
"Lembah sialan!" gerutu sosok lain Eren begitu melihat Laras menerjang ke dalam gue batu yang menampakan cahaya kebiruan. Kedip cahaya yang mulai melemah menandakan kalau apa yang dia tengah incar akan segera lenyap bersama jiwa yang ingin menggapainya.
Sosok lain Eren sebagai penjaga tertinggi dengan lingkaran 7 bola api kebiruan di belakang kepalanya, menyusul Laras yang menerjang ke arah bunga es abadi seribu tahun. Sebuah bunga yang menyerupai lekuk setengah cangkang telur yang rapuh. Berbalut warna kebiruan yang dipantulkan dari sekeliling gue lembah tersebut. Bunga yang hanya muncul dan tumbuh setiap seribu tahun sekali. Dan jika menghilang setelah memakan jiwa dari sosok yang mengincarnya, bunga itu akan tumbuh menjelma menjadi sosok mahkluk baru. Mahkluk yang menjadi terbentuknya lagi dunia baru yang berada diluar ketentuan semesta.
"Aku tidak akan membiarkan itu sampai terjadi!!"
Sosok lain Eren sebagai penjaga tertinggi dengan lingkaran 7 bola api kebiruan di belakang kepalanya menerjang kegelapan dengan cahaya biru yang sama terangnya dengan cahaya yang di tampilkan oleh tumpukan batu kristal yang mengelilingi bunga es abadi seribu tahun tersebut.
"Cahaya yang sama persis!"
Sosok Laras dengan dress hitamnya tersenyum simpul. Melanjutkan gerakan melayang yang dilakukannya untuk mendekati mengambil bunga es abadi seribu tahun yang kini tepat berkedip lemah didepannya. Kedipannya seiring dengan melemahnya semua cahaya kristal biru pada sisi gua akibat pantulan cahaya bulan biru yang mulai menghilang dari angkasa.
"Aku tak punya banyak waktu!" kata Laras tanpa menoleh pada sosok lain Eren sebagai penjaga tertinggi dengan lingkaran 7 bola api kebiruan di belakang kepalanya. "Gunakan semua bola api di belakangmu untuk menerangi semua batu kristal di gua ini!"
Tanpa mempertanyakan apapun, sosok lain Eren sebagai penjaga tertinggi dengan lingkaran 7 bola api kebiruan di belakang kepalanya, mengikuti apa yang disampaikan sosok Laras. Menyadari hal yang sama yang ia perhatikan ketika sudah mendekati area bunga es abadi seribu tahun itu tumbuh dan mekar. Bunga yang tumbuh dan mekar kurang dari waktu 6 jam sesuai waktu pada semua lembah kematian.
Lingkaran 7 bola api biru pada belakang kepala sosok lain Eren, menyebar sesuai keinginannya. 6 Bola api, menerangi setiap sudut gua dengan sisi batu kristal. Satu bola api lain langsung diarahkan oleh Laras untuk diletakkan tepat di tengah-tengah gua atau lebih tepatnya beberapa meter dari pokok tanaman bunga es abadi seribu tahun yang diincarnya.
Cahaya 7 bola api itu perlahan menyatu pada setiap kristal di dinding gua. Menampakan cahaya kebiruan yang sama terangnya dengan cahaya bulan purnama biru yang baru saja menghilang dari angkasa. Cahaya lemah bunga es abadi seribu tahun kembali bersinar dengan terang. Menyilaukan pandangan mata sosok lain Eren sebagai penjaga tertinggi yang menggunakan 7 bola apinya untuk menerangi seisi gua.
Sosok itu kini memejamkan matanya sesaat. Namun begitu matanya terbuka, dia sudah tidak menemukan Laras dan bunga es abadi seribu tahun di tempat awal bunga itu tumbuh mekar. Matanya terbelalak. Menyisakan bola mata dari tengkorak hidup yang menyalang kebiruan.
7 Bola api kebiruan itu langsung berkumpul dibelakang kepalanya. Kembali membentuk lingkaran dan membuat cahaya bola api itu semakin menyala. Begitu semua bola menunjukan cahayanya yang semakin menyala, satu lagi cahaya kebiruan bertengger pada bahunya. Sebuah bola api yang berbentuk seperti setengah cangkang telur. Berhiaskan warna kebiruan dengan mahkota berwarna kuning keemasan didalamnya.
"Kenapa harus jinak padamu?!" sosok Laras dengan dress hitamnya melayang-layang dihadapan sosok lain Eren sebagai penjaga tertinggi dengan lingkaran 7 bola api kebiruan di belakang kepalanya.
"Siapa yang jinak?" suara parau itu terdengar sedikit canggung menghadapi sosok Laras yang kini terus mencoba bermain dengan bola api kebiruan dipundak sosok lain Eren sebagai penjaga tertinggi dengan lingkaran 7 bola api kebiruan di belakang kepalanya.
"Bunga ini!" Laras menunjuk sambil sesekali mencoel bola api kebiruan yang disebutnya dengan bunga es abadi seribu tahun.
__ADS_1
Sosok lain Eren sebagai penjaga tertinggi dengan lingkaran 7 bola api kebiruan di belakang kepalanya, menoleh kearah samping. Lalu bunga yang lebih mirip seperti bola api kebiruan itu melayang-layang dihadapan matanya. Membuat sosok lain Eren sebagai penjaga tertinggi dengan lingkaran 7 bola api kebiruan di belakang kepalanya, menjadi sedikit terusik dan berusaha mengusir sesuatu yang baginya terlihat seperti serangga pengganggu. Tapi bukannya segera menjauh, bunga yang lebih menyerupai bola api kebiruan itu terus saja melayang ke kanan dan ke kiri. Membuat lain Eren sebagai penjaga tertinggi dengan lingkaran 7 bola api kebiruan di belakang kepalanya, membelalakkan matanya lebar-lebar.
