Abu-Abu

Abu-Abu
Kutukan Cincin Batu Senja : Benang Ingatan 2


__ADS_3

Berkeliling lembah mencari sosok dirinya dengan menggunakan wujud sosok yang berbeda, Laras menghentikan langkahnya ketika melihat sesosok bayang keluar dari semak-semak di sisi hutan sebuah lembah dengan hamparan bunga lily of valley yang memenuhi jalanan disepanjang hutan itu.


Laras ketika itu terdiam kaku untuk sesaat menyaksikan dirinya keluar dari semak-semak itu dengan keadaan yang benar-benar kacau.


Sosok lain Laras dari balik semak-semak itu menatap lelah, dan Laras semakin menatap tidak percaya. Dia melihat sosok dirinya sendiri dengan tampilan berantakan dan pakaian yang sedikit terbakar sisa pertempuran. Banyak helai daun, ranting, dan sarang laba-laba yang menempel pada rambutnya. Wajahnya kumal dengan beberapa rias hitam yang tercoreng di pipi dan lengannya.


"Aku selamat." ujarnya yang langsung jatuh tidak sadarkan diri dalam dekapan dirinya sendiri. Dirinya sendiri yang mengambil wujud berbeda. Sesosok wujud perempuan yang berpakaian layaknya anak laki-laki kecil, berkuncir dua dengan dahi di tutupi pita berwarna putih.


Selama beberapa waktu, sosok Laras sebagai perempuan bertubuh mungil itu merawat dirinya sendiri yang berwujud diri sejatinya. Selama beberapa saat yang panjang, tubuh Laras masih belum menunjukan tanda" kesadaran. Sampai hujan mengguyur dan membuat tenda buatannya hanyut tergerus air hujan.


Sosok lain Laras menggendong dirinya sendiri menyusuri tengah hutan di tengah hujan badai. Sempat beberapa tubuh keduanya terguling jatuh karena jalanan yang licin. Hampir tertimpa dahan pohon yang patah terkena sambaran petir, dan yang lebih parahnya, terjatuh ke dalam jurang karena salah melangkah. Laras dalam wujud lain akhirnya berteriak kesal.


"Berisik!" ujar sosok asli Laras yang akhirnya sadar di tengah-tengah badai di tepi jurang curam. Sosok itu tersenyum dengan manisnya sembari memeluk sosok lain dirinya yang tidak ia kenali.


"Aku akan membawa kita naik!" satu usapan tangannya di wajah sosok lain dirinya, Laras membawa kedua sosoknya terdampar di tepi sungai bersama-sama.


Gemericik air dan sinar matahari yang menyilaukan membawa kesadaran bagi kedua sosok itu. Sama-sama membuka matanya sembari bergandengan tangan, mereka tersenyum cerah mengetahui diri mereka akhirnya selamat dari semua bencana yang terjadi sepanjang malam kemarin.


Dengan tertatih-tatih, keduanya berjalan menyusuri sungai setelah memperhatikan adanya kepulan asap di hilir sungai. Benar saja, disana terdapat sebuah desa. Sebuah desa yang sedang mengadakan acara festival yang meriah.


Setiap sudut desa di hiasi oleh berbagai rangkaian bunga. Buah-buahan dan hasil panen yang sudah di olah tersedia di pintu masuk desa dan dibagikan secara gratis kepada setiap pelancong atau pejalan kaki yang lewat.


Melihat kondisi dua gadis yang berantakan dan kacau dengan mata sayu dan perut keroncongan, warga desa itu mengajak keduanya untuk tinggal sementara waktu di desa itu.


"Apa kalian tersesat?" tanya sesepuh desa sembari meminta beberapa warga lain membawakan mereka makanan.


Dengan tegas sosok lain Laras mengangguk. Berharap mereka bisa mendapat tempat tinggal sementara waktu sembari memulihkan diri. Sementara sosok sejati dirinya sendiri malah hanya berdiam diri.


