
Berusaha meraih kearah hilangnya gumpalan awan gelap itu, kedua pemuda tersedot dan terjatuh pada salah satu kamar dari rumah yang ditinggali Laras dan Rein.
"Kenapa harus disini?!" ujar keduanya bersamaan.
Sosok mereka yang tidak bisa dilihat oleh manusia menjadi semakin transparan seperti biasa. Seperti saat Eren ataupun Aksara mencuri kesempatan untuk memperhatikan keadaan Laras pada saat-saat tertentu. Atau ketika Eren ingin tetap berada dekat dengan gadis itu walau malam tengah membatasi mereka.
Diatas tempat tidur Eren mendapati Laras telah terlelap dibawah selimut pink berbulu. Lampu yang tamaram menyala disebelahnya. Dan semua nuansa pink dalam ruangan itu membuat Eren mengingat kembali kamar itu.
"Kenapa dia tertidur disini?"
"Ini kamar Rein bukan?"
Eren melihat sekeliling. Mendapati beberapa pasang foto yang tertempel pada hiasan lampu dinding pada kamar itu. Dari beberapa foto yang ada, nampak ada foto Laras bersama Rein. Namun pada wajah Lara dicoret tanda silang berwarna merah. Sementara pada foto yang lain hanya terdapat foto Rein hasil cetakan dari foto selfi dirinya.
Aksara sendiri melihat ke setiap bagian sudut kamar. Mencari penyebab kenapa dirinya kembali terlempar ke dalam kamar ini begitu dirinya bermaksud menangkap sosok bayang hitam atau gumpalan awan gelap yang muncul pada jalanan setapak batu bata merah.
Kedua pemuda akhirnya kembali tertuju pada sosok lain yang tengah tertidur dengan pulasnya pada kasur didalam kamar itu. Terlalu nyenyak sampai tidak menyadari adanya benda yang jatuh karena disenggol oleh Eren dengan sengaja.
Eren memungut kembali benda yang dijatuhkannya. Meletakkan benda tersebut diatas meja lalu menghilang dari kamar itu bersamaan dengan Aksara.
Pagi menjelang, sosok Eren langsung menyita perhatian begitu berjalan di lorong kelas bersama Aksara. Mereka nampak seperti pangeran dari kegelapan dan pangeran dari lembah suci. Yang satu mengenakan pakaian serba gelap. Yang satu lagi mengenakan pakaian cerah, atasan putih dan bawahan krim yang mendekati putih.
Yang satu menampakan wajah tegas dan dingin. Sementara Aksara menampakan senyum tipis yang membuatnya terlihat sedikit lebih ramah dari sosok Eren.
Padahal keduanya tidak bermaksud menarik perhatian, namun pada dasarnya kedua sosok itu akan selalu menjadi pusat perhatian kemanapun dan dimana pun mereka berada.
"Aku sudah menunggu mu!"
Laras bergumam di dekat pintu kelas. Melihat sosok Eren semakin mendekat, Laras perlahan melangkah keluar kelas. Dengan mengenakan pakaian serba hitam yang sama dengan Eren, sosok Laras langsung mendapat perhatian dari pemuda itu.
__ADS_1
Tepat dua langkah didepan kelasnya, Laras menghentikan langkahnya. Menatap Eren dengan cara yang tidak biasa lalu menahan tangan Eren tepat didepan umum. Seisi lorong langsung menyoraki aksi Laras tersebut.
Mendapat begitu banyak perhatian, sikap Laras semakin menjadi-jadi. Dia mendekatkan dirinya pada Eren lalu bersiap untuk melakukan sesuatu yang akan semakin membuatnya menjadi pusat perhatian.
Laras sudah semakin berjinjit. Tubuh itu benar-benar sudah semakin menempel pada Eren dan wajah gadis itu semakin dekat dengan wajah Eren. Terutama bagian bibir berwarna merah cerah karena aplikasi lipstik yang sangat tebal pada bibirnya.
Eren memperhatikan itu. Menatap dengan cara tidak biasa namun tetap membiarkan gadis itu melanjutkan aksinya.
Sampai bibir itu menempel dan mengecup dengan mata terpejam. Gadis itu dalam hati nampak puas. Dalam keadaan mata yang masih terpejam, dia menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Namun begitu membuka mata, dia langsung melirik ke arah sampingnya dengan rasa tidak percaya.
Dimana di arah sampingnya Aksara tersenyum dengan manis sambil berkata,
"Maaf, tolong perhatikan sedikit tindakanmu!" ucapnya canggung.
Dihadapannya Eren menatap dengan senyum simpul yang tidak berarti. Sementara telapak tangan Aksara yang menerima kecupan dari bibir Laras langsung ditarik dari hadapannya lalu diusap dengan minim pergerakan. Kembali Aksara menampakan senyum manis yang sama. Matanya sedikit menyipit dan lengkungan bibirnya nampak tidak terlalu tulus.