Barulah sosok bola api berwarna kebiruan itu melayang ke arah Laras dan bersembunyi dibalik gerai rambut Laras yang panjang. Dingin yang menjalar pada sekujur tubuh Laras karena sosok bunga yang lebih mirip bola api kebiruan itu, tidak menyurutkan Laras yang terus memperhatikan sosok lain Eren yang kini tertegun dihadapannya.
"Sejak kapan..." Laras bermaksud membelai wajah dari sosok lain Eren sebagai penjaga tertinggi dengan lingkaran 7 bola api kebiruan di belakang kepalanya. Namun sosok itu reflek menampik tangan Laras.
"Hentikan!" ucapnya dengan nada datar.
Sosok Laras segera menarik kembali tangannya. Meminta sosok bola api kebiruan dibelakang kepalanya untuk keluar dan bertengger pada tangannya.
"Buku tua bersampul hitam tadi dimana?" tanya Laras. Dia tidak menatap sosok Eren sama sekali meskipun matanya tertuju pada sosok lain si pemuda sebagai penjaga tertinggi dengan lingkaran 7 bola api kebiruan di belakang kepalanya.
"Apa yang mau kamu lakukan dengan kedua buku itu?!"
Laras menelengkan kepalanya ke kanan. Menatap heran sosok lain Eren sebagai penjaga tertinggi dengan lingkaran 7 bola api kebiruan di belakang kepalanya.
"Apa aku tidak pernah menyampaikannya?"
"Aku jawab nanti."
Sosok Laras tersenyum pada sosok lain Eren. Membiarkan sosok bola api kebiruan itu melayang-layang pada telapak tangan kanannya, Laras menarik sedikit jubah sosok lain Eren dan memintanya untuk pergi meninggalkan gua batu tersebut.
"Kita pergi."
"Kemana?"
"Lembah kelam dibalik pintu batu!" jawab Laras santai.
Mereka berjalan pada dasar lembah dengan pencahayaan dari lingkaran 7 bola api kebiruan di belakang kepala dari sosok lain Eren. Laras berjalan di depan dan Eren berjarak hanya dua langkah dibelakang Laras.
__ADS_1
"Lembah apa yang ada dibalik pintu batu itu?!"
"Lembah tandus." Laras bergumam murung. Lembah yang dihuni oleh jiwa-jiwa yang rakus dengan keinginannya. Memakan setiap inci lembah yang dulunya berupa dataran danau dengan warna air pekat sesuai jiwa yang masuk ke dalamnya. "Seharusnya lembah itu membersihkan setiap jiwa yang masuk ke dalamnya." tambah Laras lagi. Menghapus ingatan sesosok jiwa dan mengembalikannya pada takdir dunia.
"Lalu apa yang terjadi?"
"Sesosok bayang gelap mengambil setiap jiwa yang masuk kedalamnya." jawab Laras. "Mengambil alih lembah dan membuat lembah itu dipenuhi oleh jiwa-jiwa bermata kelam yang penuh hasrat dan keinginan yang perlahan menelan setiap bagian lembah."
Dia menghela nafas dan sosok lain Eren sebagai penjaga tertinggi dengan lingkaran 7 bola api kebiruan di belakang kepalanya, terus menyimak hal apa yang disampaikan Laras. Gadis itu menghentikan langkahnya. Membuat sosok lain Eren sebagai penjaga tertinggi dengan lingkaran 7 bola api kebiruan di belakang kepalanya, ikut menghentikan langkahnya. Merubah dirinya kembali menjadi sosok sejatinya sebagai Eren sang penjaga lembah.
"Ada apa?"
"Bagaimana cara mengembalikan jiwa manusia yang sudah tertelan oleh banyaknya keinginan yang tidak seharusnya dijalani oleh jiwa manusia itu?!" Laras tetap tidak berbalik memandang Eren yang kini melangkah dan mensejajarkan posisinya berdirinya disamping Laras. Tatapan gadis disebelahnya nampak begitu kosong tetapi terisi oleh begitu banyaknya permasalahan.
"Setiap jiwa mempunyai takdir hidupnya masing-masing." jawab Eren. "Namun untuk jiwa yang menentang takdir, maka takdir juga yang akan menentang setiap keinginan hidupnya."
"Menyedihkan!" gumam Laras kembali. "Apakah takdir itu bisa dirubah?"
"Siapa yang ingin kau tolong?"
"Manusia..." jawab Laras. "Aku ingin menolong banyak jiwa dari satu jiwa yang telah termakan oleh keinginannya sendiri."
"Lakukanlah..." Eren mendahului langkah Laras didalam kegelapan. Membuat Laras merasa ditinggalkan.
"Apakah kau menyukainya?" bisik Laras. Bisikan yang terkesan bodoh karena dilakukan pada dasar lembah yang kini hanya ada mereka berdua didalamnya.
"Ayo selamatkan lembah tandus itu!" tangan Eren terulur. Tangan yang putih pucat dengan guratan urat nadi kebiruan pada setiap ruas tulang jarinya. "Setelah itu, baru pikirkan hal lainnya!"
"Ayo!" tangan itu bersambut. Laras meraih tangan Eren dan mereka berdua menghilang dalam kegelapan yang mulai menyapu bersamaan dengan kabut asap yang mulai menebal pada semua sisi lembah kesengsaraan itu.
__ADS_1
...***...