"Kalian tinggallah disini untuk memulihkan diri" ujar sesepuh desa. "Dan makanlah hidangan ini lalu beristirahat."


"Terima kasih." jawab sosok sejati Laras. Dia melihat ke arah sosok lain dirinya yang tidak ia kenali. "Terima kasih." ujarnya pada sosoknya itu.


"Tidak perlu." jawabnya.


"Mari makan!"

__ADS_1


Sosok lain dirinya mengangguk. Mereka duduk di ruangan itu dengan menikmati makanan yang disajikan penduduk desa itu. Sembari menikmati malam, mereka melihat keluar area festival dari dalam bilik kamar yang mereka tempati.


"Siapa aku harus memanggilmu?" tanya sosok lain Laras yang juga penasaran akan namanya yang sebenarnya.


"Nama?" sosok sejati Laras mengulangi pertanyaan itu.


Sosok satunya mengangguk. "Aku Rui." ujarnya.


"Aku...." sejenak menunduk, sosok itu lalu mulai merasakan pusing dan mual disaat yang bersamaan.


"Kamu kenapa?" sosok lain dirinya yang mengaku bernama Rui mendekati sosok sejatinya dan mendapati tanda kutukan pada sisi belakang leher diri sejatinya di kala itu.


Rui mundur selangkah. Itu kutukan alam kegelapan. Kutukan yang ia dapatkan dari pertarungan dengan segel kegelapan dibawah penjagaannya. Lalu di tambah dengan keberadaan sosok Rui yang seharusnya tidak berada disekitarnya. Rui terduduk pasrah.


Dirinya hanya memiliki dua pilihan disini. Mengakhiri hidupnya dan membiarkan sosok sejatinya hidup, atau memusnahkan sosok sejatinya untuk kemudian bersatu dengan sosoknya yang menyamar sebagai Rui.


Tapi jika dia menjalankan hal itu saat ini, maka siklus perputaran keberadaan mereka akan berulang kembali pada celah takdir yang ada. Yang artinya, Laras akan kembali lagi ke titik ini untuk mengulangi hidupnya yang sekarang.


"Kenapa?" tanyanya. "Apa umurku sudah tidak lama lagi?" tanya sosok sejatinya pada Rui.


"Aku tidak mengingatnya." jawaban itu langsung memukul telak Rui. Ketika sosok sejatinya tidak mengingat siapa dirinya sendiri, maka dia hanya memiliki pilihan kedua untuk di lakukan.


Apakah itu mungkin? Resiko yang ku ambil akan menyebabkan hal yang lebih besar lagi nantinya. Kecuali...


Sosok Rui memandangi diri sejatinya dengan tenang di hari berikutnya. Menghela nafas beberapa kali, sosok Rui memutuskan untuk membantu sosok sejatinya untuk menemukan jati dirinya sendiri.


Mendengar setiap kali acara festival, penduduk desa akan mendatangi pedalaman hutan, Rui memilih menunggu saat yang tepat untuk mengembalikan ingatan diri sejatinya yang kini lebih akrab dipanggil Amarylis oleh warga desa.


Setiap kali acara festival dipersiapkan, Rui selalu mengusulkan kalau dirinya dan Amarilys akan ikut memetik bunga ke tengah hutan. Berharap dia menemukan petunjuk di tengah hutan tersebut.


Namun sampai festival di tahun ke tiga, semuanya nihil. Malah Rui dan Amarilys menikmati waktu mereka ketika bersama-sama dengan warga desa.


"Kenapa malah seperti ini?!" ucap Rui gusar. Dia menatap langit yang sedang bercahaya dengan teriknya. Membiarkan cahaya itu menerpa wajahnya dan mengembalikan ingatannya tentang sosok sang Hakim tertinggi yang melewati kala itu.


Berjalan-jalan di tepi sungai menemani Amarilys, Rui menemukan sesosok mahkluk berpakaian serba hitam terdampar di tepi sungai.

__ADS_1


Begitu membalik badan korban hanyut tersebut, Rui semakin merasa tersudut oleh takdir yang di jalani dalam benang ingatan kendi arak china tersebut.


