksara yang kembali larut dalam pengamatannya akan Sosok Laras yang kini tiba-tiba saja berdiri dari duduknya karena bosan menunggu.
“ Bodoh amat! Siapa yang peduli sosok itu dia atau bukan! Toh aku belum mati hari ini! ” gumamnya dengan nada yang cukup jengkel.
“ Harusnya kau memang tidak pernah ada didunia ini! ” sosok lain Eren kembali muncul secara tiba-tiba disebelah Laras. Membuat Laras tiba-tiba bergidik aneh.
Hawa dingin langsung mengitari Laras seketika. Gesekan ranting dan dedaunan dibelakang tempat Laras berdiri kini membawa hawa yang sedikit bisa Laras kenali. Ini bukan kali pertamanya tapi Laras benar-benar baru saja menyadari semuanya. Hari dimana ia hampir menabrak mobil Eren dan melihat Aksara untuk pertama kalinya. Rasa itu sama. Sama-sama mengundang keingintahuan Laras akan kedua sosok laki-laki itu. Eren dan Aksara.
“ Bagaimana caranya membawamu bersamaku? ”
__ADS_1
“ Aku mendengar mu… ” ucap Laras menegakkan kepalanya.
Pandangannya lurus ke depan. Dimana sosok Aksara kini tengah menatap sambil mengernyitkan dahi melihat sosok lain Eren yang berdiri disamping Laras. Sosok yang begitu tinggi dan kelam. Berjubah merah maroon dengan tudung yang menutupi bagian wajahnya. Kedua tangan putih tua dan keriput itu nampak kosong tanpa membawa senjatanya. Tapi sayap berupa kepulan awan hitam itu menegaskan siapa sosok yang kini tengah melihat gadis-yang-sedang-berada-dibawah-pengawasannya-itu.
“ Apa yang dilakukannya disini? ” Aksara bermaksud menghampiri Laras ditengah rasapenasarannya saat melihat tangan tua keriput itu berusaha meraih tubuh Laras dengan sedikit lambat.
“ Bukankah itu sang penjaga? ” sosok lain langsung menghentikan langkah Aksara. Dia adalah sosok perempuan berambut ikal panjang. Rambut itu kini terikat kebelakang dengan sembarang tapi tetap tidak mengurangi kecantikan dibalik wajah juteknya. “ Kenapa sang penjaga tanpa senjata sampai bisa kesini? ”
“ Apa maksudmu? ” Aksara menoleh dengan tidak sabar. Inginnya kini antara mendengar jawaban sang perempuan atau menghampiri Laras yang sedang berhadapan dengan sang penjaga. Sosok penjaga tanpa senjata yang tidak bergeming setelah mendengar pengakuan Laras.
“ Aku bisa mendengar suaramu. Jujur…samar-samar aku mampu melihat sosok mu itu.” Laras menjawab atas tatapan mata yang samar-samar memang mampu ia lihat di arah sampingnya. Laras melirik kemudian kembali menoleh kearah depannya dengan mengabaikan apa yang tengah berdiri disampingnya.
“ Kau ingin mengujiku yang mana? ” Laras langsung menatap tajam kearah sampingnya. Dimana sosok itu tengah berdiri dengan tatapan yang nampak biasa dibalik topeng tengkorak penuh yang menutupi bagian wajahnya itu. “Apa benar aku mendengar mu? Atau apa yang bisa ku lihat dari sosok mu itu?! ”
Angin berhembus kencang dan seketika suara gemerincing dari tanaman lily lembah dijalanan setapak batu merah itu terdengar dengan sendirinya tepat ketika Aksara mampu meraih tangan Laras dan menariknya untuk menjauhi sosok sang penjaga yang tidak mampu ia kenali.
