Abu-Abu

Abu-Abu
3| Goresan luka


__ADS_3

"Jangan salahkan diriku jika sikapku seperti ini pada kalian, karna kalianlah yang bersalah telah menggoreskan luka pada masa laluku"


~Freya Qiandra Astara~


~dan~


~Faresta Darian Anderson~


_Freyesta_


Freya melangkahkan kakinya memasuki rumahnya tanpa menghiraukan sapaan seorang wanita paruh baya padanya.


"Udah pulang Fey?"


Freya terus melangkahkan kakinya menaiki setiap anak tangga di rumahnya menuju ke kamarnya.


Sementara wanita paruh baya itu hanya mengelus dadanya pasrah, ia harus sabar menghadapi sifat gadis itu karna ini memang salahnya. Jujur ia sangat menyesali perbuatannya dulu, namun apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur,tak ada yang bisa ia lakukan lagi selain pasrah karna luka yang di berikannya pada gadis itu begitu dalam.


_Freyesta_


Faresta melangkahkan kakinya memasuki rumahnya, pemandangan bagai kapal pecah itu terpampang nyata ketika Faresta membuka pintu, Suara isakan tangis seorang wanita terdengar jelas di telinga.


Faresta hanya menghembuskan nafasnya kasar, ia terlalu sering menyaksikan pemandangan seperti ini ketika ia pulang. Entah sudah berapa kali hal ini terjadi, sampai ia begitu lelah dan muak.


Ia melangkahkan kakinya menaiki setiap anak tangga menyusuri setiap serpihan beling di lantai menuju ke kamarnya.


_Freyesta_


Freya masuk ke kamarnya dan langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya.


Hari ini begitu melelahkan baginya, mulai dari harus menghadapi seorang lelaki yang terus mengusik hidupnya, lalu ia juga harus menghadapi para fans dari lelaki tersebut.


Freya memejamkan ke dua matanya berharap ia bisa mendapatkan ketenangan walau hanya untuk sementara, namun rencananya gagal.


Drrrt....Drrrt....


Tiba tiba saja ponselnya berdering, mengganggu ketenangannya namun tak kunjung ia angkat.


Drrrt...Drrrt


Ponselnya kembali berdering akhirnya dengan acuh tak acuh ia pun mengangkat teleponnya.


"Freya?"


"Hm"


"Oh my girl, is really you Freya Qiandra Astara? "


Freya mengerutkan keningnya berfikir sebentar mengingat sang pemilik suara sembari mengubah posisinya menjadi duduk.


"...."


"Fey?"


"...."


"Fey?"


"...."


"Are you here?"


"...."


"Lo masih di sanakan?"


"...."


Karna tak dapat menemukan jawaban dalam ingatannya ia memutuskan untuk langsung bertanya kepada sang pemilik suara.

__ADS_1


"Siapa?"


"Lo lupa sama gue Fey? It's me tara"


"Tara?" Ulang Freya sembari kembali mengingat.


"Iya Atarah Briella Avyanna sepupu lo yang paling cantik" gemas sang pemilik suara karna Freya tak kunjung mengingatnya.


Seperti baru mendapatkan pencerahan Freya akhirnya dapat mengingat sang pemilik suara.


"Hai tar apa kabar?"


"Kabar gue baik...hiks...lo sendiri gimana? hiks....." terdengar sang pemilik suara mulai terisak entah karna apa.


"Gak bisa di bilang baik sih, eh lo lagi nangis ya? Kenapa?"


"Fey...hiks....gue...hiks...minta maaf...hiks"


"Minta maaf? untuk apa?"


"Maaf...hiks....maaf...hiks...maaf gue gak bisa bisa nepetin janji kita..hiks...maaf... hiks...gue...hiks..gak ada...hiks...saat lo butuh gue..hiks"


"It's okey tar, gue tau lo jugakan punya alasan tidak bisa datang waktu itu"


"Hiks...hiks...sekali lagi gue maaf...hiks"


"Udah gak pa pa,gak usah nangis lagi kan kasian telinga gue dengerin lo nangis" canda Freya.


"Iya..hiks"


"Btw kaki lo udah sembuh? Udah bisa jalan?"


"Kaki gue udah sembuh kok, tapi kata dokter gue gak bisa jalan normal lagi"


"Maaf juga karna gue gak bisa nemenin lo waktu lo kecelakaan"


"Udah gak pa pa, tapi kok kita jadi main maaf maafan ya?"


"Sorry, but i have good news for you" ucapnya semangat.


"Apa?"


"Coba lo tebak"


"Males"


"Gak asik banget lo"


"Cepetan"


"Oke, jadi mulai bulan depan gue bakal pulang ke Indonesia dan sekolah di sekolah lo, yeeyyy"


"Serius?"


"Dua rius malah, pokoknya mulai bulan depan gue bakal nebus kesalahan gue, gue bakal selalu ada buat lo dan selalu nemenin lo"


"Emangnya om Harris dan tante Emma udah ijinin?"