Rui tertunduk lemas sesaat sebelum menemukan kenyataan bahwa bubuk sari bunga larangan berpendar di antara sosok sejatinya dan sang Hakim tertinggi.


"Bisakah lebih buruk dari ini?!"


Rui dan Amarilys mau tidak mau membopong sosok sang hakim tertinggi kembali ke desa dan merawatnya di dalam rumah yang disediakan sesepuh desa untuk mereka tinggali.


Perkenalan yang singkat dan tidak biasa. Sosok sang Hakim tertinggi yang memperkenalkan dirinya sebagai Eren malah memberi nama sosok Amarilys dengan nama Laras.


Kekacauan yang hanya di ketahui Laras sebagai sosok Rui, membuat Rui mulai menjauhi diri sejatinya. Berharap sosok Eren mampu mematahkan kutukan yang tertanam pada sosok sejatinya itu.


Hari berganti hari. Waktu demi waktu terlewati dengan tanpa perubahan yang berarti kecuali sebuah perasaan yang muncul dari bubuk sari bunga larangan yang telah menempel pada sosok Rui sejak bertatapan untuk pertama kalinya dengan sosok sang hakim penjaga.


Bubuk sari yang menempel pada Rui lebih condong ke perasaan terabaikan dan rasa cemburu, sehingga ada benih-benih emosi yang timbul ketika melihat diri sejatinya bersama-sama dengan sosok Eren.


Terlebih semenjak festival bunga pertama mereka bertiga. Sosok Rui merasa di abaikan dan memantik api cemburu yang tidak tertahankan. Hal itu semakin lama semakin tumbuh besar dalam benak Laras sebagai sosok Rui. Menandakan, pilihan pertama lah yang harus Rui jalankan untuk dapat keluar dari kekacauan yang ada.


Menunggu kesempatan pada festival di musim berikutnya, Rui yang sudah mengetahui tempat yang jadi titik pertarungan sosok sejatinya mulai mengunjungi tempat itu. Bermaksud mengunci sosok gelap di bawah penjagaannya dengan sosok Rui, kegelapan malah merasuk dan menyerang rasa cemburu dan kebencian yang tumbuh dari bubuk sari bunga larangan pada sosok Rui.


Pilihan yang benar-benar berakhir dengan tidak terduga. Begitu melihat sosok Eren menyelamatkan diri sejatinya, sosok lain Laras sebagai Rui langsung memantik kegelapan agar menyerangnya. Tujuan Rui adalah mengakhiri hidupnya untuk mengembalikan ingatan dari diri sejatinya yang saat ini terpaku pada sosok sejati sang Hakim tertinggi lembah kematian.


Menyadari ada sesuatu dalam dirinya yang bergejolak melihat pengorbanan Rui, sosok sejati Laras bangkit dengan ingatannya sebagai sang penjaga segel kegelapan. Di tengah semua pilihan yang ada, Laras menyadari pilihan yang dia lakukan telah membunuh sebagian dari dirinya.


Mendapatkan serangan terakhir dari sosok sejatinya sendiri, Rui langsung melepaskan kutukan pada Laras yang merupakan diri sejatinya untuk menghapus ingatan yang berhubungan dengan bubuk sari bunga larangan yang mengenainya.


"Ini adalah hukuman dan juga hadiah untuk hidupmu."


Kalimat itu membuyarkan benang ingatan Laras tersebut. Menyadarkannya pada sebuah kamar berukuran kecil bernuansa gelap yang dia tempati.


"Rui...." gumam Laras melihat sosok itu melayang-layang disekitarnya. "Akhirnya aku mengenalimu..."


Laras mengulurkan jemarinya untuk menyerap sosok bayang kegelapan yang akhirnya dia kenali setelah ribuan tahun.


"Aku terlalu banyak melakukan petualangan... maaf!" ujar Laras menatap dirinya sendiri di depan cermin.

__ADS_1


...***...


__ADS_2