"Apa-apaan lo!" Lars mengusap kasar bibirnya. Merasa jengkel dengan perlakuan yang didapatnya dari Eren dan Aksara, Laras langsung menghempaskan tangannya. Menghembuskan bayangan hitam berupa petir ungu yang mengarah pada Eren dan Aksara secara bersamaan.
Tubuh Laras terhuyun lalu pingsan dengan balutan busana dress berwarna hitam selutut yang bagian pahanya terbelah cukup tinggi.
"Sejak kapan kau menyadarinya?"
"Kemarin." jawab Eren.
Kedua pemuda menatap sosok dihadapannya. Bersiap menghabisi sosok bayang hitam itu lalu menyelamatkan Laras dari pengaruhnya.
Sosok bayang hitam pekat tanpa wujud itu menyerang dan melompat pada dimensi lain yang menghubungkan dunia ini dengan lembah kematian. Membuka portal dengan sambaran petir berwarna keunguan pada setiap sisinya.
"Portal yang aneh!" gumam Eren.
__ADS_1
Tetapi tidak menyurutkan keinginannya untuk melewati portal itu dengan wujudnya sebagai sosok penjaga berjubah merah maroon.
Aksara menyusul dengan sosoknya yang bersayap tulang belulang. Dia baru saja menidurkan semua bulu emas pada sayapnya dan membiarkan hanya tersisa bagian tulang belulangnya saja.
"Aku harap menemukan sesuatu yang menantang disana!"
"Sudah tentu!"
Eren menjawab begitu mendapati pemandangan dibalik portal petir ungu yang berhasil ia lewati tanpa meninggalkan bekas luka apapun pada bagian tubuhnya. Begitu juga Aksara yang tiba-tiba tersenyum dengan puasnya dengan jumlah jiwa bermata kelam yang menyambut mereka disebuah lembah terasing yang tidak pernah mereka jumpai.
"Lembah apa ini?!" Eren memperhatikan sekeliling. Kondisi lembah ini sama suramnya seperti lembah kelam bernama lembah abu-abu. Namun sisi lembah ini tidak memiliki hawa yang menenangkan seperti lembah kelam yang bernama lembah abu-abu.
Hawa pada lembah itu lebih terkesan kumuh dan penuh dengan jiwa-jiwa bermata kelam yang berlendir kehijauan. Menempel pada tanah dibawahnya dan keluar dengan susah payah. Meneteskan lendir kehijauan pada sisi lembah dan membuat bau yang tidak mengenakan pada setiap bagian lembah.
"Apakah ada lembah seburuk ini!" Aksara memulai percakapan.
Namun Eren terdiam dengan pemandangan yang dilihatnya. Lembah ini memiliki nama. Memiliki penjaga dengan keceriaan yang tidak akan dia temui pada penjaga lembah lainnya. Satu-satunya penjaga bersayap tulang belulang dengan bulu berupa kepulan asap hitam keabu-abuan.
Eren tanpa sadar mengepakkan sayapnya yang berupa kepulan asap berwarna kehitaman. Menampakan kemarahan yang tidak bisa ia tahan. Mengumpulkan semua hawa kegelapan dalam dirinya, Eren menjelma menjadi sosok penjaga tertinggi dengan tujuh bola api kebiruan sebesar bola pingpong membentuk perisai lingkaran dibelakang kepalanya.
Jubahnya berwarna abu gelap. Bagian bawah jubah nampak compang camping dengan bagian sisi yang terbakar seperti kertas. Wajahnya sebagian besar tertutupi tulang tengkorak, bagian kepala tertutupi tudung, dan matanya menyorot dengan warna merah pekat yang menyala. Satu tangannya memegang lentera hitam dengan cahaya hitam kemerahan yang siap menarik setiap jiwa kelam kedalam lembah hukuman yang paling ditakuti setiap jiwa. Satu tangan lagi menunjukan tangan putih yang tua dan keriput dengan kuku jari yang teramat panjang dan tajam.
Sosoknya langsung membuat seisi lembah kumuh itu berang. Menyerang tanpa aba-aba secara bersamaan, seisi lembah berubah menjadi lautan jiwa bermata kelam yang siap menelan setiap sosok asing yang memasuki sisi lembah dengan batasan kekuatan dari sosok yang mengaku sebagai pemilik lembah.
Sosok lain Eren sebagai sang penjaga tertinggi menyunggingkan senyuman yang meremehkan dan bersiap dengan semua serangan yang akan diterimanya.
Sementara Aksara menepi dari arena pertarungan dengan memperhatikan setiap sisi lembah dari sudut yang paling tinggi.
...***...
__ADS_1