
Laras baru saja turun dari dalam mobilnya ketika semua perhatian tertuju pada sosoknya. Dia yang untuk pertama kalinya datang dengan penampilan yang tidak biasa, membuat semua pasang mata mau tidak mau memandang kearahnya dengan berbagai pendapat.
Laras menaikan kacamata hitamnya. Membenarkan posisi tasnya lalu berjalan dengan menarik setiap perhatian yang tidak teralihkan sedikitpun dari dirinya.
Memperhatikan semuanya dari kejauhan semenjak kedatangannya, tindakan Laras langsung memicu kemarahan Eren yang menghentikan langkah gadis itu di ujung lorong kelas.
"Apa yang kau lakukan?!" ujar Eren dingin.
Tatapan gadis dihadapannya itu nampak tidak biasa. Cenderung centil. Seakan tidak peduli dengan apa yang dirasakan Eren, dia malah tersenyum lalu melingkarkan kedua tangannya di bahu si pemuda.
"Bagaimana kalau kita lanjutkan apa yang tertunda semalam!" bisik nya.
Hal itu membuat Eren mendorong dan membuang gadis itu jatuh ke lantai. Dia menelisik gadis yang tubuhnya kini tertahan oleh seseorang. Memperhatikan setiap gelagat aneh yang Laras tunjukan, Eren langsung kehilangan keinginannya untuk tetap berada dekat dengan gadis itu.
Disaksikan semua penghuni kampus, Aksara menahan tubuh Laras dengan enggan setelah melihat perlakuan Eren. Membantunya berdiri, namun segera menghampiri Eren dan menepuk pundaknya.
"Terima kasih." Laras tersenyum manis pada Aksara.
Aksara sempat melirik pada sosok Laras yang berpenampilan cukup berbeda dari biasanya tapi kembali membuang pandangannya pada gadis itu.
"Ada apa?"
Aksara mendapat tatapan tegas dari Eren. Mengisyaratkan pemuda itu untuk mengikutinya pergi dari tempat itu. Mengabaikan sosok Laras yang nampak kesal dibalik punggung mereka.
"Kenapa kita harus mengabaikannya?" Aksara berjalan cepat menyamai langkah Eren.
"Aku rasa ada aneh pada sikapnya hari ini."
"Laras???? Dia terlihat cukup manis!" Aksara berkata jujur.
Perkataan Aksara seketika menghentikan langkah Eren begitu mengingat penampilan yang ditampakkan Laras di lorong itu. Eren langsung berbalik memasang wajah masam entah kepada siapa dan berjalan melewati Aksara untuk kembali ke lorong tempat tubuh Laras didorongnya tadi.
"Ada apa?!"
Aksara kebingungan. Lalu kembali mengejar langkah Eren dengan enggan. Sampai diujung lorong, Aksara menyaksikan bagaimana Eren melepas kemejanya untuk diselipkan pada bagian yang memperlihatkan pinggul Laras dengan jelas.
__ADS_1
"Tubuh ini bukan untuk tontonan orang lain!" geram Eren pada sosok Laras yang terdiam kaku dengan tindakan pemuda itu.
Laras yang tadinya nampak kesal langsung tersenyum puas dengan reaksi yang ditunjukan Eren pada dirinya.
Setelah berkata demikian, Eren kembali meninggalkan gadis itu kemudian menghilang dalam satu langkah di belokan ujung lorong.
Aksara yang berada ditengah-tengah keduanya hanya bisa kebingungan dengan tingkah laku Eren dan pandangan Laras yang berbeda dari biasanya pada dirinya. Aksara bermaksud mengejar Eren untuk ke tiga kalinya, tetapi langkahnya dihentikan oleh Laras yang memegangi tangannya.
"Aku... ingin bicara pada mu!" ucap gadis itu dengan tatapan yang jarang didapatkan Aksara dari sosok Laras.
"Lain kali saja!" jawab Aksara menepis tangan itu dari lengannya.
Aksara langsung berpaling mengabaikan sosok Laras yang kesal dengan perlakuan yang didapatkan olehnya. Aksara bergegas menyusul ke arah Eren pergi dan dibuat kaget begitu mendapati pemuda yang disusul nya sudah berdiri dengan menimbang-nimbang sesuatu untuk dikatakan.
"Kau juga merasakannya?"
"Sedikit!"
"Aku ragu melihatnya sejak pagi ini?"
Kedua pemuda saling bertukar pandang. Mengingat kejadian kemarin malam setelah Laras meninggalkan Eren bersama Aksara didepan rumah yang ditinggalinya bersama Rein.