__ADS_1
Tempat itu berubah seketika. Seperti terbawa oleh ruang dan waktu, Laras, Aksara dan sosok sang penjaga tengah berada dijalanan setapak batu bata merah tempat Aksara biasa mengantar jiwa-jiwa menuju perjalanan terakhirnya. Dimana suara gemerincing bunga lonceng lily lembah menggema dengan tidak biasa. Alunan yang terdengar lebih kacau dari biasanya. Lebih berisik dan lebih memekakan telinga dari pertama kali kedatangan Laras ketempat itu. Bahkan guguran daun-daun pun semakin tidak bersahabat karena langsung mengitari dan menyayat setiap jengkal
bagian tubuh Aksara dan Laras.
Tangan Laras tergores beberapa kali dan berdarah, tapi sosoknya tetap tidak bergeming. Kembali seperti tengah kehilangan kesadarannya, mata itu nampak menerawang. Hanya ada bulatan hitam ditengahnya. Dan beberapa jiwa seakan menggeliat dan meronta-ronta ingin keluar dari sosok tubuh sang gadis. Sosok Aksara pun tidak mampu membantu dengan semua kekacauan yang timbul sejak kedatangannya bersama Laras dan Sang penjaga.
Jiwa yang keluar seperti terikat paksa dan tidak mampu keluar dengan cara yang baik dari tubuh Laras. Jiwa itu bahkan harus tersedot kembali kedalam tubuh sang gadis dengan perlawanan yang cukup kuat. Tangan itu sempat meraih sang penjaga yang menjadi sosok lain Eren di perlawanannya yang entah ke berapa. Dan hanya dengan mengangkat satu tangannya, semua kebisingan, perubahan cuaca extrime, liarnya sayatan guguran dedaunan dan erangan jiwa yang berusaha melawan ketika tersedot kembali kedalam tubuh Laras, langsung sirna dan sunyi senyap.
Dedaunan yang berguguran jatuh bersamaan dengan cepat. Gemerincing bunga lily lembah langsung sirna dan tidak mengeluarkan suaranya sedikitpun. Awan gelap dan gemuruh yang menyelimuti lenyap tergantikan dengan beberapa cahaya yang mampu menembus celah lebatnya dedaunan pada dahan pohon yang menjulang begitu tingginya ditempat itu. Bersamaan dengan semua perubahan yang terjadi dalam sedetik itu, sosok sang penjaga pun ikut sirna dan hanya menyisakan sedikit kepulan asap yang melayang dan hilang diterbangkan angin.
“ Apa yang sebenarnya sudah terjadi?? ” Aksara langsung melihat ke sekelilingnya. Mencari sosok jiwa yang sepertinya telah mampu keluar dari tubuh Laras saat kekacauan tadi berkat sang penjaga. Tapi jiwa itupun seakan sirna bersama sosok sang penjaga.
*“Mereka yang berurusan dengan sang penjaga akan hilang dan menjadi abu. Entah itu menyatu dengan air, udara maupun api. Tapi penjaga tanpa senjata hanya akan membawa sesosok jiwa menyatu dengan tanah. Mengurung mereka dalam hukuman paling gelap didunia ini.” * jelas perempuan disampingnya.
Aksara langsung mengingat jawaban teman perempuannya sebelum ia dengan gegabah menghampiri Laras dan menjauhkan Laras dari sosok sang penjaga. Dia melihat kearah sampingnya. Tempat Laras jatuh terperosok tanpa sadarkan diri. Kali ini kesunyian menghiasi suasana tempat itu. Perasaan duka dan pilu langsung menyerang Aksara yang membawa Laras dalam gendongannya. Sempat sesekali Aksara merasakan lemas dan hampir menjatuhkan dirinya bersama Laras.
__ADS_1
Sementara dibalik punggung Aksara sendiri, sosok Laras tengah menitihkan air matanya. Entah itu disadari atau tidak, Laras hanya mampu merasakan sedih yang teramat dalam. Seperti tengah kehilangan sosok yang sangat berharga di hidupnya.
***