"Udah, pokoknya lo tenang aja"


"Oke, gue tunggu kedatangan lo"


"Oke, bye. mama gue udah panggil soalnya"


"Bye"


Sambungan telpon sudah terputus Freya meletakan Handphonenya di atas nakas dan kembali ke posisi semula sembari kembali memejamkan ke dua matanya.


_Freyesta_

__ADS_1


Faresta menuruni setiap anak tangga di rumahnya dengan tergesa gesa, entah apa yang membuat lelaki tampan itu begitu terburu buru sehingga tak melihat seorang pria paruh baya yang sudah berdiri di hadapannya.


"Mau kemana kamu?" Bentaknya.


"Bukan urusan papa" Jawabnya sembari memakai jaketnya dan terus melanjutkan langkahnya.


"Jelas itu urusan papa, Faresta" Tegasnya sembari menahan pergelangan tangan anaknya itu dengan tangannya.


"Sejak kapan itu menjadi urusan Papa"


"Maksud kamu apa?"


"Maksud aku, sejak kapan ini kegiatan aku urusan papa? Sejak kapan papa ngelarang aku? Sejak kapan papa mulai peduli pada aku?"


Pria paruh baya itu terdiam mencerna setiap kata yang keluar dari mulut putra tunggalnya itu, entah kenapa ia merasakan sakit di hatinya.


"Apa segitu sibuknya diriku sehingga melupakan putra semata wayangku yang menjadi tanggung jawabku?" gumamnya dalam hati sembari perlahan melepaskan tangannya.


"Bingungkan? Gak bisa jawabkan?" Sindirnya sembari tersenyum penuh kemenangan pada pria paruh baya itu lalu pergi meninggalkannya seorang diri.


_Freyesta_


Freya bangun dari tidurnya dalam ke adaan perut yang kerocongan di liriknya jam di atas nakas yang menunjukan pukul 22.05 pantas saja ia perutnya kelaparan ternyata ia tidur begitu lama.


Dengan cepat ia turun dari ranjangnya dan segera masuk ke kamar mandi untuk mandi.


Setelah selesai mandi Freya ke luar dari dalam kamarnya dan menuruni anak tangga rumahnya menuju pintu.


"Mau kemana kamu?" Tanya seorang pria paruh baya yang sedang duduk di meja makan menikmati makanannya dan di temani oleh seorang wanita paruh baya.


Freya mengacuhkan pertanyaan dari pria paruh baya itu dan terus melanjutkan langkahnya.


"Fey papi tanya sekali lagi, kamu mau kemana?" Ulang lelaki paruh baya itu dengan nada yang lebih tinggi tapi tetap di acuhkan oleh Freya.


"FREYA QIANDRA ASTARA BERHENTI DI SITU DAN JAWAB PERTANYAAN PAPI!!!"


Freya menghentikan langkahnya, membalikan badannya dan menghampiri meja makan tersebut, atau lebih tepatnya pria paruh baya tersebut.


"Bukan urusan seorang pembunuh se-"


Plak


Sebuah tamparan dari pria paruh baya itu berhasil mendarat mulus di pipi gadis itu, tiada kata yang keluar dari mulut gadis itu atau air mata yang keluar dari sudut matanya setelah tamparan itu telah mendarat di pipinya, hanya ekspresi wajah datar yang ia tampilkan seperti tiada rasa sakit di pipinya atau di hatinya.


"Mas!!" Kaget wanita paruh baya itu.


"Fey pa...pa...pi-" ucapnya terbata bata namun langsung di potong oleh Freya.


"Kenapa anda tidak membunuh saya juga, seperti anda membunuh mami saya?" Potong Freya sarkastik lalu pergi meninggalkan lelaki paruh baya dan wanita paruh baya itu.


_Freyesta_


Freya mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi sembari menangis sesenggukan di dalam mobilnya itu. Entah kenapa hatinya begitu perih, bayangan bayangan tentang masa kecilnya bersama papinya terus terbayang bayang dalam ingatannya. Ia merasakan dadanya begitu sesak sehingga ia terus memukul mukul dadanya, berharap sesak di dadanya bisa berkurang.


Hingga ia tak menyadari sebuah motor yang berlawanan arah dengan kecepatan di atas rata rata sedang melaju ke arahnya dengan kecepatan di atas rata rata.


Tiiiiiin...Tiiiiiin...


Freya nembunyikan klakson mobilnya agar sang pengendara menghindari mobilnya, namun semuanya terlambat.....


Bruk


Sang pengendara itu menabrak mobil Freya lalu terjatuh dari motornya dan sontak membuat Freya menghentikan mobilnya.


"Ya Tuhan, gue baru nabrak orang? semoga saja orangnya gak apa apa" gumamnya sembari menghapus air matanya.


Dengan perasaan cemas bercampur takut Freya segera turun dari mobilnya dan menghampiri sang pengendara yang sedang terjatuh di aspal itu, keringat dingin terus bercucuran dari pelipisnya dan kaki yang sudah gemetar lemas Freya terus memaksakan kakinya terus melangkah.


"Lo gak pa pa?" Tanya Freya penuh khawatir pada pengendara itu.

__ADS_1


To Be Continued


__ADS_2