Kedua pemuda langsung menghilang dari tempat itu menuju jalanan setapak batu bata merah guna mencari tahu sosok bayang hitam tanpa wujud yang mengendalikan tubuh dan jiwa Rein.
Selama beberapa waktu mereka pergi, dan sekembalinya mereka untuk memastikan keadaan Laras, kedua pemuda mendapati tubuh Laras tertidur dilantai dengan posisi yang sedikit meringkuk.
Eren maupun Aksara sempat ingin membangunkan Laras, tapi diurungkan. Mereka lebih memilih, tepatnya Eren lebih memilih mengangkat tubuh Laras dari lantai dan menidurkannya diatas tempat tidurnya.
Selang beberapa lama Eren masih menjaga dengan baik gadis itu. Sampai sekelebat bayang hitam terlihat melintas di koridor ruangan dan teriakan Rein terdengar ketakutan.
Eren berusaha menyusul dan menerobos kamar itu, namun dia tidak mendapati hal apapun dari arah suara teriakan yang di dengarnya. Kecuali kegelapan yang menguap dengan tawa serak seperti suara penyihir yang berlalu lalang memenuhi ruangan itu.
Ruang yang nampak berantakan itu menyisakan sedikit misteri untuk Eren. Terlebih dengan ketiadaan sosok Rein yang dia yakini tengah berteriak ketakutan dari dalam kamar yang sekarang ia masuki.
Sesaat sebelum menghilang dari pandangan, Eren dikejutkan dengan kemunculan Aksara dengan sedikit kebingungan. Pemuda itu seperti terhuyun dengan langkah yang sedikit kacau. Sempat pemuda itu membuang pandangan disekelilingnya dan terdiam membeku begitu melihat Eren memandangnya dengan heran.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?!" tanya keduanya kepada satu sama lain.
"Ada yang menerobos lembah. Saat berusaha menangkapnya, aku tersedot kesini!" jawab Aksara memberi jawaban setelah menangkap kekacauan yang ada disekitarnya.
"Rein menghilang!" Eren menjawab rasa penasaran yang ditunjukan Aksara pada dirinya.
Dihadapkan pada kenyataan yang ada, Eren dan Aksara kembali saling bertukar pandang. Rein menghilang, Laras pagi ini bersikap aneh dan datang sendiri ke kampus. Belum lagi kejadian yang menunjukan kalau Rein tengah dikuasai oleh kegelapan pada siang harinya.
"Apakah terlalu kebetulan?"
"Ku rasa kita perlu mengawasinya." saran Eren.
"Biar aku saja! Aku takut kau terlalu terbawa emosi!"
Eren terdiam. Dia memandang Aksara beberapa saat lalu mengerti maksud dari kalimatnya itu.
"Aku tidak bisa mempercayaimu!"
"Memang kau tidak perlu mempercayai ku! Tapi melihat tingkah mu tadi, aku yang tidak percaya kau benar-benar bisa mengawasi nya."
"Sejak kapan aku jadi sekacau ini!" keluh Eren.
Tidak biasanya pemuda itu bertingkah seaneh hari ini. Dia yang dulunya biasa jahil kepada Laras tiba-tiba kehilangan kendali dirinya beberapa kali. Bahkan kali ini dia merasa dirinya benar-benar bertingkah diluar kewajaran.
"Mana ku tahu!"
Aksara berlalu setelah menjawab pernyataan Eren yang sebenarnya tidak perlu ia jawab. Menghilang dari pandangan Eren yang saat ini masih saja kebingungan dengan tingkahnya sendiri, Aksara menyisakan kepulan asap melayang berwarna keabuan didepan Eren.
"Sial!" Eren langsung melakukan hal yang sama. Menghilang dari tempat itu dengan cara yang sama. Menyisakan sisa kepulan asap seperti asap rokok yang menguap di udara.
Pemandangan itu menjadi tatapan tersendiri dari seorang yang berdiri di ujung tangga dengan perasaan yang tidak menentu.
Sesosok bayang hitam yang melihat semua kejadian sejak awal sampai dititik kedua pemuda menghilang dari pandangannya. Sosoknya yang transparan tidak dia sadari sama sekali. Dia kini hanya merasa telah diabaikan oleh ke dua pemuda yang tadinya dia harap bisa membantu sosoknya dalam menyelesaikan masalah yang dia hadapi.
Sosok tubuhnya seperti terkunci dalam dimensi yang berbeda. Membuatnya tidak bisa terlihat oleh siapapun. Apalagi didengarkan oleh siapapun yang ada disekitarnya. Di akhir keputusasaannya, sosok bayang hitam itu pun tiba-tiba menghilang dengan cara yang sama seperti kedua pemuda.
__ADS_1
...***...